
"Kenapa tidak membangunkanku!" protes Joe. Ia menyusul Erika ke lapak taco dolores.
"Kau tidur nyenyak sekali. Aku tak tega membangunkanmu."
"Ibu juga tidak membangunkanku?" tanya Joe dalam bahasa inggris.
"Memanggil ibu juga. Apa-apaan ini," Erika ngedumel dalam hati.
"Kata Erika, semalaman kamu nggak tidur nak. Jadi aku membiarkanmu istirahat sebentar." Seperti mengerti apa yang ditanyakan Joe. Dolores menjawab dengan bahasa latin.
"Ibu juga memanggilnya nak. Kompak sekali," batin Erika lagi.
Lima belas menit yang lalu Joe mendapati ia tertidur di sofa. Di meja depan sofa ada gelas berisi lemon tea yang mengembun, es nya mulai meleleh. Erika sudah mengisi gelas Joe lagi, sandwich ditutupi kertas tisu dengan tulisan tangan Erika " aku pergi membantu ibu."
"Sekarang sudah jam 9, sana pergi. Lakukan pekerjaanmu dulu," Dolores menyiapkan taco pesanan pelanggan.
"Ibu mengusirku," rengek Erika manja.
"Bukan begitu. Kamu disini kan untuk bekerja. Bukan membantu ibu. Nah nak coba cari di mall itu. Mungkin duvetnya ada disana. Ada juga di pasar meski kelihatan sama tapi bahan di pasar agak sedikit kasar. Kalau ibu dulunya pesen sama tia griselda. Jahitannya halus. Kwalitasnya sama seperti di mall dan tentu harganya lebih murah. Bisa dicicil 3 kali," Dolores mengingat saat dia dengan bahagia membawa pulang 2 buah duvet untuk kedua anaknya. Dan di depan pintu kedua anaknya sudah menunggu dengan senyum yang lebar. Moment yang sangat membahagiakan.
"Baiklah ibu. Aku akan mencarinya di mall. Kalau nggak ada nanti aku akan coba tanyakan pada tia griselda. Apa bisa membuatnya." (tia : bibi)
"Kita naik taxi aja. Menghemat waktu," usul Joe diangguki kepala oleh Erika.
Joe segera mencegat taxi yang lewat. Erika sedikit mengubah rencana. Taxi yang ditumpanginya memutar melewati komplek apartemennya. Erika menyuruh berhenti di depan apartemen berwarna hijau lumut. Apartemen tepat disebelah apartemennya. Ia pergi ke lantai 1. Disana ia bertemu dengan tia griselda. Wanita yang sedikit lebih muda itu sedang menjahit baju di ruang tamu yang sudah ia sulap menjadi studio jahitnya.
"Hola Erika. Sudah lama tidak ketemu " sapa tia griselda ramah. Tia griselda adalah adik sepupu dolores. Erika sering datang ke apartemen itu sekedar untuk mampir. Tia griselda akan membuatkan cookies coklat kesukaan Erika.
"Ada yang bisa tia bantu?"
"Tia tau aja, aku ingin bertanya. Bisakah tia menjahit duvet?"
__ADS_1
"Tentu saja bisa sayang. Lihatlah hampir semua penghuni apartemen ini dan apartemenmu memiliki duvet jahitan tia," tia griselda menyombongkan diri.
"Nanti kalau aku tak bisa menemukannya di mall apakah tia bisa menjahitkan aku duvet seperti ini?"Erika menunjukkan contoh gambar yang dibawanya.
"Tentu. Aku perlu 3 minggu untuk menjahitnya. Sebenarnya untuk menjahitnya paling lama 5 hari. Tapi untuk mendapatkan bahan bermotif seperti itu, aku harus pesan dulu nak."
"3 minggu terlalu lama," Joe mengomentari dalam bahasa inggris.
"Hola anak muda. Maaf, karena asyik dengan Erika aku sampai tak memperhatikanmu. " tia griselda merasa tak enak hati. Walau sedikit terbata, tapi Joe dapat mengerti aksyen inggris latin tia griselda.
"no Problem," Joe menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk o.
Erika kemudian pamit. Taxi yang tadi masih menunggu dengan sabar. Taxi itu membawa Joe dan Erika ke mall. Erika berlari sampai dibagian perlengkapan tidur. Ia menemukan 1 duvet yang seperti dalam gambar. Segera menyambarnya menuju ke kasir.
"Dapat!" seru Erika senang. Ia meminta Joe untuk membayarnya.
"Makan dulu." Joe menangkap tangan Erika yang mau kabur, ia lalu menuntunya ke restaurant yang ada tak jauh dari mall. Restoran dengan suasana pantai yang ceria.
Erika kekenyangan, ia berjalan pelan di belakang Joe. Mereka berjalan di jalan yabg digunakan sebagai heritage dari pier kapal. Mereka bisa melihat Happy star cruise ship bersandar dengan gagahnya. Sebentar lagi sunset, Erika ingin kembali ke ibunya, membantunya berkemas. Tapi melihat Joe seperti melamun dan menikmati pemandangan ensenada sore hari, ia mengurungkan niatnya mengajak Joe pulang.
Erika terpesona dengan Joe, rambutnya yang mulai panjang tertiup angin sore. Wajahnya bermandi cahaya sunset. Dia terlihat sangat tampan.
"What?" Joe menangkap Erika sedang menikmati keindahan tubuhnya. Erika memalingkan wajahnya ke arah kapal bersandar.
"Aku tampan kan. Sangat sangat tampan," Joe mendekatkan wajahnya ke Erika.
"Cih!" kenapa pula orang ini menyadari sedang aku perhatikan."
"Memandangku seperti itu. Kau sudah melakukan harassment padaku."
"Kumat lagi resenya."
__ADS_1
"Lihatlah, tempat ini sangat romantis. Cocok untuk kita yang sedang dimabuk cinta. Ayo kita habiskan waktu disini."
"Aku tidak mau. Aku mau bantu ibu ?bereskan lapak." Erika hendak beranjak tapi tangannya di tahan Joe.
"Kamu lupa perjanjian kita? Turuti kataku."
Erika yang sempat berontak, menunduk patuh. Ia takut Joe melapor ke hrd dan memecatnya.
Sedikit gertakan dan Erika patuh seperti anjing kecil minta di beri makan.
"Kiss me now."
"Apa! Tidak!"
"Now?!"
"Aku tidak mau. Ini di depan umum. Di pinggir pantai banyak orang berlalu lalang."
Tatapan Joe mengintimidasi. Membuat Erika patuh. Kedua tangannya mengambil wajah Joe dan menciumnya. Sekecup. Dua kecup. Menjadi ciuman yang panjang. Erika lupa dengan rasa malunya. Orang- orang yang lewat tidak peduli dengan yang Erika dan Joe lakukan. Mereka hanya melihat sekilas lalu tak peduli lagi.
"Jadilah cintaku mulai saat ini?" bisik Joe di telinga Erika membuatnya geli. Bibir Joe mampir mengecup Leher indah Erika. Erika bergumam tidak jelas.
Berciuman saat sunset, dengan pemandangan yang indah di sekitar. Lautan biru berubah menjadi menjadi jingga sesaat karena pantulan sinar matahari. Perlahan berubah menjadi abu-abu dan hitam. Kemudian muncul titik titik berwarna warni. Pantulan dari cahaya lampu kota Ensenada.
Mereka melakukan lagi dan lagi ciuman yang sangat membara hingga Erika menyadari ada seseorang yang menatap mereka. Tapi telapak tangan Joe menghalangi Erika untuk melihat siapa itu. Sedang kan Joe terua mengucapkan kata-kata rayuan yang membuat Erika terlena. Ia menarik nafas dengan rakus. Seperti sedang kehabisan oksigen.
"Aku selalu suka aroma ini, aroma lavender," Joe merasa sangat nyaman setiap kali mencium aroma lavender dari tubih Erika.
Ketika Erika berhasil melihat siapa yang menatapnya. Ia sangat terkejut. Segera ia melepaskan pelukan Joe. Merapikan rambut panjangnya yang berantakan tertiup angin dan usapan Joe.
"Primo!" seru Erika panik dan malu. (Primo: kakak/mas).
__ADS_1