Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Kejadian terakhir di Ensenada


__ADS_3

"Ada apa?"tanya Joe kaget. Erika hanya bisa menangis. Joe selalu bingubg jika asa seseorang menangis di depannya, apalagi seorang wanita. Lalu dengan lembut Joe membawa Erika ke dalam pelukannya.


Sebenarnya Erika ingin bilang trimakasih. Namun ia tak bisa ngomong. Suaranya tercekat dan malah air mata yang keluar.


"Cerita padaku?kenapa seperti ini?"


Kata Joe malah membuat air mata Erika jatuh seperti hujan pertama di rain season. Bertambah deras. Teringat perlakuan Joe dan keluarganya di Ensenada.


Flash back on


Port Ensenada last cruise, Erika keluar. Feelingnya tidak enak. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibu dan kakaknya. Langit cerah biru tua Ensenada berbanding terbalik dengan mendung di hati Erika.


Begitu keluar dari pemeriksaan di gangway, Erika berlari sekuat tenaga. Ke tempat dimana ibu menggelar lapak buritonya. Feeling Erika tepat. Seorang laki-laki sedang mengacak lapak dagangan Dolores, aedangkan seorang laki muda bertubuh besar sedang mencegahnya merusak lebih parah lagi. Orang disekitar tidak ada yang membantu, mereka takut. Apalagi orang disekitar kebanyakan lelaki tua dan wanita tua. Hanya beberapa yang membantu Mauricio. Erika berlari dan menghadang lelaki itu.


"Hentikan!" seru Erika.


Lelaki itu tidak menghentikan malah mulai memukuli Dolores lagi. Beberapa pria mulai mencegah Lucio untuk memukul istrinya lagi. Erika mengambil kayu yang digunakan sebagai penyangga meja milik ibunya dan ia mencoba untuk memukul ayahnya. Tapi tidak kena, malah hampir mengenai Mauricio. Lucio membalas dengan melempar tempat seperti tuparware ke arah Erika dan mengenai pelipisnya. Kemudian polisi datang dan Lucio entah kabur kemana.


Polisi melakukan pemeriksaan, tempat itu benar-benar kacau. Dolores dengan gugup berusaha membereskan kekacauan lapaknya, dia tidak enak pada pelanggan supermarket dan pegawai supermarket yang halamannya menjadi berantakan karena lapak buritonya hancur. Erika berusaha mengehntikan ibunya.


"Sudah bu, kita pergi ke dokter," Erika menuntun ibunya tapi dihalangi Mauricio.


"Biar aku saja yang mengantar ke dokter, kau pergilah, sebentar lagi kapalmu angkat jangkar," kata Mauricio.


Sedih Erika melihat hal itu. Ia lalu mencoba memberika uang pada Mauricio untuk biaya ke dokter ibunya.


"Simpan uangmu, aku masih ada," tolak Mauricio, ia segera mengantar Dolores ke domter dengan naik angkot. (Angkot di ensenada bentuknya seperti mobil mikro/bus tuyul. Biayanya 1$ jika membayar dengan dolar,jika dalam peso mungkin lebih murah lagi. Crew dan tamu kapal menyebutnya shutle)


Dalam tangis dan kekacauanya, Erika mencari orang di sekelilingnya untuk membereskan lapak dagang Dolores. Ia menemukan Alberto dan Bruno,Laki-laki seumuran dengan ibunya yang tetangga bwrjualan Dolores.

__ADS_1


"Tio,tolong bereskan ya. Ini upah untuk kalian," sembari memberikan dolar pada mereka. (Tio artinya paman)


Tentu saja mereka berdua senang melakukannya apalagi upahnya pake dolar. Erika memastikan lapak ibunya diberesi dengan benar sebelum ia kembali ke kapal.


"Kamu kenapa?" tanya security saat Erika memasuki gangway dan melakukan penyecanan barang bawaan. Kebetulan hanya ada dirinya yang masuk gangway.


"Tadi kejatuhan sesuatu di supermarket," jelas Erika.


"Sungguh? Apa tidak berkelahi?"


"Tentu saja tidak, tenagaku sudah habis untuk bersih-bersih kapal ini. Tidak tersisa lagi untuk berkelahi," Jawab Erika nyinyir.


"Kau ada-ada saja. Tapi tadi ada lho,orang houskeeping berkelahi sampe ke kantor polisi. Kami pihak security sampai hotel direktur keluar untuk mengurusnya." (security di kapal biasanya tidak ember, apalagi pada crew lain, hanya ada di novel ini😅)


"Mungkin dia punya tenaga ekstra," timpal Erika sambil mengambil sepatunya yang sudah berhenti berjalan di m3sin scaner.


"Tadi aku lihat, dia memukul lelaki tua dengan beringas. Tapi lelaki tua membalas dengan melempar batu. Kena di perut. Seru sekali. Aku berharap si Joe mati di tangan lelaki tua itu agar tidak memberi kita hard time lagi. Kau tau dia tidak mengijinkan anak buahnya mengambil gelas dari bar. Kita sendiri yang harus mengambilnya dan menaruhnya di pantry. Tapi tentu saja harapanku tidak terkabul, Joe yang menang, hahaha..."


"Apa kau tadi merekamnya?"


"Tentu saja, ini seru sekali. Aku puas dia kena banana sama polisi sini." ia menunjukkan rekaman ponsel kepada temannya. Walo agak jauh, tapi Erika bisa melihat itu Joe dan ayahnya sedang berkelahi.


Mereka berlalu dan hati Erika bergetar. JOE?!


\*\*\*


Martin menawarkan rokok pada Joe. Mereka sedang duduk di kabin Martin. Tidak boleh merokok di sembarang tempat, tapi kali ini mereka melanggarnya.


"Tidak biasanya kau begini Joe," kata martin sambil menghisap rokoknya.

__ADS_1


"Aku hanya sedang kesal saja," Joe menyesap wine. Alih-alih menerima rokok Martin, Joe memilih meminum anggur untuk menenangkan pikirannya.


Ia mengikuti Erika pergi keluar, tanpa sengaja ia melihat ibu Erika di pukuli. Lapak buritonya berantakan. Lalu Erika terkena lemparan sesuatu di pelipisnya, ia yakin erika tidak menyadari darah keluqr dari sana. Ketika lelaki tua itu kabur tepat beralari dihadapanya, ia segera menjagal dan memukulnya. Akhirnya ia dibawa ke kantor polisi. Semua polisi menggunakan bahasa spanyol yang tidak ia mengerti. Hanya ada 1 yang bisa berbahasa inggris itupun tidak lancar dan dengan logat latin. Tapi berhasil tau kalau Joe crew kapal. Akhirnya polisi menghubungi kapal. Datang Martin, dengan George dan Nikita dari houskeeping dan 2 orang security. Dengan jaminan Martin Joe di bebaskan. Tapi big banana (kemarahan besar) pasti akan dia dapatkan dari george dan Nikita.


"Apa kau mau pulang?"


"Tidak."


"Kalau kau sudah tidak betah aku bisa mengatur kepulanganmu," tawar Martin.


"Tidak, teimakasih. Aku akan buktikan pada ayah aku bisa hidup tanpa uangnya sepeserpun. Lagian bukankah jika pulang, masalah lain menanti?" setelah berkata begitu ia keluar dwri kabin Martin menuju kabinnya.


Flashback off


"I'm so sorry," Erika terisak di pelukan Joe. Pikirannya berkecamuk. Antara kebaikan Joe diam-diam dan berurusan dengan polisi karena dirinya. Juga cemas bagaimana dengan keadaan ibu dan kakaknya.


"Tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu. Kau tidak salah apapun padaku," Joe mengelus lembut punggung Erika. Ia bisa mencium wangi lavender dari tubuh Erika. Wanginya membuat Joe merasa nyaman.


"Tapi karena aku kamu berurusan sama polisi. Dan kamu pasti dapat banana dari mana mana,"air mata Erika menetes.


"I'm sorry," air mata mengalir tambah deras.


"Its ok. Aku baik-baik saja. Lihatlah aku masih berada di kabin ini. Untu terus membullymu. Aku belum puas membullymu. Jangan harap aku di penjara ya. Aku akan membuatmu menyesal."


"Aku sedang tidak ingin bercanda." Erika menundukkan kepalanya. Joe mengangkat kepala Erika d3ngan kedua tangan sambik m3natapnya.


"Its ok," perlahan Joe membawa Wajah erika ke hadapannya dan menciumnya.


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2