Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Penggoda Martin


__ADS_3

Sejak Joe tahu, Erika pergi keluar dengan Martin. Joe menjadi uring-uringan. Semua kena getahnya. Namun Erika tidak menyadari hal itu. Ia mengira Joe uring-uringan hanya karena mau mengerjai dirinya.


"Selesai kerja beli air," perintah Joe pada Erika. Ia memberikan kartu untuk belanja beserta pinnya. Kartu yang hanya bisa digunakan selama di kapal. Dikapal, secara resmi tidak ada transaksi dengan uang tunai, tapi semuanya menggunakan kartu. Jika ingin mengisi kartu, tinggal memasukkan uang ke dalam mesin. Atau tranfer dari atm ke kartu belanja. Setiap crew memiliki 1 kartu.


Walaupun Joe pemarah dan tukang menyuruh-nyuruh, tapi ia tidak pernah komplain jika Erika membeli banyak barang dengan kartu belanjanya. Dan isi kartu belanja (sail n sale card) milik Joe tak pernah kurang dari 500$ pasti lebih. Rata-rata 1000$. Entah dari mana Joe mendapatkan uang sebanyak itu. Jika gajinya saja hanya sekitar 1500$. Erika tak mau berpikir jauh tentang hal itu. Yang penting dia bisa berbelanja.


Seperti kali ini. Selepas membeli air mineral, 6 galon yang masing-masing galon berisi 3 liter air. Ia harus membawanya sendiri dari crew bar menuju kabinnya yang penuh perjuangan. Berat sekali. Lalu ia memutuskan ke gift shop, area dimana toko-toko souvenir ada di dek 5. Erika memanjakan mata. Ia ingin membeli ini itu. Tapi kalau terlalu banyak menghabiskan uang, bisa-bisa Joe marah besar.


Ia memilih membeli jam tangan saja. Karena jam tangannya sudah rusak. Jam tangan yang dipilih Erika seharga 190$ merk Gshock. Tapi dapat diskon crew, hingga harganya menjadi 70$ saja tanpa kena tax. Setidaknya bisa dipakai untuk bekerja. Ia meminta karyawan gift shop untuk menyeting jam nya. Karena ia tidak tahu gimana caranya.


Saat sedang membayar, Erika melihat Martin masuk ke gift shop bersama dengan seorang wanita yang tidak asing. Entah kenapa hati Erika sedikit tidak enak melihat pemandangan itu.


Ah iya, perempuan itu adalah petugas dari guest service. Dari penampilanya yang bermake up dan masih menggunakan srragam guest service, blazer dan rok selutut dipasu dengan sepatu dengan heels yang lumayan tinggi. Tapi perempuan itu rerlihat anggun. Berbeda dengan Erika yang memakai seragam houskeeping. Kemeja bergaris dengan celana panjanh dan sepatu kets berwarna putih. Sungguh seperti tanah dengan langit.


Erika pura-pura tidak kenal, hanya memasang senyum. Seperti layaknya arasan dan bawahan.


"Wah memborong nih?" sapa Martin.


"Iya sir," Erika hanya menganggukkan kepalanya.


Martin melirik kartu sail n sale card yang dipegang Erika. Tertera nama Joe disana. Martin berpikir Joe sedang mentraktir Erika. Joe selangkah lebih maju dari dirinya untuk mendapatkan hati Erika. Ia hanya tersenyum kecut. Apalagi melihat dirinya sedang bersama Marija (baca Maria) pasti Erika mengira dirinya punya hubungan khusus.


"Sayang, aku ingin coba yang itu," kata Marija sambil menggandeng mesra lengan Martin. Saat itu juga rasanya Erika ingin menghilang dari gift shop.


Martin hanya bisa mengikuti wanita itu. Karena beberapa waktu yang lalu ia berjanji untuk mentraktir Marija. Tapi Marija malah menggunakan kesempatan yang ada buat tebar pesona. Shit.


Erika mendorong keras pintu stair case di mid ship. Ia pergi menjauh dari gift shop.

__ADS_1


"Cemburu ya?" bisik seseorang di telonga Erika. Ia menengok. Bah Joe seperti hanyu saja. Tahu-tahu sudah ada di belakangnya.


"Cemburu sama siapa?" Erika bertanya balik.


"Hotel direktur. Aku tadi melihatmu di gift shop. Mukamu seperti king crab direbus saat liat hotel direktur bersama wanita," Joe memanas-manasi.


"Ah mana mungkin cemburu. Aku ini tau diri. Aku hanya pekerja rendahan di kapal ini," Erika bersungut-sungut. Sungguh jadi pekerja rendahan seperti tak punya harga diri.


"Kamu tadi beli apa?" Joe mengalihkan perhatian.


"Jam tangan. Lihatlah jam kerjaku sudah copot dari talinya,"Erika memperlihatkan jam tangannya yang hampir putus dan diikat dengan karet gelang. DEG! Sebenarnya dia takut ketahuan menyalah gunakan kartu belanja dari Joe untuk membeli kepentingan dirinya sendiri.


"Beli pake sail m sale cardku ya?" Joe tersenyum menyeramkan membuat Erika bergidik ngeri. Dia bersiap menghindar jika Joe akan menerkamnya.


"Tidak apa-apa. Tapi sebagai gantinya cium aku," Joe menyodorkan bibirnya.


"Tidak mau!"


"Menciummu disini! Di stair case? Yang benar saja. Nanti dilihat orang," Erika memaparkan alasan logis. Iya benar stair case di mid ship menjadi lalu lalang crew yang menghubungkan public area dan crew area.


"Cup" Joe mencium bibir Erika sekilas. Membuat Pipi Erika langsung merona.


"Kita lanjutkan di kabin,"Joe menggandeng Erika ke dek. Lalu masuk ke kabin.


"Ok, sekarang kita sudah sampai di kabin. Sekarang cepat cium aku," Joe memerintah. Lalu Erika menciumnya sekilas.


"Ulangi!" perintah Joe. Dalam hati Erika menggerundel. Dasar mesum.

__ADS_1


Erika mengalungkan lengannya di leher Joe. Lalu ia menutup kedua matanya dan mulai mencium Joe perlahan. Lama dan lama membuat Erika menjadi ciuman yang menuntut. Entah rasanya seperti terbakar alkohol di tenggorokannya. Joe pun membalasnya.


Saat Erika mulai kehabisan nafas ia melepaskan ciuman itu. Nafasnya terngah-engah. Joe tersenyum melihat hal itu. Dari gelagatnya, ciuman itu adalah ciuman, membara Erika yang pertama dengan seorang pria.


"Mau lagi?" tawar Joe.


"Tidak!" tolak Erika.


"Kalau begitu peluk saja," Joe memeluk Erika dan tak ada penolakan.


Ini pertama kalinya jantung Erika seperti mau terlonjak dari tempatnya ketika dia berada dalam pelukan seseorang. Tapi rasanya nyaman. Seperti berselimut dalam duvet yang lembut. Joe pun merasa nyaman. Aroma lavender yang tercium dari tubuh Erika membuat ia tak mau melepaskan gadis itu. Beberapa menit terhanyut, mereka di kejutkan oleh dering telpon Joe.


"Bos, bar 2,5 mencarimu," suara dari sebrang sana.


Joe langsung menutup telponnya. Pasti ada sesuatu yang penting. Kenapa bar 2,5 bisa mencarinya. Kenapa juga tidak langsung telpon ke ponselnya.


"Aku harus pergi," pamitnya pada Erika. Yang dipamiti hanya diam saja. Asyik dengan pikirannya sendiri.


"Oh ya, mana sail n sale cardku," tanya Joe membuat Erika mendengus. Lalu ia mengeluarkan dari dalam kantong celananya.


"Mana punyamu?" tambahnya lagi.


"Untuk apa?" Erika hendak protes tapi tetap memberikannya juga.


"Pinnya?"


"9999" jawab Erika. Joe mengernyitkan alisnya heran dengan pinnya. Tapi ia mengambil dengan cepat. Sebelum benar-benar pergi dia mencium pucuk kepala Erika dengan lembut. Membuat Erika merasakan merinding dari kepala sampai jempol kaki.

__ADS_1


"Ada apa dengan aku. Apa arti perasaan ini," Erika menggerutu frustasi.


...***...


__ADS_2