Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Bar 1 vs Bar 2,5


__ADS_3

Joe segera berlari ke public area. Disana dia sedang mendapati Nikita, assiten manager houskeeping di kapal Happy Star. Nikita adalah seorang pria Eropa berbadan tinggi besar, bermata biru,senada langit di Ensenada. Rambutnya hanya tumbuh di pinggiran kepalanya berwarna coklat, bagian tengahmya mulai menipis. (Nikita adalah nama untuk cowok di Eropa, terutama Prancis. Bukan nama cewek yang dipakai beberapa artis di Indonesia)


Nikita baru sign on sekitar sebulan ini. Dan dia mulai mencari-cari masalah. Ciri khas orang Eropa yang mengincar jabatan lebih tinggi. Menyapo semua orang, walau satu departemen. (Sapo:menjadikan orang lain kambing hitam) Dia adalah assisten tertinggi dibawah manager housekeeping. Dia yang melakukan tugas manager, sedangkan manager hanya menyetujui atau menolak gagasannya. Kurang setengah bar lagi dia akan menjadi manager.


"Dari mana saja kau ini?" tanya Nikita.


"Public area sedang ramai, tapi anak buahmu tak ada yang mengawasi? Seharusnya kamu keliling lebih sering. Jangan hanya mamagayo di kabinmu. Lihat banyak sampah yang belum diambil. Elevator seharusnya juga disanitise setiap 15 menit sekali," cerocos Nikita.


"I am sorry sir. Tadi saya harus ke rest room dulu."


"Aku disini selama 30 menit dan kamu tidak ada. Rest room mana yang kamu datangi. Apa rest room di pier Ensenada?"


"No sir, saya ke rest room kabin. Celana saya basah jadi saya juga harus menggantinya,"Joe beralasan.


"Jangan banyak alasan. Kerja yang benar atau aku akan memberimu suspend," pungkas Nikita. Ia berjalan meninggalkan Joe.


JOe marah sekali rasanya. Ingin sekali ia memecat Nikita sekarang juga karena telah memarahinya di public area. Banyak guest dan anak buahnya melihat ketika ia sesang dimarahi, dan itu tidak etis sebenarnya. Namun dia sedang dalam penyamaran. Jadi ia menahan dirinya.


Ia segera mengumpulkannya anak buahnya sebelum jam kerja selesai dan memberi pengarahan.


"Siapa tadi yang di marahi Nikita?"


Beberapa anak buahnya mengangkat tangan.


"Ok kalian bekerjalah lebih teliti. Sanitize dan ambil sampah jangan ditunda."


"Jangan sampai dimarahi lagi. Aku tidak rela kalian dimarahi bar 2,5 karena kalian anak buahku. Yang berhak memarahi kalian adalah aku," kata Joe ia segera membubarkan anak buahnya.


Anak buahnya saling berpandangan. Joe berbeda sejak dia sign on. Awalnya dia galak sekali seperti Nikita. Dan sekarang dia sedikit santai. Apa sudah mendapatkan cewek di kapal? Tanya anak buahnya pada rekannya.


Joe tidak melihat Martin berjalan ke arahnya. Saat pundaknya di tepuk, Joe kaget dan menoleh.


"Kenapa?"Martin tahu sahabatnya sedang kesal. Tapi ia tidak tahu Joe kesal karena apa. Martin segera mengajak Joe ke officenya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Martin setelah sampai di office.


Joe merebahkan badannya di sofa dan memejamkan matanya sebentar.


"Bisa kau pecat bar 2,5?" kata Joe.


"Memang dia kenapa?"


"Dia cari muka. Ingin sekali aku menghajarnya."


"Bilang saja kau anak pemilik kapal ini dan dia tidak akan mengganggumu."


"Yang benar saja," Joe protes Martin memberinya solusi yang tidak masuk akal untuknya saat ini.


"Joe, orang seperti Nikita itu banyak di kapal ini. Menyapo sana sini untuk mendapat pangkat. Dan kau nggak bisa memecatnya begitu saja. Kau tau orang kebanyakan Eropa, filipina atau orang yabg nggak mau kerja kasar akan menempuh cara licik seperti itu. Coba bedakan dengan orang kebanyakan orang Indonesia, Myanmar, sebagian Thailand. Mereka tidak mau pusing memikirkan jabatan dan rela kerja kasar, tidak akan pernah menyapo dan rela disapo. Makanya perusahaan kita mencari pelerja dari seluruh penjuru dunia. Agar tejadi keseimbangan ekosistem di kapal," jelas Martin panjang.


"Tapi aku tidak suka dia."


"Aku tidak bisa. Nanti ayah menyuruhku menikahi wanita murahan itu. Lebih baik aku menjadi butiran debu di sini daripada harus menikahinya."


"Kalau itu bukan anakku mengaku saja. Apa susahnya sih."


"Masalahnya ayah tidak mau mendengarkan aku. Dan wajah anak itu sungguh mirip denganku. Mana ada yang percaya padaku. Bahkan ibu saja ragu-ragu denganku. Sudahlah aku harus kembali kerja. Nanti Nikita brengsek itu ngomel lagi."


Joe keluar sari office Martin,dan Martin hanya tertawa. Sejak ada di kapal ini Joe menjadi sedikit dewasa. Lalu hpnya berdering. Ayah Joe telpon menanyakan keadaan Joe. Martin menjawab dia baik saja dan tak perlu kawatir. Martin tidak menceritakan kejadian barusan, kalau diceritakan pada ayah Joe pasti masalahnya akan panjang. Biarkan saja Joe belajar menjadi dewasa dan berranggung jawab dari hari ke hari sampai kontrak di kapal ini habis.


Dikabin


Erika selesai mandi dan dia hanya memakai handuk melilit dada sampai dibawah pahanya. Ia hendak mengambil baju di lemari, ketika Joe masuk. Erika ingin cepat memakai baju tapi terlambat Joe sudah memeluknya dari belakang.


Erika hendak marah dan memukul Joe, ia berusaha melepaskan tangan Joe yang melilit perutnya.


"Jangan berontak. Sebentar saja," Joe mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Erika.

__ADS_1


Mendengar suara Joe yang tampak lelah dan rapuh. Erika membiarkan Joe. Ia tidak bergerak dan tidak berkata apapun. Joe menenggelamkan kepalanya di bahu Erika. Aroma lavender tercium dari tubuh dan ranbut Erika yang basah. Nyaman sekali. JOe segera melupakan hari yang melelagkan ini. Jiwa, hati dan raganya menjadi tenang. Rasanya tak ingin , melepaskan Erika.


"Joe,"panggil Erika lembut.


Joe hanya mendongakkan kepalanya.


"Kakiku kesemutan," kata Erika jujur.


Kaki Joe menarik kursi dan mendudukkan Erika disana. Sekarang mereka berhadapan. Erika tampak malu dan ingin memakai baju. Tapu Joe tidak menginginkannya. Dilihatnya Joe tidak berniat menggoda Erika. Joe memeluk Erika lagi dari depan. Erika mengelus-elus punggung Joe menenangkannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Erika setelah mereka berpelukan cukup lama. Ia hanya mengenakan handuk tapi tidak terasa dingin.


"Tidak ada. Hanya rasanya hari ini lelah sekali," jawab Joe. Ia menenggelamkan kepalanya lagi di leher Erika. Erika merasa merinding. Nafas Joe teratur menyentuh lehernya.


Lalu Joe tersadar akan sesuatu.


"Pakailah pakaianmu nanti kau kedinginan," Joe melepaskan pelukannya.


"Tadi kau melarangku."


"Aku tidak melarangmu."


"Tanganmu yang mengatakannya."


"Kalau kau tidak ingin ganti baju juga tidak apa. Tapi jangan salahkan aku jika aku memakanmu."


"Ihh dasar otak mesum." Erika langsung membuka lemari dab mengambil baju gantinya dengan tergesa lalu ia masuk ke kamar mandi.


"Kau pasti hanya pura-pura malu. Sebenarnya kau mau kan?" goda Joe.


"Dasar otak mesum. Tidur saja sana!"Erika melemparkan handuk yang tadi di pakainya tepat ke muka Joe. JOE hanya tertawa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2