
"Primo!" seru Erika malu. Tentu saja ia malu. Mauricio pasti melihat ciuman panasnya dengan Joe.
Erika panik, Mauricio berdiri terpaku beberapa kaki darinya. Membawa sebuah balok kayu pendek. Seakan bersiap untuk memukulkannya.
"Eh. Aa.. Iya. Maafkan. Aku akan pergi," Mauricio ternyata grogi juga. Awalnya ia panik melihat Erika bersama seorang laki-laki. Ia trauma sesuatu terjadi pada adiknya. Namun raut kelegaan terpancar di wajahnya.
"Kakak!" Erika mengajak Mauricio duduk di bangku panjang yang ada di sepanjang heritage. Erika tahu Mauricio sedang dalam keadaan tidak baik.
"Aku kira kau diculik lagi. Aku tadi hendak mencari botol bekas. Lalu aku melihatmu dengan laki- laki ini dari kejauhan. Aku panik. Aku mengambil balok kayu lalu mengikutimu. Aku takut sekali jika kamu diculik lagi dik. Oh dios mio. Ternyata kau bersama cihuahuamu. Lega rasanya," Mauricio bernafas benar-benar lega mengetahui adiknya baik saja.
Mendengar kata cihuahua, alis Joe mengernyit. Ia yakin Erika dan kakaknya sedang membicarakan dirinya.
"Ngomong apa dia?" tanya Joe kepo.
"Tanya saja sendiri," jawab Erika. Erika melenggang pergi. Ia membeli minuman dingin di vending mesin yang ada tak jauh dari mereka duduk.
"Aku bisa sedikit bahasa inggris," sahut Mauricio.
"Aku tadi..." Mauricio tidak meneruskan kalimatnya tapi memandang wajah Joe. Ia ingin memastikan jika Joe mengerti dengan jelas apa yang ia ucapkan. Walaupun aksyen latinnya kental sekali dan susah dihilangkan.
"Aku tadi khawatir. Aku kira Erika diculik lagi. Makanya aku mengikuti kalian," jelas Mauricio. Sesekali pandangannya tertuju pada Erika yang sedang membeli minuman di vending mesin.
"Lagi? Apakah sebelumnya ia pernah diculik?" Joe penasaran. Siapa yang telah menculik Erika.
"Iya. Mungkin saat dia masih sma. Aku lupa. Dia pernah diculik untuk dijual ke rumah bordil yang ada disana."
"Why?"
"Ayah kami yang menjualnya. Tapi Erika berhasil kabur dan kami laporkan ke polisi atas dugaan perdagangan manusia. Tapi karena pemilik rumah bordil itu menyuap polisi, jadi kasus itu berakhir damai. Sampai sekarang jika melihatnya pergi sendiri aku jadi kawatir ia akan diculik dan dijual lagi. Mungkin dengan dia bekerja di kapal pesiar akan lebih aman disana dari pada jika dia disini."
Mendengar cerita itu saja darah Joe mendidih. Suatu saat ia harus memberi pelajaran pada pemilik rumah bordil itu.
"Jadi apa yang kalian lakukan disini.. Em maksudku, apa kalian ga kerja?"
__ADS_1
"Ibu belum memberitahumu? Aku dapat libur dan besok sore aku kembali. Aku akan tidur di rumah malam ini kak," Erika yang menjawab. Ia sudah selesai dengan 3 buah minuman dingin dari vending mesin. Memberikannya pada Joe dan Mauricio.
"Wah, bagus itu, Kau bisa ngobrol banyak sama ibu. Dan kau bisa tidur di kamarku. Eh siapa namamu? Jorge?"
"Joe."
"Ah ya Joe. Kamu bisa tidur di kamarku. Aku tidak akan tidur di rumah kali ini."
"Memang kenapa kak?"
"Aku ada kerjaan tambahan. Oh ya ini sudah mau malam. Pulanglah."
Erika tidak membantah nasehat Mauricio. Ia mengajak Joe pulang ke apartemen dengan berjalan kaki.
"Apakah terjadi sesuatu sebelumnya pada kakakmu?" tanya Joe penasaran. Ia juga berhati-hati dalam bertanya agar Erika tidak tersinggung.
"Ya, dia pernah terlibat kecelakaan. Akibatnya dia jadi seperti itu. Kadang ia lupa kadang ia ingat bisa bahasa inggris dan pintar matematika. Yang tidak pernah ia lupa hanya aku dan ibuku. Tapi akhir-akhir ini kelihatannya dia baik saja," jelas Erika. Ia tidak menjelaskan kecelakaan apa dan Joe sudah puas dengan penjelasan Erika. Ia tidak bertanya lagi
Tangannya terangkat untuk memasukkan anak rambut Erika yang berantakan ditiup angin. Lalu tangannya menggandeng tangan Erika. Berjalan menikmati Ensenada di malam hari.
"Tidak. Aku hanya keluar berjalan jika beramai-ramai. Jika sendiri aku tidak pernah."
"Baguslah. Jangan keluar sendiri tanpa aku."
"Cih. Memangnya kau akan disini saat vacation. Tidak kan! Kau pulang ke US. Dan aku pulang di sini."
"Jika kau ingin aku disini. Aku akan tetap disini."
Erika tidak menjawab. Ia membuka pintu apartemen. Rasanya hanya sekejap mereka berjalan telah sampai di apartemen. Dolores sudah memasak daging untuk makan malam. Mauricio juga sudah ada di rumah.
"Kakak, katanya tidak tidur di rumah?" tanya Erika.
"Aku pergi tengah malam nanti. Sekarang aku mau di apartemen dulu. Ngobrol denganmu dan pacarmu."
__ADS_1
"Kakak!" Erika merasa malu. Ia menepuk bahu Mauricio keras membuat yang punya bahu meringis kesakitan.
Mereka makan malam bersama. Keluarga ini terasa hangat dengan air fresner wangi lavender yang baru saja diganti. Joe merasa sangat bahagia. Melihat Erika dan Mauricio saling menggoda. Sesekali Dolores yang menengahi. Tidak pernah keluarga Joe makan keluarga seperti. Ia tidak punya saudara kandung. Ibu nya adalah istri kedua dan ia tidak pernah akur dengan saudara tirinya. Bahkan ayahnya kelihatannya lebih percaya dengan kakak tirinya dari pada dirinya. Kalau pun ada makan keluarga tapi disana tidak ada sosok laki-laki dewasa. Ibu dan ibunya Martin adalah saudara ipar. Mereka menjadi sahabat, sejak ayah Martin pergi entah kemana. Mereka percaya ayah Martin sudah mati. Mereka sering makan malam bersama. Pernah juga mereka tinggal di apartemen yang sama untuk beberapa waktu.
Erika dan Dolores asyik ngobrol di dapur setelah selesai membersihkan sisa makan malam. Sedangkan Joe dan Mauricio duduk di sofa ruang tamu yang sempit.
"Berapa lama kalian pacaran? Apa setelah aku ketemu kalian dulu itu?" tanya Mauricio penasaran.
"Tidak juga. Ya mungkin beberapa minggu ini," Joe menyesap kopi pahitnya yang hangat.
"Apa dia keras kepala?"
"Sangat."
"Tapi dia cantik kan. Kau tergila gila padanya kan? Erika juga tergila gila padamu."
"Tentu dia cantik. Aku tidak tahu. Sulit melihat dia tergila-gila padaku atau tidak."
"Ciuman dia padamu sangat panas. Aku bisa melihat adikku sangat tergila-gila padamu. Aku tak menyangka adikku bisa seperti itu kalau tidak kulihat dengan mataku sendiri." Mauricio tertawa mengingat apa yang dilakukan Erika dan Joe tadi.
"Begitu ya."
"Aku kira dulu ia tidak mau punya hubungan dengan laki-laki. Pikiran burukku mengira dia tak suka pada laki-laki. Tapi awas kalau kau membuatnya menangis. Aku akan mencarimu dan memukulmu seperti ini." Mauricio mempraktekkan gerakan memukul dengan tangannya. Joe tertawa melihatny
"Ampun bos," seru Joe pura pura kesakitan.
"Ngomong-ngomong kerjaan tambahan apa yang akan kau lakukan senor?"
"Oh itu. Membersihkan bat dan mencuci gelas di bar. Kapal kalian kan sandar. Bat striptease disana pasti rame. Pemiliknya menyuruhku membantu mencuci piring dan gelas," Mauricio tertawa genit.
"Sambil melihat penari striptease?" Joe juga tertawa lebar.
"Kalau kau mau akan kuajak kesana. Hahaha.''
__ADS_1
"Apa kau sudah gila. Aku pacar adikkmu dan kau mengajak ku melihat penari telanjang. Dasar kakak durhaka. Hahaha!"
Joe menghabiskan waktu bercanda dengan Mauricio. Ia bahagia mendengar candaan receh Mauricio. Obrolan terhenti saat Mauricio pamit pergi untuk bekerja.