
"Kriiiiiing " dering telpon kabin berbunyi. Tangan Erika dicegah ketika hendak mengangkatnya. ia terbangun dari tidur karena dering telpon.
"Sudah biarkan saja," tangan besar berbulu mencegah tangan Erika.
Erika mengerjapkan mata sebentar, membuka kelopak matanya yang masih ngantuk. Ia memandangi sekeliling. Tangannya bertumpu pada dada Joe, tangan lainnya di pegang Joe. Dadanya menempel pad tubuh Joe, tanpa busana. Apa! tanpa busana. Erika gragapan dan berusaha mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
"Sekarang kau malu? "
"Emang apa yang terjadi semalam?" Erika belum ingat betul apa yang terjadi. Ie membenahi letak tubuhnya.
Joe menyeringai licik. sifatnya kembali seperti semula saat Erika meyadari seutuhnya apa yang terjadi. Joe menarik tubuh Erika ke dalam pelukannya lagi.
"Jangan malu. Aku sudah liat semuanya. Kamu juga sudah melihat semua tadi malam. Bahkan kau bermain dengan liar dengan mulutmu itu," Joe membawa satu tangan Erika ke dalam selimut dan berhenti di bagian tubuh Joe yang kenyal seperti jeli. Joe mengusapkan tangan Erika disana.
"Jika kau terus melakukan itu, ini akan berubah keras seperti batu," Erika menarik tangannya dari sana tapi Joe mencegahnya.
Erika malu sekali kalau mengingatnya. BBisabisanya ia hanyut pada Joe dan menyerahkan kesuciannya pada Joe. setelah melakukan itu, pikirannya rilek dan tidak memikirkan ibunya terlalu dalam. Dan rasanya Erika tidak menyesal melakukannya dengan Joe. Namun tetap saja rasanya gengsi pada Joe.
"Kriiiing!" telpon berdering lagi, kali ini Erika berhasil mmengangkatny baru berkata "halo" dia disambut dengan suara ngomel manoj.
"Mau tidur sampai kapan? Cepet ke sini, kau sudah terlambat hampir 3 jam."
"Apa? Maaf bos aku sedang ga enak badan jadi ketiduran," Erika menatap jam weker di atas meja, hampir pukul 10. Oh dios mio! Kenapa ia sama sekali lupa kalo harus bekerja.
"Segera kesini! kalo sakit ke medikal center," Manoj memutuskan sambungan di sebrang sana.
Erika sepeti dikejar setan, menuju kamar mandi mengguyur badannya sebentar lalu memakai seragam. ia melakukannya secepet kilat. Ia pergi dengan terg3sa. Joe dari tadi m3ngamati Erika hanya bisa tertawa.
"Dia tidak bersikap seolah tidak terjadi aapaapa. Padahal semalam baru pertama kali untuknya, "gumam jOe pada diri sendiri.
Joe mengingat semalam, benar menyenangkan dan sangat nyaman. Saat Erika menangis, Joe bingung harus melakukan apa untuk mendiamkannya. Ia hanya bisa memeluk Erika, lalu m3ngecup ringan bibir Erika. Lama kelamaan ciuman mereka menjadi saling m3nuntut. Apalagi Erika mau membalasnya, Joe semakin membara. Ia melakukannya dengan hati - hati. Takut menyakiti gadis itu. Ini bukan pertama kali bagi Joe, tapi dengan Erika seperti pengalaman pertama baginya juga. Wanitanya dulu tidak ada yang seperti Erika. Mereka mau melakukannya hanya karena Joe punya banyak uang. Sedangkan Erika, saat memegang sail n sale card Joe pun hanya membeli seperlunya saja, tidak mengahbiskan uangnya. Saat Joe m3ngisi sail n sale card Erika, Erika sendiri juga tidak tahu dan sampai sekarang uangnya utuh. Jadi tidak d3ngan heart to heart. Dengan Erika, Joe telah meletakkan hatinya disana juga.
Joe memandangi bednya yang berantakan, ada noda darah di bedsheet yang putih. Belum dibenahi, wangi lavender, aroma khas gadis itu masih tertinggal disana. Dibantal dan duvet. Joe menarik nafas dalam, merasa sangat nyaman. "Gadis ini, sampai kapanpun tak akan kulepaskan."
"KrKriiing," telpon berdering lagi.
__ADS_1
"Go to the houskeeping office nowwwww !" Suara Nikita terdengar mengintimidasi dari sebrang sana sebelum Joe bilang hello.
"Ok!" Joe lalu menutup telpon sepihak.
Joe m3ngambil ponsel pribadinya dan menekan sebuah nomor.
"Cuma tetangga kabin dan kau masih menelponku," suara Martin kali ini yang terdengar. Sepertinya ia sedang menikmati kopi paginya.
"Urus assisten houskeeping itu. Kalo perlu pecat saja."
"Kenapa tidak kau sendiri saja yang melakukannya? " Martin menggoda Joe.
"Iisshh! Kau ini, Akan kubunuh kau begitu aku menyelesaikan kontrak ini."
"Ha ha ha," Martin hanya tertawa. Ia tahu Joe tidak mau membuka samarannya.
Joe menutup telpon dengan sepihak lagi. Ia tak mau mendengar olokan Martin. Joe bersantai sejenak, lalu ia mengganti bed sheet, memasukan bed sheet yang kotor ke dalam red bag, dan membuangnya ke tempat sampah. Saat Joe selesai dan berbaring di bednya lagi, Erika membuka pintu dengan gontai.
"Kenapa kembali secepat ini? Kau memerindukanku
Erika tidak langsung m3njawab ia melempar sepatu ke arah Joe.
"Baguslah. Kau bisa mengahabiskan sisa hari bersamaku. Ayo kita ulangi kejadian semalam," Joe meletakkan sepatu kerja Erika di lantai. Namun Erika mendaratkan sepatu yang satunya ke arah Joe lagi.
"Aku tidak mau, I am caput now," ( Aku aambyar)
Erika memang terlihat kelelahan, Joe tidak menggodanya lagi.
"KeKemarilah
"Aku tidak mau. Kalau aku mau pasti kamu melakukannya lagi. Dan aku sedang tidak mau."
"Berarti lain kali mau?" kembali Joe menyeringai.
Erika dibuat kesal, ia hendak naik ke bed atas tapi dicegah Joe.
__ADS_1
"Kemarilah, aku sungguh tidak akan melakukannya kali ini," Joe menuntun Erika ke bednya dan memeluknya.
Erika merasa nyaman berada di dalam kukungan lengan Joe. sedangkan Joe merasa nyaman dengan aroma lavender dari tubuh Erika.
"Katakan ini wangi apa? Kenapa tubuhmu beraroma seperti ini?" Joe menciumi pundak Erika sesekali membaui badannya.
"Ini aroma lavender.?"
"Kenapa kau memakai aroma lavender?"
"Di mulai dari beberapa tahun yang lalu. Saat zika virus melanda. Ada seorang teman memberikan tanaman lavender. katanya ampuh untuk membunuh nyamuk. Lalu tanamab lavender dikembang biakkan oleh ibu dan kakakku. Kebetulan waktu itu ada voulenteer yang mengajarkan cara membuat sabun dan aroma terapi juga parfum dan sampoo di komplek apartemen kami. Semua keluargaku ikut dan membuatnya. Mulai saat itu kami memebuat sendiri kebutuhan mandi kami sampai sekarang. dan keluargaku tak ada yang kena zika virus," Erika menjelaskan panjang lebar lalu jatuh tertidur.
"Ketiduran ya?" Joe menggoyangkan badan erika pelan untuk memastikan Erika tertidur. Ia m3mandanginya lama sampi ia pun ikut tertidur. Mereka terbangun dengan suara sirine keras.
"For crew only. For boatdrill only. Attention! deck B aft garbage room alpa code alpha code!" terdengar suara officer dengan logat khas italia.
"Oh ****!" Erika dan Joe terbangun bersamaan dan mengumpat bersama.
"Boatdrill lagi. Ga tau apa lagi enak tidur," umpat Joe sambil mengambil kartu boatdrillnya dan life jacket diatas lemari.
"Kamu ngapain. Lagi sakit ga usah ikut," Joe melihat Erika bersiap juga.
"Manoj memberiku ijin tanpa sepengaetahuan yang lain apalagi medical center. kalo aku nggak ikut boatdrill bukan hanya aku yang dapat banana. tapi Manoj juga. Kasihan. Dia bos yang baik. Jadi aku tak boleh memberinya banana."
"crew alert crew alert crew alert! "terdengar dari speaker suara officer dari bridge diiringi suara sirine panjang memekakkan telinga.
Joe dan Erika keluat kabin beriringan.
"****!" Erika mengumpat lagi.
"Ada apa!"
"Kau tidak mengerti juga. Setelah semalam yang kulalui kini aku harus naik tangga sampai ke muster stationku di dek 5."
"Ha ha ha!" Joe tertawa, ia mengerti Erika susah berjalan karena perbuatannya semalam. Lalu ia memutuskan menggandeng Erika menaiki satu persatu staircase sampe di dek 5.
__ADS_1
*Di kapal pesiar, latihan keselamatan atau boatdrill dilakukan secara berkala. Dan saat boatdrill semua crew atau guest tidak diperkenankan naik elevator. Semua crew harus ikut boatdrill kecuali yang stand bay atau sakit.
\*\*\*