
Erika bisa merasakan kapal bergerak perlahan, menepi kemudian bersandar. Ia sudah bangun pagi sekali. Tapi gangway baru dibuka pukul 7. Crew mess dibuka pukul 7. Jadi ia memutuskan ke crew mess hanya mengambil air panas. Crew mess menyediakan air panas nonstop selama 24 jam, lalu kembali ke kabinnya. Ia menyeduh nongshim rasa sapi. (Nongshim :merk mi instan yang umum ada di kapal) memakannya tapi rasanya masih lapar. Ia lalu menyeduh lagi cup mi instan yang ia simpan di drower. Ia punya beberapa stok. Ia belum pernah merasakan yang satu ini Jayden yang memberinya. Kata Jayden mi instan di negaranya punya banyak varian rasa dan tidak terlalu asam.
"Soto ayam, ayam bawang, bakso sapi," baca Erika dalam hati. Ia mengambil rasa soto ayam. Rasa semacam apa ini. Erika penasaran dan ia belum pernah memakannya. JAyden bukan tipe pembohong. Ia seperti Su. Jujur dalam mengatakan sesuatu. Seperti tak makan babi dan minum alkohol. Tapi pernah Erika mendapati Jayden minun wine.
"Katanya tak minum alkohol?" tanya Erika waktu itu.
"Ini kadarnya kurang dari 14 persen. Baik untuk kesehatan jantung. Kau tau di rumahku ada makanan yang kadarnya alkohol 14persen. Tape ketan namanya. Mereka memperbolehkan memakannya."
"Kau tau kenapa ratu inggris panjang umur?"
"Ratu inggris? PRIncess Diana?"
"Bukan Ratu elizabeth 2. Dia masih hidup sampai umur 90 tahunan. Salah satu rahasianya adalah rutin minum wine berkadar 9 persen."
"Ternyata kau pintar juga Jayden. Tidak seperti penampilanmu yang terlihat oon. Kau besar dan oon, hahaha," Erika teringat dengan kakaknya Mauricio dia besar dan sekarang terlihat oon gara- gara kecelakaan itu.
"hahaha. Kau mau se sloki?" Jayden menawarkan gelasnya.
"yes please." Mereka lalu menghabiskan sisa waktu iatirahat dengan minum wine di depan kabin Jayden. Ketika ada officer lewat mereka bubar jalan.
Erika mengingat hal itu sambil tertawa membuatnya tersedak kuah soto.
"Tumben udah bangun?" kata Joe. Ia membuka pintu kabin. Jam kerja malam.sudah selesai.
"Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak," Erika menyeruput mi instannya.
"Apa karena merindukanku," goda Joe. Tentu ia tau Erika tak bisa tidur karena antusias akan ketemu dengan ibunya.
__ADS_1
"Apa kau pantas dirindukan?"
"Gadis nakal?" Joe menepuk pundak Erika. Membuatnya tersedak lagi. Dengan cueknya Joe masuk ke kamar mandi.
"Jangan pergi sendiri. Tunggu aku mandi sebentar," teriak Joe dari kamar mandi.
"Kau tidurlah dulu. Aku kan pergi begitu gangway buka. Nanti kau bisa menyusul di tempat ibuku membuka lapak. Sekarang sudah jam 7. Aku pergi dulu."
"****!" umpat Joe. Ia tak jadi mandi. Keluar mengganti celana kerjanya dengan celana pendek kotak kotak dan t shirt v neck. Ia membawa tas berisi uang dan hp juga sun glases. Ia tau, jika ensenada bercuaca cerah, matahari akan bersinar terik. Itu membuatnya sedikit pusing. Ia berlari memakai kaos kaki menuju gangway. Sepatunya ia tenteng di tangan kiri. Tak mau ketinggalan Erika. Gadis itu bisa secepat kelinci larinya.
Gangway ada di portside. Joe melihat Erika sudah menscreen barang bawaan dan juga sepatunya. Joe segera meletakkan aepatunya di alat screen. Ada untungnya, sepatu tak ia pakai tadi. Erika hanya menyengir kecut. Tampak tak suka Joe di belakangnya.
"This senorita ini. Padahal aku yang bawa uang untuk membeli duvet pesanan si kampret martin. Kenapa ia kelihatan jengkel. Tapi dia menggemaskan," batin Joe dalam hati. Keluar wajah mesum mode on. Erika tahu itu dan ia menyeringaikan wajahnya.
"Apa rencanamu?"
" Kedengarannya kau seperti mengusirku. Aku tidak suka itu. Aku mau ikut ke apartemen."
"Ai ya ya..." Erika tak berkomentar lagi. Komentarnya tidak akan berguna untuk Joe. (Ai ya ya adalah ungkapan seperti oh my god, aduh)
Sisa sunrise di Ensenada mulai memudar, tergantikan aroma laut dan angin hangat menyapa wajah Joe dan Erika. Kaki Erika memang lincah. Ia berjalan di depan sedangkan Joe mengekor di belakangnya. Tidak bermaksud mengerjai Joe, Erika memilih berjalan menuju apartemennya, walau agak jauh. Mungkin setengah jam baru sampai. Jika pakai shutle mungkin hanya 6 10 menit kalau jalannya lancar. Sebenarnya Joe lelah semalaman tidak tidur, tapi ia tidak mengeluh. Melihat Erika bahagia, sudah seperti mendapat energi baru.
"Yang mana apartemenmu?" tanya Joe setelah mereka sampai di komplek apartemen.
"Yang bercat merah tua itu?" Erika mempercepat langkahnya.
"Senorita, wait for me. Tidak taukah kalau orang yang tak tidur semalaman itu jalannya oleng."
__ADS_1
Erika tidak menggubris, ia berlari menuju lantai tiga, lantai teratas. Di pintu paling pojok ia mengetuk pintu. Tidak ada bel disana. Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan terkejut mendapai putrinya berada dihadapannya.
"Mamita!" seru Erika lalu mengambur kedalam pelukan wanita itu.
"Mi querida," dolorea balas memeluk putrinya.
"Ada apa? Kenapa pulang. Apakah sesuatu terjadi padamu?" Dolores mengira Erika dipecat dari pekerjaannya dan diantar pulang.
"Aku dapat pekerjaan kusus ibu. Jadi boleh keluar. Kapal berlayarnya besok sore."
"Oh begitu. Ayo masuk, kita ngobrol di dalan," dolores mengajak Erika dan Joe masuk. Dengan ramah ia mempersilahkan Joe duduk di kursi sofa tua di ruang tamu.
Dolores membuat lemon tea dengan es. Ia menyuruh Erika memberikannya pada Joe.
"Minumlah. Dan tunggulah disini. Aku mau membantu menyiapkan dagangan ibu dulu," pesan Erika sebelum menghilang di dapur. Joe hanya menganggukkan kepala. Lalu meminum lemon tea dalam sekali tegukan.
Joe memandang kesekitar. Tidak ada dekorasi special. Ruangan sedikit pengap, mungkin karena tidak terlalu luas dan hanya sebuah jendela kecil disebelah pintu sebagi ventilasi. Sebuah salib kayu dengan altarnya dan lukisan bunda maria tertempel di salah satu dinding. Dekorasi yang umum di temukan di keluarga mexico.
"Ah pacarmu tertidur," kata dolores membuat Erika tersipu.
Baru saja dolores menyiapkan roti sandwich untuk sarapan, Erika bilang Joe tidak suka pedas, makanya dolores tidak membuatlan taco. Ketika selesai ia mendapati Joe sudah tertidur di sofa dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
"Biarkan saja bu. Dari semalaman ia tidak tidur. Dia tahu aku dimana kalau mencariku nanti," kata Erika. Ia mencopot sepatu Joe agar merasa sedikit nyaman. Menyalakan kipas dengan low mode on. Menulis sesuatu di tisu dan meletakkan di meja ditindih dengan piring sanwich ujungnya. Agar tidak terbang saat mesin menyala.
"Semoga saja ia tidak seperti ayahmu jika kalian menikah lagi," harap dolorea.
"Ibu?" Erika menyikut ibunya pelan. Mereka berdua lalu pergi mendorong gerobak mini menuju super market. Setelah sekian lama Erika membantu lagi ibunya menyiapkan lapak dagangannya dan ia merasa bahagia bisa melakukan itu.
__ADS_1