
Kapal pesiar Happy Star kembali ke home port di Long beach, Los Angeles, California setelah menyelesaikan 1 cruise nya. Tamu-tamu turun digantikan tamu yang baru, bahan bakar diisi. Barang-barang yang diperlukan dimasukkan untuk kebutuhan selama 1 vessel.
Para petinggi tampak lebih sibuk. Ada orang penting yang datang. Istri kedua dari pemilik perusahaan datang, mereka sibuk melakukan persiapan untuk menyambut. Mrs. Diana Hurley, datang ditemani seorang ajudan wanita dan 4 pengawal pribadi. Dua orang membawakan luggage, dan dua orang berjalan di samping kiri dan kanan.
Kapten, beberapa officer, semua manager (FnB, Housekeeping, Bar),dan Hotel direktur menyambut sampai di pier.
"Selamat datang Diana," Luca la biaci sang kapten mencium tangan Diana sebagai bentuk ettiquet.
Diana tersenyum, anggun seperti seorang ratu. Baju terusan merah marun semakin menambah kesan elegan.
"Selamat datang bibi," sambut Martin sembari memeluk dan mencium kakak ayahnya sekaligus ibu Joe.
Setelah menyalami semua yang menyambutnya, Diana diantar Martin ke kabinnya. Kabin suit di dek paling atas.
"Mari masuk," Martin menggandeng tangan bibinya.
"Kemana Joe?" bisik Diana.
"Dia masih tidur, shift malam bibi. Kalau aku membawanya kemari, nanti semua orang curiga," Martin menjawab dengan setengah berbisik juga.
Kabin telah disiapkan oleh kabin steward. Semuanya sudah rapi dan bersih. Diana mengecek semua keadaan. Dia mengangguk-angguk puas.
"Martin, aku ingin meminta sesuatu darimu," kata Diana.
"Apa bi?"
"Aku minta 2 orang kusus yang membersihkan kabinku. Mereka hanya akan mengurus kabin ini selama aku disini," Diana mengungkapkan keinginannya.
"Baik bi, aku akan mengurusnya."
"Trimakasih."
Setelah meninggalkan kabin suite milik Diana, Martin segera menelpon housekeeping manager meminta 2 orang kusus untuk melayani Diana.
...***...
Jayden yang sedang tidur nyenyak di kabinnya terganggy oleh dering telpon.
"Halo," Jayden mengeluarkan suara khas bangun tidurnya.
"Segera ke housekeeping office sekarang juga!" perintah suara dari seberang sana.
Jayden yang belum sadar betul dari tidurnya langsung bangun, mencuci muka dan memakai seragamnya. Ia pikir sudah telat masuk kerja. Di housekeeping office, Jayden bertemu dengan Erika. Jayden melotot pada Erika seperti bertanya: "Ada apa?" Dan Erika mengangkat bahu seolah memengatakan:"Tidak tahu."
George, seorang pria kulit hitam, housekeeping manager menyambut mereka.
"Jayden dan Erika, aku dengar kalian hotel steward dan hotel stewardess terbaik. Beberapa orang telah merekomendasikan kalian padaku," kata George.
"Kalian tahu kenapa kupanggil ke sini?"
"No, sir!" jawab Jayden dan Erika bersamaan.
"Aku akan memberikan tugas pada kalian untuk melayani Mrs Diana Hurley. Dia adalah istri dari pemilik kapal ini. Jadi kaloan harus melakukannya dengan baik. Kalian aku bebaskan dengan jadwal shift kerja kalian. Tapi sebagai gantinya kalian harus siap 24 jam dipanggil jika mrs. Diana memerlukan kalian, kalian mengerti?" tanya George panjang lebar.
__ADS_1
Jayden berpikir agak lama mencerna kaka-kata George . Sedang Erika bengong masih belum ada gambaran yang akan dikerjakannya.
"Apa kalian mengerti?" ulang George.
"Yes sir!" jawab Jayden. Sedangkan Erika hanya menganggukkan kepalanya.
"Kuberikan kalian 1 telphon, untuk memudahkan komunikasi," George menyerahkan 1 telpon genggam , dan Jaeyden mengambilnya dan pamit pergi.
"Nih kamu saja yang bawa," Jayden menyerahkan telphon pada Erika tapi dia menolaknya,
"Kamu aja yang bawa, new hire dan new contrak masih takut membawanya."
"Ah kau ini! Dulu aku first contrack langsung dijadikan runner lho. Karena masih belum paham, sering kali dimarahi juragan," Jayden memasukkan telphon ke saku celananya.
"Eh Boleh aku main ke kabinmmu?" tanya Jayden, ia sudah tidak ngantuk lagi.
"Lain kali aja deh, kabin mate ku jam segini masih molor," tolak Erika. Ia mengingat wajah dan kejadian saat di kamar mandi. Membuat Erika begidik ngeri.
Dan sekarang Erika harus pergi ke kabinnya, kalau pergi ke public area, ia pasti akan membuat iri ttemantemannya.
"Kenapa ke kabin?" tanya Joe ketus melihat Erika masuk ke kabin.
"Ini kabinku tau, jadi aku boleh masuk ke sini sesuka hati," Erika membalas tak kalah ketus.
"Kamu pasti sedang mamagayo," ledek Joe. Ia berbaring di bednya hanya memakai boxer.
"Enak saja. Aku ini pekerja yang rajin tau, " Erika duduk di satu-satunya kursi yang ada di kabin, ia mengambil galon kecil air mineral.
Joe mulai kesal, belum pernah ada seorangpun yang berani menyuruhnya. Sekarang ada gadis ingusan dengan pangkat rendahan berani menyuruhnya.
"Apa?!" tanya Erika ketika Joe mendekatkan badannya. Sebenarnya Joe mau mencekik atau menjewer Erika, tapi setelah mendekat bau lavender yang menenangkan tercium hidung Joe. Dan melihat Erika wajahnya mulai memerah, Joe mulai menggodanya.
"Sebenarnya kamu tertarik pada tubuh ini kan? Lihatlah tubuhku bagus, tidak ada seorang wanita yang mampu menolakku," Joe mengusap-usap dadanya yang sedikit berbulu, lalu ke perutnya yang seperti martabak, lalu turun ke bawah masuk ke boxernya.
"AaAaargggghhhh!" Erika buru-buru masuk kamar mandi, ia tak sanggup melihat tingkah Joe, wajahnya mendadak seperti terbakar.
Di dalam kamar mandi, Erika duduk di closet, tiba-tiba pintu terbuka. Erika terkejut. Pintu kamar mandi tidak dapat dikunci, karena kabin 1026 adalah kabin untuk pasangan.
"Apa kau yakin tidak mau melakukannya denganku? Kita bisa melakukannya di kamar mandi," kepala Joe melongok ke kamar mandi. Erika mengambil tisu rol dan melemparkannya.
"Aduhh!" lemparan tisu tepat mengenai hidung Joe.
"Awas kalo berani melakukannya! Aku akan melaporkannmu ke HRD, sexual haharassmet," Erika lalu membanting pintu kamar mandi.
Kena timpukan tisu rol, Joe tidak marah, malah ia tertawa. "Kabin mate ku sungguh lucu."
...***...
Erika dan Jayden mulai bekerja setelah guest boatdrill selesai. Hari pertama cruise baru, setelah semua tamu masuk ke kapal. Boatdrill kusus guest diadakan. Hanya crew member yang punya duty yang ikut boatdrill ini. Berbeda dengan general boatdrill, seluruh crew member wajib mengikutinya.
Tugas Erika di sore hari adalah maintenance kebersihan suite kabin milik Mrs. Diana. Mengganti handuk yang bersih, mengganti hand towel, bath math, dan washclotes. Membersihkan yang kotor saja.
Karena hanya satu kabin yang dibersihkan dan memiliki waktu yang lama, akhirnya mereka nganggur, dan hanya pura-pura sibuk saja.
__ADS_1
"Kerja yang bener," Joe muncul dari luar dan menjitak kepala Jayden dan menjewer kuping Erika.
"Aduuh sakit boss!" Jayden dan Erika mengerang.
Joe tak menghiraukan, ia langsung menemui Diana yang sedang berada di balkoni. Memandangi home port Long beach yang perlahan ditinggalkan. Sea guard mengawal kepergian Happy Star dengan 3 speed boat, di depan dan dua speed boat disamping kapal.
"Anakku, apa kabar? Ibu rindu," kata Diana saat mengetahui putranya datang.
"Ibu tidak usah pura-pura, pasti ayah yang menyuruhmu kesini kan?"
" Aku tidak mau mengakui anakku itu ato menikah dengan ibunya, karena aku sama sekali tidak melakukannya," tolak Joe.
"Bukan Joe, ibu tidak disuruh ayahmu. Ibu hanya rindu padamu." Walaupun memang suaminya, Robert yang menyuruh untuk membujuk Joe, ibu tidak mengatakannya, bila Joe tahu tentu akan membuatnya berang. Lalu ibu dan anak itu bercakap- cakap cukup lama.
Erika dan Jayden yang memperhatikan dari bali kaca di dalam kabin. Penasaran dengan apa yang diomongkan ibu anak itu.
"Menurutmu mereka membicarakan apa?" tanya Erika.
" Mungkin dia mau cari muka, kontral depan bisa nambar bar lagi di pundaknya," cerocos Jayden. Ia teringat dengan beberapa orng Eropa dari negar Eropa miskin, kalau di kapal mereka cepat sekali naik pangkat.
"Atau mungkin bos pacarnya Mrs. Diana?"
"Sembarangan kalo ngomong," Erika menimpuk Jayden dengan rag yang digunakan untuk ngelap. Tapi dalam hati Erika ragu, apakah iya, teringat Joe mengatakan "tidak ada wanita manapun yang mampu menolak dirinya." Erika begidik membayangkan hal itu.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Diana.
Erika dan Jayden tidak menyadari karena sedang mengamati Joe keluar dari kabin.
"Kenapa memandangi orang itu?" tanya Diana merasa heran.
"Eh tidak madam, saya hanya melihat supervisor saya keluar," Jayden menjawab dengan gelagatan.
"Apakah selama jadi supervisormu dia menyebalkan?"
"Kalau saya katakan sejujurnya nanti saya dipecat madam," jawab Jayden.
"Tentu saja tidak. Ceritakan padaku?" Diana ingin mengetahui bagaimana Joe dimata anak buahnya.
"Dia galak dan suka memberi say hard time. Tapi jika bar 2 ato bar 3 memarahi saya dia akan mencover saya. Jika ada orang dari departemen tertentu memberi saya hard time, dia juga kan melindungi saya. Katanya, hanya dia yang boleh memberi saya hard time," kata Joe jujur. Diana hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana pendapatmu pada Joe?" Diana berpaling pada Erika.
"Saya rasa dia marah-marah uutuk melampiaskan masalahnya saja. Dia itu seperti punya masalah yang besar, tapi entahlah madam, saya belum pernah bekerja dengannya, hanya bertemu beberapa kali dan selalu marah-marah tidak jelas."
"Apa madam akan menjamin kami tidak akan kena marah Joe tanpa alasan?" Jayden kepo.
"Tentu saja tidak," Diana tertawa. "Aku hanya bertanya saja bagaimana hubungan supervisor dan anak buah di kapal ini. Dan menurutku jawaban kalian sangat objektiv."
"Kalo kalian sudah selesai kalian pergilah, aku akan memanggil kalian jika aku membutuhkan, cukup untuk hari ini."
Jayden dan Erika sangat surprise, istri pemilik kapal ternyata sangat humble, tidak seperti mereka bayangkan.
...***...
__ADS_1