
Erika sedang tak ingin di ganggu. Ia ingin sendiri. Tapi entah kenapa Joe selalu menguntit. Saat dia di staircase, Joe muncul dengan cup hot chocholatenya. Bahkan meminta dicium. Erika kesal
"Cium aku kau akan bahagia,"kata Joe.
"Yang bahagia kamu, kalo aku seperti ketiban kapal ini."
Erika hendak pergi tapi tangannya dicegah Joe.
"Cium dulu."
"Lepaskan," sugguh Erika tidak mau melayani Joe. Apalagi ini di tempat umum. Walaupun di staircase aft ini sangat sepi.
"Kau tidak ingat janjimu. Melakukan apa yang kuinginkan."
"ishhhh."Erika mendengus kesal sebelum akhirnya mencium bibir Joe sekilas.
Walaupun ciuman sekilas tapi membuat Joe senang. "Nanti lagi di kabin."
Erika mendengus lagi. Sebelum ia marah-marah Joe menempelkan cup coklat panasnya ke dahi Erika. Erika meringis.
"Coklat panas akan membuat moodmu lebih baik." kata Joe sebelum pergi.
Erika yang tak siap dengan cup yang dikasih Joe,membuat coklatnya sedikit tumpah.
Ia meminumnya setengah,sambil mamagayo sebentar di staircse aft.
"Ahh dia benar. Coklat panas membuat moodku berubah," Erika berbicara pada dirinya sendiri.
Staircase aft (tangga yang terletak paling belakang di kapal) adalah tempat favorit crew houskeeping untuk mamagayo (santai), pasalnya ada rumor tetang hantu di sini. Jadi kebanyakan takut, bahkan petinggi kapal happy star juga tak mau ke sini. Untuk para crew yang pemberani disini adalah surga mamagayo.
Martin juga mulai bersikap aneh pada Erika. Ia menunjukkan bahwa ia menyukai Erika. Erika pun sadar akan hal itu. Walaupun Erika suka dengan Martin juga, tapi rasanya aneh jika membayangkan ia bersama Martin. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya entah apa. Yang jelas perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
"Hei,sedang mamagayo?" Martin mengagetkan Erika dengan kedatangannya di staircase aft. Seorang hotel direktur ke pergi ke staircase aft. Oh my god.
"Kaget ya?" tanya Martin sedikit merasa bersalah, Erika dengan gugupnya membersihkan tumpahan coklat di lantai.
"Tttidak...kukira hantu beneran,"Erika gemetaran, jantungnya berdetak cepat sekali.
"Masak ganteng begini dibilang hantu," Martin mendekatkan wajahnya ke wajah Erika. Erika mundur sampai kepalanya kepentok staircase. Dan cup! Martin mengecup bibir Erika sekilas. Erika membeku.
"Jangan bilang ini ciuman pertamamu," (ini yang kedua denganku, yang pertama kau melakukannya denganku saat mabuk, Martin berkata dalam hati)
__ADS_1
Erika masih membeku,lalu ia mencicit dan pergi. Rasanya aneh sekali.
"Kenapa aku jadi merasa bersalah begini, seperti habis mengambik kesuciannya," Martin mengusap kepalanya.
Kejadian yang di alaminya saat port ensenada terakhir. Ciuman dengan Joe dengan Martin juga, membuat pikirannya los dol seperti zombie.
Selesai clock out,Erika berjalan terhuyung menuju kabinnya, tanpa cuci muka cuci kaki dan sikat gigi, juga ganti baju, dengan malas Erika memanjat bed atas. Ia menutup curtain dan menangis sesenggukan, sampai ketiduran.
"Bahkan tidurpun dia masih menangis," Joe mengoleskan petrolium jeli ke telapak tangan Erika diam-diam.
"Tanganmu ini harus sehat. Tak boleh lecet. Cairan firek memang menakutkan. Besok aku akan mencari chemical pengganti firek yang aman untuk kulit terutama untuk kulitmu," Joe berkata dalam hati.
Erika membuka mata mendapati curtain bednya terbuka dan wajah Joe sejajar dengan paha Erika
"Mau apa?" kata Erika.
"Kau tidur sambil kentut ya,? Dari tadi bau sekali tau!" Joe beralibi. Ia segera mengantongi cepuk petrolium jeli. Wajahnya galak seperti biasa.
"Masa sih?" Erika tadi mau marah mendadak jadi malu. Apakah benar ia kentut saat tidur. Memang sih seisi kabin bau kentut. Padahal memang Joe yang kentut tidak bunyi tapi melempar bola api pada Erika.
"Ini baunya ga ilang ilang. Kalau mau tidur ke kamar mandi dulu. Kabin ini jadi bau seperti sampah busuk,"Joe pergi setelah marah-marah. Pintu kabin ditutup dengan sedikit dibanting.
Erika bengong, sepanjang sisa malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Morning Su," Erika bertemu di staircase, sebelum meeting pagi dimulai. Kepalanya pening karena tidak bisa tidur nyenyak.
"Itu apa?" tanya Erika setelah mereka duduk di staircase.
"Ini petrolium jeli. Bagus untuk tangan. Membuat halus," jelas Su. Ia memperlihatkan tangan kanannya pada Erika. Benar memang halus. Padahal Su seperti Erika, berkutat dengan firek dan chemical pembersih lainnya setiap hari.
"Try it," Su menyuruh Erika mencoba.
"Krim ini,bau ini. Beberapa hari ini aku merasakan bau ini saat bermimpi. Apakah?" Erika berbicara dalam hati dan mencurigai sesuatu. Lalu melihat kedua telapak tangannya. Halus. Padahal kemaren sempat pecah-pecah karena chemical pembersih.
"Try it!" ulang Su. Erika mencolek sedikit krim dalam cepuk di tangan Su lalu mengoleakan di tangannya.
"Nice a nice a?"Su mencari pembenaran.
"Yeah nice!" Erika mengacungkan jempolnya.
"Lebih baik lagi kau oleskan pada tanganmu sebelum tidur," saran Su.
__ADS_1
"Ok."
Manoj datang ke stairxase berasama Kadek dan meeting pagi dimulai. Su menyimpan peteolium jeli di kantung celananya.
Jam 11 malam waktu kapal. Erika selesai kerja. Ia tidak selera makan, jam 12 kurang seperempat crew mess buka. Hidangannya jauh lebih enak dibandingkan pagi hari, terutama menu asia. Enak. Ia berjalan ke kabin dengan gontai. Berbeda dengan Jayden yang berlari cepat-cepat ke crew mess.
"Kenapa larimu seperri dikejar hantu begitu?" Erika bertanya saat Jayden hendak menabrak dirinya di dek 1.
"Mau ke crew mess ada hidangan istimewa."
"Hidangan isrimewa?"
"Hari ini ada sambel kering tempe, bakwan jagung dan ikan pindang,"jawab Jayden.
"Tempe?"
"Emm..apa ya. Kau pernah makan fiji burger? Kalau pernah seperti itulah kira-kira bentuk tempe. Terbuat dari kedelai. Enak. Endol marendol tak endol-endol," jelas Jayden menggebu tapi yang dijelasin tidak tahu.
Tempe adalah makanan istimewa bagi orang Indonesia dan asia tenggara di kapal. Tidak setiap hari ada.
"Mau ikut ke crew mess?"
"Tidak Jayden. Aku ngantuk," Erika membuka kabinnya.
"Ya udah aku pergi dulu. Lain kali akan kubawakan untukmu."
Malam ini pun Erika tidak bisa tidur. Ia menangis jika memikirkan ibu dan kakaknya. Ia pun menangis mengingat Joe. Dadanya terasa nyeri. Malam ini ia mau membuktikan kalau Joe bukan orang yang galak seperti selama ini ia pikirkan.
Jam 2 pagi, pintu kabin di buka. Joe meletakkan kunci kabinnya di meja. Membuka curtain bed Erika pelan sekali tanoa suara. Dengan hati-hati ia mengoleskan petrolium jeli ke telapak tangan Erika. Erika menyadari hal itu. Ia hanya pura-pura tertidur. Tapi air matanya mengalir saat memejamkan mata.
"Masih sedih tampaknya," gumam Joe lirih. Lalu ia keluar lagi. Saat Joe pergi, Erika membuka matanya dan melihat kwdua tangannya licin kena peteolium jeli. Ternyata benar Joe, bisik Erika. Ia melongok ke meja ada beberapa bungkus makanan ringan dan note di sana. Erika mengambil dan membacanya.
"Aku tadi beli jajan kebanyakan. Sebaiknya kau makan saja,"tulis Joe.
"Cowok ini sengaja membeli jajan untukku tapi tetap saja, ia bersikap seolah-olah angkuh. Ternyata..."Erika menangis lagi. Kenapa hatinya menjadi bergetar seperti ini.
Erika keluar kabin, dari pada di kabin menangis terus. Ia memutuskan membeli minuman ringan di crew bar, sebelumnya ia ingin memasukkan uang ke dalam sailn sale cardnya ke mesin. Dan terkejut jumlah saldonya hampir 1000$. Erika ingat terakhir dipinjam Joe. Pasti Joe melakukan ini. Ke crew bar ia urungkan. Kembali ke kabin dengan air mata menetes.
Erika menunggu Joe pulang. Tak bisa tidur sampai pagi. Jam 4 pagi. Pintu kabin terbuka. Joe mendapati Erika duduk, wajahnya awut-awutan dan menangis.
"Ada apa?"
__ADS_1
******