Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Special Project


__ADS_3

Joe memang berhati hati pada Martin, terutama jika ada hubungannya dengan Erika. Tapi Joe juga mau tak mau harus selalu minta tolong pada Martin jika samarannya tidak ingin terbongkar.


Joe menyuruh Martin untuk memberinya dan Erika libur saat port Ensenada. Ia berpikir, Erika akan senang menghabiskan waktu sehari di kampung halamannya.


"Kenapa mengajak Erika?" Martin menyelidik. Ia menghirup rokoknya.


"Dia kabin mate. Dari pada setiap hari dengar dia menggerutu nggak pernah libur."


"Apa terjadi sesuatu pada kalian?" Martin menekankan perkataannya. Walaupun dari gerak gerik Joe dan Erika kelihatan telah terjadi sesuatu diantara mereka. Terutama Joe, ia sudah hapal betul dengan sikap Joe dengan wanita.


"Tidak ada."


"Baguslah. Aku berencana mendekati kabin matemu itu. Dia gadis menarik," Martin menghisap kembali rokok ditangannya yang t8nggal sed8kit.


"Jangan coba coba mendekatinya seperti wanita yang lainnya!" Dengan kasar Joe mencengkram kerah Martin. Martin tak menyangka Joe berubah jadi agresip. Ia hanya berniat menggoda Joe.


"Jadi memang sudah terjadi sesuatu diantara kalian." Martin melepaskan tangan Joe dan mengibaskan pakaiannya.


"Kau pikir aku tidak mendengar erangan kalian dari kabinku, keras sekali tau! Hahaha!" tambahnya.


"Pokoknya beri aku libur sehari!" Joe memang tak mengharap Martin tidak tahu tentang dia dan Erika. Tapi omongan martin membuatnya menahan malu.


Martin tidak menjawab sampai Joe keluar membanting pintu. Ia hanya menikmati hisapan rokok terakhirnya sebelum dimatikannya ke dalam tempat soda bekas.


Dua hari menjelang malam sebelum port Ensenada. Nikita dan George assisten houskeeping manajer bar 2,5 dan housekeeping manager bar 3 memanggil Joe dan Erika. Erika bertanya dalam hati,akankah mrs. Diana datang lagi dan ia disuruh membersihkan suite kabin di dek paling atas? Atau dia sudah membuat kesalahan, Nikita tipe pria seperti itu, mencari kesalahan dan kemudian memberikannya peringatan.


Di housekeeping office sudah ada George dan Nikita. Juga Joe yang menunggu sambil berdiri. Ada Manoj sedang mengerjakan laporan sambil curi dengar apa yang dibicarakan kedua petinggi di departemen housekeeping itu.


"Good afternoon sir," sapa Erika.


"Good afternoon Erika. I have a projek for you in Ensenada tomorrow," kata George membuka pembicaraan. Lalu ia memberikan isyarat pada Nikita untuk melanjutkan.

__ADS_1


"Hotel director meminta houskeeping untuk mencarikan duvet istimewa. Duvet itu hanya ada di Ensenada. Dia merekomendasikan kamu untuk membelinya, karena kamu tahu seluk beluk kota itu," Nikita mengambil kertas yang baru saja keluat dari dalam meain printer. Ia memberikannya pada Erika.


"Ini detail tentang duvet itu. Carilah dari toko ke toko. Mall ke mall. Kalau perlu kau datangi pabriknya."


Erika mendengarkan sambil membaca kriteria tentang duvet yang dipesan hotel director.


"Kalau perlu kau datangi pabriknya oke," ulang Nikita.


"Kami memberikanmu uang cash. Kalau nanti lebih tolong dikembalikan. Ini uang pribadi dari hotel director. Waktumu sampai kapal ini sailing. Kau tahu kan besok happy star overnight di Ensenada? Tak usah terburu-buru. Carilah barang seperti kriteria hotel director," Nikita sangat berhati-hati menyampailan pesannya. Bagaimanapun hotel director kedudukannya melampaui housekeeping manager. Ia tak mau salah dan disalahkan karena tak becus mengatur anak buah. (overnight :istilah ketika kapal pesiar ngedok/berlabuh lebih dari satu hari)


"Joe akan menemanimu. Sebagai orang Amerika seperti hotel director. Dia pasti tau selera orang Amerika pada umumnya," tambah Goerge. Ia menyerahkan amplop coklat. Tentu saja isinya uang.


Erika tersentak. Ternyata kehadiran Joe bukan sekedar untuk mengetik laporan di housekeeping office tapi karena panggilan dari housekeeping manager dan assiten housekeeping manager bar 2,5. Joe mengedipkan mata pada Erika. Erika mual tidak suka melihatnya. Apalagi didepan umum. Sementara Manoj yang curi curi dengar dan curi pandang tertawa tanpa suara di depan monitor.


"Kalau ada yang belum jelas telpon aku atau Nikita," Ucapan George seperti ucapan pamit. Karena selesai berkata dia pergi dari housekeeping office. Dibuntuti Nikita.


"Uang sebanyak ini untuk membeli sebuah duvet saja?" komentar Erika melihat kedalam amplop coklat berisi uang pecahan seratus dolar dalam jumlah yang lumayan. Mungkin 2000 dolar.


"Tapi tadi Nikita dan George tidak bilang untuk akomodasi juga. Hanya bilang ongkoa beli duvet," Erika mendadak menjadi lemot.


"Dan duvet seperti ini umum di gunakan orang Ensenada. Paling di mall dekat pier juga ada. Harganya juga tak lebih dari 100 dolar. 70 dolar mungkin. Ibu dan kakakku juga pake seperti ini," tambahnya.


"Kau bodoh makanya mudah dibohongi. Jika kamu tak mengambilnya untuk biaya akomodasi, nikita dan George akan mengambilnya. Juga sisa uang dari hotel director. Pasti tak akan dikembalikan. Mereka akan me mark up harga duvet itu."


"Bagaimana kalau hotel director bertanya sendiri padaku harga duvetnya?"


"Bar 2,5 dan bar 3 akan mengancammu lebih dulu agar kau tak mengatakan harganya. Mending diambil buat akomodasi."


"Hei, kalian berdua apa tidak menganggapku ada di housekeeping office ini?" sela Manoj.


"Tidak!" kata Joe dan Erika bersamaan.

__ADS_1


"Kompak sekali!"


"Kau bisa disogok dengan seporsi nasi goreng dari cinesse food." tambah Joe.


"Kalian ini. Dengan perginya kalian keluar aku jadi batal libur. Anak buahku kurang satu dan aku harus mengcover pekerjaanmu Joe. Jadi bisakah kalian berbaik hati padaku sedikit."


"Tidak" Joe dan Erika kembali kompak.


"Jadi bagaimana nih? Ambil atau tidak uang akomodasinya?" Erika mengalihkan pembicaraan.


"Dari pada bingung mending tanya pada Nikita langsung. NIH!"Manoj melempar telpon ke arah Erika dan kabur keluar housekeeping office sambil tertawa. Hp itu milik Joeyang tergeletak di meja Dan tanpa sepengetahuan Joe, Manoj mendial nomer Nikita. Usil juga si Manoj.


"Halo! Ada apa!" suara Nikita terdengar dari sebrang sana. Mau tak mau Erika mengangkatnya.


"Halo bos. Apakah uang diamplop coklat ini termasuk akomodasi untuk kita. Misalnya seperti untuk bayar taksi? "mendadak suara Erika terkena tremor. Grogi.


"Ya, sure! Gunakan secukupnya saja."


"Baik bos!"


"Ada lagi yang mau ditanyakan?"


"Tidak bos, trimakasih."


Nikita menutup tepat setelah Erika mengucapkan terimakasih.


"Gimana? Boleh digunakan untuk akomodasi kan?"Joe memastikan pada Erika kalau omongannya benar. Erika hanya mengangguk dan mengembalikan ponswl kerja milik Joe.


"Jadi kita menginap di hotel. Makan di restoran?"


"Kau ini! Aku tidak mau menginap di hotel. Jikapun harus menginap di darat. Aku akan pulang dan tidur di apartemen bersama ibuku. Kalau kau mau menginap di hotel ya pergi saja sendiri," Erika mendengus dan meninggalkan Joe.

__ADS_1


__ADS_2