
Sejak port terakhir Ensenada, Erika tidak bersemangat. Pikirannya terbagi menjadi 2. Bekerja dan memikirkan ibunya Dolores. Ia takut ayahnya akan memukuli ibunya lagi. Sedangkan Mauricio tidak bisa diharapkan untuk menjagjaibunya 24 jam, karena Mauricio harus mencari uang juga. Seandainya Erika bisa mengkloning dirinya menjadi 2, tentu hal itu akan mengurangi beban pikirannya. Satu kloning Erika untuk tetap bekerja di kapal pesiar, dan satu kloningan lagi untuk menjaga ibunya 24 jam.
Atau jika Erika mempunyai uang yang sangat banyak, itu akan lebih mudah lagi. Ia tinggal menyewa bodyguard untuk menjaga ibunya 24 jam. Ia yakin ayahnya tak akan berani untuk mengganggu ibunya lagi. Tapi apalah daya, apartemen saja ia hanya mampu menyewa yang murah, itupun patungan dengan ibu dan Mauricio. Erika hanya seorang prgawai rendahan di kapal pesiar, yang tugasnya membersihkan restroom. Walaupun gajinya lebih dari cukup untuk hidup di negaranya Mexico tapi tak akan cukup untuk membayar seorang apalagi dua orang bodyguard.
Martin berpapasan dengan Erika di hallway kabin tamu. Martin sudah memasang senyum termanisnya, tapi Erika melewatinya. Nyelonong begitu saja, membuat Martin heran. Ia segera menyusul Erika dan menepuk punggungnya.
"Oh eh, hai... good morning," sapa Erika asal.
"Sekarang jam 11 lebih 20 menit pm. Kau bilang bilang good morning?" Martin mengernyitkan alisnya pura-pura berpikir.
"Eh em anu.. maksudku good evening," Erika menjawab lalu tersenyum dengan terpaksa.
"Apa sudah selesai kerja?"
"Aku baru saja clock out."
"Apa kamu baik-baik saja? Kelihatannya harimu tak begitu baik."
"Apa kamu pernah melihat pegawai rendahan sepertiku baik-baik ssaj di kapal ini? Sedangkan mereka harus kerja penuh tekanan selama 10 jam sehari tanpa libur selama kontrak?"
Martin mengernyitkan alisnya, kali ini ia berpikir perkataan Erika ada benarnya.
" Tidak usah dipikirkan. Pegawai sepertiku sudah memikirkan konsekwensi dari awal, jadi tekanan dan jam kerja yang panjang sudah biasa, he he he," Erika tertawa kali ini.
"Maksudku apa kamu sedang memikirkan sesuatu? Tadi saat berpapasan denganku, kau bahkan tidak menyadarinya. Padahal aku ini sangat tampan," Martin menyombongkan dirinya.
"Mungkin saking tampannya, hingga aku tidak menyadarinya, ha ha ha!"
"Jadi kau mengakui kalau aku benar tampan."
"Tentu saja, bukankah semua orang juga begitu."
"Baiklah mari ke crew bar, ku traktir kau sesuatu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau kau belikan air mineral, di kabinku masih banyak."
"Jadi kau mau ku traktir apa?"
"Sesuatu yang beralkohol. "
"Awoohh, you are class man (kamu keren)," Martin pura-pura terkejut. Ia lalu merangkul pundak Erika menuju crew bar.
Martin membeli 2 botol corona dan menenggaknya bersama Erika. 1 botol telah habis.
"Masih ingin minum lagi?" tanya Martin. Erika hanya mengangguk, entahlah hari ini rasanya ia ingin minum yang banyak. Tak lama Martin membawa 2 gelas bacardi. Saat Martin menyesapnya, Erika langsung menenggaknya. Kepalanya mulai pusing, tapi Erika masih mau minum lagi. Martin membeli sebotol jack daniel. Merasa diperhatikan pengunjung crew bar Erika keluar dari sana menuju crew smoking area. Tengah malam disan sepi, hanya angin semilir yang berhembus, tubuh Erika yang mulai panas sedikit mendingin.
Martin tidak banyak bertanya, ketika Erika ingin minum lagi. Ia menuangkan jack danielnya ke gelas kertas tempat kopi. Erika mulai merancu. Sedangkan Martin menyalakan rokok mengusir hawa dingin.
"Kau tau tidak ? Kau itu tidak pantas...." Erika menujuk-nunjuk Martin. Dalam penglihatan Erika, Martin adalah ayahnya.
"Tampaknya kau memang sedang marah dengan seseorang," batin Martin.
"Jangan lagi-lagi kau ganggu, atau kau akan menerima ini dariku?" Erika tiba-tiba memegang kepala Martin dengan kedua tangannya dan memukulnya dengan kepalanya sendiri.
"Marah ya marah tapi kenapa harus memukulku ?" Mertin mengusap bibirnya yang pecah kena tandukan kepala Erika.
"Jangan sedih lagi ya," Erika mengusap-usap pipi Martin dan menc**mnya sekilas, bibir Erika nyerempet sedikit dibibir Martin. Membuat Martin merona. Erika melihat Martin sudah berubah menjadi ibunya, makanya Erika menc**mnya.
Hawa dingin di crew smoking area, karena smoking area berada di open dek. Membuat Martin ingin buang air kecil, tapi ia harus menahannya karena tak ada yang menjaga Erika. Kalau ditinggal, Martin takut Erika melakukan hal konyol. Sampai ia melihat Jayden datang membawa plastic bag berwarna kuning. Ia sedang membersihkan sampah di smoking area.
"Tolong kamu jaga gadis ini ya, aku mau ke toilet," kata Martin sudah tidak tahan lagi. Sebelum pergi ia mengeluarkan 20$ pada Jayden.
"Rejeki nomplok nih, menjaga orang mabuk dapat 20$," Jayden membaui uang 20$ dan memasukkannya dalam kantong celananya.
"Erika?!" Seru Jayden kaget. Mana ada petugas security sedang patroli lagi. Mana hotel direktur lama lagi. Setelah melihat key card kabin Erika menggantung di celana Erika, Jayden memutuskan untuk membawa Erika ke kabinnya.
"Dari pada ketahuan security sedang tepar, bisa di pulangkan sebelum akhir kontrakmu, mending kamu ke kabin aja," Jayden bicara pada Erika, tapi Erika tidak menanggapi, ia duduk dan hampir melorot ke bawah.
__ADS_1
Jayden menggendong Erika di punggungnya, dan harus kucing-kucingan dengn petugas security.
"Kamu makan apa sih? Tubuhmu berat sekali," gerutu Jayden. Untung elevator sepi, jadi Jayden turun ke dek 1 lewat elevator. Sepanjang koridor Erika mulai ngamuk, ia berusaha menjambak Jayden, tapi karena rambut Jayden plontos jadi ia tak bisa menjambaknya alhasil Erika memukul dan mencakar Jayden.
"Aduhhh, demi 20$ aku rela melakukan ini. Sabar Jayden," Jayden menggerutu.
Tiba di kabin Erika, Jayden langsung mengambil kunci yang menggantung di celana Erika dan membukanya. Di dalam kabin Jayden terkejut karena supervisornya ada di sana.
"Bos sedang apa disini?" tanya Jayden.
"Bukan urusanmu! Kenapa dengan dia?" Joe panik melihat Erika tepar di papah Jayden.
"Tadi dia minum dengan hotel direktur, dan tepar."
"Sudah sana kamu keluar, biar dia aku urus," Joe mengusir Jayden, sebelum Joe menutup pintu ia memberikan Jayden 50$.
"Jangan bilang siapa-siapa," ujarnya lalu membanting pintu.
"Demi 50$ aku tidak akan bilang siapapun," Jayden tersenyum sumringah, mimpi apa dia semalam dalam waktu kurang dari sejam ia dapat 70$. Sebenarnya meskipun dia tidak mendapatkan uang, ia juga tidak akan bilang siapapun.
Jayden bertanya dalam hati, apa Joe dan Erika adalah pasangan? Tapi kenapa Erika tidak pernah cerita padanya. Sudahlah, Erika pasti punya alasan sendiri. Jayden memutuskan tidak mencampuri urusan Erika. Ia mengambil telpon genggam dan menelpon Martin.
"Sir, saya sudah mengantar Erika ke kabinnya. Tadi saya melihat security sedang patroli, saya takut ketahuan. Makanya saya antar ke kabin," lapor Jayden.
" It's ok. You did a great job," kata Martin tersenyum masam. Ia sudah kembali ke smoking area dan tidak mendapati Erika disana.
Sementara di kabin Erika semakin tak terkendali. Ia merasa sedang memeluk pacar yang wajahnya samar. Ia mengira sudah menemukan pacar.
"Kemana saja selama ini. Aku sudah menunggumu selam 21 tahun hidupku. Baru sekarang kita bertemu, malangnya nasibku," Erika merancu, ia mengalungkan lengan di leher Joe dan mulai menc**mnya.
"Sebaikny aku merekamnya," batin Joe sambil mengambil hpnya. Tapi Joe menikmati dic***m Erika walau sedang mabuk dan aroma alkohol menyeruak dari mulutnya. Joe malah membalas c***mnya. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Ketika ajoe semakin panas dan tangannya mulai kemana-mana. Tibatiba...
"Hoeeek Hoeek," Erika mengeluarkan isi didalam perutnya mengenai baju Joe dan baju Erika sendiri.
__ADS_1
Seketika gairah Joe turun seperti terjun bebas, ia mengumpat tak jelas.
...***...