Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Tugas ganda


__ADS_3

Dengar sorot mata merah, Joe menerkam Erika. Mengujaninya dengan ciuman yang kasar. Erika tahu Joe sedang melampiaskan kemarahan ataupun stresnya dengan Erika. Yang bisa dilakukan Erika hanya diam sebentar dan tidak menolak Joe. Jika di tolak dia akan lebih kasar lagi, walau akhirnya dia akan minta maaf. Erika menerima apapun perlakuan Joe. Pada akhirnya Joe akan melambat sendirisendiri dan juga minta maaf. Jika sudah demikian Erika akan memeluknya, mengusap punggung Joe dan memberikan ciuman lembut. Dan Joe akan berhati-hati memperlakukan Erika.


"I miss you, " kata Joe setelah mereka melakukan sese malam panas bersama.


"Selama ini aku selalu di kabin ini. Kau saja yang tidak ada. Tapi mulai malam ini Nikita memberikan tugas kusus menjaga anak., " jawab Erika. Jarinya memainkan tangan Joe yang memeluknya.


"24 jam sehari rasanya tidak cukup waktuku mengerjakan ini itu. Padahal dulu aku membuang banyak waktu, " gumam Joe, hidungnye menciumi wangi lavender yang melekat di tubuh Erika.


"Mintalah pada Nikita agar ada yang membantumu kerja di siang dan malam hari."


"Bukan itu yang membuatku kehabisan energi tapi ada satu hal yang belum ku selesaikan. "


"Apa itu? "


"Aku tidak bisa mengatakan itu sekarang. Tapi apa kau percaya padaku? "


"Aku percaya. "


"Bahkan aku belum cerita apapun padamu tapi kau percaya padaku. "


"Ada kalanya kau memang berengsek. Tapi ada kalanya hatiku mengatakan kau tidak berengsek dalam beberapa hal. Naluri ku mengatakan aku percaya padamu. "


"Trimakasih, " Joe mencium rambut Erika mengeratkan pelukannya. Selama ini semua orang meragukannya. Tidak bisa bertanggung jawab dalam hal apapun. Ayahnya, ibunya, bahkan Martin tidak percaya seratus persen padanya. Tapi walau begitu Martin selalu berada di sisiNya apapun yang terjadi.


"Ngomong-ngomong apakah berat tugasmu? "


"Belum tahu. Tapi harus setiap saat mendampingi. "


"Apa anak itu nakal.? " tanya Joe. Dia tahu yang dimaksud Erika menjaga anak adalah anak samantha. Waktu bertemu anak itu usil sekali. Joe tidak terlalu menarik perhatian anak kecil itu. dia tidak mau repot.


" Tidak juga. Dia tidak terlalu usil jika diperhatikan. Kalau tidak diperhatikan dia baru cari masalah. Yang penting jangan sampai kelaparan. Ibunya tega meninggalkan anak itu tidur di kabin berbeda. Bahkan tidak menelpon room service untuk sekedar memastikan dia makan atau tidak. Aku tidak mengerti cara berpikir orang kaya., " Erika menggelengkan kepalanya.


"Orang kaya memang aneh-aneh. "

__ADS_1


"Ngomong-ngomong apa kamu sudah makan? Apa akhir - akhir ini makanmu teratur. "


"Kau menjadi seperti ibuku saja. "


"Kayaknya badanmu sedikit kurusan. "


Joe emang merasa celana kerjanya agak longgar. Tapi dia menjawab dengan bijak.


"Aku ke crew mess tepat waktu. " Padahal ia ke crew mess belum tentu untuk mengambil makanan.


"Tumben kau perhatian. "


"Entahlah kayaknya kau memang butuh perhatian. Kalau biasanya kan cuma caper aja."


"Aku ingin seperti ini selamanya. "


"Paling kau juga ngomong gitu sama cewek yang kau ajak tidur. "


"Tidak salah. "


"Terserah kau sajalah, " Joe tidak sedang ingin berdebat dan menggoda agar Erika marah. Lelah pikiran membuat fisiknya juga lelah. Dia ingin merasakan sensasi nyaman memeluk Erika selamanya. Tapi sekarang dia harus menyelesaikan apa yang seharusnya dari dulu ia selesaikan.


At the dawny, Erika terbangun dan ia berdiri dengan tergesa. Ia ingat ia sedang bertugas menjaga Denis tapi ia malah ketiduran di kabin bersama Joe.


"Ada apa? Bermimpi buruk? " Joe ikut terbangun saat Erika berdiri.


"Tidak. Aku harus kembali ke kabin atas, " Erika memegangi kepalanya. Karna ia bangun dan berdiri mendadak membuat kepalanya pusing. Ia lalu duduk disamping Joe.


"Datanglah ke kabin atas nanti, "Joe memeluk tubuh Erika yang sedang duduk. Erika baru sadar ia belum ganti baju yang layak. Hanya mengenakan piyama tipis. Kalau tidak pusing ia mungkin akan meninggalkan kabinnya dengan pakaian seperti itu tanpa ia sadari.


Tubuh Joe begitu hangat. Baiklah Erika menikmati sekecup bibir Joe. Lagi sekecup.. baiklah 3 menit, tidak 5 menit, mungkin 10 menit lagi. Pikiran liar Erika sedang berperang melawan rasa tanggung jawab akan pekerjaan. Setengah terhanyut oleh perlakuan Joe, Erika bisa menarik diri.


"Tidak, aku harus pergi. Mungkin anak itu menangis atau lapar di malam hari, " Erika melepaskan diri dari Joe dan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan segera pergi.

__ADS_1


Waktu siang hari, Erika menemani Denis. Erika tidak akan dimarahi oleh Nikita. Apapun kemauan Denis kalah bisa dituruti dan jangan biarkan dia menangis. Menjelang malam saat Denis tidur, ia pergi ke kabinnya sendiri. Melalui malam yang intens dengan Joe. Denis kalau sudah tidur tidak akan terbangun sampai pagi. walau ada ombak besar menghantam dia tidak akan mendengar. Kunci menjaga Denis agar tidak rewel adalah, jangan biarkan dia lapar. Kalau lapar dia akan mudah marah dan menangis. Erika sedang menjalani tugas ganda yang sangat menguntungkan.


Erika merasa ada yang mengelus pantatnya di lorong saat ia mau kembali ke kabinnya.


Ia menengok, bibirnya dan bibir Joe sudah bersatu. dan Joe membisikkan sesuatu dengan nada memerintah seperti biasanya.


"Ganti rokmu. Ini terlalu ****. Aku Bisa mengelus bokongmu. ****** ***** mu kelihatan kalau kau jongkok. "


"Semua bajuku sedang ku cuci. Hanya ini yang tersisa., " Erika menarik tanktop yang dipakainya. Hari ini dia memakai rok pendek dipadukan dengan tank top berwana salem. Penampilannya emang cukup **** dan setiap pria yang ditemuinya akan melirik kan matanya. Erika merasa geli, tangan Joe tidak semestinya ada di bagian tubuh Erika apalagi di tempat umum.


"Kalau begitu beli di gift shop, " Joe menyelipkan kartu pembayaran milik k-nya ke dalam ****** ***** bagian belakang Erika.


"Aku tidak mau, " kata Erika sembari mengambil kartu pembayaran Joe.


"Kalau begitu aku akan menghukummu."


"Bukankah tiap malam kau sudah menghukumku? "


"Kali ini 3 ronde. "


"Paling 2 ronde sudah keok, " cibir Erika. Dia berlari ke kabin.


"How dare you. Berani menantang ku." Joe mengejarnya dari belakang.


Sampai di kabin Joe menerkam Erika. Menggelitik inya, menghujam kan ciuman ke segala penjuru tubuh Erika. Sampai Erika merasa geli dan tak tahan untuk menahan buang air kecil di toilet.


Mereka tidak menyadari Martin melihat kejadian di lorong. Dia tersenyum getir. Mungkin dia kalah. Tapi ia menyadari ledakan bak nuklir belum terjadi diantara hubungan Joe dan Erika. Apakah akan berakhir seperti bayangan di otaknya, yang ia harapkan. Ataukah tak terduga seperti sifat Erika. Yang perlu dilakukan Martin hanya menunggu.


"Martin, sedang apa kau? Pelayan itu bilang Denis sudah siap, " kata samanya pada Martin.


"Baiklah. Mari ku antar ke kabin Denis. "


Sebagai seorang hotel direktur di kapal happy star, dia harus ramah pada tamu. Meskipun tamu kali ini menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2