Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Going outside dengan Martin


__ADS_3

Erika merasa menjadi budak Joe. Ia harus melakukan apa yang Joe suruh. Bahkan membuang sampah di garbage room pun Joe tak mau gantian, harus Erika yang buang.


Tanpa sepengetahuan Erika sejak mereka link id dan couple cabin, Joe sudah tidak memegang master key, yang ia pegang hanya kunci kabin karena master key sudah ia kembalikan ke crew office. Petugas pun tidak menyadarinya, karena master key dan kabin key bentuknya sama. Menurut Joe itu imbalan yang pantas dengan apa yang ia dapat sekarang. Mengikat Erika agar terus disisinya.


Dan Erika merasa gerah, saat Joe mengikatnya, saat itu pulalah kesempatan berdua dengan Martin selalu ada. Dengan terang-terangan tanpa membohongi dirinya ia tau menyukai Martin. Entah karena Martin yang meminjami Erika uang ketika sign on pertama. Atau ada alasan lain yang Erika tidak mengerti.


Yang jelas Martin memperlakukan Erika sangat baik. Dengan etiquete seperti bangsawan. Walaupun Erika hanya crew rendahan di kapal. Tapi ia merasa tersanjung setiap kali Martin memperlakukannya seperti a lady.


Beda sekali dengan Joe yang memperlakukan Erika bak seorang budak. Menyuruh-nyuruh, harus mematuhi segala perintah dan diiringi dengan marah-marah tidak jelas. Ingin sekali Erika memukul dengan kepala Joe dengan vacum head.


Hari ini port Ensenada, Erika ingin keluar. Sudah lama ia tidak pergi menemui ibu dan kakaknya Mauricio. Dan tumben Joe mengangguk setuju, walaupun dengan wajah masam ketika Erika membicarakan keinginannya.


Joe tidak ikut karena ia harus menggantikan Manoj yang libur. Erika senang karena untuk sementara ia bisa terbebas dari Joe. Setelah jam kerja nya usai dan ia clock out, Erika bergegas ganti baju seragam dengan rok selutut , dan atasan tanpa lengan juga sneaker dan tas selempang. Di gang way ia bertemu dengan Martin.


"Mau keluar?" tanya Martin.


"Tidak, mau restroom special cleaning."


Martin mengernyitkan alis.


"Tentu saja mau keluar," tambah Erika sambil tersenyum. Ia lupa Martin bukan housekeeping yang tau beta dengan candaan retjeh tentang housekeeping.


"Kalau begitu bareng aja," sahut Martin sambil menggandeng Erika. Erika malu tentusaja. Disana banyak crew juga, Apa yang ia harus lakukan jika mendadak ada gosip mengenai dirinya dan hotel direktur.


"Emang kamu mau kemana? Tujuan kita pasti beda."


"Aku hanya ingin makan di restoran tempatmu bekerja dulu."


"Tapi aku ingin menemui ibuku."


"Aku antar, rasanya tidak enak keluar sendiri."


Setelah melalui pemeriksaan security di gangway. Erika dan Martin berjalan beriringan. Mereka berjalan melewati pier yang seperti sirkuit go kart. Martin mengekor pada Erika. Saat Erika menawarkan untuk makan dulu di restoran tempat Erika bekerja dulu , Martin menolak.


"Ketemu ibu dulu saja, makan disana bisa lain waktu," kata Martin.


"Kalau begitu nanti makan taco di tempat ibuku saja."

__ADS_1


"Boleh."


Martin dan Erika terus melewati starbuck , menyusuri jalan raya, setelah beberapa lama mereka tiba di tempat Dolores jualan.


"Hola mamasita,!" sapa Erika pada wanita paruh baya. Yang disapa menengok dan tersenyum ketika tau yang menyapa adalah putrinya sendiri.


"Putri kesayangan ibu," Dolores memeluk erat Erika.


"Aku rindu sekali,"kata Erika.


"Ibu juga sama. Bagaimana kabarmu? Apa kau bekerja keras di kapal?"


"Biasa saja Bu."


Dolores melihat tangan Erika yang kasar.


"Pasti kau bekerja keras disana. Lihatlah tanganmu sampai rusak. Jaga kesehatanmu."


"Ibu sendiri bagaimana kabarnya? Apakah laki-laki berengsek itu mengganggu ibu lagi?" Erika menekankan kalau ia tak mau memanggil ayahnya.


"Kali ini aku percaya pada ibu," Erika tersenyum. Lalu ia memperkenalkan Martin. Beda dengan Joe yang terlihat kikuk , Martin sangat santai, dan dia mencoba menyapa dengan beberapa kalimat latin. Membuat Dolores tertawa.


Dolores memberikan taco terbaiknya untuk Martin, walau Martin tidak terlalu suka pedas tapi dia bilang enak. Erika melanjutkan ngobrol dengan ibunya, sementara Martin berjalan berkeliling.


Di hari yang cerah, mega-mega berarakan di langit Ensenada. Ia memandang bangunan tua yang tak terurus. Dia teringat sesuatu, jika dulu bangunan itu sangat megah. Tapi menjadi tak terurus karena orang yang bertanggung jawab mengalami kecelakaan, dan beberapa orang yang menggantinya tak sepiawai dirinya. Jadilah bangunan itu ditutup dan terbengkalai.


"Maurice!" sseru Martin ketika melihat seseorang yang tak asing di hadapanny. Pria itu sedang mengorek sampah.


"Siapa?" tanya pria yang sedang mengorek sampah itu heran.


Martin sangat terkejut. Pria itu memang sama dengan pria yang dikenalnya dulu. Tapi ia berbeda, dia tampak sedikit maaf *idio** Tapi senyum yang cerah adalah senyuman uang sama.


"Apakah anda mengenal saya tuan?" Martin terkejut lagi, pria itu menyapanya dengan bahasa Inggris fasih.


"Kukira anda teman saya, " jawab Martin.


"Kita bisa berteman mulai sekarang. Tapi saya ragu anda mau berteman dengan saya. Anda tahu keadaan saya, " Mauricio memandang dirinya sendiri tampak kotor dibandingkan Martin.

__ADS_1


"Teman itu tanpa batas," lanjut Martin sambil tersenyum.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Martin.


"Aku sedang bekerja mengorek barang yang bisa dijual lagi. Hanya ini yang dapat kulakukan. Aku tidak bisa kerja dikantor seperti anda. Kamu sendiri sedang apa?"


"Memandang bangunan ini, dulu ini tempat yang ramai. Sekarang keadaanyya menyedihkan."


"Kara ibuku iya, tapi aku tidak ingat. Aku tidak ingat apapun di masa lalu. Hanya adik dan ibuku saja yang akau ingat,"Mauricio mengikat karung yang telah ia penuhi dengan botol plastik.


"Sedang apa kalian disini," Suara Erika mengagetkan Martin dan Mauricio.


"Kami hanya sedang ngobrol," jawab Mauricio.


"Kakak tau tidak. Kakak ngobrol dengan temanku," Erika memperkenalkan Mauricio dengan Martin. Dan untuk ketiga kalinya Martin terkejut. Ternyata Mauricio adalah kakak Erika dan ia yakin Mauricio adalah orang yang sama yang dikenalnya.


Setelah berbincang lama akhirnya Erika pamit pada Mauricio. Ia bilang gangway sebentar lagi tutup jadi harus cepar kembali.


"Erika, apakah kakakku sedari lahir sudah seperti itu? Maaf," tanya Martin yang tak bisa menahan rasa penasarannya untuk bertanya.


"Tidak, dia lahir normal dan pintar. Pandai cari uang .Bahkan dia pernah bekerja di perusahaan elit di Amerika yang membuka cabang disini. Tapi setelah kecelakaan, dia menjadi seperti itu. Aku harap suatu hari dia akan pulih seperti dulu," kata Erika sedih.


"Maaf,"kara Martin serius.


"Tak apa. Bahkan sampai sekarang dia tetap pinrar cari uang kok. Hanya saja sering dimanfaatkan oleh orang yang disukainya."


"Pacar maksudmu."


"Kakakku menganggapnya demikian. Tapi tidak dengan wanita itu. Ia selalu minra uang tapi pergi kencan dengan pria lain."


"Ia seorang penari di klub situ," Erika menunjuk salah satu klub yang ada disepanjang jalan menuju pier.


"Aku harap kakak bisa putus dengannya, tapi kakak bilang kasian dia sudah tidak punya siapa-siapa. Dan berharap dia berubah menjadi wanita baik-baik,"pungkas Erika.


Tak mau melihat Erika sedih lagi. Martin mengalihkan pembicaraan tenrang anjing laut yang berjemur di dekat pier.


...***...

__ADS_1


__ADS_2