
Joe penasaran dengan apa yang dibicarakan Erika dan pria yang menurut Joe agak sedikit mengalami keterbelakangan mental di Ensenada. Karena Joe melihat Erika menangis sesenggukan, setelah selesai cerita Seperti tidak ada apa-apa, seakan air mata Erika kering begitu saja.
Joe mengambil hp dan mengirim rekaman pada seseorang. Ia juga menelpon seseorang.
"Segera kirim terjemahan percakapan itu dalam bahasa Inggris segera. Kuberi waktu satu jam. Kalau tidak aku akan menyuruh ayahku menutup bisnismu."
"Kau itu selalu saja minta cepat. Aku sedang sibuk tau," jawab pria disebrang sana.
"Segera! Cepat!" Joe membanting hp nya di bed.
Ia menunggu dengan gusar. Waktu bekerja pun. Ia tak tenang. Jayden yang mengetahui hal itu selalu menjaga jarak, agar dia tak kena omel.
Sejam sebelum shift malam selesai, hp Joe menerima notifikasi pesan.
"Sudah ku kirim ke emailmu," baca Joe.
Ia langsung menelpon Jayden untuk memberitahu, tidak ada meeting selesai kerja. Semua kunci dan telpon diserah terimakan pada shift pagi. Joe buru-buru ke kabinnya. Membuka laptop dan mencolokkan headphone. Ini terlalu awal ia kembali, Erika belum pergi dari kabin. Tentu saja ia juga tak ingin Erika tahu apa yang dilakukannya. Joe menutup curtain bednya.
"Ternyata pintar juga,"Joe memuji orang yang telah mengiriminya vidio. Ia membuat seperti film dengan bahasa asing beserta translatenya. Joe menyimaknya.
Adegan dimana Erika duduk bersama seorang pria di port Ensenada.
Erika : "Kakakku Mauricio. Aku senang melihatmu baik-baik saja."
Mauricio : "Aku selalu baik-baik saja. Aku juga senang melihatmu mengunjungi Ensenada. Kupikir sebelum kontrak kerja mu berakhir. Kamu tidak akan pulang."
Erika : " Tentu aku akan pulang walau sebentar. Aku rindu kalian. Aku tadi ketemu ibu, mau memberikan uang sewa apartemen.Tapi dia menolaknya, sekarang aku kasih ke kakak saja."
Mauricio: "Tidak, tidak usah. Penghasilanku cukup untuk membayar apartemen dan juga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Simpan uangmu sendiri."
Erika : "Jadi kamu juga menolak uang ini sama seperti ibu?"
__ADS_1
Mauricio : " Tidak bukan begitu. Aku hanya ingin kamu menyimpan uangmu sendiri. Untuk masa depanmu esok. Kamu masih muda dan masih punya harapan. Ibu kita sudah tua, jadi dia tak punya harapan banyak. Sedangkan aku? Orang tak akan memperkerjakannu dengan layak, karena mereka bilang aku sedikit idi*t."
Erika : "Tentu saja kau bukan orang idi*t. Kau kakakku dan bagiku kau sempurna. Apa kakak takut pria itu akan mengambil uangku jika aku memberikannya pada kalian?"
Mauricio : "Pria itu? Maksudmu ayah?"
Erika : "Aku tidak mau memanggilnya seperti itu dan aku tidak akan pernah memanggil namanya. Menggunakan nama belakangnya aku juga tidak akan mau. Kita sudah mengganti nama belakang kita mengikuti nama ibu sejak kakak mengalami kecelakaan itu. Jadi dia bukan siapa-siapa kita Kak."
Mauricio: "Baiklah. Aku tidak akan memanggil namanya juga. Bukan maksudku untuk menolak uangmu. Gunakanlah untuk mu sendiri karena kebutuhanmu juga banyak. Dan kakakmu ini tidak takut dengan dia. Lihatlah badanku lebih besar dari dia."
Erika : "Tapi dulu kau pernah hampir kehilangan nyawa gara-gara dia. Aku takut jika dia akan melakukannya lagi"
Mauricio : "Waktu itu mungkin aku sedikit sial. Tapi nyatanya aku selamat sampai hari ini. Dan aku janji itu tak akan pernah terjadi. Aku baru memikirkan bagaimana caranya itu juga tak akan pernah terjadi pada ibu."
Erika :"Ya, aku tadi melihat masih ada memar di badan ibu. Sebenarnya kapan itu terjadi.?"
Mauricio : "Waktu itu aku sedang tidak di rumah. Aku sedang bekerja. Sampai rumah aku melihat ibu pingsan di depan kamar, dengan beberapa luka memar. Aku membawanya ke dokter Del toro. Dokter menyarankan agar aku lapor polisi saja, supaya orang itu jera. Tapi ibu melarangku. Aku tidak bisa menyalahkan ibu yang masih mencintainya Erika."
Mauricio : "Setidaknya sekarang aku hanya perlu mengkawatirkan ibu. Sedangkan kau, sudah ada little cihuahua yang menjagamu."
Erika : "Cihuahua? Ah dia hanya atasanku"
Joe melepas headphonenya saat rekamannya selesai. "Kurangajar. Beraninya dia mengataiku cihuahua." batin Joe. Ia membuka curtain bednya, disaat yang sama Erika turun dari bed atas. Joe langsung menutup layar laptopnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Joe melotor melihat Erika melotot juga memperhatikan dirinya seperti ada yang salah.
"Kau mendadak menutup laptopmu saat aku turun. Apa kau sedang melihat film po**o?" Erika mengejek.
"Kalau ya emang kenapa? Kau mau bergabung denganku lalu kita bisa mempraktekannya bersama," Joe mengedipkan matanya seperti om genit.
"Otakmu isinya hanya hal cabul saja," Erika mendadak wajahnya berubah merah, belum pernah ia berbicara tentang hal dewasa pada seorang lawan jenis. Ia lalu berlari ke kamar mandi dan membanting pintunya.
__ADS_1
Melihat tingkah Erika, Joe tertawa keras. "Dia sudah cukup umur, tapi masih malu membicarakan hal seperti itu. Bener-bener gadis polos."
Joe membuka pintu kamar mandi yang tak ada kuncinya.
"Aku serius dengan ucapanku tadi. Apa kau mau mempertimbangkannya?" Joe berbicara dengan mimik wajah serius.
"Brengse*k belum tau disikap pake toilet brush," Erika yang sedang duduk di closet dan menunaikan panggilan alam sontak terkejut, melihat pintu kamar mandi terbuka. Ia dengan spontan melempar tisu rol dan kemudian mengambil toilet brush, hendak melemparkan kembali namun keburu pintu ditutup Joe.
"Ahahahaha....," Tawa Joe meledak.
Diluar pintu kabin Martin mendengar suara gedabukan, dan tawa Joe yang keras. Apa yang terjadi hingga Joe bisa tertawa lepas seperti itu? Martin sudah lama tidak mendengar tawa Joe. Apalagi sejak kasus baru dengan ayahnya. Joe seperti menutup diri, murung dan cepat marah. Apa ini karna Erika?
"Joe, ini aku," Martin mengetuk kabin Joe. Tak berapa lama kabin dibuka.
"Hai,"sapa Joe dengan riang.
"Ada apa denganmu? Tampak senang begitu?"
"Ah tidak. Dan kamu ngapain kesini pagi-pagi?" Joe mengalihkan perhatian.
"Aku ingin mengajakmu sarapan bareng."
"Tumben. Apa ayah menyuruhmu bertanya sesuatu padaku?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu sarapan."
Mereka berjalan sepanjang lorong menuju staff mess di dek A. Saat turun mereka memutuskan turun dari dek 1 ke dek A dengan jalan kaki. Tak begitu banyak staf yang ada disana. Karena ini masih pagi. Jadi mereka bisa ngobrol lepas tanpa diganggu.
Tentu saja tidak ada yang meremehkan Joe makan di staf mess bareng hotel director. Di kapal ini Joe kadang diremehkan para staf karena mengira Joe hanya seorang asisten houskeeping dengan bar 1. Pegawai pangkat rendahan. Sedangkan Martin sangat disanjung karena ia adalah hotel direktur.
...***...
__ADS_1
Hai reader. Maafken author karena telat update. Ada beberapa hal di dunia nyata yang harus author urus. Selamat membaca dan semoga suka.