Love In Prayer

Love In Prayer
Episode 2 : Mulai Bekerja


__ADS_3

Malam harinya, telfon Novan berbunyi.


"Ya halo...siapa?" tanya Novan pelan.


"Ini aku, Stella." kata Stella.


"Ah iya manager." kata Novan.


"Maaf aku tak tau kalau manager yang menelfon." lanjut Novan malu.


"Tak apa, aku hanya ingin memberitahu mu bahwa kamu diterima." kata Stella.


Sontak Novan kegirangan karena sekian lama ia tak punya pekerjaan akhirnya ia bisa terjun ke dunia pekerja.


"Jadi besok pukul 8 jangan telat." kata Stella dan menutup telfonnya.


Novan membuka lemari baju dan mencari kemeja serta jas nya.


"Aduh dimana ya?" kata Novan mencari.


*Tok tok tok


Pintu rumah Novan diketuk oleh seseorang.


"Walah, siapa yang bertamu malam-malam begini?" tanya Novan sambil berjalan kemudian membuka pintu rumahnya.


Ternyata itu kurir pengantar barang.


"Mas, ini barangnya." kata kurir.


"Eh, tapi saya tidak memesan apa pun." jawab Novan.


"Mas tanda tangan disini. Barangnya sudah dibayar." lanjut kurir.


Lalu Novan menandatanganinya, "Apa sih isinya?" tanya Novan.


Kemudian dia membuka kotak itu dan isinya adalah jas, kemeja, dasi, dan perlengkapan lainnya.


"Loh barang-barang ini kan yang kubutuhkan buat besok." kata Novan terheran.


"Orang baik siapa yang mengirimkannya ya?" lanjutnya dalam hati.


*Pagi hari nya


"Huwaa, tumben aku gak mimpiin wanita itu." kata Novan beranjak berdiri dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi lalu berangkat ke kantornya.


Keadaan sepi dan sunyi di luar gedung.


"Ntah kenapa setiap kali aku lihat gedung ini dari luar aku merinding." ucap Novan.


"Pak Novan..." kata Stella menyapa dari belakang.


"Eh ibu manager, selamat pagi." lanjut Novan.


"Baju nya cocok banget ya." kata Stella tersenyum.


Novan ikut masuk, di dalam sudah ramai dan sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Padahal tak terdengar suara apa-apa dari luar." kata Novan dalam hati.


"Mungkin gedung ini dipasangi peredam suara." lanjutnya sambil melihat-lihat.


"Pekerjaanmu adalah mengisi dokumen dan memberikannya padaku." kata Stella.


"Baiklah manager." jawab Novan.


"Jangan panggil aku seperti itu, kita kan seumuran." lanjut Stella.

__ADS_1


"Ah... Iya... Baiklah." jawab Novan gugup.


Novan menerima banyak dokumen untuk diisi. Ia bolak-balik ke ruangan Stella. Banyak yang salah dan harus dikerjakan ulang.


"Novan, istirahatlah dulu." kata Stella.


"Ah tidak perlu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." jawab Novan.


Namun, Stella sudah berada di depannya dan menatap mata Novan.


Novan pun terkejut.


"Minum lah." Stella memberikan segelas minuman kepada Novan.


"Ba...baiklah." lanjut Novan.


Novan meminum minuman itu. Stella melihat setiap sisi wajah Novan.


"Ada apa memandangiku seperti itu?" tanya Novan.


"Tak apa, aku hanya menikmati pemandangan yang indah ini." jawab Stella tersenyum.


"Ah, wanita ini manis tapi menakutkan sih." ucap Novan dalam hati.


*Pukul 18:30 di gedung


"Semakin lama suasananya jadi makin seram aja." kata Novan saat berjalan sambil membawa dokumen yang sudah ditanda tangani oleh Stella.


Novan terus berjalan melewati lorong-lorong gelap yang terdapat pintu-pintu aneh yang ia sendiri tak tau ruangan apa itu.


Bayangan aneh melintas, sontak membuat bulu kuduk Novan merinding.


"Kenapa semakin lama semakin seram." tanya Novan dalam hati.


Novan langsung berlari dan tak sengaja menabrak seseorang.


Alangkah terkejut nya ia ternyata orang yang ia tabrak adalah manusia yang tidak memiliki kepala.


"Ha...hantu...!!" Novan berteriak kemudian berlari terbirit-birit.


Ia berlari terus hingga lantai bawah, disana keadaan sangat sepi dan gelap.


"Ah kemana semua orang?" Novan bertanya terheran-heran.


"Apa sudah pada pulang?" lanjutnya meletakkan dokumen yang tadi ia bawa keatas meja.


"Novan..." panggil Stella yang turun dari tangga.


"Ah manager masih di kantor." tanya Novan.


"Semua sudah pergi ya, tinggal kita." lanjut Stella tersenyum.


"Ah iya, sepertinya begitu." lanjut Novan.


Stella mendekat, "Novan... Hangat..." dia berbisik.


"A...apa maksudmu?" tanya Novan gugup.


"Kita pergi makan malam, apa kau mau?" tanya Stella.


"Bo...boleh tapi aku tak punya uang." jawab Novan.


"Kali ini aku yang traktir." lanjut Stella tersenyum.


Kemudian mereka berdua keluar dari gedung itu.


"Sangat gelap dan sepertinya gedungnya sudah sangat tua." ucap Novan dalam hati.

__ADS_1


"Tak usah dipikirkan Novan, dari awal memang seperti itu." lanjut Stella.


"Kenapa ya dia bisa dengar kata hatiku?" tanya Novan lirih.


Mereka mampir ke restoran iga di pinggir jalan.


"Kamu yakin mau makan disini?" tanya Novan.


"Iya. Sup disini sangat enak." jawab Stella.


"Pasti harganya mahal, apa tidak merepotkan?" tanya Novan dalam hati.


"Tentu tak apa." lanjut Stella.


"Aduh... Lagi-lagi dia bisa mendengarnya." kata Novan heran.


Mereka pun makan bersama di restoran itu dan membuat pendekatan mereka semakin lama.


"Bagaimana sup nya? Enak kan?" tanya Stella.


"Ya ini enak, malah enak banget." jawab Novan.


"Mau bungkus?" tanya Stella lagi.


"Eh... Tidak usah." jawab Novan.


Stella berdiri mengambil tisu kemudian mengelap bibir Novan.


"Kamu makan seperti anak kecil." kata Stella pelan. "Belepotan." lanjutnya sambil tertawa kecil.


"Eh..." singkat Novan, "Biar aku sendiri." lanjutnya memegang tangan Stella.


Ketika memegang tangan Stella, seperti ada yang Aneh.


"Kenapa tangannya sangat dingin." tanya nya dalam hati.


Stella kembali duduk dan melihat Novan.


"Beneran gak mau dibungkus?" tanya Stella.


"Ah, tidak-tidak. Sudah cukup kok hehe." jawab Novan tertawa malu.


"Baiklah aku bayar dulu." lanjut Stella.


Kemudian Stella pergi ke kasir dan membayar semuanya.


Mereka berjalan dalam kegelapan, berdua, sepi, dan dingin.


"Hmm kamu tinggal dimana?" tanya Novan.


"Dekat sini aja kok." jawab Stella tersenyum.


"Bo...boleh kupegang tanganmu?" tanya Novan malu.


"Untuk apa?" tanya Stella balik.


"Aku hanya ingin memastikan kau tidak demam." jawab Novan.


Tiba-tiba Stella memeluk Novan lembut dan berbisik.


"Sampai jumpa besok."


Lalu pergi berjalan ke gang kecil dan menghilang.


"Ah... Kemana dia pergi? Cepat sekali menghilangnya. Apa rumahnya disana?" tanya Novan dalam hati.


"Ah sudahlah aku pun sudah lelah ingin cepat-cepat kembali ke rumah." lanjutnya sambil berjalan dan mengingat-ingat setiap sisi wajah Stella yang anggun dan cantik.

__ADS_1


__ADS_2