Love In Prayer

Love In Prayer
Episode 5 : Teman Lama


__ADS_3

Malam hari, pukul 23:45


Novan berjalan keluar rumah ingin membeli beberapa makanan karena ia sudah muak memakan mie instan terus-menerus.


"Sekali-kali gapapa lah ya makan makanan yang lain selain mie gitu." katanya.


Ia mampir ke restoran kaki lima yang ramai di pinggir jalan.


"Hmm mas pesan nasi dan ayamnya satu porsi." ucap Novan memesan makanan.


Kemudian, ia duduk dan menikmati sejuknya angin malam saat itu. Seketika seorang wanita berambut pirang dengan mata coklat dan jaket hitam yang bertuliskan Rock Is Life datang menghampiri Novan dan ia menyapanya. Ia adalah Chika.


"Hey Novan." katanya sambil menepuk bahu Novan dengan keras.


"Aduh, jangan mukul juga kali." kata Novan dan menatap ke arah Chika.


"Ehee, ya maaf soalnya gak pernah keliatan. Lu kemana aja?" tanya Chika yang kemudian duduk di samping Novan.


"Eh... Kamu siapa?" tanya Novan.


"Wahh... Malah lupa lagi." jawab Chika sambil tertawa.


Novan benar-benar tidak tau siapa Chika itu. Ia terus mengingat-ingat tapi tak membuahkan hasil. Ia tak mengingat apapun yang berurusan dengan wanita itu.


"Ya... Aku lupa kamu siapa." ucap Novan dengan pelan.


"Gue Chika, teman SMA lu dulu." jawab Chika.


"Chi...ka..." lanjut Novan sambil mengingat.


"Gue yang lu sebut nolep akut. Masa gak inget sama gue sih?" ucap Chika.


"Ah... Iya... Aku inget sekarang... Tapi..." lanjut Novan.


"Kenapa?" tanya Chika.

__ADS_1


"Penampilan mu sangat berbeda dulu dan sekarang. Padahal dulu kau sangat culun, berkaca mata, poni dikedepanin." kata Novan.


"Hahaha gue malu kalo inget jaman-jaman itu." ucap Chika sambil tertawa.


Mereka berdua sangat asik mengobrol sampai akhirnya makanan yang Novan pesan telah tiba.


"Hey Ka... Kamu gak mesan apa-apa?" tanya Novan yang dengan lahap memakan makanannya.


"Cihh, mau bayarin?" tanya Chika.


"Sok dah pesan aja. Ada ini kok." Novan mengeluarkan kartu kredit dari saku celananya dan memberikannya pada Chika.


"Masih suka ngutang ternyata. Ya udah sini kartunya." ucap Chika kemudian mengambil kartu kredit milik Novan itu dan pergi memesan makanan lalu ke kasir.


Novan makan begitu lahapnya tanpa memikirkan apapun kecuali rasa makanan yang sangat lezat itu. Tak lama kemudian, Chika kembali.


"Tungguin... Makanan gue belum datang lu udah habis duluan." kata Chika kemudian duduk.


"Ya... Gimana? Aku lapar." jawab Novan yang masih dengan lahapnya memakan makanannya.


"Nih kartu kredit lu..." kata Chika mengembalikan kartu kredit milik Novan.


"I...ini yang kamu pesan?" tanya Novan melihat apa yang dipesan oleh Chika.


"Iya... Mie goreng." jawab Chika.


"Di rumah banyak tuh, aku aja sudah muak." lanjut Novan.


"Kan itu elu. Kita mah beda." ucap Chika dan terus memakan apa yang ia pesan.


"Yaudah deh. Aku pulang duluan." kata Novan beranjak dari tempat ia duduk


"Ehh... Tunggu... Gak mau nyuapin gue dulu gitu?" tanya Chika sambil tertawa.


"Iya iya ini aku suapin sekali aja." ucap Novan kemudian mengambil sumpit yang tadinya dipegang oleh Chika dan menyuapinya dalam porsi besar.

__ADS_1


"Uhhmmm gue gak bisa bernafas." ucap Chika setelah menelan mie itu.


"Udah kan? Aku pulang dulu." kata Novan menahan tawanya kemudian pergi berlalu.


Chika terus menatap setiap langkah Novan yang semakin jauh lalu melanjutkan makannya.


"Van, lu tuh brengsek banget. Gue hampir mati tadi." ucap Chika sambil tersenyum mengingat apa yang terjadi tadi.


Novan terus berjalan melewati jembatan penghubung sungai. Sesekali ia menatap langit yang dlsangat cerah malam itu.


"Hmm, langitnya cerah nih." katanya dan terus menatap langit itu.


"Gimana dengan manager ya?" lanjutnya malah mengingat Stella.


Novan menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang wanita duduk di tepi sungai dan hanya menatap derasnya air yang mengalir di sungai itu.


"Tuh mba-mba ngapain ya?" Novan bertanya-tanya.


"MBA... OYYY..." teriaknya pada wanita itu tetapi tidak ada respon.


Tak lama ia mulai berlari menuju tepi sungai dan menghampiri wanita itu.


Tetapi ketika ia sampai, ia tak melihat satu orang pun di tempat itu.


"Eh... Kok gaada sih?" tanya Novan sambil melihat sekelilingnya.


"Ja...jangan-jangan penampakan lagi?" lanjutnya dan mulai merinding.


Novan membalikkan badannya dan ia terkejut dengan yang ada di depannya.


Wanita itu sudah berdiri di depannya. Wajahnya dipenuhi luka dengan darah di sekujur tubuhnya.


"Aahhhhkkkkk...." teriak Novan kemudian memejamkan kedua matanya.


Ketika Novan membuka kedua matanya, wanita itu sudah menghilang, hilang seperti menyatu dengan gelapnya malam itu.

__ADS_1


Novan buru-buru kembali ke rumahnya.


Walau cerah, tapi kejadian itu membuatnya takut keluar rumah sendirian dan bukan hanya itu saja, ia terus terbayang-bayang apa yang ia lihat pada malam itu.


__ADS_2