
Novan berjalan perlahan menyusuri jalan yang gelap dengan rasa penasaran akan gedung tempat kerjanya itu.
"Sistem seperti apa yang mereka gunakan ya?" tanya nya dalam hati.
"Bangunan seperti itu..." lanjutnya namun telfonnya berdering.
"Hallo Novan" kata si penelfon yang tak lain adalah Musa, teman kerja Novan.
"Ya kenapa, Sa?" jawab Novan singkat.
"Dokumen yang tadi ada sama kamu gak?" tanya Musa.
"Aduh ku tinggal di kantor tadi." jawab Novan.
"Ya udah pas banget aku juga lagi di kantor ini." lanjut Musa.
Seketika suara-suara aneh pun muncul, Musa berteriak.
"Sa...Musa..." Novan panik.
"Aaahhkkk..." teriak Musa dan telfon mati seketika.
Novan sangat merinding, "Ke...kenapa dia? Apa yang terjadi?" tanya Novan dalam hati.
Novan berjalan kembali ke rumah dengan rasa ketakutan. Ia membuka pintu rumah dan langsung masuk.
"Huftt... Sampai juga." kata Novan.
Ia langsung beranjak pergi ke kamarnya dan tiduran di kasur.
Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu rumah Novan. Novan pun gemetar ketakutan.
"Manusia bukan ya...?" ucapnya dalam hati.
Dia pun pergi keluar kamar dan mengintip dari balik jendela.
Ternyata itu Reval bersama dua temannya, yaitu Nathan dan Rifqi.
"Novan..." panggil Reval dari luar.
"Udah tidur kali." lanjut Nathan.
"Masa... Paling belum pulang." ucap Reval.
Kemudian Novan membuka pintunya.
"Eh ternyata ada dirumah." ucap Reval.
"Haha ya maaf kirain siapa, jadi kupastiin dulu." jawab Novan.
"Buruan masuk... Ayo masuk..." lanjutnya menyuruh semuanya masuk dan menutup pintu rumahnya.
Semua terheran, tak biasanya Novan bertingkah seperti ini walau dia memang tak suka keluar rumah, paling tidak ia tak pernah takut dengan keadaan luar.
"Lu kenapa sih, Van?" tanya Rifqi.
"Ah...gapapa kok gapapa." jawab Novan kebingungan.
"Abis ketemu setan ya?" tanya Nathan sambil tertawa.
"Gak lah, aku kan ga percaya sama yang begitu-begitu." jawab Novan mencari alasan.
"Gimana kerja mu bro?" tanya Rifqi tiba-tiba.
"Hahaha ya gimana, bagus sih apalagi manager nya cantik loh." jawabnya sambil mengingat Stella.
"Mantap lah, bisa cinlok." lanjut Reval membuat seisi ruangan tertawa.
"Mana nih minumannya? Haus tau." lanjut Nathan.
Novan kemudian berjalan ke dapur dan mengambil beberapa gelas minuman juga beberapa cemilan dan kembali ke ruang tengah.
Namun, saat ia kembali ternyata semuanya sudah tertidur pulas.
"Eh, kok..." ucap Novan heran.
Tiba-tiba saja ada angin yang sangat kuat berhembus dan membuka jendela rumah Novan serta lampu-lampu yang ada di ruangan itu berkedap-kedip selama beberapa kali.
"Sialan, anginnya kenceng banget, kayaknya rusak nih saklar listriknya." kata Novan sambil berjalan keluar.
Angin yang sangat kencang seperti menandakan badai akan tiba, namun anehnya malam itu sangat cerah.
__ADS_1
"Uhh, gak ada yang rusak kok." kata Novan sambil mengecek saklar listriknya.
Tiba-tiba sebuah sosok bayangan mistis melewati Novan dengan cepat dan membuat bulu kuduknya merinding.
"Apa tadi itu?" tanya Novan sambil melihat kiri dan kanan.
"Apa cuma perasaanku aja ya?" kata Novan bertanya-tanya.
Kemudian Novan kembali masuk ke rumahnya, menutup dan mengunci pintu rumah.
Malam yang panjang baginya, apalagi ketiga temannya tiba-tiba tertidur. Padahal tadi ketiga nya sangat segar bugar.
"Bodoamat deh dengan apa yang terjadi barusan. Aku ingin cepat-cepat tidur." kata Novan.
Dia kemudian masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur dan menutup matanya dan berusaha agar bisa tertidur.
Ia mulai bermimpi, mimpi yang buruk tapi terlihat aneh. Novan berada di ruangan yang sangat gelap, sendirian tanpa penerangan. Bahkan, ia tak tau itu tempat apa dan itu dimana.
Seketika sebuah kobaran api menyulut dan membakar hangus ruangan itu dan...
"Ahhkkk, sialan..." Novan tiba-tiba terbangun dari mimpinya itu.
Hari sudah pagi. Reval dan yang lainnya pun sudah tak ada.
"Loh, udah pada pulang ya?" tanya Novan.
"Ini jam berapa ya?" lanjutnya.
Jam menandakan sudah pukul 07:30.
"Waduh sudah jam segini." kata Novan sambil bergegas ke kamar mandi dan kemudian memakai pakaiannya.
"Cepat cepat cepat, bisa-bisa aku telap." kata Novan sambil berlari keluar dengan roti yang ada di mulutnya.
Setibanya di gedung, suasana sangat sepi, bahkan lebih sepi daripada kemarin.
"Ini apa-apaan sih, padahal sepertinya aku datang telat." kata Novan.
"Loh masih kosong?" tanya Novan terkejut melihat tak ada seorang pun di dalam gedung itu.
Tiba-tiba terdengar suara minta tolong dari ruangan paling ujung.
"To...tolong aku..." teriak seseorang yang berada dalam sebuah ruangan yang tak lain adalah Musa.
"Iya sebentar... Aduhh kok kekunci sih?" kata Novan sambil berusaha mendobrak pintu yang terkunci itu.
"Cepat keluarkan aku dari sini..." teriak Musa dari dalam ruangan yang masih terkunci rapat itu.
*Gubrakk
Pintu itu berhasil dibuka. Novan sangat terkejut melihat banyak sekali mayat-mayat bergeletakan di ruangan itu.
"Apa yang..." tanya Novan yang terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.
"Sudahlah lebih baik kita pergi dari sini." kata Musa sambil menarik tangan Novan dan bergegas pergi dari ruangan itu.
Akhirnya mereka sampai di ruangan utama. Di ruangan itu sudah ramai seperti biasanya.
Semua pegawai sudah berkerja seperti biasanya.
"Ini mustahil, aku tadi tidak mendengar ada siapapun yang masuk." kata Novan keheranan.
"Mereka... Mereka bukan manusia." lanjut Musa gemetaran.
"Apaan sih anak ini. Lihat ini." ucap Novan.
Dilanjutkan dengan dia memanggil salah satu pegawai.
"Mba..." ucapnya.
Pegawai itu kemudian berbalik dan menatap Novan dengan tatapan dingin.
"Sudahlah lebih baik kita cepat kabur dari sini." kata Musa mengajak Novan untuk pergi dari gedung itu dengan tangan yang gemetaran.
"Benar sih. Mayat-mayat di ruangan tadi memakai pakaian yang sama dengan yang ada di ruangan ini." pikir Novan dalam hati.
Tiba-tiba saja pundak Novan ditepuk dari belakang.
"Selamat pagi Novan."
Ternyata itu adalah Stella.
__ADS_1
"Ah kukira siapa loh." jawab Novan sambil memegang tangan Stella.
"Dingin..." lanjutnya setelah merasakan aura dari Stella.
"Selamat pagi juga manager." ucap Novan kemudian melepas tangan Stella.
"Selamat bekerja kembali ya." kata Stella dan kemudian dia berlalu.
"Ini sedikit canggung sih. Di belakang sana kan hanya ada sebuah lorong kosong yang merupakan jalan buntu." kata Novan sambil melihat lorong gelap yang ada di belakangnya.
"Ah sudahlah lebih baik aku kembali bekerja seperti biasa." kata Novan kemudian kembali ke tempat dimana ia menaruh dokumen-dokumen dan menaiki tangga agar sampai ke ruangan Stella.
Langkat demi langkah Novan menaiki tangga sambil melirik beberapa lukisan yang terpajang di dinding.
"Ah... I...itu kan..." ucap Novn terkejut setelah melihat lukisan yang memperlihatkan nama Tuan Indame.
Tuan Indame adalah pemilik sah dari gedung itu. Namun sekitar beberapa minggu yang laku dia menghilang tanpa adanya kabar yang jelas.
"Lukisan yang bagus sih, tapi rada serem kalo dilihat terus-menerus." kata Novan sambil melihat lukisan itu.
Kemudian, Novan melanjutkan langkahnya.
Tiba-tiba saja Stella berlari keluar dari ruangannya sambil menangis.
"Eh..." Novan melihat dari kejauhan.
Stella berlari ke arah Novan dan memeluknya dengan erat.
Novan hanya terdiam dan mulai mengelus-elus kepala Stella dengan lembut.
"Jangan menangis lagi, kamu ini wanita yang kuat kan?" ucap Novan sambil menenangkan Stella yang masih menangis.
"Aku tak tau mengapa dia menyakiti ku seperti ini." ucap Stella sambil terus menangis.
Novan memegang kedua bahu Stella dan menatap kedua matanya yang berwarna biru langit yang sangat cerah.
"Kamu tau? Bila kamu menangis tidak ada yang akan berubah." ucap Novan tersenyum.
"Air mata mu terlalu mahal untuk lelaki murahan yang menyakiti mu itu." ucap Novan sambil menghapus air mata di pipi Stella.
Stella sudah kembali tenang, seketika ia kembali memeluk Novan. Hati mereka seakan bersatu seperti waktu yang terhenti untuk mereka berdua.
"Novan, terima kasih." bisik Stella.
"Jangan menangis lagi." ucap Novan.
"Baiklah ini semua dokumennya." ucap Novan dan memberikan puluhan dokumen kepada Stella.
Seketika Stella menggenggam kedua tangan Novan dan menariknya masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan itu, entah karena apa banyak sekali bunga yang bertebaran.
Bunga-bunga di ruangan itu sangat indah dan cantik seperti paras yang dimiliki oleh Stella.
Seketika seisi ruangan itu menjadi hangat.
"I...ini indah sekali." ucap Novan.
"Novan, kemarilah dan lihat ini." ucap Stella saat menarik tangan Novan menuju jendela yang ada di ruangan itu.
Betapa terkejutnya saat ia melihat keluar.
"Ba...bagaiman mungkin? Mayat?" kata Novan terkejut dengan apa yang ia lihat di luar jendela.
"Kenapa? Bukannya itu indah?" tanya Stella sambil tersenyum.
"I...ini jadi menyeramkan." kata Novan gemetaran dan berjalan mundur ke arah pintu keluar.
"Kamu mau kemana, Novan?" tanya Stella sambil mendekati Novan.
"Ja...jangan mendekat." Novan berlari menjauh.
Tiba-tiba saja Novan tersandung sesuatu dan membuatnya terjatuh.
Seketika Stella duduk di perut Novan.
"Tetaplah disini dan temani aku." kata Stella dengan menatap lembut mata Novan.
"Ta...tapi kamu menyeramkan." ucap Novan gemetaran dan berusaha untuk melepaskan diri.
"Aku bisa lebih menyeramkan jika kamu menolak." lanjut Stella tersenyum.
__ADS_1