Love In Prayer

Love In Prayer
Episode 4 : Ciuman


__ADS_3

Novan hanya bisa terdiam. Ia tak bisa melawan Stella sedikit pun.


"Bangunlah." kata Stella sambil memegang tangan Novan dengan lembut.


Novan bangun perlahan, namun ketika ia sudah berdiri Stella kembali menjatuhkannya lagi.


"Sialan, aku dijebak lagi." ucap Novan dalam hati.


"Nikmati saja, Novan." kata Stella.


Kemudian Stella mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Novan dan mencium bibirnya dengan lembut.


Novan memberontak dan akhirnya ia terlepas dari dekapan Stella.


Ia kemudian berlari keluar menuju tangga dan menuruninya.


Novan terus berlari menuruni tangga dan beberapa saat ia terbayang akan kejadian sebelumnya.


"Sialan banget... Yang tadi itu..." ungkap Novan berdecak kesal dalam hatinya.


"Walau nikmat... Tapi mayat-mayat yang ada di luar itu..." lanjutnya dalam hati.


Novan bergegas berlari dan keluar namun, ketika sesampainya ia di luar ia terkejut tidak melihat satu mayat pun ditempat itu.


"Mu...mustahil banget." ucap Novan terkejut.


"Aku tadi gak salah liat kan?" lanjutnya sambil bolak-balik memeriksa di sekitarnya lagi namun tetap tak menemukan satu mayat pun.


Akhirnya ia kembali masuk ke dalam gedung dan duduk di sofa panjang di ruang tunggu.


"Sebenarnya aku heran, perusahaan apa sih ini?" tanya nya dalam hati.


"Tugas ku pun hanya mengantar dokumen terus." lanjutnya dalam hati sambil berfikir.


Novan mulai meraba-raba sofa yang ia duduki itu dan dia menemukn sebuah foto kusam dan sangat berdebu.


"Foto apa ini?" tanya nya.


Novan membersihkan foto itu dan melihatnya.

__ADS_1


Foto itu berisikan empat orang anak, salah satunya adalah seorang anak yang memegang boneka beruang sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja seorang anak kecil berlari ke arah Novan.


"Paman-paman itu foto ku." kata anak kecil itu.


"Eh iya anak kecil, aku menemukannya di sofa ini tadi." lanjut Novan sambil tersenyum.


"Ini..." Novan memberikan foto itu kepada anak kecil itu dan kemudian ia pergi ke arah lorong gelap dan menghilang.


"Janggal banget. Kemana perginya ya?" tanya nya sambil melihat ke arah lorong itu.


Yang lebih aneh lagi adalah semua pegawai tidak menghiraukan keadaan sekitarnya, bahkan mereka hanya sibuk untuk mengerjakan tugas mereka seperti tak perlu istirahat dan tak pernah selesai.


Novan berjalan menghampiri salah satu pegawai.


"Mas, boleh minta tolong?ĺ tanya nya pada pegawai itu.


Tapi orang itu tidak merespon sama sekali. Namun, ketika Novan pergi ia menatap Novan dengan tatapan dingin.


"Gila sih. Serem." ungkap Novan merinding.


"Kemana perginya manager? Kok tadi gak ada di ruangannya?" Novan bertanya-tanya kemana perginya Stella.


"Mungkin ada rapat penting." lanjutnya.


"Tapi yang tadi itu..." Novan kembali mengingat kejadian yang menurutnya nikmat itu.


Ia terus menuruni anak tangga dan akhirnya ia sampai di lantai utama. Disana sudah tidak ada satupun orang dan ruangan itu sangat gelap.


"Sepertinya hanya aku yang selalu lembur ya hehe." kata Novan.


Tiba-tiba saja sesosok misterius melintas di hadapan Novan dengan sangat cepat. Mengarah ke sebuah lorong gelap di sebelah kirinya dimana itu adalah ruangan tempat menyimpan aksesoris-aksesoris milik gedung perusahaan itu.


"Apa-apaan yang tadi itu?" Novan penasaran dengan apa yang tadi melintas di depannya.


"Larinya cepet banget kek hantu aja." lanjutnya melihat kearah yang tadi sosok bayangan itu tuju.


Novan berjalan menuju lorong dimana ia melihat sosok itu melintas dan akhirnya ia sampai di sebuah gudang.

__ADS_1


"Kesini bukan ya..." Novan membuka pintu gudang itu dan terdengar suara tangisan yang menyeramkan menyelimuti suasana yang juga menyeramkan itu.


"Aduhh kok jadi merinding sih?" tanya nya dalam hati sambil menelan ludahnya dan kembali menutup pintu gudang itu dengan rapat kemudian berlari keluar.


Novan berlari keluar dari gedung perusahaannya dan sesampainya di luar ia tiba-tiba menabrak seorang kakek tua yang sedang berjalan.


"Aduh kek, maaf ya maaf." kata Novan.


"Kenapa buru-buru seperti itu, nak?" tanya kakek itu kepada Novan.


"Gapapa kek, cuma mau cepet-cepet pulang aja." jawab Novan.


"Memangnya kamu darimana?" tanya kakek itu lagi.


"Baru pulang kerja dari sini kek." jawab Novan dengan polosnya.


"Hah...?!" kakek itu kaget mendengar apa yang Novan ucapkan.


"Ke...kenapa kek?" tanya Novan heran.


"Gedung itu kan sudah tidak dipakai lagi, nak." kata kakek itu.


Sontak Novan terkejut dengan apa yang kakek tua itu katakan.


"Yang bener, kek? Tapi aku bekerja di gedung itu kok, dsudah dua hari malah." kata Novan.


"Kau sendirian?" tanya kakek itu.


"Enggak kok. Di dalam juga ada pegawai-pegawai nya... Ya... Walaupun mereka agak sedikit aneh." lanjut Novan.


"Dan juga, aku selalu membawa brosur pendaftaran yang diberikan padaku oleh temanku ini." lanjutnya sambil memperlihatkan brosur itu kepada kakek tua itu.


Kakek tua itu membaca brosur itu dan tiba-tiba saja ia melihat sebuah sosok wanita berambut panjang dengan mata merah dipenuhi darah di sekujur tubuhnya berdiri di belakang Novan dengan jelas.


Sontak kakek tua itu kaget dan berteriak.


"HA...HANTUUUU!!" teriak kakek itu lalu lari terbirit karena sudah sangat ketakutan.


Novan kebingungan, "Apaan sih? Aku kan manusia." kata Novan dan kembali berjalan menuju ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2