
Jiwon di bawa ke rumah sakit, hingga pagi hari setelah kejadian itu
"Luka nya cukup serius..." kata Dokter kepada Stella
"Apa dia akan selamat..." tanya Stella sambil mengusap air mata nya
"Setelah menjalani operasi, kita hanya tinggal berdoa saja...."
"Semoga tuhan masih memberi umur untuk nya..." kata Dokter menjelas kan
"Saya tinggal dulu, untuk urusan administrasi nya anda bisa bertanya pada suster yg mengurus..." lanjut nya sambil berjalan pergi
Stella terduduk diam di samping Jiwon,
"Jiwon...."
"Bangun..."
"Jiwon..." ujar Stella menggenggam tangan kiri Jiwon sambil menangis
Chika dan yg lain nya masuk ke ruangan itu
"Stella..." panggil Chika
"Aku tak bisa melindungi orang yg ku sayang..." kata Stella memeluk Chika
"Jiwon adalah lelaki yg kuat, dia pasti siuman..." kata Chika
"Nyonya, maaf lancang..." kata salah satu pegawai dengan serius nya
"Apa anda benar2 hantu..." lanjut nya bertanya
"Heyy, jangan sekarang...." bentak Chika lirih
"Ma... maaf..." kata pegawai itu pelan
"Tidak papa, aku memang hantu..." kata Stella
"Namun mitos yg pernah di katakan Jiwon adalah fakta..."
"Guji abu..." lanjut nya sambil melihat Jiwon yg masih terbaring tak sadarkan diri
"Jadi..."
"Nyonya hidup kembali..." tanya pegawai lain nya
"Iya..." singkat Stella mengelus kepala Jiwon sambil meneteskan air mata
"Sudah, sebaik nya kita keluar dulu..."
"Dari pada malah membuat Stella tambah sedih.." kata Chika mengajak semua untuk keluar
Namun seketika Jiwon tersadar,
"Ahhh, Stella..." panggil Jiwon pelan
"Ji... Jiwonnn..." kata Stella langsunh memeluk Jiwon dengan erat
"Hangat..."
"Kehangatan ini, apa benar kamu..." kata Jiwon terheran
"Iya, aku hidup kembali seperti mitos yg kamu ucapkan..." kata Stella tersenyum
"Syukur lah..." kata Jiwon balik memeluk Stella dengan erat
"Hey jagoan..."
"Bertindak lah pintar sedikit..."
"Lu membuat kami semua khuatir..." kata Chika mencubit lengan kiri Jiwon
"Ahhh, iya..."
"Maaf semua jadi merepotkan..." kata Jiwon meminta maaf kepada semua
__ADS_1
"Tuan Jiwon memang lelaki hebat..."
"Ya, benar...."
"Dia berani mengambip resiko untuk wanita yg di cintai nya..."
"Tuan Jiwon kerennn..." kata semua bersorak bahagia
"Cepat lah keluar dari rumah sakit..." kata Chika
"Restoran nya...." lanjut nya mengingat
"Tidak, ini adalah jebakan..." bentak Jiwon
"Apa maksud mu sayang..." tanya Stella tak paham
"Tuan Damar lah yg sudah merencanakan nya dari awal..." kata Jiwon
14 jam yg lalu, di saat Jiwon dan Jae Han terjatuh dari lantai dua
"Ahhhkkkk..." teriak Jiwon mencoba berdiri
"Kemari kau..." bentak Jae Han mencekik Jiwon
"Psikopat sialan, apa sebenar nya rencana mu..." kata Jiwon sambil menahan pisau yg di tunjukan pada nya
"Rencana ya...."
"Hahahahaaaa, kalian apa tidak sadar..." kata Jae Han tertawa keras
"Apa maksud mu sialan..." kata Jiwon menendang Jae Han hingga keadaan berbalik
"Hahahahahaaaa..."
"Sektor ini adalah sektor pembunuhan milik Tuan ku Tuan Damar..."
"Dengan seperti itu ia bisa menyingkirkan pengusaha sukses dan pesaing bisnis nya dengan modus bekerja sama tanpa harus mengotori tangan nya..." kata Jae Han menatap Jiwon
"Jadi begitu..."
Jae Han menendang perut Jiwon dan ketika Stella berteriak ia berkata
"Rencana akan terus berlanjut bila kau masih sukses Jiwon..." sambil menusuk perut Jiwon dan ia melarikan diri
"Jadi ini jebakan..." tanya Chika
"Ya, kita harus segera kembali..." kata Jiwon
"Target nya gagal untuk di singkirkan..."
"Pasti selanjut nya adalah cabang utama dan cabang2 yg ada di kota kita..." lanjut nya mencoba bangun dari ranjang
"Sa... sayang..."
"Kamu belum pulih.." kata Stella menahan Jiwon untuk tetap berbaring
"Tapi..."
"Aku takut kejadian yg menimpa mu kembali lagi Stella..." teriak Jiwon
"Dan membuat pegawai2 tak bersalah menjadi korban..." lanjut nya panik
"Sebaik nya kita hubungi pihak kepolisian di sana..."
"Dan membuat para pegawai berwaspada..." kata Chika membuka ponsel nya
"Iya, itu bisa kita lakukan sambil menunggu kamu siuman sepenuh nya..." kata Stella
"Kamu harus sembuh dulu..."
"Aku pun tak ingin kehilangan mu..." lanjut nya sangat khuatir pada keadaan Jiwon
"Stella..." ujar Jiwon lirih
"Terima kasih telah mengkhawatirkan ku... " lanjut nya berkaca2
__ADS_1
"Aku sayang kamu, aku pun tak ingin kamu terluka..."
"Apa lagi karena ku..."
"Jadi kamu berbaring dan pulihkan dulu sebelum memimpin kembali..." kata Stella dengan senyum dan air mata
"Iya..." singkat Jiwon dan kembali berbaring lagi
"Tidak ada yg percaya kalo Tuan Damar selicik itu.." kata Chika kesal
"Sudah lah, memang sulit bila kita hanya berbicara saja..." kata Jiwon
"Dia memang benar2 sangat licih bahkan si psikopat itu tau tentang guci abu milik Stella..." lanjut nya mengingat
"Apa jangan2...."
"Dia sudah tau kalo aku adalah hantu sejak pertama bertemu di rapat itu..."
"Lalu ia mencari tau tentang ku...." kata Stella berfikir
"Bisa jadi..."
"Tak mungkin kebetulan ia memegang guji abu mu kan..." kata Jiwon ikut berfikir
"Jadi kita harus bagaimana..." tanya Chika
"Bila tuyul nya tertangkap..."
"Maka majikan nya pun akan ikut tertangkap bukan.." kata Jiwon tersenyum
"Ahh, aku tau yg Tuan maksud..." kata salah satu pegawai
"Terlihat seperti rencana bukan..." kata Jiwon tersenyum
"Iya, ini tentang sidik jari pembunuh itu kan.." kata pegawai itu
"Ya, tentu ada di pisau itu..."
"Polisi pasti akan menemukan nya dan mengungkap kasus nya..." kata Jiwon tenang
"Di keadaan seperti ini kamu pun masih bisa memikirkan strategi..." kata Stella tersenyum
"Aku ingin merasakan kehangatan mu sejak dulu..."
"Aku sungguh...." kata Jiwon melihat wajah Stella
"Aku pun juga..." kata Stella tersenyum
"Kamu..."
"Wajah mu..."
"Wanita dalam mimpi ku..."
"Ternyata kamu...." kata Jiwon baru menyadari nya
"A... aku..." tanya Stella terheran
"Ternyata aku sudah menemukan mu sejak lama..." kata Jiwon memeluk Stella
"Jiwon..." kata Stella merasakan kehangatan tubuh Jiwon dalam dekapan nya
"Baik lah, sebaik nya kita keluar..."
"Pemandangan nya sudah tidak enak..." kata Chika berjalan keluar bersama pegawai lain nya
"Hahaa, benar..."
"Ayo pergi..."
"Semoga selalu bahagia..."
"Tuan Jiwon..."
"Nyonya Stella.." kata masing2 dari mereka dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu berdua saja
__ADS_1