Love Is KAMU

Love Is KAMU
#11


__ADS_3

malam yg gelisah,bagaimana mungkin aku melakukan itu,Belvana pasti sangat takut padaku,pelukan yg terjadi hanya beberapa menit itu diakhiri dengan langkah Belva yg masuk kedalam kamar dan tak keluar lagi sampai aku masuk kekamarku sendiri, aku berusaha mengetuk pintu itu dengan pelan, tapi Belva tak menjawab,dan aku harus memberinya waktukan?


sampai pagi datang,dan aku hanya melihat pesan di meja makan,di atas kotak bekal makanan, Belvana menulisnya untukku, kalau itu bekal makanku untuk sarapan di kantor, dia juga menulis kata maaf karna tidak bisa sarapan bersama.


ya tuhan,memangnya sebesar apa dosaku? masa memeluk istri sendiri aku harus merasa sebersalah ini,ya...memang aku akui, posisi Belva yg mungkin tidak tahu kepastian dariku membuatnya menahan benteng pertahanannya untukku,tapi...ah..sial,aku bingung harus bagaimana bicara dengannya.


sampai di kantor aku terus merenung,kalau sampai nanti aku pulang Belva belum bicara juga padaku bagaimana?ck...merepotkan dan bikin aku tidak enak hati saja,memangnya dia tidak berdebar sepertiku apa? bukankah yg menyedihkan sekarang ini adalah aku? aku yg tersiksa setiap kali menatapnya dengan pakaian rumahan dan wajah itu...oh,shit, bahkan saat aku tau aku bernafas di dalam satu ruangan dengannya saja aku berdebar hebat sekarang.


"maaf pak,ada tamu di luar mau ketemu bapak."


Naya,sekertaris aku dan Kenzo menyadarkan aku dari melamun sepagian ini.


"siapa?." bertanya malas,aku tidak berselera rasanya menerima tamu di pagi hari.


"nona Citra."


cih,mau apa dia kekantorku,apa kata2ku kurang jelas padanya,ah...dia akan menjadi merepotkan jika tidak segera aku bereskan.


"suruh masuk."


akhirnya,aku memutuskan akan benar2 membuatnya jelas.


5 menit kemudian dia datang,dengan mata sembab dan ekspresi wajahnya yg sudah aku bisa tebak,sendu dan memelas,sial...aku tidak lagi respek padanya sekarang, di fikiranku kini hanya wajah Belva istriku sendirian di dalam kamar karna ketakutan denganku.


"Al,kau tidak mengangkat telvon dan membalas pesanku."


Citra ingin mendekat menghampiriku,tapi tanganku langsung mengangkat menyuruhnya berhenti sampai disitu, kini aku merasa dapat alergi baru, aku tidak ingin berdekatan dengannya.


"katakan apa yg ingin kau katakan, setelah itu biar aku perjelas semuanya, waktumu hanya 10 menit,aku sibuk hari ini."


"kenapa kau berubah jahat sekali Al? dulu kau selalu lembut padaku."


"waktumu akan habis Citra,jangan bicara yg tidak penting."


"aku akan meninggalkan pekerjaanku Al, kembalilah padaku."


aku tersenyum kecut,menaikkan satu bibir atasku dengan sinis menatapnya.

__ADS_1


"aku sudah menikah."


"jangan berbohong Al,dia bukan apa2 bagiku, aku tau kalian di jodohkan dan kau tidak mungkin jatuh hati pada wanita aneh itu."


aku menghela nafas kesal,lalu berdiri menghampiri Citra dengan jarak yg tidak terlalu dekat,menatapnya dengan marah karna baru saja dia bilang istriku aneh.


"jadi kabar yg beredar selama ini benar, kalau mulutmu itu tidak sesuai dengan wajahmu ya, kali ini kau harus hati2 bicara Citra, wanita yg kau bilang aneh itu istriku sekarang, aku bisa menuntutmu atau menjatuhkan semua kebanggaanmu saat ini,kau tidak lupakan dengan rekaman itu?."


"AL...kenapa kau mempermasalahkan hal kecil itu,lagipula aku tidak akan punya anak dari laki2 itu,kau terlalu naif Al,aku hanya akan punya anak darimu,jadi....


"stop,jangan membanggakan dosa2mu padaku Cit,kau tahu,saat ini yg ku lihat darimu tidak lebih dari sesuatu yg menjijikan untukku, kita sudah over,jangan menggangguku dan mengganggu ISTRIKU, karna jika ku dengar kembali kau mengusiknya, aku pastikan kau menyesali semua perbuatanmu, pergilah... waktumu habis."


aku berbalik membelakanginya,tidak ingin melihat lagi wajahnya yg nampak membuatku marah itu,sampai detik ini,kata maafpun tidak terucap dari mulutnya.


"3 thn Al,itu bukan waktu yg sedikit untuk kita,dan kau melupakannya untuk terjebak dalam pernikahan bodoh ini?."


aku tersenyum sinis lagi,bukan dengan kata2 Citra barusan,tapi lebih kepada menertawakan diriku sendiri,benar...dulu juga aku berfikir begitu,pernikahan bodoh yg di rancang mamih,tapi...sayangnya kini aku tidak menyesalinya sekarang, aku malah ingin banyak2 bersyukur pada mamih dan Belva.


"benar,kau benar,3 thn kita bukan waktu yg sedikit untuk aku lupakan begitu saja, 3 thn yg akan aku sesali seumur hidupku karna menyia-nyiakan waktu untuk perempuan pengkhianat sepertimu, dan aku bersyukur tuhan melepaskan dan menyadarkan aku akan kebodohanku terdahulu yg memilih bersamamu,pergilah, bahkan jika kita bertemu dijalan atau dimanapun,aku harap kita tidak usah saling menyapa,itu satu2nya penghormatanku padamu karna kita pernah dekat dulu."


"Al...hiks...kau jahat sekali Al....".


"pergilah."


pelan dan tegas,aku berjalan kembali ke kursi kerjaku,tidak melihatnya yg pelan melangkah meraih pintu,dia masih menangis,sungguh,aku tidak peduli tentang apapun padanya saat ini, dia bukan lagi siapa2 bagiku,tidak penting dan tidak berpengaruh apapun lagi.


#


seperti mendapat angin sejuk, aku melihat Belva yang berdiri di dekat pintu masuk menyambutku, hal yang aku sukai darinya ialah saat ia menggerai rambut hitamnya, dia tersenyum, tunggu...apa ini mimpi? sudah hilangkah marahnya?


"kamu nungguin aku?."


aku tersenyum,sudah ingin memeluknya saat tiba2 tangannya menahanku tepat di bagian dada.


"mas ada mamih."


pelan tapi terdengar olehku,jadi alasan ia berdiri didepan pintu ini bukan karna ingin menyambutku? melainka karna ada mamih dan ia harus bersandiwara agar tidak ketahuan mamih kalau ia sedang ngambek padaku.

__ADS_1


"mamih? sejak kapan?." aku masuk,Belva meraih tas kerjaku,sambil berjalan mengikutiku ia meletakkan tasku di meja ruang tamu, aku melihat mamih yg sedang sibuk didapur, menyiapkan sesuatu.


"dari siang mas, mamih datang sama kak Bia."


"kak Bianya mana?."


"kepemotretan sebentar,nanti 2 atau 3 jam lagi balik kesini jemput mamih."


mamih menjawabku, setelah mencium tangannya aku duduk di kursi makan menatap makanan yg ada di meja.


"kita mau makan bareng? kenapa gak di restoran aja mih? mamihkan jadi gak harus repot2 masak."


aku mencomot cumi tepung kering yg sudah didekatku,mengunyahnya nikmat,ah...mamih tetap enak soal masakan,Belva meletakkan segelas teh hangat untukku.


"makasih." aku tersenyum,Belva menggangguk dan duduk di dekatku, tak lama mamih duduk bersama kami.


"makan malam dirumah lebih enak,gak di buru2 dan gak keluar biaya banyak."


tukas mamih seperti biasa,seperti ibu2 pada umumnya.


"sekali-sekali gak apa2 mih."


"ajak saja istrimu,sehabis menikah kalian gak pernah kemana2 malah sibuk kerja dua2nya, honeymoon gak mau,apa lagi disuruh jalan2, banyak alesannya."


"bukan gak mau mih,tapi menundanya, aku emang lagi banyak kerjaan sekarang, kalo udah longgar baru deh aku sama Belva bicarain hal itu."


"itu alesan kamu ajah kan? mamih ngobrol sama Belva dia bilang mau kok,katanya kamu ajah yg sibuk,mamih telvon Kenzo katanya cuti menikah kamu juga harusnya masih ada dan panjang, mau ngeles apa lagi kamu?."


seketika aku mendeleik ke arah Belva,ia langsung tertunduk,mamih sedang memelototi aku sekarang,ya tuhan...aku dikhianati lagi,tapi...kenapa Belva seolah sedang meledekku.


"beneran kamu mau pergi honeymoon?."


tukasku pada Belva sekarang,dia menatapku tersenyum kecil dan mengangguk pelan.


"mamih jadi saksi ya,dia sendiri yang bilang mau,aku gak bakal tarik lagi kata2ku nanti, okeh? kita honeymoon,dan ini gak bisa batal."


dalam hati aku tertawa kemenangan, awas kamu ya Bel,kemarin2 bilang mau nunda2 sekarang didepan mamih beda lagi ngomongnya,bagaimana rasanya di pojokkan balik?ah...aku senang mamih datang.

__ADS_1


***😁


__ADS_2