
ini bukan yang aku bayangkan dari skenario di kepalaku,dia nampak serius dan aku takut mendengar apa yang akan dia katakan, teh hangat mengepul di hadapanku,kami duduk berhadapan di meja makan.
"bagaimana dengan Citra? apa kalian masih berhubungan?."
seketika pagi cerahku mendung dengan satu nama yg tidak ingin ku dengar,kenapa dia harus membahasnya sepagi ini?
"kamu mengkhawatirkan soal apa? kita sudah menikah dan kau fikir apa yg tersisa dari aku dan dia? memangnya aku sebajingan itu untuk selingkuh dari istriku? sebelum kamu yang marah2 atau bahkan kamu gak peduli tentang itu, mamih yg akan membunuhku paling depan."
tarikan nafas Belva nampak berat dan itu mengusikku,tidak ada senyum di wajahnya.
"Mas Ali, saya hanya akan menegaskan ini sekali saja."
dia merubah lagi kata2nya,kata "saya" itu datang lagi di mulutnya,aku sedikit kecewa tapi biarkan,aku ingin dengar ia akan berkata apa selanjutnya.
"saya tidak memaksa mas untuk menerima saya sekarang atau nanti,jika di hati mas masih ada rasa itu untuk orang lain, saya tidak akan menghalang halangi,tapi....saya berharap mas Al bijak dalam bersikap, karna saya siap jika harus mengabdikan hidup saya seumur hidup pada suami saya, jika memang telah berakhir,tolong tunjukan pada saya ketegasan mas Al agar saya percaya menyerahkan tubuh dan hati saya untuk mas Al,tapi jika mas Al masih ragu,honymoon ini akan menjadi ajang berlibur kita saja."
dia sedang mengancamku dangan kata2nya yg di perhalus kan?aku menyeringai kecut, menatapnya,bilang saja dengan jelas, kalau dia tidak akan menyerahkan kesuciannya padaku jika aku tidak bisa membuktikan hubunganku dengan Citra telah benar2 berakhir.
"kau mau lihat apa? pembuktianku yg bagaimana jika dengan kata2ku saja kau tidak percaya?apa aku harus menelfonnya,menyuruhnya datang sendiri kesini dan bicara langsung denganmu? hm? itu yg kau mau?."
aku tersenyum sinis melihat dia diam,aku jengkel dengan tingkahnya kali ini, merasa tidak percaya padaku dan...ah...aku benci pembahasan konyol ini.
"kalau begitu kita akhiri obrolan ini sampai disini mas,saya rasa mas Al belum mengerti apa yg saya maksudkan."
nah...lihat,selalu begitu,dia pergi seenaknya setelah memberi tanda tanya besar padaku, apa yg salah?akhh aku frustasi memikirkannya, kenapa harus hari ini kami berdebat lagi?pagiku yg gembira sejak tadi hilang entah menguap kemana.
#
"elo bodoh ya? gue gak tau gimana elu ngejalanin kehidupan percintaan elu ya,tapi...ckckck,gue malu punya ade kayak lu."
__ADS_1
kami di ruang tamu,duduk disofa yg sama, kak Bia baru saja mendengar ceritaku dengan perdebatan pagi tadi bersama Belva,ya...karna aku sudah terlanjur cuti aku memutuskan kerumah mamih di tengah fikiranku yg kalut.
"maksud kak Bia apaan sih? kenapa sih kaum perempuan gak bisa to the point aja kalo ngomong,biar gampang di mengerti gitu, biar gue gak usah mikir keras."
"elo mikir donk,kalian menikah karna dijodohin,kalian gak saling mengungkapkan perasaan kalian masing2,dari awal loe menyetujui adanya pernikahan ini kan loe yg bilang karna pengkhianatan ex mantan loe itu, dulu loe gak ada perasaan apa2 sama Belva,terus tiba2 kalian mau honymoon tapi Belva gak tau perasaan loe yg sebenernya ke dia tuh gimana? ya kalo gue jadi Belva gue gak mau lah tidur sama laki2 yg perasaannya belom jelas buat gue atau bukan,emangnya elu sama dia kawin kontrak?."
seketika aku terdiam sesaat,menyimak perkataan kak Bia yg aku fikir benar juga sih,menurut pengalamanku juga perempuan itu memang butuh ketegasan dari omongan laki2,seperti ungkapan cinta kita atau semacamnyalah,ternyata aku salah,aku fikir Belva gadis yg berbeda,aku fikir perasaanku saat ini untuknya sudahlah sangat jelas dan tak perlu mengungkapkan kata-kata lagi, ternyata teori laki-laki selalu salah itu benar adanya.
"eh tunggu,jangan2 kalian beneran nikah kontrak ya,diam2 di belakang kita tanpa sepengetahuan mamih dan neneknya Belva kalian bikin semacam surat kontrak atau...!."
kak Bia memelototiku,menelisik kedalam mataku mencari kebohongan disana,aku yang lagi setengah berbaring tadi langsung meraih bantal sofa dan melemparnya tepat di wajah mungilnya.
"sembarangan loe,kalo mamih denger mentah2 gue di sembelih nih."
"lagian elu,mencurigakan banget,jangan bilang juga kalo kalian belum melewati malam pertama?."
uhuk..uhuk..uhuk,tersedak yg aku buat2 membuat kak Bia menyeringai padaku.
lihatlah,kakak super bar-barku yg satu ini,kenapa dia beda sekali ya dengan kak Denisha yang lembut dan kalem, harusnya yg jadi model itu kak Denisha,bukan kak Bianka yg sampai saat ini ngejomblo gara2 kelakuan bar-barnya.
"pulang sana,kasian si Belva sendirian, bisa2nya lu ngmbek istri lu elu tinggalin, gue bilangin mamih tau rasa lu."
ah,kak Bia selalu berhasil mengancamku dengan jimat ampuhnya dengan nama mamih, tapi kali ini aku memang benar ingin segera pulang, ingin memeluk Belva dan meminta maaf padanya,terfikir olehku untuk membawakan sesuatu untuknya dijalan nanti, sepertinya cake cantik di toko langganan mamih lumayan enak.
#
aku berhentikan motor matic ku di sebelah mobilku yg terparkir di halaman kecil kami, rumah mamih dan rumahku memang berjarak tidak terlalu jauh jadi aku hanya perlu dengan motor saja jika ingin kesana, tanganku menenteng sekotak cake redvalvet yg sempat ku beli di toko tante Ane langganan mamihku tadi,senyumku sudah akan mengembang ketika saat didekat ambang pintu aku melihat Belva berdiri berhadapan dengan seorang laki2, Belva melihat kearahku,dia langsung menghampiriku.
"sudah pulang mas?." tukasnya seraya meraih lengan tanganku, sedikit berkernyit aku melihat wajah laki2 yg kini menatapku.
__ADS_1
"siapa?."
tanyaku,dan laki2 itu tersenyum menatapku sedikit mengangguk.
"ini pak Rian mas,atasan saya di kantor, datang mengantarkan beberapa berkas dan kado pernikahan." Belva menerangkan, kami berjabatan tangan.
"kenapa gak disuruh masuk, mari minum teh dulu."
"gak perlu mas, pak Rian langsung pamit tadi."
aku berkernyit aneh, Belva menjawab dengan cepat,lalu raut wajah pria bernama Rian itu nampak kikuk.
"benar,saya harus kekantor, maaf kalau kedatangan saya mengganggu."
"oh,gak apa2 saya harap pak Rian bisa datang lagi dan bisa mencicipi teh kami, terimakasih atas kadonya."
kami berjabatan kembali, berbasa basi sebentar dan diapun pergi, menghilang dengan mobilnya menjauhi pintu gerbang rumah kami, aku rasa dia pria yg baik dan sopan, atasan yg humble sekali ya sampai mau mengantarkan berkas bawahannya sampai kerumahnya.
Tunggu, aku sedang melupakan sesuatu, benar...jika dia atasan Belva, rasanya aneh jika dia repot2 datang hanya untuk.....
aku tersadar aneh, mataku mendelik mencari2 alasan dalam fikiranku, saat aku akan menatap Belva,aku tidak sadar kalau Belva sudah tidak berdiri di sisiku,aku mengejarnya masuk kedalam rumah.
"Bel, ada yang harus aku tanyakan soal tadi, bisakah kamu jelaskan dia itu siapa? karna kalau dia atasanmu rasanya terlalu berlebihan jika hanya mengantar berkas untukmu."
Belva berhenti tepat di dekat sofa ruang tamu kami, dia berbalik menatapku,kali ini ia sedang memakai kaca matanya,lekat dia menatapku.
"dia benar atasan saya di kantor, dan fakta lainnya adalah kalau dia juga mantan pacar saya dulu."
aku ternganga, tidak...apa aku salah dengar? pria yg sedang beramah tamah denganku tadi adalah mantan pacar istriku?
__ADS_1
tunggu, aku merasa spichles.