
Pov Ali
apakah ini akan menjadi hari2 terberatku? tentu saja tidak, dia fikir dia bisa menghancurkanku hanya dengan serangan liciknya yg seperti anak2 itu,Citra...kau sungguh tidak mengenalku ternyata,caranya yg kotor malah akan menghancurkannya,aku berjanji.
"kenapa lu menghindari media? kenapa gak bongkar ajah sekalian aib dia, elu gak tau sih karyawan disini pada kasak kusuk gak jelas bergosip tentang loe."
suara Kenzo nampak kesal menatapku yang nyaris hanya duduk bersnatai di kursi kerjaku, aku tersenyum, mencoret2 beberapa kertas tak terpakai dengan nama Belvana istriku, ah.. aku sangat merindukannya.
"bagaimana tanggapan boss kan kita sudah tau, dia hanya berpesan scandal ini jangan terbawa2 pada bisnis, tapi..yah..mau bagaimana lagi, para atasan pasti membicarakan ini juga kan?."
aku berbicara santai dan tenang, hanya membuat Kenzo semakin uring2an seperti semakin kesal menatapku.
"sebenarnya elu punya rencana gak sih Li?."
"gimana ya? Belva bilang gue gk boleh balas dendam."
"ya terus elu mau diem aja? kalo ngaruh keproyek gimana?."
"ya paling gue di pecat."
"elu bisa serius gak sih."
aku terkekeh melihat Kenzo nampak greget dengan sikapku.
tak lama ketukan dipintu membuat Kenzo mengalihkan perhatiannya pada pintu itu,sekertarisku masuk dengan seseorang di belakangnya.
"Eka?." suara Kenzo tercekat,dia menatap gadis yang sedang menunduk itu dengan kernyitan halus di dahinya.
aku tersenyum miring,ciri khasku jika menyambut sesuatu yg tidak aku sukai berada tepat di hadapanku, dia asistant Citra,dan aku tau dia datang untuk memohon setelah ancamanku datang lewat pesan kemarin.
"ngapain kamu disini?."
tukasan Kenzo membuat Eka nampak kikuk dan takut menatapku,aku bangkit dari duduk, berjalan dan berdiri menatap Eka yang sepertinya terlihat pucat.
"kau kan? yang melakukan semua itu?."
__ADS_1
ucapku,dan aku tau Eka tersentak mendengarnya.
"maafkan saya pak,nona Citra yang...
"saya tau,tapi Eka,saya gak nyangka kamu tega melakukan itu sama saya setelah apa yang saya lakukan buat keluargamu."
Eka semakin merunduk,aku menghela nafas melihat sudut matanya nampak mengembang dengan air mata,Kenzo yg sejak tadi penasaran memutuskan untuk diam sementara memperhatikan kami di sofa dan duduk tenang.
Eka adalah salah satu team di management yang menaungi Citra,saat itu dia masih orang baru di dunia hiburan, aku menyaksikan langsung bagaimana Citra memperlakukannya dengan sembarang, menyuruh2nya kesana kemari,terkadang Eka harus menjadi tameng kemarahan fotografer profesional yang sudah mengontrak Citra jika Citra bermasalah di jam kerja.
saat itu aku melihatnya menangis sendirian di tangga darurat gedung pemotretan tempat Citra sedang bekerja,aku tak bertanya padanya tapi aku mencari tahu sendiri apa yg sedang terjadi padanya.
lalu aku mengetahui betapa kesusahannya dia sebagai tulang punggung keluarganya yg kekurangan,waktu itu adiknya mengalami kecelakaan,itulah alasannya dia menangis karna Citra tidak mau meminjamkannya uang untuk uang muka masuk rumah sakit karna adiknya harus segera di oprasi.
tanpa berfikir apa2 aku membantunya, aku juga mengirimi uang untuk ibunya yg hanya seorang diri bekerja di sebuah warteg pinggir jalan milik orang lain,ibunya adalah singelperent, dan Eka anak pertama yang harus membantu ibunya menjadi tulang punggung keluarganya, dengan 2 adiknya yg masih harus bersekolah di sekolah swasta yg memakan banyak biaya.
bukan aku mengungkit kebaikanku di masa itu, jujur aku tulus membantunya,tapi...jika akhirnya dia menusukku seperti ini bukankah itu berarti dia orang yg tidak tau berterimakasih?
andai dia tidak ikut campur,andai dia diam saja, toh akupun tidak pernah memaksanya untuk berpihak pada siapa2,tapi dia membantu Citra dengan rencana2 liciknya,bahkan dia berbicara di media sebagai saksi dari kejahatanku pada citra yg hanya omong kosong kebohongan itu.
hanya itu yg aku tulis,tapi aku yakin dia mengerti makna ancaman itu, Eka selalu menggunakan hatinya yg lemah,dia memang sedikit plinplan dan mudah di tekan, makanya aku tidak heran dia membantu Citra, aku yakin Citra mengancam sesuatu padanya.
"Pak Al,saya minta maaf,saya menyesal melakukan kebohongan itu."
"berhentilah dari pekerjaanmu, disana kau tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan yang sehat,selamanya kau akan mendapatkan tekanan dari mereka."
"tapi pak, saya butuh pekerjaan itu."
"kau masih sangat muda Eka,kau bisa melakukan lebih dari yang kamu bayangkan, jangan libatkan lagi dirimu dari pekerjaan kotor seperti itu, memangnya kamu gak berfikir ibumu akan merasa sedih jika tau cara kau mendapatkan uang seperti ini?."
maafkan aku Eka,aku harus menohokmu dengan nama ibu,karna jika tidak, kau akan terus terjerumus dalam cerita Citra yg licik.
"saya mohon jangan beritahu ibu saya pak Al,saya bersedia melakukan apapun untuk pak Al."
"tidak usah,aku hanya pinta kau berhenti dari pekerjaanmu,selebihnya biar Citra yang menjadi urusan saya."
__ADS_1
"jadi dia datang hanya untuk mendengarkan nasehat lu? cih..Citra gak akan runtuh jika hanya kehilangan satu asistant seperti dia."
aku rasa Kenzo mulai jengah dengan omonganku yg terdengar omong kosong,tapi aku meliriknya dan tersenyum tinggi.
"kamu bawakan apa yang aku pinta?." tukasku akhirnya pada Eka yang masih sibuk mengusap air matanya,dengan cepat ia merogoh saku celananya dan menyodorkan flashdisck kecil ketanganku yg menjulur tadi.
"apaan tuh?."
rasa penasaran Kenzo sampai membuat ia bangun dari duduknya dan mendekat padaku.
"menghadapi orang licik,memang seharusnya dengan cara yang licik bukan?."
lagi2 aku tidak bisa menahan senyuman tinggiku yg nampak sombong di mata orang lain yg melihatnya,aku pernah dengar Kenzo bicara begitu, dia bilang aku bisa sangat menakutkan jika berbuat jahat, apa benar? yah... setidaknya Belvanaku tidak melihatku yang seperti itu, aku hanya ingin dia melihatku yang manis dan mencintainya dengan sangat.
Eka sudah pergi 15 menit yang lalu,entah apa keputusannya tapi aku yakin dia sedang mempertimbangkannya,dan aku masih berhadapan dengan Kenzo yang mati penasaran sejak tadi,ia terus menungguku untuk menjelaskan rencana apa yg hendak aku lakukan pada Citra nanti.
"so? apa rencananya? loe gak mau libatin gue?."
"gak akan ada yang terlibat,biarkan kejahatannya yang muncul satu2 menghancurkannya."
"apaan sih?gue gak ngerti sama jalan fikiran loe."
"Belva bilang gue gak boleh jadi orang yg pendendam." aku nyengir,dan itu membuat Kenzo jengkel
"elu udah gak waras ya semenjak hidup sama Belva."
"Ken,elu gk mau nikah ajah? biar tau rasanya jadi gue."
sebenarnya aku meledeknya, mencemoohnya karna dia masih saja betah menjomblo seperti saat ini,tapi aku melihatnya menarik nafas bukan karna kesal,tangannya mengusap tengkuknya yang baru aku sadar itu menimbulkan efek kemerahan samar di wajahnya.
"gimana pendapat loe kalo gue jadi abang ipar loe?."
plak..aku setengah memukul kepalanya,itu tidak sakit,tapi aku tau lelucon itu untuk membuat aku kesal padanya.
kakak ipar? heuh yg benar saja😎
__ADS_1