
Pov Bianca
bau obat2an membuatku pusing, ini kenapa sebabnya aku tidak suka dengan rumah sakit, selain berwarna putih gading ataupun biru langit, bagiku tidak ada yang menarik di sini, semua orang orang disini membuat aku tidak betah berlama2, aku benci rumah sakit.
Tapi demi adik dan adik iparku tersayang aku bertahan lebih lama disini, menemani Belva yang masih terlihat lemah dan pucat karna insident sial itu, Ali sedang ada urusan, meski aku tau apa yang dimaksud dengan urusannya itu aku berusaha diam jika Belva menanyaiku kemana suami terbucinnya pergi.
Ali bilang akan menyelesaikan urusannya dengan wanita di penjara itu, entah apa yang akan ia lakukan tapi bagiku apapun yang Ali lakukan pada wanita itu jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka yang akan berbekas yang diterima istrinya Belva.
"kakak boleh keluar kok kalau kakak gak betah lama2 disini". Belva nampak tersenyum, meski aku tau dia pasti sangat bosan setengah berbaring di tempat tidur itu dengan waktu yang cukup lama.
" kenapa? Kamu bosan? ".
" gak, aku malah gak enak sama kak Bia yang pasti lebih bosan dari aku. "
"sebenarnya iya, tapi aku masih bisa bertahan beberapa jam lagi sampai Ali datang, dia bilang aku gak boleh ninggalin kamu. "
"eh.. Gak apa2 loh kak, aku jadi gak enak beneran nih sama kakak. "
Melihat wajah Belva yang agak sedikit berkerut halus di keningnya membuat aku tersenyum, gadis itu masih saja menjaga jarak padaku, mungkin sopan santunnya yang membatasi itu semua, dia benar2 memposisikan diriku sebagai kakak ipar dan orang yang paling tua darinya.
Aku mendekat duduk di kursi yang tepat berada di sebelah tangannya yang masih di infus, sedikit mendekatkan wajahku agar Belva membuka ruangnya supaya aku bisa masuk menjadi dekat dengannya.
"bagaimana kado yang aku kasih? Sudah di gunakan atau belum?. "
Seketika wajah Belva memerah hingga ketelinga, kornea matanya melebar tanda ia terkejut menerima pertanyaan dadakan dariku.
"i.. Itu.. Su.. Sudah sih kak tapi...
" apa? Ali gak suka warnanya atau modelnya? ".
" bukan... Itu.. Aku... Aku gak mau memakainya lagi. "
Masih dengan wajah yang memerah, kali ini ia mengibas2 tangannya kedepan wajahnya, mengusir hawa panas yang sepertinya membuat ia jadi gugup dan malu menatapku.
"kenapa?. " aku berkernyit meminta penjelasannya.
"karna.. pertama dan terakhir kali aku pake Mas Ali bikin aku gak tidur semalaman, jadi...
Hahahaha, aku tergelak, dan Belva tetlihat semakin nampak malu menatapku, ia membuang pandangannya kesegala arah menutupi wajahnya yang semakin matang.
"kalau begitu harus sering sering di pakai Bel, nanti aku kasih lagi beberapa untuk farian berbeda, baju2 gemez begitu memang untuk di pamerkan ke suami, biar Ali rajin bikin keponakan buat aku. "
"eh kak jangan donk, aku gak mau, nanti mas Al yang kesenengan, biar dia aja yang inisiatif beliin buat aku, itukan tugasnya dia bukan kak Bia. "
__ADS_1
Kami terkekeh bersama, aku menyentuh tangan pucatnya yg di infus, menggenggamnya untuk memberikan kehangatan, mencoba menyalurkan rasa peduli dan sayangku kepadanya.
"tolong jaga diri baik2 bel, Ali butuh orang yang kuat di sampingnya, semenjak kami kehilangan Papih, hanya Ali yang bisa kita andalkan sebagai anak laki2 satu satunya di keluarga kami, meski sangat berat, Ali tidak pernah menunjukan air matanya pada kami, tapi melihat dia menangis saat memeluk kamu, semua orang tau dia sangat mencintai kamu, sehat2lah berada di sampingnya, jika Ali terluka lagi hatinya, mungkin dia tidak akan bisa kembali seperti Ali yang kita kenal saat ini. "
aku melihat Belva tersenyum membalas genggaman tanganku, ia menarik nafas panjang, mencoba menerima perasaan yang ku salurkan padanya.
"percayakan dia padaku kak, aku yang akan membuat dia pusing sendiri jika dia tidak mau dengar nasehat dari kakak. "
Kami kembali terkekeh bersama, lalu ketukan pintu terdengar, pandangan kami beralih ke titik yang sama, melihat sosok yang di tunggu tunggu telah kembali, senyum merekah menyambut si pemilik hati yang sedang di rindukan, aku berdiri, tak lama di belakang sosok itu menyusul menyambul dari balik pintu.
"apa kalian sedang bergosip? pasti ngomongin aku ya. "
Ali berjalan mencium istrinya, dia meletakkan bungkusan sepertinya buah ke atas meja.
"kalo kakak? Kakak gak rindu sama aku? ".
Bocah tengil yang setiap saat pasti muncul setelah Ali, siapa lagi kalau bukan Kenzo, akuhanya menaikan bibir atasku tanda bercandaan dia tidak akan aku tanggapi.
" karna udah ada kalian, jadi aku bisa pergi sekarangkan? ".
Tukasku sambil meraih tas tanganku yang sejak tadi tergeletak di sofa.
" iya ih kamu kasian kak bia dari tadi di suruh2 jagain aku, emang aku anak bayi apa, aku bisa jaga diri sendiri tau. "
Bocah itu melirikku sambil terus mencium2 wajah istrinya yang nampak risih karna Ali melakukannya di depanku dan Kenzo, aku hanya menghela nafas frustasi dengan kelakuan bocah besar yg ternyata ditakdirkan jadi saudara kandungku itu.
"lakukan apa yang kalian ingin lakukan, sekarang tugasku udah selesaikan, jadi aku bisa pergi bersenang senang dengan....
" dengan siapa? ".
Suara disebelahku baru saja memotong dengan nada yang tidak bisa di bilang biasa saja untuk ukuran orang yang sedang bertanya, dan aku sangat kesal karna Kenzo menatapku dengan tatapan mendebarkan seperti yang sering ia lakukan baru2 ini padaku.
" itu bukan urusanmu" jawabku panik, karna aku tidak ingin dicurigai Ali ataupun Belva disana.
"aku akan antar kakak"
"kau fikir aku bocah...
" benar, tolong antar kakakku yang sudah baik hati ini menjaga istriku ya ken, setelah itu tidak usah kembali lgi karna aku tidak ingin di ganggu bersama istriku. "
Aku membelalakan bola mataku pada Ali, karna dari senyumnya yang jahil aku tau maksud dia yang sengaja sekalian mencari cara untuk mengusir halus kenzo dari ruangan ini.
###
__ADS_1
"jadi... Kakak mau kemana? ".
Tatapan mata Kenzo masih membuat aku gugup, seharusnya tidak begini, seharusnya aku bersikap biasa sajakan, sibocah ini saja nampak baik2 saja, benar2 tidak bisa di percaya, setelah banyak yang dia ucapkan padaku saat itu, dia masih bisa menatapku tanpa salting sama sekali. Sial.
"Ken, apa aku terlihat mudah bagimu? "
Kami didalam mobil yang terus melaju dengan kecepatan sedang, sekilas kenzo melirikku lalu tersenyum lagi, belakanganaku tersadar bocah ini mudah sekali tersenyum jika di hadapanku.
Aku sedang mode serius, tapi entah mengapa rasanya kenzo malah membuat aku merasa sangat santai, apa itu triknya untuk menangkal sinyal ketidaksukaanku padanya saat ini.
"apa yang mau kakak dengar? aku selalu berusaha tapi kakak yang selalu menyepelekan. "
"kalau begitu berhenti, cukup jangan mengganggu aku lagi. "
"apa aku mengganggu? "
"kembalilah seperti Kenzo yg biasanya, aku tidak tertarik bermain dengan anak kecil. "
Mobil berhenti, aku masih menatap kedepan, kulihat lampu merah menyala, lalu terdengar tarikan nafas halus memenuhi udara diantara kami. Dia kesal
"aku bukan anak kecil lagi, bahkan Ali sudah menikah kak, aku berhak menyukai siapapun. "
"jadikan aku pengecualian. "
"No, jangan mengatur hatiku. "
"lalu apa sebaiknya aku membencimu saja?. "
Kenzo tersenyum miring, dianampak jengkel dan kecewa.
lampu merah berganti hijau, mobil melaju sedikit kencang, aku menatapnya, menunggu dia merespon kata2ku.
"lakukan, kau boleh membenciku sebesar yang kau mau, tapi jangan berharap aku merubah perasaanku saat ini, itu bukan kuasaku. "
Ada senyum samar di bibirku, ya... Itu terjadi begitu saja, perasaan sialan ini membuatku nampak ingin terlihat bodoh di hadapan Kenzo, kenapa? Kenapa bocah culun dan nampak bodoh itu berubah semanis ini, kenapa perasaanku berdebar oleh bocah ingusan ini, aku ingin menampar wajahku sendiri saat ini agar segera tersadar dari fantasi kekagumanku pada wajah yg terlihat nampak berkilau beberapa waktu ini, dasar mataku sialan, sepertinya aku mulai tidak waras.
"sepertinya tidak bisa. "
Ucapku akhirnya, setenang mungkin, berharap dia mendengar tapi tidak untuk meresponku, namun aku melihat dia melirik padaku.
"apa kakak mau mampir ke apartemenku? "
Seringai senyum licik dari sudut bibirnya merekah seperti tau aku akan menjawab apa.
__ADS_1
Dasar gila.