
Sore itu aku duduk di balkon belakang rumah,ada lahan yg tidak terlalu luas dengan rumput hijau yg terawat menutupi tanah di halaman belakang rumahku,pohon mangga besar menjulang tinggi dan lebat dengan buahnya yg sampai ranum tidak boleh di petik oleh mamih jika belum ada yg jatuh satu persatu,kopi hangat menemaniku di meja teras dimana aku kini duduk melamun sambil memandangi pohon mangga disudut sana, aku mendengar langkah kaki mendekat,tapi aku enggan menoleh untuk memastikan siapa pemilik langkah itu,tapi semakin mendekat langkah itu,aku tau dari harum tubuhnya,ini parfum mamih.
"masih mikirin dia?."
aku menghela nafas,mamih duduk di sebelahku dan menepuk punggungku mengusap2nya hangat.
"kamu tau gak kenapa mamih menjodohkan kamu sama Belvana?."
aku menoleh menatap mamih yg dekat dengan ku,wajahnya lurus menatap kedepan,sepertinya dia sama denganku, memandangi pohon mangganya yg sudah banyak yg ranum buahnya,sedangkan bibirnya tersenyum entah apa artinya.
"Citra juga baik mih,mamih belum kenal dia ajah,coba kalau udah kenal dan deket, pasti kalian sama2 ngerti."
tukasku,yg langsung di tatap mamih dengan lekat dan intens seolah aku tau apa yg di maksud mamih dengan wanita yg baik.
"Belvana datang mengantar neneknya saat ingin membuat kebaya untuk acara pesta pernikahan sepupunya katanya, saat itu dia terus bicara menjelaskan apa yg di inginkan neneknya sama mamih,dia tau kalau mamih yg punya butik,katanya dia yakin kalau mamih mengerti disaint yg ingin neneknya buat, nah...selama pengerjaan kebayanya neneknya itu dia sering ke butik mamih, kami banyak ngobrol,sampai mamih tau kalau ternyata dia cuma tinggal sama neneknya."
"singkat cerita sih mamih jadi akrab sama neneknya,sampai kebayanya jadi, kami masih saling komunikasi dan sering ketemuan di luar buat sekedar makan2 atau jalan di mall, neneknya Belva ternyata enak di ajak ngobrol dan tukar fikiran,selama pertemanan mamih dan neneknya Belva,mamih selalu ketemu Belva,dia rajin anter jemput neneknya kalau mau kemana2,mamih jadi suka sama dia,anaknya sopan dan nurut sama orang tua."
aku masih diam mendengarkan cerita mamih, ada pancaran aneh yg keluar dari aura wajah mamih,keliatan seneng dan bangga saat nama Belvana di sebut mulutnya,seolah ada kerinduan yang mamih utarakan untuk seseorang,aku berfikir sih itu almarhum papih, mungkin mamih rindu papih,tapi apa hubungannya dengan Belva ya? masa iya Belva mirip sama papih.
"mamih fikir kamu akan bahagia kalau menikah dengan pasangan seperti Belva, dia perempuan mandiri dan baik, mamih suka cara dia memperlakukan neneknya di depan mamih,mamih suka saat dia bicara sama mamih,sopan dan lembut,oh iya,mamih juga pernah bawa Gio ketemuan sama neneknya Belva dan Belva,mereka langsung akrab, Belva sangat dekat dengan anak2, dia keibuan banget waktu main sama Gio, mamih suka wanita kayak gitu,makanya mamih mau menjodohkan kalian."
"mamih tau gak? Belva sampe putus sama pacarnya gara2 perjodohan mamih itu."
"tau,kan dia sendiri yang ngasih tau mamih."
__ADS_1
aku membelalak pada mamih,gak nyangka mamih bisa sesantai itu menyikapi hal yg seharusnya membuat ia bersalah.
"mamih udah gak waras ya, bikin hubungan orang rusak begitu."
"yg gak waras tuh kamu,nolak perempuan sebaik Belva."
"mih...
"mamih gak pernah nyuruh Belva putus sama pacarnya,mamih cuma bicara di depan Belva dan neneknya,mengutarakan keinginan mamih buat ngejodohin dia sama kamu, besoknya dia bilang kalau dia udah putus sama pacarnya,ya udh makanya mamih nyuruh kamu temuin dia."
"mih,tau gak,Belva ternyata satu sekolah sama aku dulu."
"tau,Belva udah cerita sama mamih, dia minta maaf karna lupa sama kamu."
"cih,kalian udah sedeket itu tapi mamih gak mau kasih kesempatan buat Citra supaya deket ke mamih,padahal aku udah 3 tahun sama dia."
"mamih gak mau kamu nanti menyesal di akhir Al,sama siapapun pasangan kamu nanti kamu adalah imam dalam rumah tangga kamu nanti,istri itu pakaian kamu dan kamu pakaian istrimu,Belvana adalah hal terbaik yg mamih pilih buat kamu,tapi jika dia tidak cocok dengan kamu ya kamu boleh menolak dan kembali pada pilihan kamu sendiri,tapi mamih pesen,kamu istikhorohin dulu deh siapa yang bakalan jadi pasangan kamu nanti,mamih cuma mendoakan yang terbaik buat kamu."
nasehat mamih mengakhiri percakapan kami di balkon sore itu,mamih kembali kedalam untuk membantu menyiapkan makan malam, dan tak lama akupun ikut menyusul kedalam setelah menghabiskan kopiku,aku masuk kekamarku untuk menunggu malam datang dan berkumpul di meja makan bersama mamih dan 2 kakak perempuanku,tambahan satu anak kecil yg sempat disebut mamihku tadi,ya..Gio,keponakan kecilku yg baru berumur 4 tahun.
selepas maghrib,aku sudah ingin keluar kamar sebelum akhirnya pintu kamarku di serobot terbuka lebar oleh kak Bia,kakak nomor duaku.
"bisa gak sih kalo masuk ketuk pintu dulu."
aku bersungut kesal karna kak Bia memang agak bar2 jika dihadapanku,entah kenapa bisa begitu,padahal profesinya sebagai model mengharuskan dia untuk terlihat lemah gemulai.
__ADS_1
"elu nolak perjodohan yang di planing mamih? kenapa? jangan bilang karna pacar loe si Citra?."
"ada apa sih elu sama mamih kak? kok kayaknya gak mau nerima Citra? kan kalian belum pernah ketemu."
"gue udah,pernah satu event,anaknya songong belagu gue gak suka."
"ya itu karna elu belum kenal sama dia."
"udah deh,jadi mamih belum ngasih tau alesan dia gak restuin elu sama Citra? sini gue kasih tau biar mata batin lu kebuka,bisa liat cewek lu rupanya kayak apa yg sebenernya."
aku menghela kesal,melihat kak Bia duduk di atas tempat tidurku dan mulai mengutak atik hp nya,ia hendak menunjukan sesuatu padaku.
"nih,sini loe liat sendiri kelakuan pacar loe yg so cantik itu."
aku mendekat,meraih hp kak Bia yg di sodorkan padaku, sebuah rekaman di butik mamih,aku melihat ada Citra dan beberapa asistennya datang kesana,jadi Citra pernah ke butik mamih?aku berkernyit, saat melihat kembali adegan melempar baju yg di gantung di patung penjualan mamih,dan beberapa bahan yg di robek Citra di hadapan pegawai mamih sambil menunjuk2 pegawai itu.
"ini...
"iya,dia pernah ke butik mamih,mungkin sebenernya dia gak tau kali ya kalau itu butik mamih,dia complaint soal baju yg di buat sama butik mamih katanya niru atau apalah, dan setelah di lurusin sama mamih ternyata bukan pegawainya yg salah,ternyata dia dapet informasi yg salah dari asistentnya, ternyata bahan dan baju itu bukan di buat sama butik mamih tapi brend lain, udah ******** bukannya minta maaf malah ngelemparin uang ke pegawainya mamih, sekarang saran gue elu pikir-pikir lagi deh buat terus sama dia,mamih ajah gk suka apa lagi gue."
"kok mamih gak cerita ini ke gue ya?."
"karna mamih masih menghargai apa yg jadi keputusan dan pilihan lu ntar,emang lu mau ******** di belakang kalo ternyata pacar loe itu gak beretitude begitu kelakuannya."
kak Bia selalu memberikan tamparan keras pada kata2 yg di sampaikannya padaku,dan aku harus mendengar itu dengan hati yg tak karuan,kecewa pada Citra dan malu pada mamih,apa sebaiknya aku menurut ya soal perjodohan itu?
__ADS_1
#🤔