Love Is KAMU

Love Is KAMU
#30


__ADS_3

Pov Ali


"kenapa mas melakukan itu?."


Belva masih nampak syok,aku membawanya ke hotel tempat aku dan Kenzo menginap, kami berada di kamar dan sedang berdebat tentang kejadian yang membuatku menciumnya tadi.


"melakukan apa?." aku mengeringkan rambut Belva dengan handuk.


"mas menciumku di depan orang banyak, mungkin kita akan jadi bahan omongan yang hangat besok."


"kenapa? kamu malu? kamu malu kalau suamimu yang menciummu?terserah mereka mau bilang apa,kamu istriku dan aku berhak melakukan itu padamu."


"memang mas gak malu?."


"gak,dan mas akan melakukannya dimanapun dan kapanpun mas mau, tanpa memperdulikan orang2 itu."


"kenapa tiba2?."


nampak wajah Belva menatapku penuh tanya, ia seolah2 menggodaku untuk berkata jujur tentang aku yang tersulut cemburu tadi.


"itu karna...kamu kelihatan kedinginan." ucapku dan langsung saja raut kecewa tergambar disana,aku tersenyum puas.


"ish..bohong."dia merampas handuk di tanganku.


"lagian kenapa kamu bisa sampai jatuh? apa mereka memanfaatkan kamu saat bekerja?, aku akan bilang ke producernya kalau kamu merasa...


"nggak mas..itu memang bagian dari pekerjaan, dan lagi aku senang melihat mas disini? kenapa datang? kangen ya?."


dia merangkul pinggulku,menempel dengan manja dan wajah yg sumringah seperti anak kecil meminta permen.


aku terkekeh, meraup wajahnya dan kembali menciumi bibirnya dengan kecupan2 ringan.


"memangnya kamu gak rindu sama mas?."


tukasku,masih mempertahankan posisinya yang melingkar di pinggangku,dia tersenyum dengan wajah sedikit memerah,aku merapikan rambutnya dengan jari2ku.


"bahkan saat baru sampai disini aku langsung rindu sama mas,makanya waktu itu aku telfon mas duluan kan?."


"apa besok masih ada pekerjaan? mas cuma bisa dua hari disini."

__ADS_1


"sayangnya masih,bahkan besok aku bisa selesai sangat sore,apa kita harus ke restoran enak untuk makan malam?."


Belva menatapku dengan binar matanya yang cantik,ia juga tersenyum sangat lebar dan manis,yah..di mataku,semenjak dia menjadi istriku,aku selalu melihatnya bersinar,entah apa yang terjadi pada mataku tapi...itulah kenyataan yang ku lihat,dia semakin cantik hingga membuatku khawatir akan pesonanya di mata laki2 lain,contohnya laki2 itu,sial.. kenapa aku tiba2 mengingatnya.


"jangan tersenyum seperti ini didepan orang lain,kau tau,kau sangat manis jika sedang tersenyum."


aku meraih puncak kepalanya dan mengecup disana,pelukan tangannya semakin erat.


"mas,sebenarnya ada yang mau aku tunjukan sama mas,harusnya sudah ku tunjukan saat bulan madu kita tapi...


"apa?."


"kado dari kak Bia."


aku berkernyit,yah...kak Bia memang memberikan sesuatu pada Belva,tapi Belva bersi keras mengatakan kalau itu hanya untuk dirinya,jadi aku berfikir mungkin kak Bia memberikan sesuatu atau benda yang hanya di gunakan oleh wanita.


"kamu membawanya? memangnya apa yang kak Bia kasih?."


"aku membawanya karna aku tau mas pasti datang untuk sekedar melihatku disini, mas bilangkan kalau libur kantor mau nengokin aku, jadi...


dia tersenyum,membuat aku penasaran,dia mengurai pelukannya dan pelan2 melepasku menatapnya dengan kernyitan di dahiku.


"...tutup mata mas."lanjutnya,membuat aku terkekeh,dan aku mengikuti permainan Belvaku yang manis, aku menutup mataku seperti yang dia mau,entah apa yg dia sedang lakukan karna aku tidak mendengar apa2, sunyi sesaat, tapi aku tau dia masih di sana, berdiri di hadapanku, aku dapat merasakannya.


"hm,tapi janji jangan tertawakan aku."


aku malah semakin ingin terkekeh mendengar suaranya yg nampak malu2 sekali.


"sudah selesai?,jika sudah aku buka mata sekarang nih." ungkapku penasaran.


"janji dulu jangan tertaw."


"ok,janji."


memangnya apa yang kak Bia berikan hingga harus membuatku menertawakan istriku? apa dia fikir aku akan menganggap itu lucu jika di tunjukan Belva padaku,aku semakin dibuat penasaran.


"bukalah."


pelan,sangat pelan,suara Belva yang terdengar ketelingaku,padahal aku masih merasakan dia masih di tempat yang sama,berdiri di hadapanku,lalu tanpa ragu aku membuka mataku perlahan,samar,lalu menjelas, Belva masih berdiri dihadapanku seperti dugaanku, hanya saja dia berbalik memunggungiku, kimono handuknya yg sejak tadi rapat menutup tubuhnya kini setengah melorot,menunjukan setengah bahunya yang nampak berlapis kain tipis,oh.. ****..tidak, aku tersenyum lebar membayangkan Belva mengenakan kain jenis itu.

__ADS_1


itu sesuatu yang tidak asing bagiku,yah..terutama untuk kaum pria, aku bukan bocah kemarin sore yang tidak mengenal apa itu Lingerie, dan aku mulai tidak sabar untuk melihat tampak depannya.


"kenapa hanya menunjukannya setengah? berbaliklah."


aku suka,melihat Belva memerah sampai ketelinga,ia menggerakkan badannya perlahan, tatapanku focus padanya,dengan wajah malunya ia tersenyum,dengan seketika kimono handuknya melorot sepenuhnya, sesuatu yg tak asing memenuhi tubuhku, rasa gelenyar aneh namun menggelitikku membuat hormon birahiku muncul mendadak dan mendesak saat melihat Belvaku tertunduk malu dengan pakaian setipis kulit ari itu.


warnanya coklat maroon,sangat kontras dengan kulit putihnya,dan kain itu membentuk badannya yg sempurna,memperlihatkan bagian dalaman milik Belva dengan jelas,dengan warna senada tentunya,itu terlihat lucu dan menggemaskan karna ada simpul ikat pita di bagian samping pinggulnya.


ah kak Bia, aku berhutang padamu, aku akan sangat berterimakasih atas kadomu untuk istriku,sekarang aku akan sangat menikmati kado indah yang sedang dikenakan Belva, yah..lebih tepatnya aku lebih menyukai pemilik tubuhnya ketimbang bungkusnya.hihihi


"mana mungkin aku menertawaimu, kalau begini aku malah ingin memakanmu."


tukasku,sembari meraihnya, melingkarkan tanganku di pinggangnya,dan sebelah tanganku yang meraih tengkuk kepalanya, mendorongnya,hingga menyatukan bibirku pada bibirnya yg nampak siap.


Belva memberiku ruang, untuk memasuki kecupan itu lebih dalam, ia membuka mulutnya dan aku langsung menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, yah...kami saling memagut satu sama lain,aku memlakukannya dengan sangat lembut,namun aku tidak bisa menahannya,kali ini aku lebih agresif dan terus menekan belakang kepalanya lebih dalam, membuat ia tersengal kehabisan nafas,tapi aku tidak membiarkannya,aku terus menggigit kecil,menghisap bahkan memagutnya lagi dengan cepat.


aku merasakan jemari Belva meremas dadaku, itu artinya kami akan melakukan yang lebih, aku turun ke bagian lehernya, mengecupnya disana sini,meninggalkan jejak yang mungkin tidak akan hilang dalam sehari,tanganku akhirnya bergerak melakukan tugasnya,meraba dan meremas setiap kali sesuatu yang menarik dari tubuh Belva akubtangkap dengan jemari tanganku, ia melenguh,dan itu membuatku semakin tinggi ingin meraihnya.


"mass..".bisiknya di telingaku dengan nafasnya yang terengah2 pelan dan lembut,terasa hangat di telingaku,aku tau ini akan sangat panjang dan menggairahkan, aku mengangkat tubuhnya,membaringkannya di tempat tidur, membuat dia berada di bawahku dengan sorot matanya yang nampak sendu dan berkabut.


itu sama denganku,karna kami menginginkannya,aku sangat menginginkannya, sepertinya aku sangat kelaparan saat menatapnya,kami berciuman lagi,kali ini dengan sentuhan tanpa sehelai lembar kainpun di tubuh kami.


jangan menggangguku,karna kami sedang melepas rindu yang teramat panjang.


#


pov Author


Kenzo bolak balik menatap ponselnya dengan gemas,ia sedang mempertimbangkan apakah harus menghubunginya lebih dulu atau hanya membiarkan suasana sepi menyelimutinya malam ini.


ia tau ini sudah malam tapi masih terlalu sore bagi manusia seumurannya untuk tidur atau rebahan saja di kasur hotel,alhasil ia malah gemas dengan dirinya sendiri,dimana keberanian itu pergi? bukankah tadi ia bahkan berani memegang tangannya?.


ting...


suara penanda pesan masuk di ponselnya yg berkedip,Kenzo menatapnya dengan frustasi karna ia fikir itu pesan dari orang2 yg mungkin tidak terlalu penting untuk situasinya saat ini, tapi meski dengan malas ia menatapnya, seketika senyumnya sumringah lebar melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


ia meraih jaketnya, buru2 membuka pintu dan keluar dari kamarnya,ia berlari menyusuri koridor hotel,menuju lif dan menekan tombol lantai lobi yang letaknya paling bawah, selama melakukan itu,senyumnya tidak hilang,ia terus menatap ponselnya dengan isi pesan itu.


"gue tau elo bosen jadi obat nyamuk, keluarlah, gue tlaktir minum kopi di cafe dekat lobi."

__ADS_1


*Bianca Dimitria."


#🥰


__ADS_2