Love Is KAMU

Love Is KAMU
#36


__ADS_3

Pov Ali


"bagaimana keadaannya?."


suara mamih, terdengar panik dan nampak khawatir, ia baru saja berlari dari lorong koridor dengan sepatu hag tingginya.


"gue fikir elo suami yang siaga, ternyata elo seteledor ini ya Al, akan gue pastiin gue ikut balas dendam sama perempuan si-al-an itu, gue bikin hancur sampai dia gak bisa sembunyi dimanapun."


yang ini suara kak Bia, wanita paling bar2 setiap kali ada moment seperti ini, situasi menegangkan dan bikin mamihnya tersedu2 sampai meneteskan air mata, dia akan selalu jadi orang pertama yang memaki atau berteriak pada apapun dan siapapun.


"bagaimana bisa Belvana yang jadi sasarannya? apa dia baik2 saja Al? kamu sendiri bagaimana? kamu pasti paling syok ya? kakak harap kamu kuat ya Al." kak ica (Denisha) dia kakakku yang paling tenang dan bijak dalam menyikapi situasi apapun, jujur saja aku lebih senang kalau mamih bersamanya ketimbang dengan kak Bia yang bisa semakin memancing emosional mamih dengan ucapan2nya yang terkadang tidak bisa di saring, sejak tadi hanya dia yang mengusap punggungku, menenangkan mamih untuk duduk di ruang tunggu, dan kami berkumpul menunggu seseorang siapapun yang keluar dari ruangan tertutup di hadapan kami, yah... Belvaku disana.


"keluarga nyonya Belvana Zarina ! "


seorang perawat dan seorang dokter perempuan keluar, sontak aku berdiri lebih dulu dan pastinya di ikuti oleh ketiga wanita berwajah khawatir yang sejak tadi mengancamku dengan raut mereka masing2, mataku langsung tertuju pada wajah dokter dihadapanku.


"bagaimana istri saya? "


Dokter wanita itu nampak berkernyit samar, ia lalu tersenyum hangat menatapku yang nampak masih mencecar informasi darinya, ia tau aku masih panik dan khawatir sekali.


"nyonya Belva akan di pindahkan keruang perawatan, kalian bisa menemuinya disana nanti, kondisinya masih sangat baik karna lukanya hanya beberapa centi merobek perutnya, tapi darah yang keluar lumayan membuat beliau pusing, kami baru saja menjahit lukanya, dia sedang tidur karna obat bius dengan takaran wajar, mungkin 20 menit lagi dia bangun"


sambil menandatangani sesuatu di kertas yg di berikan susternya, dokter itu kembali tersenyum ramah padaku.


"syukurlah."


suara mamih melegakan kami yang mendengar penjelasan dokter itu.


"saya dokter kinan, anda bisa menemui saya jika ada yang ingin di tanyakan perihal kondisi nyonya Belvana."


"terimakasih dok." kak ica mengangguk pada dokter Kinan, selanjutnya langkah kaki kami yang setengah berlari menuju ruang perawatan yg di maksud, meski dokter bilang Belvaku tidak apa2, tapi aku masih mengkhawatirkannya, dia pasti sangat syok dengan apa yang menimpanya saat ini, dan lagi benar kata kak Bia, suami macam apa aku ini tidak bisa menjaga dan melindungi istrinya begini, dasar aku yang benar2 bodoh.


#


Dia masih tertidur,dan aku tidak ingin membangunkannya, kak Bia dan kak ica membawa pulang mamih yang aku paksa untuk pulang karna mamih nampak kelelahan, diluar sudah sangat gelap dan aku masih menggenggam tangannya erat, aku tidak ingin melepasnya, aku ingin dia melihatku sampai matanya terbuka nanti.


"mass."


lirih suara Belva memanggilku dengan sangat lemah, aku terkesiap dan segera menatapnya lekat, sudut matanya berair dan aku yakin dia masih menahan sakit luka itu.


"jangan bergerak dulu sayang, kamu mau kemana?"


aku setengah berdiri saat melihat Belva nampak ingin bangun dari tidurnya yang sangat menyiksa itu, dia menatapku lekat, lalu dengan gerakan sedikit kesal ia menepis genggaman tanganku di lengannya.


"ish.. aku masih bsa duduk tau." tukasnya agak judes, aku sedikit membantunya bersandar dengan meletakkan bantal di bagian punggungnya.


"sakit ya? "

__ADS_1


pertanyaan bodohku yg langsung ditatapnya dengan picingan mata sebal.


"mas mau coba?. "


"saat itupun aku ingin yang menggantikan tubuhmu sayang, maafkan aku karna aku suami yang bodoh"


"bagaimana dengan dia? ".


" jangan membicarakannya".


"aku ingin tau"


"nanti... nanti kamu akan tau sendiri".


aku meremas jemari tangannya, rasa bersalahku saja belum hilang sampai saat ini, meski sekarang Belva terlihat baik2 saja namun kekhawatiranku akan rasa takutnya yang mungkin akan jadi trauma dalam hidupnya, aku bersumpah tidak akan memaafkannya, perempuan itu, kini bahkan namanya tidak ingin ku sebut.


"jangan merasa bersalah mas, aku tau ini bukan kemauan kita. "


"jangan lagi Bel, jangan lagi bilang untuk tidak membalas perbuatannya ini, ini sudah keterlaluan dan aku tidak bisa memakluminya. "


Belva menarik nafasnya dan tersenyum dengan bibir pucatnya, sebelah tangannya mengusap pipiku yang nampak cemas sejak tadi menatapnya.


"seharusnyakan aku yang marah, mas bicara dan bertemu dengannya didepan rumah tanpa memberi tahu aku. "


"sudah gila ya? dia yang datang sendiri, memangnya aku yang mengundangnya. "


"aku tau mass, mas gak mungkin melakukan itu. "


"benar, jadijangan salah sangka padaku dan percaya saja padaku, kau hanya boleh mendengarkan aku, mengerti?. "


sambil menyelipkan rambutnya kebalik telinga, kami saling tersenyum tipis.


"aku punya rahasia, mau tau gak mas? . "


"apa? "


"sebenarnya...


kata2nya menggantung, membuatku semakin intens menatapnya, kugenggam lagi jemari Belva kali ini dengan sangat erat mencoba menguatkan apa yang mungkin menjadi keraguan untuk ia ungkapkan saat ini.


" bicaralah."


"sebenarnya, aku tau ada Citra disana,aku pulang lebih awal, citra sudah berdiri di depan rumah kita saat aku turun dari taxi online yang aku pesan, tapi aku memilih bersembunyi karna tidak ingin ada kontak atau percakapan dengannya, kau tau kan terakhir kami berbicara berakhir aku kabur waktu itu. "


"sayang...


" aku tau semua yang mas katakan padanya, aku mendengarnya dengan jelas, dan itu membuat aku ingin berdiri disamping mas pada saat itu, makanya aku keluar dari persembunyianku, dari awal aku tau Citra menyembunyikan sesuatu didalam balik bajunya, aku sudah curiga karna selama ia berdiri disana menunggumu ia terlihat gelisah, kekhawatiranku benar, tapi... aku bersyukur karna dia melampiaskannya padaku, jika aku tidak keluar dari sembunyiku, mungkin saja dia bisa melukaimu, aku....

__ADS_1


"Dasar bodoh, jangan lagi kau berbuat seperti itu, kenapa tidak bersembunyi sampai akhir, kau fikir aku akan berterimakasih karna akhirnya kau yang terluka? Apa kau gila? tidak waras ya sampai mengorbankan dirimu untukku?. "


aku menghambur memeluknya, mendekapnya dengan sangat erat sampai tidak berfikir lagi mungkin ia menahan sakit bekas lukanya, ujung mataku berair, sialnya ini tidak bisa kutahan, aku tergugu mendekap punggungnya yg kecil.


"kewarasanku sepertinya akan selalu hilang jika menyangkut dirimu mas. "


usapan lembut tangannya terasa hangat di bahuku, aku tau Belvaku tersenyum disana, bau tubuhnya yang khas meski sudah bercampur dengan bau obat di rumah sakit tetap membuat aku tau dimana kenyamananku berada saat didekapnya.


setelah mengurai pelukanku, aku mengusap pipinya yang hangat, diamasih tersenyum lalu tangannya yg lemah itu mengusap ujung mataku yang sempat basah tadi.


"berjanjilah jangan terluka lagi demi aku, aku suamimu, biar aku yang melindungimu. "


"tidak mau. "


"kau ingin aku marah ya? ".


" marah saja, aku tidak mau berjanji apa2, itu sama saja menyuruhku diam saja saat melihatmu terluka"


"dasar kau keras kepala"


aku mencubit pipinya yang gembil sedikit keras hingga ia meringis, selanjutnya kembali ku raih kepalanya dan mendekapkannya ke dadaku, mengecup pucuk kepalanya dengan lembut, tangannya melingkar di pinggangku, kami kembali berpelukan dengan hangat.


"mas...


" diam, jangan bicara lagi, orang sakit harusnya diam, kau ini banyak bicara sekali. "


#


pov author


"ckckck... kesalahanmu fatal sekali Citra. "


Kenzo melipat tangannya didada, duduk menghadap jeruji besi yang menghalanginya dengan Citra yang berada didalamnya, gadis itu nampak pucat, rambutnya berantakan dan tatapannya sangat tidak terbaca, setiaphelaan nafasnya terdengar keputusasaan yang teramat dalam.


"bersyukurlah karna bukan Ali yang menangkapmu, karna kalau sampai dia yang menangkapmu bisa jadi dia akan melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada istrinya, bahkan dia bisa menikammu lebih dari yang kau berikan pada Belvana. "


"pergi" suaranya halus tapi menekan, Kenzo tau gadis itu sangat depresi dan frustasi.


"sekarang, meminta maaf pun sudah tidak berguna, aku harap kau menerima hukumanmu dengan baik, dan berusahalah untuk menyesali setiap tindakan kejahatanmu, bukankah kau harus tetap mejalani kehidupan setelah semua ini berakhir? meski aku tidak yakin ini akan berjalan cepat atau sangat lambat. "


"PERGIIII...... "


akhirnya ia berteriak, Citra nampak bukan dirinya lagi, sekarang ia terlihat kacau, berantakan dan tidak dalam keadaan sadar seperti wanita normal, Kenzo menghela nafas berat, merasa sangat disayangkan karna gadis seperti Citra harusnya bersinar di usiannya yang masih nampak muda untuk seorang model profesional, akhirnya ia berdiri, melangkah untuk meninggalkan Citra yang harus mendekam di balik jeruji besi yang dingin itu, samar terdengar isak di balik punggungnya, semakin kecil seiring langkahnya yang menjauh, tangannya sudah menggenggam hendel pintu bersiap untuk keluar sebelum akhirnya ia mendengar bisikan halus dari isakan disana.


"aku benar-benar sangat mencintainya"


Kenzo melangkah, membuka pintu dengan lebar, tanpa menoleh ia terus pergi meninggalkan tempat suram yang nampak mengerikan untuk siapapun yang berada didalam sana, yah... semoga ini menjadi pembelajaran untuk Citra, cintanya pada Ali yang membawanya pada kehancuran untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


😩


__ADS_2