
Pov Author
"Belvana."
ini hari ketiga mereka melakukan proses syuting, banyak hal yang membuat Belva termasuk tim yang lain sangat sibuk, lelah dan sedikit frustasi karna tuntutan pekerjaan masing2 membuat mereka agak tertekan sedikit butuh hiburan,maka di putuskanlah malam ini mereka menyewa satu tempat untuk berkaroke ria sebagai pelepas penat.
tempatnya tak jauh dari penginapan villa tempat mereka menginap,dan itu cukup membuat Belva dan yg lainnya tidak bisa menolak untuk tetap bergabung dengan kru yang lain.
panggilan tadi adalah suara dari Kak Bia yang menghampirinya,wanita itu memakai kaca matanya yg mewah meski di dalam ruangan yg nampak temaram dengan lampu warna warninya, beberapa mata memandangi mereka dengan iri,karna baru mengetahui kalau ternyata mereka adalah sepasang kakak ipar dan adik iparnya, sebagian lagi tidak begitu peduli karna sudah tau,ya...status Kak Bia yg termasuk model profesional terkenal membuat Belvana sedikit canggung dan bingung harus bersikap bagaimana di depan orang yang memuji kedekatan mereka.
"Kak Bia." tukas Belva pada saat kak Bia duduk didekatnya,sebentar ia melirik beberapa temannya yang sedikit menggeser diri bahkan ada yang terang2an pamit untuk pindah tempat, tapi sepertinya Kak Bia tidak peduli akan hal itu.
"sudah menghubungi Ali?."
"sudah kak."
"brengsek..dia terus2an nelfonin aku nanyain kamu lagi ngapain sekarang,cih...padahal dia udah tau kamu dimana sekarang kan?."
"iya udah kak,maaf ya kak, mass Al kayaknya bikin repot Kakak ya?." Belva menggaruk2 kepalanya dengan telunjuknya meski bagian yang disentuhnya tidak terasa gatal sama sekali.
"emang aja dianya yang kebucinan, gangguin waktu orang aja,hari ini udah berapa kali dia telfon?."
"eumm....26 kali kak." wajah Belva sama tertekannya dengan tumpukan pekerjaannya saat ini.
"orang gila...abis dari sini kayaknya dia perlu kita ajak konsultasi ke psikiater deh, ada yang aneh sama dia semenjak nikah sama kamu Bel, dulu2 dia gak gitu2 banget."
Bia nampak kesal,sambil meneguk minuman jus melonnya di atas meja yang sama dengan Belva ia menatap Belva dengan seksama.
"kak Bia harus cepet nikah juga,biar bisa ngerasain jadi seperti mas Ali." ledek Belva.
__ADS_1
"hm? kalo sama dia,boleh?."
mata Bia menatap seseorang di ujung sana, membuat Belva mengikuti arahan mata dari Bia,seorang pria yg duduk tepat di meja belakang tempat Belva dan teman2nya tadi berkumpul, mata mereka bertemu, Belva sedikit terkejut,karna Bia terang terangan menunjuk Rian yang sedang kedapatan menatap Belva dari sana.
"pak Rian?." tukas Belva sambil memutar kepalanya kembali menatap kak Bia yg tersenyum menatap pria itu.
"he-em, Rian,sorry Bel,tapi aku fikir hubungan kalian sekarang tidak untuk mengancam siapapun agar kami bisa dekat,aku tau dia mantan kamu,Ali sudah cerita semuanya."
"loh,gak apa2 kok kak,malah saya mendukung sekali jika kak Bia bisa bersama dengan orang yang kak Bia pilih sendiri, termasuk pak Rian, kalau itu membuat kak Bia bahagia saya dan mas Al akan sangat bersyukur."
"bersyukur apanya, dia malah orang yang paling menentang aku sama Rian."
"mas Ali bilang begitu kak?."
"iya,malah pengen putus hubungan sama aku kalau sampe aku sama Rian beneran jadi, ish...dasar ade durhaka dia."
"tapi Bel, beneran udah gak ada lagi yang harus kamu dan Rian selesaikan? aku dengar hubungan kalian cukup lama dulu." kak Bia melanjutkan keingin tahuannya tentang Rian dan Belva.
"gak ada kak, kami benar2 sudah berakhir,saya dan pak Rian hanya sekedar atasan dan pegawainya saat ini."
Belva hanya bisa tersenyum, ia sudah tidak bisa lagi membayangkan masa lalunya dengan Rian dulu,baginya semua hilang seketika saat pria yang kini menjadi suaminya mengikrarkan sumpah suci saat itu,segalanya dengan Rian mungkin bisa jadi kenangan, tapi..kini segalanya yang ada dihadapannya,hanya akan menjadi kehidupan selanjutnya yang ia dan Ali rencanakan sampai mereka menua, Belvana ingin bahagia bersama seseorang yang dikasihinya saat ini, selamanya.
ah...kenapa ia jadi kangen mas Ali ya, sepertinya ia ingin menelfon kembali suaminya yg mendadak jadi cerewet itu.
#
"Bianca."
Rian menyapa Bia saat gadis itu keluar dari ruangan acara dan memilih untuk kembali kekamarnya,namun belum sampai ia di lorong menuju villa,ia tidak tau kalau Rian mengejernya.
__ADS_1
"Rian." tukasnya saat berbalik menatap pemilik suara di balik punggungnya,laki2 itu mendekatinya,sebenarnya ini masih terasa canggung,Bia dan Rian memang punya sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan sendiri, sejak pernyataan cinta Bia waktu itu dan tanpa fikir panjang Rian menolaknya,saat itu keadaan mereka selalu nampak berbeda dan terkesan kaku.
"ada apa?." ucap Bia,ia tidak ingin ini menjadi percakapan yang memakan waktu sia-sia,untuk apa? jika Rian belum tertarik padanya.
"kenapa sudah kembali? yang lain masih didalam."
Bia tersenyum kecut,itu terdengar basa basi sekali bukan?
"Rian,bukankah kau juga merasa ini terasa canggung dan kaku? jadi bertanya langsung keintimu,jangan berputar-putar,aku tidak suka menebak-nebak fikiran seseorang."
"Bia,jangan begitu,kita akan bekerja sama untuk waktu yang cukup lama bukan? sebaiknya kita buang kecanggungan ini."
"ok,aku tidak akan merasa canggung lagi,jadi cepat katakan yang mau kau katakan."
Bia melipat kedua tangannya di dada,Rian menarik nafas halus,kedua tangannya ia masukan kesaku celananya.
"apa kita bisa mengobrol sebentar,ayo kita du...
"tentang Belvana? jika iya,aku tidak mau,tapi satu yang akan aku tegaskan padamu Rian, jangan ganggu mereka,dia sudah bahagia dengan adikku."
itu kata2 yang tepat,Bia seakan tau masih ada tatapan lain dari mata Rian saat memandang Belva,meski ia sangat iri saat ini,bagaimana tidak,Rian baginya adalah laki2 yang baik dan sempurna untuk seorang pria yang bisa jadi target masa depannya,pria dihadapannya adalah laki2 yang menggetarkan hatinya hanya dengan senyumannya saja, Bia ingin memilikinya sejak saat itu,saat dimana Rian memperlakukannya berbeda dari pria biasanya, Rian yang ia kenal dengan lembut dan sopan, Rian yang saat itu nampak tulus dan memberi harapan padanya.
kata2 Bia membuat Rian terdiam,benar yang dikatakan Bia,ia memang ingin bertanya soal Belva,bagaimana proses Belva yang bisa menikah dengan Ali adiknya Bia,apakah ada unsur paksaan atau malah Rian berfikir Belva sebagai penebus hutang,sepertinya ia kebanyakan nonton drama murahan,dan kini ia menyesali sikapnya pada Bia,harusnya ia malu melakukan ini,Bia adalah orang terdekat mereka,tidak seharusnya ia memilih untuk menceritakan apapun padanya yang terkesan sedang mencari kelemahan rumah tangga pasangan Belva dan Ali,apa ia benar2 seputus asa itu?
"jangan mengganggunya Rian,atau kau akan berhadapan denganku."
penegasan dari Bia membuat Rian hanya menatap kepergian gadis itu lewat punggungnya yang menjauhinya,itu serius,Bia nampak memcing tadi,kata2nya seolah membunuh karakter seorang Rian dimatanya, baginya Rian kini laki2 biasa,laki2 yang tidak jauh berbeda dengan pria pada umumnya,ya...mungkin sebaiknya ia melupakan perasaanya pada pria itu,sendiri baginya bukanlah masalah,bukankah selama ini ia bertahan sejauh ini dengan status itu?
#😏
__ADS_1