
Pov Author
Citra menatap cermin yang memantulkan wajahnya di kaca meja riasnya, kamarnya nampak rapih dan tertata apik seperti kamar seorang putri,sebelum2nya kamar itu nampak selalu berantakan dan selalu ia porak porandakan saat tingkat stressnya meningkat, tapi kini,bahkan senyum liciknya yang nampak terlihat jahat itu tertarik dengan sempurna di bibirnya.
30 menit yang lalu ia baru saja selesai wawancara dengan beberapa media,bahkan ada yg datang dari jurnal bisnis,wartawan yang biasanya meliput tentang para pembisnis dan perusahaan bersaing atau sejenisnya,tapi kali ini ia bisa mendatangkan orang2 itu hanya dengan scandalnya yang baru saja ia buat dengan sangat mendramatisir.
yah..di kalangan bisnis Ali sangat terkenal sebagai wakil dari CEO perusahan ternama yang besar dengan nama penerus dengan nama besarnya se Asia,perusahaan turun temurun yang saat ini di pegang oleh pewaris ke tujuh yang memiliki anak cabangnya menerobos pelosok eropa, dan itu semua atas kerja keras mereka, Ali adalah orang paling di percayai presdirnya saat ini.
lalu dengan adanya scandal ini,Citra mampu mematahkan kartu AS Ali,yaitu vidionya dengan laki2 brengsek di apartementnya saat itu, yah...jika citra duluan yg menebar foto2 dirinya dengan Ali saat mereka punya hubungan dulu, di tambah dengan cerita fitnah yang tadi ia karang dan ia sampaikan ke media tentang bagaimana Ali sebenarnya,Citra cukup puas dengan berita yang tersebar saat ini, itu artinya mereka akan lebih percaya pada dirinya yang seolah2 Citra lah korban dari laki2 yang nampak baik saat ini.
dan untuk merayakan kemenangan yg menurutnya sudah pasti di pihaknya, Citra menyuruh beberapa asistennya merenofasi kamarnya agar terlihat lebih hidup dan manusiawi kembali, sekarang ia bisa tidur dengan tenangkan?
soal Ali yang mungkin akan merangkak kembali memohon padanya,sangat ia nantikan moment itu terjadi secepatnya.
***
Lain hal dengan Belva, entah siapa yang mengirim semua foto dan berita tentang suaminya lewat ponsel dengan kontak tak di kenal dan langsung tidak bisa dihubungi, Belva nampak syok,tapi ia juga harus berfikir jernih, ia tahu foto itu adalah suaminya, suaminya yang dahulu,suaminya yang mungkin khilaf atau apalah artinya,ia hanya tau kalau Ali memang akan sangat mencintai pasangannya jika pasangannya juga tulus mencintainya.
apa ia harus meragukan kesetiaan suaminya saat ini? No,jawabannya adalah tidak, ia yakin Ali sangat mencintainya saat ini,mereka sedang bahagia2nya melalui tahapan hubungan yang baru saja ia mulai, jadi...Belva menguatkan dirinya,ia tidak boleh lemah ataupun putus asa,ia harus percaya pada suaminya.
"aku membencimu mass."
isakannya menggema saat ia menatap wajah suaminya yang terpaku dengan wajah bersalah dan khawatir,teringat lagi malam panas yg mereka lakukan semalam membuat Belva harusnya bersikap malu2 saat ini,tapi... situasinya tidak mengharuskannya begitu, alhasil Belva hanya menangis dan menghambur kepelukan suaminya,ia tau, suaminya dalam maslah besar saat ini, karna mungkin scandal ini sudah sampai kekantor suaminya.
"Bel..
__ADS_1
"aku benci kamu, kenapa sebodoh itu melakukan hal memalukan kayak gini, sebucin itu ya kamu sama dia dulu? sampai mau2nya di foto begini,sekarang bagaimana?kamu pasti dapat masalah di kantor,kamu pasti malu banget di permalukan begini, boss kamu pasti marah sama kamu."
tangisan Belva pecah dipelukan Ali yang nampak terpaku,lalu sedetik berikutnya Ali tersadar dengan ucapan Belva di balik dadanya yang basah,seketika ia menarik bahu istrinya dan memaksanya saling menatap wajah satu sama lain.
"kamu gak marah? Bel...kamu gak marahkan? aku tau kamu tau foto2 ini dan kamu gak marah sama sekali?."
Ali nampak tidak percaya dengan yg didengar dan dilihatnya,sikap istrinya setelah melihat foto aib dirinya dimasa lalu.
"aku marah mas,kamu gak lihat aku lagi marah2 sama kamu."
"aku fikir kamu marah dan benci beneran sama aku,aku fikir kamu akan pergi ninggalin aku kayak waktu itu."
Ali memeluk lagi istrinya dan bertubi2 menciumi puncak kepala Belva dengan sangat hangat,nafasnya kembali menghela lega,ketakutannya yang sesaat tadi menguap menjadi kelegaan yang teramat sangat.
ada senyum mengembang di bibir Ali,meski tangannya masih memeluk erat tubuh istrinya dengan gemas yang masih sesunggukan di dadanya.
"kamu takut aku di pecat terus gak bisa ngasih nafkah lagi kekamu?." ledek Ali, ia merasakan kepala Belva menggeleng2 disana.
"gak apa2 kalau kamu gak kerja, biar aku ajah yang kerja,tapi aku gak mau kamu sedih karna harga diri kamu dipermalukan di foto itu,kalau kamu di pecat itu berarti dengan alasan yang gak adil buat kamu,beritanya pasti di pelintir dan dia pasti memfitnah kamu yang gak ada dalam diri kamu,aku sedih kalau kamu tertekan dengan keadaan itu,kamu janji gak boleh sedih ya?janji sama aku gak boleh dendam, jangan gelap mata untuk melakukan hal yang enggak-enggak ya,janji sama aku mass."
Belva menangis lagi,ia sampai mengusap air matanya beberapa kali dengan lengannya sendiri,dan Ali hanya terkekeh mendengarnya, entah kenapa pemikiran Belva bisa sejauh itu, yang ia fikirkan sejak tadi hanya dirinya, bagaimana dirinya nanti dan mungkin dia juga takut suaminya ini melakukan hal yang tidak di inginkannya karna menanggung malu atas aib ini.
sejujurnya Ali ingin tertawa keras tapi ia tidak mau mengacaukan haru yang dirasakan istrinya atas kekhawatirannya pada dirinya saat ini,namun ia tidak bisa tidak tersenyum melihat kepolosan dan keimutan wajah Belva sekarang, ada rasa ingin menggodanya dan ingin menjahilinya.
"Bel,sejujurnya terberseit tadi aku ingin bunuh diri."
__ADS_1
Plak...plak..plak...,suara pukulan di lengan Ali yang memerah karna Belva tiba2 melayangkan tangannya kebagian sana,Ali mengaduh dan sedikit meringis karna jujur ini rasanya sakit.
"jangan berfikiran sependek itu,kenapa kau mau bunuh diri hanya dengan masalah seperti ini, kita bisa menyelesaikannya, kau mau mati meninggalkan aku..hiks..hiks..kau yang jahat padaku kenapa aku harus kehilanganmu..huuuuu,jangan bicara begitu."
Belva semakin kencang menangis,ia terus memukul meski dengan tenaga yang melemah, Ali yang melihat itu jadi tidak tega untuk jahil lebih jauh lagi pada istrinya.
"baiklah,hentikan,aku mengaku kalau aku bohong." tukasnya sambil meraih tangan Belva yang sibuk memukulinya tadi,lalu kembali meraih tubuh istrinya itu kedalam pelukannya, lalu ia menghapus air mata Belva yang masih menderas hingga membuat hidung dan pipinya memerah sangat matang,oh..Belvaku yang malang,fikirnya.
"....tapi mungkin aku akan benar2 berfikir seperti itu jika kau meninggalkanku seperti di Bali waktu itu Bel,berjanjilah jangan pernah pergi meninggalkanku kemanapun,dan aku mohon percaya padaku saja,jangan dengarkan siapapun terutama orang2 yang ingin memisahkan kita,hm?."
sisa isak menyertai anggukan Belva setelah lama menatap wajah Ali yang nampak tulus dan serius mengatakan itu padanya,ia mengusap wajahnya yang mungkin nampak kacau sekarang.
"tetap saja tidak boleh berfikir mau mati begitu, memangnya aku mau meninggalkan mass kemana? aku pergi kesini saja mass sudah datang mencari2ku,jadi kalaupun aku pergi ke ujung duniapun aku yakin mass bisa menemukanku."
"nah...simpan itu di kepalamu sampai kapanpun ya,jadi jangan harap bisa lari dariku dan jangan pernah berfikir untuk lari dariku, mengerti?." memeluk lagi,kali ini semakin erat.
"sekarang bagaimana? apa ini bisa diselesaikan?apa nama baik mass bisa dikembalikan?biar bagaimanapun aku juga tidak rela mass di fitnah begini."
tukasan itu keluar dari mulut Belva yang masih dalam pelukannya,belum sempat Ali menjawabnya sebuah ketukan di pintu sedikit heboh terdengar menyentakan mereka, Ali dan Belva tau siapa orang yang berani mengetuk sekeras itu.
"Biar aku dan Kenzo yang akan menyelesaikannya."
segaris senyum miring nampak terukir licik di bibir Ali yang tidak seperti biasanya,Belva tidak melihat itu,ia hanya merasakan pelukan Ali semakin mengerat seperti paku yang menancapnya,tidak bisa terlepas dan semakin menyatu dengan medianya.
😎
__ADS_1