
"kenapa Kenzo? kau tau aku sangat percaya padanya,kau ingin kami bertengkar ya?."
sarapan pagi di kamar motel yg kecil nampak sedikit tegang karna Ali membahas lagi kejadian semalam,dan Belva tidak bisa menghindari itu,ia tau Ali akan terus menanyainya,dan harus memberitahu alasannya.
"iya,aku masih dendam dengannya,padahal aku memberi tawaran padanya dengan ancaman yang menurutku mematikan." Belva menggigit rotinya,sambil mengunyah halus ia nampak masih kesal dengan Kenzo.
"apa ancamanmu?." Ali menyesap teh hangatnya.
"aku akan membunuhnya."
lalu tawa kecil keluar dari mulut Ali yg menatap istrinya dengan sangat gemas.
"kau fikir dia percaya kau bisa melakukan itu padanya? dengan tangan sekecil ini?."
sambil menusuk2 lengan Belva dengan telunjuknya,Ali tertawa lagi.
"ya...aku hanya sekedar beromong kosong, tapi akhirnya aku senang dia menghubungimu mas."
tatapan mereka bertemu,lalu senyum merekah mengembang di bibir Ali dan Belva yg nampak berbinar pancaran wajahnya,Ali merogoh saku celananya,mengeluarkan sebuah benda dari sana,sebuah liontin kecil yg di kagumi istrinya kemarin.
"kau membelinya?."
Belva kaget saat Ali memperlihatkan benda indah itu di hadapannya.
"lalu apa aku harus mencurinya?."
"mas,sayang sekali harga sebesar itu hanya untuk sebuah liontin." lihatlah wajah itu, dia berbicara seperti kecewa tapi dengan bibir sumringah karna senang.
"akan aku pakaikan untukmu."
Ali berdiri di belakang Belva,gadis itu menggenggam rambutnya dan sedikit menaikkannya,memperlihatkan betapa jenjangnya leher putih milik wanita di hadapannya kini,Ali sangat mengagumi setiap inci milik istrinya,ia tidak akan sanggup agar tidak menyentuhnya, setelah liontin itu di kaitkannya dengan kuat,tangnnya mengusap tengkuk leher Belva dengan lembut, ia lalu menciumnya hangat,meninggalkan jejak kepemilikan disana.
__ADS_1
#
"sebenarnya gue masih kesal,tapi terimakasih karna elo yg menolong Belva buat gue."
acara minum kopi di lobi hotel tempat pertama kali Ali dan Belva menginap sore ini menjadi situasi yang hangat bagi Kenzo,setidaknya ia senang melihat temannya kembali berbaikan, meski tidak banyak,ada bantuan dari dirinya sudah membuat Ken nampak bangga dan senang karna Ali sampai berterimakasih padanya.
"awalnya bingung,mendengar suara Belva yg terdengar dari nomor ponsel loe yg tiba2 menghubungi gue di rapat kemarin,dia bahkan tanpa basa basi bilang ke gue urgent harus menjemputnya karna situasi yang genting antara elo dan dia,gue fikir terjadi sesuatu seperti kecelakaan atau apa,makanya tanpa fikir panjang gue ketempat yg dia bilang, kebetulan gak jauh dari lokasi meeting bareng boss kemarin,tapi syukurlah kalian udah baikan, meski tonjokan loe masih berbekas di pipi gue."
mereka terkekeh,Ali menyesap kopinya yg masih mengepul karna panas,baginya Kenzo orang pertama yg akan sangat ia percayai sebagai orang lain dalam hidupnya,tapi mengingat dulu pernah terjadi pernyataan cinta dirinya kepada Belva,Ali menarik beberapa persen kepercayaan itu untuk berjaga-jaga agar temannya itu tau batasannya.
"kalau sampai gue tau elo masih menyimpan perasaan sama Belva,gue beneran bakal penggal kepala elo Ken."
"cih,kenapa kalian berdua punya obsesi yang sama sih terhadap gue,bahkan istri loe yg gak punya kekuatan apapun berani mengancam gue akan membunuh gue kalau kemarin gue gak berpihak padanya."
"benarkan,bukankah dia terlihat manis saat sedang mengancam."
Kenzo terpaku sebentar dan langsung memegang keningnya yg berdenyut,ia menggeleng2kan kepala tak tau lagi harus merespon apa untuk kata2 balasan atas pernyataan temannya satu ini.
"hm,akan semakin panjang dengan maslah baru jika gue gak menyingkirkan Citra jauh2 dari istri gue."
"Citra? kenapa dia terlibat?."
"dia bertemu dengan istri gue dan bicara macam2,ah..gue kesal sekali jika mengingatnya,Belva terus saja merengek agar gue gak membalas perbuatannya, tapi gue merasa dia akan jadi ancaman jika gue benar2 mengabaikannya."
"ya...gue tau bagaimana bucinnya elo dulu dengan dia,tapi gue gak nyangka dia sejauh ini ikut campur dalam rumah tangga elo,gue fikir dia gak begitu suka dengan loe dulu."
"cih,jangan ingetin kebodohan gue dulu, waktu kebersamaan gue dengannya adalah hal yg paling gue sesali sampai saat ini."
"apa rencana loe sekarang?."
"entahlah,gue masih menimbang2nya, mau menghancurkannya sekaligus atau memberikan dia kesempatan untuk meminta maaf pada Belva."
__ADS_1
Kenzo menatap sorot mata Ali yg lain, sorot mata yg berbeda dari Dimitria Ali yang ia kenal, sambil meminum kopi, temannya itu nampak antusias dengan sesuatu yg difikirkannya, lalu segaris senyum jahat terlukis di wajahnya, membuat Kenzo merinding sendiri melihatnya.
#
"sayang sedang apa?."
tangannya melingkar di pinggang istrinya, Belva sedang menatap keluar jendela kamar tempatnya menginap di hotel, hari ini masih sama,panas terik di luar membuat enggan Ali untuk berjalan2 keluar, ia ingin menahan istrinya didalam kamar saja,tapi sejak tadi Belva cemberut ingin keluar menikmati pantai.
"ayo keluar mas,aku bosan sekali."
"tidak untuk hari ini,aku masih kesal dengan keadaan kita kemarin."
"lalu apa yg akan kita lakukan disini? menonton tv?mendengar musik?aku sudah melakukan semua itu dan...
satu kecupan mendarat tanpa aba2 dari bibir milik suaminya,segaris senyum merekah disana,Belva nampak malu dan juga sedikit kesal karna itu sangat tiba2,ia belum terbiasa dan membuatnya berdegup setiap kali Ali melakukannya.
"kalau begitu lakukan hal lain denganku saja."
lihat senyum itu,senyum miring dari sudut bibir yg tegas dan penuh,Belva menarik bibirnya menjadi garis tegas menahan wajahnya yg memerah,Ali menyukainya,ia ingin sekali menggigit telinga istrinya yg matang itu, menyesap lehernya yg jenjang nan lembut, lalu berakhir di ceruk tulang belikatnya yg nampak sangat menggoda, entah mengapa bau Belva seperti menghipnotisnya,bau tubuh yg khas,yg selalu akan ia ingat sampai kapanpun.
"apa kita akan mematikan lampunya?."
satu kata yg keluar,tapi mampu membangkitkan gairah Ali pada istrinya,baginya itu terdengar seperti sambutan dari Belva,itu artinya "ya" meski Belva mengucapkannya dengan nada malu2, mungkin maksudnya ingin menjahili Ali dengan berpura2 menantangnya,tapi itu akan menjadi kunci bagi Ali,tidak akan ia lepaskan istrinya sampai senja mungkin merangkak menggelap.
tap, lampu mati seketika saat Ali memencet remote di atas nakas,tirai yg tertutup masih sangat rapat menahan cahaya dari luar,meski begitu,Ali masih bisa menatap jelas istrinya, Belva yg berdiri tepat dihadapannya,nampak seperti siluet yg indah.
"hari ini aku akan memakanmu sampai habis sayang."
kedipan mata dari Ali mengaliri sengatan aneh pada tubuh Belva,sentuhan tangan suaminya yg nampak lembut tapi juga jantan menyusuri setiap lekuk tubuhnya,ini sangat nyaman dan hangat,Belva merasa sangat disayang dan di cintai,sedetik berikutnya mereka saling menyatukan bibir yg hangat,lebih dalam dan lebih jauh,hingga akhirnya tubuh mereka berada dalam ranjang yg empuk,nyaman dan hangat.
***🥰
__ADS_1