
Pov Author
Bianca duduk dengan anggun di kursi sebuah caffe kecil yang sering ia datangi bersama Rian, dulu... yah itu dulu, saat ia masih sangat mengagumi pria baik itu, saat Rian bukanlah siapa2 di matanya dan Rian adalah pria baik hati yang selalu mau menolongnya dengan hal apapun.
tapi, setelah tau bahwa wanita yang selalu ada di kepala laki2 itu adalah bukan dia, tapi Belvana yang ternyata adalah istri dari adiknya, Bia tau bagaimana Rian sangat tulus setiap kali menatap Belva, dan Bia tau perasaan itu masih tetap ada meski Rian sendiri terkesan menyimpannya di relung terdalamnya.
semua orang yang melihatnya akan sangat tau jika Rian masih menaruh rasa cintanya pada Belva, sampai saat ini, mendengar kabar tentang Belvana yang terluka, entah mengapa Rian sangat terdengar khawatir sampai2 harus mengajak Bia bertemu, untuk apa? fikir Bia, dia bisa saja menolaknya, tapi dalam hati Bia juga ingin memastikan bahwa Rian harus bisa menyudahi perasaannya pada Belva, ia juga tidak ingin adiknya merasa terganggu dengan sikap Rian yang tidak pada tempatnya, hinggapada akhirnya disinilah ia berada, bersama laki2 yang nampak terlihat khawatir dari raut wajah tampannya.
"kenapa malah ingin bertemu denganku?. "
tukasan Bia membuat mata mereka bertemu dan saling memberi isyarat jika pertemuan ini tidak akan lama.
"adikmu tidak akan senang jika aku menjenguk istrinya. "
"bukankah itu hal wajar? kamu seperti memposisikan dirimu sebagai orang ketiga dalam hidup rumah tangga mereka, aku juga akan bersikap seperti adikku jika itu terjadi padaku".
" bagaimana keadaannya? apa dia terluka parah? apa dia kesakitan?. "
seringai senyum sinis merekah disudut bibir Bia yang nampak muak memdengar kata2 dari Rian barusan, kini dimatanya, Rian sama saja seperti pria jahat yang berkedok wajah lugu dan tampan.
"memangnya apa yang mau kamu lakukan Rian? sudah aku peringatkan untuk tidak menyentuh lingkaran adikku dan istrinya, kau tau, sekarang kau terlihat sangat menyedihkan di mataku. "
"kau terdengar cemburu. " Rian memancing dengan reaksi Bia yang ternyata semakin menatapnya tajam.
"kau bercanda? bagiku kau tidak lebih dari laki2 yang malang mengemis kembali apa yang sudah kau buang. "
"aku tidak membuangnya, adikmu yang merebutnya dariku. "
grebb , secepat kilat Bia meraih kerah baju Rian yang nampak kaget dan tidak siap dengan serangan dari Bia, tepat di manik mata itu Bia menatapnya, sorot marah dan juga tersinggung nampak menghujam manik mata Rian tanpa ampun.
" aku sudah sangat toleransi denganmu Rian saat aku tau kau masih ada hubungan keluarga dengan permpuan sialan itu, aku beri tau satu hal padamu, jangan coba2 kau berbuat seperti yang perempuan itu lakukan, jika kau berani sedikit saja menyentuh istri adikku, kau akan berhadapan dengan Ali yang sesungguhnya. "
Bia merasa sudah cukup mendengarkan omong kosong dari laki2 menyedihkan ini, jadi ia menghempaskan pegangannya dan berdiri tegak untuk bersiap pergi meninggalkan tempat menyebalkan ini, tidak banyak tamu yang ada disana, sehingga Rian tidak terlalu malu dengan perlakuan Bia tadi.
tapi, ketajaman kata2 Bia barusan sedikit membuat Rian nampak menciut, ia membayangkan Bia yang perempuan saja bisa menjadi se barbar ini terhadapnya, bagaimana Ali adiknya yang selalu nampak memperlihatkan kepemilikannya secara terang2an seperti ciuman itu, yah.. Rian rasa Ali bisa lebih gila dari kakaknya.
"citra bukan keluarga terdekatku, jadi jangan menyangka aku bisa seperti dia, karna aku tidak akan pernah bisa melukai Belvana sedikit pun, aku hanya...
Rian menundukan matanya, ia seperti kesulitan mengungkapkan perasaan yang ia rasakan saat ini, itu sebabnya kata-katanya terputus dan terdengar sangat menyentuh hatinya.
tapi Bia hanya sekali lagi menatapnya, benar, dia pria yang menyedihkan, sesulit itukah untuk move on dari masa lalunya? Bia tidak habis fikir, karna di fikiran tersimpelnya adalah hanya kembali mengosongkan hati dan mencari yang lebih baik, bukankah itu mudah?
"kau tetap pria menyedihkan Rian, kau bilang tidak bisa menyakitinya sedikitpun tapi kau menyakiti bagian terdalam bagi diri Belva, seharusnya kau perhitungkan itu, move on lah, setidaknya kau tidak akan terlihat seperti lelaki pengecut seperti ini. "
Bia sudah akan melangkah, ketika tiba2 Rian menatapnya lagi dengan mata yang penuh harap.
"dia baik2 saja kan?. "
sial, Bia nampak mengumpat pelan, kembali ia memicingkan mata pada Rian yang menunggu jawaban darinya.
"dia baik, sangat baik, terlihat sehat dan bahagia karna ada Ali di sampingnya yang merawatnya, berhenti bertanya dan urus urusanmu sendiri. "
__ADS_1
langkah Bia menyudahi percakapan memuakkan itu, dengan sepatu tingginya Bia berjalan melewati pintu caffe itu nampak percaya diri dan beraura kuat menusuk mata siapa saja yang menatapnya, hingga sampai di luar caffe ia menghembuskan nafasnya yang tadi nampak terasa sesak menahan amarahnya pada Rian.
"dasar lelaki menyedihkan, kenapa bisa ada orang yang hanya bisa memikirkan satu wanita saja dalam hidupnya, dia fikir di dunia ini perempuan cuma ada satu? sepertinya dia punya kelainan di matanya, harusnya dia ke dokter mata, dan harusnya dia...
" kakak lagi mengoceh apa?. "
oh Astaga....
Bia melompat sedikit karna kaget tiba2 terdengar suara didekat telinganya, seketika mata mereka bertemu, Kenzo berdiri di hadapannya dengan senyum sumringah tanpa bersalah menatapnya.
"udah gue bilang jangan melakukan itu lagi, elu beneran mau gue siram pake air panas atau apa sih?. " dengan kesal Bia berteriak marah pada Kenzo yang malah terkekeh mendekatinya.
"wajah kakak memerah lagi, aku senang melihat kakak begitu kalau lagi salting didepan aku. "
"sudah gila ya. "
"yang terlihat seperti orang gila kan kakak, mengoceh sendiri dari tadi. "
"kenapa tiba2 ada disini?. "
"kan kakak yang bilang minta jemput. "
sambil mengangkat ponselnya dan menunjukan layar chat yang masih menyala tepat dihadapan wajah Bia yang nampak merah padam bekas sisa keterkejutannya tadi.
ingatan Bia mundur di beberapa jam tadi sebelum bertemu dengan Rian, ia ingat sedang chat dengan Kenzo menanyakan urusan tentang wanita yg di penjara itu hingga berujung Kenzo yang menanyakan keberadaan Bia dan menawarkan untuk menjemputnya.
"gue gk minta, tapi elu yang menawarkan. "
"tetep aja itu artinya kakak mengharapkan aku jemput kan. " kenzo menyeringai jenaka
Bia melangkah, tapi Kenzo tiba2 meraih tangannya dan menahannya ke posisi semula.
"sudah di depan caffe kenapa tidak makan malam sekalian, aku yang tlaktir. "
"gak mau, lagi gak pengen. "
"tapi aku pengen. " wajah Kenzo nampak merajuk, persis seperti seorang adik di hadapan kakaknya, hal itu membuat Bia selalu luluh dengan bocah satu ini. fikirnya
"baiklah, kita makan malam di tempat lain. "
"emang disini kenapa?. "
"disini gak ada yang pengen gue makan. "
"emng kakak mau makan apa".
sambil berjalan menuju mobil, Kenzo mengikuti langkah Bia, Kenzo nampak terlihat penurut dan sedikit kekanak2an di depan gadis itu, membuat Bia mengembangkan senyumnya karna gemas dengan tingkah Kenzo.
" ada resto soto daging yang baru buka gak jauh dari sini, rasanya enak dan seger, gue butuh yang panas2 dan sedikit pedas untuk penyegaran otak gue malam ini. "
"kakak lelah ya? memang siapa yang habis kakak temui disana?. "
__ADS_1
mereka sudah di dalam mobil, mesin mobil sudah Kenzo nyalakan yang duduk di kursi kemudi, ia mendengar tarikan nafas pelan dari mulut Bia, mobil mundur sedikit untuk keluar dari barisan parkiran.
"Rian."
cchiiittt... tiba2 Kenzo mengerem mendadak, Bia sedikit terkejut dan menatap Kenzo dengan galak.
"kenapa bertemu dia lagi?. " suara Kenzo meninggi, semakin membuat Bia marah dan tidak mengerti kenapa dia di bentak bocah ini.
"udah gila ya, udah sini gue aja yang nyetir. " Bia ingin bergeser tapi Kenzo menahannya dengan mencengkram bahu Bia dengan kuat.
"aku gak suka kakak bertemu dia sendirian begini, jangan bertemu laki2 siapapun tanpa aku temani. "
"elu lagi kesurupan ya?. " Bia menghempas cengkraman di pundaknya dengan sekali hentakan.
"jangan suka sama laki2 yang gak tau hatinya untuk siapa, kakak harus move on. "
Bia mendesah kesal, entah kenapa ia merasa de ja vu dengan kata2 move on itu, sepertinya baru saja ia mengatakan kata2 itu untuk seseorang.
"Ken.. emang elu berfikir apa sih tentang gue? elu fikir gue senaif itu meratapi cinta bertepuk sebelah tangan? gue gak sebodoh perempuan sinting itu. "
"trus kenapa kakak ketemuan sama dia? ".
" untuk memberi peringatan, karna dia terus ngebahas Belvana, jadi gue fikir harus bicara sama dia untuk gak jadi pengganggu Ali dan Belva. "
"berjanjilah jangan bertemu dia lagi. "
tatapan intens Kenzo membuat Bia terpaku beberapa detik menatap wajah pria dihadapannya, ada yang aneh pada dirinya, entah kenapa dadanya sedikit berdebar melihat Kenzo menatapnya dengan sangat kuat dan serius.
"Ken..
" berjanji dulu kak, jangan sengaja bertemu dia lagi, tanpa beri tahu aku. "
"kenapa gue harus berjanji sama lu?. "
"karna kakak akan melukai perasaan aku. "
"hah? ma.. maksud lu?. " Bia sedikit tergagap
"jangan pura2 bodoh kak, aku tau kakak gak senaif itu. "
hening, Bia menelan salivanya yang nampak serat turun ketenggorokannya, tiba2 saja tangannya sedikit berkeringat karna menahan gugup.
"Ken... gue sudah menganggap elu seperti adik gue sendiri, dan lagi... elu kan sahabat Ali dari kalian sekolah bareng sampe sekarang, elu dan gue... rasanya akan aneh jika...
" itu hanya persepsi kakak, dari sudut pandang aku gak ada yang aneh atau salah. "
"tapi Ken..
" terserah kakak, yang penting aku anggap kakak sudah mengerti maksud aku, sisanya aku cuma tunggu kakak aja kan, nunggu kakak bilang iya ke aku. "
mobil tiba2 melaju, dengan senyum samar di bibir Kenzo mereka meninggalkan tempat yang nampak semakin ramai dengan mobil yang mulai masuk memenuhi parkiran, disebelahnya, Bia menghela nafas pelan, membuang pandangannya pada kaca mobil di sebelahnya menatap langit yang semakin menggelap.
__ADS_1
ada apa ini? kenapa debarannya tidak berhenti?, refleks dengan perlahan sebelah tangannya menyentuh bagian dadanya dan meremas bajunya sendiri. Bia gelisah sendiri.
☺