Love Is KAMU

Love Is KAMU
#16


__ADS_3

Pov Author


bulan madu yang direncanakan akhirnya terlaksana, Ali dan Belva sekarang telah berada di Bali,tempat yg direncanakan mamihnya terlaksana dengan lancar,banyak hal yg mereka lakukan sejak dua hari mereka tiba disana,walaupun lebih banyak mereka menghabiskan waktu2 tertentu di kamar VVIP yg di janjikan mamih.


siang itu panas terik saat mereka asik bergandengan tangan menyusuri jalan,dimana banyak pedagang kaki lima yg membuka stand dagangan yg mereka jajakan ke turis lokal atau luar negri, Ali selalu memperhatikan raut wajah istrinya,dia tersenyum bahagia saat wanita di genggamannya selalu tersenyum dan tertawa kecil jika ada sesuatu yg ingin ia coba dan miliki,seperti saat ini,ekspresi menggemaskan saat Belva memakan camilan di pinggir jalan yg mereka lewati membuat Ali sesekali ingin sekali menggigit hidung atau bibir milik istrinya itu.


"kau suka?." Ali bertanya dengan wajah sumringahnya,bahagia melihat Belva yg selalu tersenyum padanya.


"suka." Belva mengangguk sambil terus mengunyah.


"lebih suka aku atau makanan ini?."


"apa sih mas? konyol." ia terkekeh


"ayo berciuman."


Ali sudah memajukan wajahnya mendekat kewajah istrinya namun Belva yg refleks mendorong dengan tangannya halus sambil mendelik heran dengan tingkah laki2nya satu ini.


"mas...ih,yg bener aja deh."


"kenapa?kitakan suami istri,sah-sah aja,mereka yg pacaran aja kadang gak malu2 berciuman ditempat ramai kayak gini."


"tapi ini kan tempat umum mas,aku yg malu."


"kalau begitu ayo kembali kekamar aja,lagipula ini terlalu panas buat jalan2."


Ali menarik genggamannya agar Belva ikut berbalik arah,tapi tubuh Belva memaku,ia menggeleng2 seperti anak kecil sambil menggembungkan pipinya sedikit.


"mas kan janji hari ini bakal nemenin aku jalan2, kita kan mau beli sebagian oleh2 buat mamih,kakak2 dan Gio,aku juga mau beli buat nenek dan bibi."


"dipesan saja,aku suruh orang nanti yg kirim sama barang2nya di bawa langsung kerumah."


"gak mauuuu....aku mau pilih2 sendiri,mas kan udah janji,nemenin aku beli oleh2 sekalian jalan2,sambil nunggu makan malam kita nanti, jadi mas harus tahan sampai selesai makan malam kita usai."


"kalau menciummu aku gak bisa menahannya."


Ali mencuri start,ia mengecup bibir itu tanpa aba2 dan membuat Belva gelagapan menerimanya.

__ADS_1


"Mas..ih apaan sih...dilihat orang."


Belva memukul dada suaminya dengan kepalan kecil tangannya,tapi seraut senyum semu kemerahan nampak berseri di wajahnya, Ali suka istrinya yg bereaksi imut begitu, ia ingin terus menggoda dan mempermainkan tingkah lucu istrinya.


"ayo jalan,pegang tanganku,jangan sampai kau tersesat."


langkah maju dengan semangat Belva menggenggam tangan Ali yg erat menghangat, senyum dibibirnya belum pudar,mereka terus melangkah menyusuri jalan yg entah akan membawa mereka kemana.


"Cntik sekali."


Belva berdiri didepan etalase aksesoris manik2 yg ia lewati,ia lupa jika gumamannya bisa terdengar ketelinga suaminya,hingga Ali menatapnya,melihat wajah istrinya yg berseri2 disana.


"ambillah,aku akan bayar."


Ali sudah ingin masuk kedalam toko untuk menuju kasir,tapi Belva menahannya,menarik kembali tangan Ali kedekatnya.


"tidak."


"kenapa? kau bilang tadi itu cantik,ambillah, anggap ini hadiah kecil dariku."


"tidak mau,ayo jalan lagi."


Ali sudah di tarik tangannya oleh Belva,istrinya itu hanya terkekeh kecil menggodanya yg nampak keheranan dengan tingkah lakunya.


"Mas gak pernah kencan ala rakyat jelatah ya?."


tukasnya,semakin membuat Ali mengernyitkan dahi.


"pakai bahasa yg mudah di mengerti,maksudmu apa?."


ia mendengar Belva semakin terkekeh.


"kencan rakyat jelatah,dimana para gadis lebih suka melihat2 dari pada membeli,mereka akan bergandengan tangan seperti ini sambil belanja mata saja dan berakhir makan es cream atau somay di pinggir jalan, buatku itu juga hal romantis yg dilakukan laki2."


"apaan sih,aku gak ngerti yg kamu bicarakan."


Ali menghela nafas kesal,ia merasa sedang diremehkan,memangnya Belva berfikir apa sih? dia fikir aku tidak mampu membeli benda itu untuknya? akhirnya Ali berasumsi sendiri.

__ADS_1


tapi bagi Belva,benda yg ia lihat tadi hanya sekedar liontin cantik dari seniman yg apik dan jenius,hanya dengan beberapa manik dan batu berwarna dengan disaint yg manis mampu membuat matanya berbinar,Belva yakin siapa saja wanita yg melihatnya akan terpesona, dan untuknya hanya sampai disitu saja,ia tidak punya keinginan untuk memilikinya, dan tadi ekor matanya menatap harga bandrol liontin kecil itu sekilas membuatnya berfikir tidak masuk akal, hanya untuk sebuah liontin kecil, ya...walaupun itu dibeli dari uang suaminya, ia juga akan berfikir lagi.


"duduklah,kita butuh istirahat."


Belva menurut,mereka duduk dikursi dekat pinggir jalan dengan payung peneduh di atasnya,Ali nampak gusar dengan fikirannya sejak tadi, wajah Belva menatap benda itu masih terbayang2 di kepalanya.


"tunggu disini,aku akan beli minuman segar untuk kita,ini panas sekali." tukas Ali sambil mengipas2 lehernya dengan mengangkat2 bagian lubang kaosnya,benar,Belva jadi kasihan melihatnya karna bagian dada kaos Ali sudah nampak basah oleh keringat.


"baiklah,aku mau jus sepertinya enak,tambahkan batu es di dalamnya ya."


Ali tersenyum melihat cara Belva meminta dengan wajah imut itu,ia mencium pipi gembil istrinya dengan cepat,membuat Belva sedikit kaget sudah ingin memelototinya tapi pria itu langsung kabur sambil terkekeh menuju stand penjual minuman segar yg tidak jauh dari tempat ia duduk.


pluk, benda panjang dengan tali kecil itu jatuh tepat di bawah kaki Belva yg sedang sibuk menatap layar hp nya,tersadar ada benda jatuh di kakinya ia segera memungutnya dan mendongak mencari2 pemilik tas kecil itu.


"maaf,tasnya jatuh."


suara Belva memanggil wanita yg nampak tidak ngeh kalau tas di lengannya merosot dari bahunya,wajah itu menoleh ke sumber suara, lalu betapa terkejutnya Belva mengenali wajah itu.


Citra, batinnya,ia lalu menyodorkan bendabditangannya,segaris senyum kecil nan sinis tercetak di bibir Citra yg nampak angkuh, ia juga mengenal Belva,dan betapa ia ingin mengholangkan gadis iti saat ini,fikirnya.


"akhirnya kebetulan bertemu ya, aku tau kalian sedang bulan madu,ah...apa Honeyku gak bilang kalau ini tempat favorit kami? ckckck, it's ok,nikmati saja,aku tau orang seperti kamu ini pertama kalinya pergi ketempat2 seperti ini, jangan lupa berfoto dan masukan ke sosial media mu,mungkin kamu akan banyak like dari pria2 kaya yg kamu incar seperti Dimitria Ali milikku."


sorot mata yg melecehkan dan merendahkan itu sangat menusuk,membuat Belva sedikit tidak bergeming dan nampak berkecamuk dalam hati,gadis di hadapannya tidak akan pernah bersikap ramah padanya, sejak pertemuan pertamapun Citra sudah menunjukan sikap aslinya,dan Belva tau Citra sangat tidak suka dengannya.


"berterimakasihlah pada orang yg menolongmu, setidaknya aku sudah membantumu agar kau tidak kehilangan barangmu,bukankah itu standar sopan santun di negara kita?ah..tidak..kebanyak di negara luar juga memilikinya bukan? ya...meski mungkin hanya orang2 berpendidikan tinggi yg mau melukannya aku rasa."


sindiran telak dari Belva membuat wajah Citra semakin kesal dan pias karna merasa di ajari oleh orang yg bahkan menurutnya tidak selvel kelasnya,tangannya melipat,ia ingin sekali merusak kebahagiaan bulan madu Belva yg merebut lelakinya ini,itu menurutnya, jika ditanya dari pihak si pria mungkin itu halusinasi menurutnya.


ide gila muncul,ia bahkan tidak peduli lagi dengan ancaman Ali terakhir kali padanya,dengan senyum sinis yg masih melekat di bibirnya,ia menatap Belva dengan arogan dan tamak lewat sorot matanya.


"kau berfikir akan sebahagia itu? dengar baik2, aku bicara ini agar kau tidak besar kepala dan merasa tinggi dihadapanku,terserah kau mau percaya atau tidak,tapi...hubunganku dengan Ali belum berakhir,kami masih saling menghubungi satu sama lain,kau fikir 3 thn kami tidak ada yg melekat erat? pasti adakan, berfikirlah bagaimana Ali memperlakukanmu, apa dia sangat manis? tentu,karna dia masih priaku,ah...satu lagi,apa dia ganas di ranjang? ups...ya..aku rasa kau juga merasakannya bukan,hmm seperti itulah dia,apa kita harus berlomba untuk menentukan service mana yg terlihat baik dan bagus?."


senyumannya jahat,Belva mematung,tangannya bergetar halus,ia menahan yg bergejolak di dadanya,tapi matanya memanas dan ia benci Citra dapat melihatnya,terbukti dari tarikan nafas kemenangannya nampak puas bisa melukai langsung ke hati lawannya.


"berusahalah tidak percaya,kita lihat nama apa yg masih dia simpan di nomerku."


Citra semakin memancing kemurkaan Belva, ia menekan nomor ponsel menghubungi ponsel milik Ali yg sejak tadi ia sadar ada di atas kursi di tinggalkan disebelah Belva,Citra bertaruh dari kebiasaan Ali yg selalu lupa menghapus kontaknya jika bertengkar.

__ADS_1


drrrrtdrrrttt....hp itu bergetar,nama lovely muncul,Belva menahan nafas sesak,seketika hancur dan kecewa merasuk di sekujur tubuhnya,Citra menarik senyum kemenangn lebih lebar,ia menikmati raut Belva yg nampak sangat kecewa dan frustasi,ah...ternyata semudah ini merusak mental gadis bodoh itu. fikirnya.


***😟


__ADS_2