Love Is KAMU

Love Is KAMU
#23


__ADS_3

masih Pov author


Belvana menoleh kekiri dan kanan,saat bokongnya mendarat di kursi empuk sebuah cafe dekat dengan pabrik percetakan yg ia dan pak Riannya datangi barusan,mereka sedang di jam makan siang dan ini membuat Belva sedikit merasa bersalah pada mas Alnya.


"kenapa kita kesini pak?."


Belva bertanya tanpa ragu,ia menatap Rian di hadapannya duduk dengan wajah dingin dan sedikit bossy.


"untuk makan siang."


hanya itu,lalu pelayan datang mencatat pesanan, Belva hanya memesan jus alpukat untuk mengisi perutnya, ada senyum sinis yg samar di bibir Rian,bahkan dia tidak ingin makan bersamanya lagi,fikir Rian.


"saya akan kembali kepabrik jika minuman saya sudah habis,bapak bisa makan dengan santai setelah saya...


"bahkan kau menghindariku juga Bel? kau berubah sekali ya setelah menikah."


"pak,kita sedang tidak membahas maslah pribadi."


"kita di jam istirahat,panggil aku seperti biasa kau memanggilku di luar kantor."


Rian menatapnya tajam,Belva nampak terdiam sebentar,lalu dia menghela nafas melelahkan.


"baiklah,Rian."


pria itu mengepalkan tangannya yg berada di bawah meja,lagi2 senyum sinisnya terlihat, di tambah raut kecewa disana.


"biasanya kau memanggilku mas Rian."


"tidak lagi,sekarang aku sudah menikah."


"apa aku begitu mengecewakanmu? kau memilihnya tanpa pertimbangan sekalipun."


"hentikan, aku tidak ingin membahasnya, hubungan kita sudah berakhir."


"berikan aku alasannya, aku bahkan tidak mengiyakan perpisahan kita Bel."

__ADS_1


"kau yakin ingin aku memperjelasnya?."


Belva nampak menaikkan satu alisnya, kesabarannya telah di uji oleh Rian,karna sebenarnya ia tidak ingin mengungkit2 ini lagi.


"katakan." jawab Rian dengan tatapan tajamnya, lalu pesanan mereka datang, memberi waktu untuk Belva menguatkan apa yg akan ia sampaikan selanjutnya,hanya beberapa menit setelah pesanannya tersaji, mereka kembali saling menatap, mempersiapkan hati masing2 untuk meluruskan semuanya.


"hubungan kita tidak akan mencapai titik yg aku atau kau inginkan Rian, 5 tahun kita yg percuma dan kau menyia2kan semua kesempatan yg aku berikan, mulai dari kesempatan bertemu nenek dan membicarakan masa depan kita berdua,kau tidak pernah mengambil kesempatan itu."


Belva diam sebentar,ia sedikit menundukan wajahnya agar sorot mata kecewanya tidak terbaca,biar bagaimanapun Rian pernah jadi orang yg sangat dekat dengannya.


"nenek terus bertanya,apa aku sudah punya kekasih?tapi aku tidak bisa menjawabnya karna aku tau itu bukan sekedar pertanyaan, lalu aku berharap kau merespon baik saat aku menyinggung soal nenek,tapi kau melewatkannya,padahal kau paling tau nilai nenek di mataku, sampai batas aku menunggu hingga pinangan laki2 lain datang, kau bisa menyimpulkan bahwa aku telah menyerah padamu."


"soal itu,soal nenekmu aku...


"aku tau,saat itu hanya soal status sosialku, aku tau bagaimana ayah dan ibumu sangat berharap banyak padamu Rian,kau anak tunggal,pewaris bisnis keluarga yg kau pegang saat ini tertumpu di pundakmu semua,aku tidak meyalahkanmu,aku mencoba memahami dan mengerti posisimu, 5 tahun perjalanan kita kau juga tidak pernah membahas tentang keluargamu denganku,setiap hari aku bersiap jika tiba2 kau mengatakan akan membawaku kedepan orang tua mu,tapi aku kembali kecewa karna itu tidak pernah terjadi."


"aku juga tau kau selalu di jodoh2kan dengan wanita sederajad dengan selera orang tuamu, tapi aku diam,karna aku fikir itu bukan masalah selama kau tetap pada hatimu yg memilihku, namun kau menghancurkannya, hari itu, hari dimana aku lulus dengan nilai tertinggi di kuisku,aku mlihatmu datang dalam perjodohan itu,kau tertawa dan tersenyum disana, bersama wanita yg mungkin tidak sebanding dengan diriku yg ada disisimu saat itu,aku berfikir dalam lubuk hatimu kau juga ingin bukan? berada disisi wanita yg tepat,wanita yg sepadan dan serasi dengan penilian dari orang2 yg akan melihatmu nanti sebagai pewaris,atau sebagai laki2 sukses,dan aku memberimu jalan itu sekarang."


"hentikan Bel,kenapa kau tidak bertanya padaku lebih dulu,aku bisa menjelaskan situasi itu jika kau memberi kesempatanku untuk bicara."


"aku bilang kau melewatkan semua kesempatan itu Rian,aku menunggu yg tidak pernah pasti darimu."


"bagaimanapun aku tidak membencimu atau menyalahkanmu atas apa yg telah kita lewati sekarang ini,aku hanya ingin fokus dengan suamiku,jadi...kita hentikan sampai disini."


"apa kau bahagia? apa kau mencintai dia? jika tidak datanglah padaku Bel,aku masih sangat....


"aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya Rian, jangan katakan lagi, jangan membuat aku kecewa dua kali padamu."


dia lupa,Belva adalah wanita yg tegas,dia punya daya tarik dari sikapnya yg seperti itu, meski sesekali Rian melihatnya wanita yg lemah,tapi di sisi lain Belva pandai bertahan untuk membentengi dirinya.


apa ini semua berakhir? sejujurnya Rian berfikir tidak,di hati terdalamnya masih sangat menyimpan nama Belva dengan baik,hati jahatnya memenangkan ego nya untuk berharap jika pernikahan gadis di hadapannya ini tidak berjalan dengan baik,hingga ia bisa saja masuk,mungkin mengusik hingga Belva terlepas dari laki2 yg bahkan tidak punya kenangan apa2 dengan Belva seperti dirinya, 5 thn adalah waktu yg cukup lama untuk membuat banyak kenangan indah bersama saat2 kedekatan itu terjalin.


"saya akan kembali mengecek kepabrik pak, makan siang saya sudah habis."


Belva menunjukkan gelas kosong yg tadi berisi jus alpukatnya telah tandas,sedangkan Rian hanya mengaduk2 makanannya sejak bicara tadi,itu membuatnya sangat kesal.

__ADS_1


"tidak ada pengunduran diri tim, kau harus sedikit berkorban demi karirmu Bel, mintalah ijin pada suamimu agar kau bisa sedikit2 meraih impianmu,aku tau kau sangat menyukai pekerjaanmu ini."


tukasan Rian menghentikan Belva saat ia sudah ingin berdiri meninggalkan meja,ia melihat wajah Rian dengan licik,ia tau Rian sengaja memprofokasinya.


"pergi bersama mengerjakan projek,atau kau ingin menulis surat pengunduran dirimu secara sukarela?."


itu ancaman,Belva terkejut,ia tidak menyangka jika Rian bisa melakukan ini padanya,padahal dia orang yg paling tau bagaimana susah payahnya ia mendapatkan pekerjaannya yg sangat ia impi2kan ini, demi apapun ia rela meninggalkan neneknya dulu demi panggilan di perusahaannya,tapi...karna sakit hati atau dendam,entahlah,ia hanya tidak menyangka Rian bisa bersikap begini padanya.


"pak,saya...


"jika kalian hidup bahagia,seharusnya dia tidak takut merasa terancam bukan?."


Rian tersenyum kemenangan,ia seperti tahu yg difikirkan Belva,ia berdiri dan meraih lengan Belva yg masi terpaku dengan fikiran2nya, ia hendak melangkah pergi saat tiba2 seseorang masuk kedalam cafe dan menghampirinya dengan wajah mengeras dan kepalan tangan yg mengerat.


"Mas Al?." Belva terperanjat dengan mata membulat,ia lalu menarik tangannya yg kini di genggam Rian,tapi tidak bisa,Rian mencengkramnya terlalu kuat.


"apa yg sebenarnya kalian lakukan? lepaskan dia,dia istriku."


suara Al yg tidak seperti biasanya sangat mengancam dan penuh penekanan.


"saat ini dia rekan kerja saya." jawab Rian tak ingin mengalah,ia membalas tatapan tajam Ali dengan sama tajamnya dengan iris matanya.


"rekan kerja tidak memegang tangan istri orang sembarangan."


"benarkah? saya beri tau satu hal,kami punya kedekatan yg cukup untuk beralasan melakukan ini."


Belva membelalak lagi,ia menatap Rian tidak percaya bicara begitu dengan senyum liciknya, lalu tatapannya berpindah pada suaminya yg sudah ingin mengangkat kepalan tangannya yg memerah menahan amarahnya,ia tahu suaminya akan memukul,dan mungkin jika ia berteriak menghentikan ini tidak akan berpengaruh apa2 pada dua laki2 dihadapannya saat ini. siapapun tolong hentikan ini,doa Belva difikirannya.


"Rian..!."


suara wanita dari balik punggung Ali menghentikan suasana panas itu, Belva bernafas lega saat menyadari Ali yg kembali mengendurkan kepalanya dan Rian yg mengendurkan cengkraman tangannya di lengan Belva,membuat gadis itu dengan mudah menarik tangannya agar terlepas dari eratan Rian tadi.


"kak Bia?." untuk kesekian kali,Belva membelalak terkejut,suara yg ia dengar memanggil Rian tadi adalah kakak iparnya.


"Bel,kalian...

__ADS_1


wajah kak Bia yg kebingungan menatap Rian dan Belva bergantian, sedetik berikutnya ia bisa membaca situasi yg aneh ini, belum lagi tatapan Ali yg masih sangat membara pada Rian dihadapannya.


***🙄


__ADS_2