Love Is KAMU

Love Is KAMU
#31


__ADS_3

Pov Author


Bia duduk dengan menatap layar ponselnya, sebenarnya ia tidak tau apa yang baru saja ia lakukan, membayangkan Kenzo yang hanya melamun di kamar hotel sedangkan temannya asik memadu cinta dengan istrinya yang sangat di bucinin itu, tadi Bia berfikir Kenzo nampak kasihan dan malang tapi kini ia menyesali perbuatannya yang mengajak Ken untuk keluar minum kopi dengannya.


"kenapa gue tiba2 gak waras begini."


tukas Bia pada dirinya sendiri,ia menghela nafas penyesalan,kopi hangatnya datang masih dengan asap mengepul yg terlihat enak, ia datang ke lobi hotel benar2 hanya untuk menghibur lelaki muda berbeda usia 4 tahun darinya itu,Bia merasa gila saat ini.


"lama menunggu?."


suara didekat telinganya refleks membuatnya menoleh,dan tanpa sengaja wajah itu terlihat begitu dekat tepat di depan wajahnya, sepersekian detik Bia terpaku,sialnya degup jantungnya berdebar tanpa komando darinya,menjalar hangat ke wajahnya dan memberi sensasi aneh disana, Kenzo tersenyum,melihat wajah Kak Bianya yang langsung memerah.


"sekali lagi loe berbuat begitu, gue siram loe pake kopi panas ini."


Bia memecahkan kondisinya dengan wajah yang dibuat jutek namun tetap terlihat cantik di hadapan Kenzo,laki2 itu duduk di kursi yang berhadapan tepat dengan Bia, bibirnya masih tersenyum lembut,ia tau kak Bianya tidak akan melakukan itu padanya.


"sensitif sekali, padahal cuma berbisik sedikit kedekat telinga,wajah kak Bia langsung memerah begitu."


godanya dengan sangat jenaka di wajahnya, semakin membuat Bia kesal dan salah tingkah.


"itu karna...hormon tau." jawabnya ngasal.


"hormon wanita dewasa benar2 berbeda ya."


"berhenti mengolok, atau gue bisa pergi sekarang dan biarin elo jadi obat nyamuk buat temen loe yang lagi asik berduaan sama istri bucinannya itu."


Bia sudah ingin berdiri tapi pergelangan tangannya langsung di tahan oleh cengkraman Kenzo,membuat ia sekali lagi terpaku pada bocah besar itu.


"kakak janji tlaktir aku kopi."


tatapan Kenzo yang seperti anak kucing itu hampir menghipnotis Bia,lalu sedetik berikutnya Bia tersadar dan menghempaskan tangan Kenzo dengan cepat,dengan wajah juteknya ia kembali membenarkan duduknya.


"cepat pesan." perintah Bia,sambil menyeruput kopi hangatnya yang sudah lebih dulu datang tadi.


Kenzo memesan,sambil menunggu pesanannya datang ia ngin berbincang apa saja dengan wanita di hadapannya ini, entah kenapa ia merasa senang Kak Bia berada di hadapannya saat ini.


"bagaimana keadaan kakak?."


"kita udah ketemu dari kemaren dan elo baru menanyakan keadaan gue sekarang? basa basi banget."


"bukan keadaan kakak yang sekarang,tapi setelah kejadian itu,aku denger kakak di campakkan dia?."


uhuk,tiba2 Bia terbatuk,ia tidak menyangka kalau Kenzo akan membahas itu, Ali pasti bercerita pada bocah ini,fikir Bia.


"Ken,elo tau kan gue gak suka di galih apapun tentang pribadi gue,jadi gak usah ngebahas hal yang gak penting lagi."

__ADS_1


"jadi itu sudah tidak penting? syukurlah."


Ada senyum aneh di bibir Kenzo yang membuat Bia berkernyit halus di dahinya saat melihat ekspresi itu.


"...benar,kakak harus move on."


"berhenti ngebahas gue."


"kalau begitu bahas aku, apa yang mau kakak tau dari aku?."


"sudah gila ya? gue kenal elu udah lama begini ngapain gue tanya2 tentang elu."


"aku sekarang sudah sangat dewasa kak, bahkan Ali sudah menikah,kakak gak penasaran bagaimana aku sekarang?."


Bia menatap sebentar pada Kenzo, benar juga, semenjak mereka mendewasa Bia lupa kalau Ken sekarang lebih tampan dari gambaran dia yang terdahulu,tapi Bia tersadar, untuk apa dia ingin tau,toh tidak ada untungnya juga buat dia, tidak bermanfaat apa2 bukan? fikirnya.


"apa karna iri dengki loe ya pada Ali ade gue yang lebih dulu menikah,jadi elo sekarang ngerasa di tinggal dan jadi bersikap aneh begini, bangunlah,sebelum loe gue siram supaya terpaksa bangun dari mimpi loe."


"padahal aku penasaran sama kehidupan kakak saat ini."


"kenapa? apa yang bikin loe penasaran sama gue?."


"kakak akan jadi perawan tua jika terus bersikap begitu,kaka harus lebih lembut seperti wanita lain agar beberapa pria bisa menyukai kakak dari pribadi kakak nanti."


"mau gue siram kopi ya? apa urusan loe sok nasehatin gue begitu,loe pikir gue peduli, lagian gue gak butuh disukai atau gak sama pria manapun."


"benar,kak Bia yang aku kenal memang seperti ini,bilangnya gak peduli tapi selalu membela aku dan Ali saat sekolah dulu,kak Bia juga yang melindungi kami menjaga rahasia kenakalan kami di depan mamah dan tante kan, itu sebabnya selalu kakak yang datang saat ada surat panggilan dari guru BP."


"apa sih yang sebenernya elu mau bicarain, kenapa membahas yang dulu2."


"aku cuma mau bilang kak Bia jangan berubah, bersikaplah seperti ini jika ada pria manapun yang menolak atau mencampakkan kakak, mereka tidak pantas mendapatkan keistimewaan kakak yang seperti ini."


cih,Bia bukan orang yang senang di puji,apa lagi tepat di hadapannya,tapi entah mengapa kata2 Kenzo bisa membuat hatinya berdebar saat tadi ia mengatakannya dengan tatapan tak terbaca seperti itu.


"eumm..bagaimana keadaan Belva."


Bia mengalihkan pembicaraan,itu membuat Kenzo tersenyum karna menyadari kak Bia yang salah tingkah.


"harusnya kakak bertanya sama Ali,bukan sama aku."


"kan elo juga disekitar mereka dari dekat, apa salahnya gue nanya."


"kakak menghindari aku ya?." Ken nampak menatap Bia dengan matanya yg di kerutkan sedikit,membuat Bia nampak kikuk dan gelisah di tempat duduknya.


"menghindar kenapa?."

__ADS_1


"semenjak kejadian kakak di campakkan itu, sepertinya kakak menghindariku."


"jangan ngaco."


"ayo makan malam denganku kak,kapanpun kakak mau dan siap,cobalah membuka diri buat aku."


"elo...UDAH GILA ya?."


Bia berdiri dari duduknya, ken nampak terkekeh, melihat keterkejutan Kak Bia Ken tau dia wanita bodoh di usia matangnya.


"mulai sekarang aku akan dekat2 dengan kakak,aku yang jagain kakak dari laki2 seperti itu,tidak boleh ada lagi yang menyakiti kakak seperti itu,telfon aku kapanpun kakak mau,ok."


#


Pov Ali


sebuah notif di ponselku mengganggu sekali, beberapa panggilan memang aku tidak jawab dari semalam,aku tidak memegang benda pipih itu selama aku berada dekat dengan istriku,aku mematikannya dan baru aku nyalakan pagi ini, banyak pesan yang masuk, tapi belum aku baca,paling-paling hanya pesan dari beberapa pekerjaan yang aku cansel hari ini, aku masih berdiri didepan cermin, memakai kemejaku dengan rapih,mengancinginya sambil menatap sosokku yg terpantul sempurna di cermin besar ini, yah...aku merasa Belva tidak merasa malu jika berjalan didekatku,aku juga tidak kalah tampan dengan pria itu kan...sial kenapa aku membandingkan diriku lagi dengan mantan sialannya itu.


ponselku berdering,aku menatap layarnya dan nama Kenzo disana,aahh...bocah itu selalu menggangguku,aku meraihnya,menggeser layar untuk menerima panggilan itu.


"hm?." gumamku malas


sudah liat kabar di kantor?


"kabar apa?."


boss tadi menelfon,katanya elo gak bisa di hubungi,elo matiin ponsel? coba cek ponsel loe, dan kayaknya kita harus segera pulang sekarang.


"ada apa sih?."


aku langsung mengecek ponsel tanpa mematikan sambungan telfon.


dan sedetik berikutnya aku terpaku pada gambar timeline dari majalah kantor, terpampang fotoku dan Citra dengan posisi tidak bagus untuk dilihat khalayak ramai,sialnya itu adalah foto lama,Citra melakukan itu padaku dulu karna kami saling mencintai saat itu,bukan...itu bukan foto bu-gil,hanya saja orang2 akan menganggapku laki2 bajingan saat melihatnya.


jangan beri tau Belvana,kata boss ini sudah ramai di kantor,ada beberapa wartawan yang menunggu untuk wawancara juga dengan loe, ayo kita pulang,kita selesaikan segera.


aku tidak lagi mendengar kata2 Kenzo,aku hanya memikirkan Belva istriku, Citra akan melakukan apapun untuk membalas sakit hatinya dari kata2ku,dan sasaran utamanya adalah istriku,aku menatap pintu kamar mandi hotel yang sejak tadi Belva di dalamnya sedang membersihkan diri,lalu pintu itu terbuka, perlahan dia keluar dengan langkahnya yang nampak goyah,aku menatapnya,dia juga menatapku,sial...matanya memerah tanda ia menangis sejak tadi,tatapanku berpindah pada tangannya yang memegang ponsel miliknya, kepanikanku menyerang,aku gugup dan takut.


"sayang..".


aku ingin meraihnya namun dia kembali menangis,membuat langkahku berhenti.


"aku membencimu mass."


tubuhku lemas,mendengar kata2 yang keluar dari hisakannya,begitu lirih dan penuh marah, yah..dia menahan marahnya padaku.

__ADS_1


#😟


__ADS_2