
saya terima nikah dan kawinnya BELVANA Zarina binti Mardani dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.
Hari ini sesuatu yg mengubah status kami terjadi,janji sehidup semati yang di ikrarkan dengan lantang telah aku sematkan dengan satu tarikan nafas,semua berteriak SAH, lalu Belvana dikeluarkan dengan gaun pengantin kebaya putih yang sangat cantik dari balik tirai yg menutup kami sejak tadi.
kami disandingkan setelah ikatan suci itu terjalin,beberapa dokumen kami tanda tangani dan sedikit berfoto untuk membuat kenangan,tentu saja yg paling heboh adalah keluargaku,mamih,kak Denisa dan Gio,lalu kak Bianka,dan yg membuatku terharu adalah kak Galang,suami dari kakakku Denisa datang jauh2 dari Hongkong untuk menghadiri pernikahanku, dia insinyur yg bekerja di perusahaan asing dimana ia harus terpisah dari kakakku untuk sementara waktu.
gedung ini terasa penuh dan sesak,untuk beberapa saat kami harus berdiri di pelaminan demi menyambut tamu undangan, sebagian besar tamu memang dari keluargaku dan rekan bisnisku,lalu tamu mamihku beberapa persen dari kakak2ku yg aku kenal,tapi...aku tidak melihat banyak tamu dari pihak Belva.
"kamu gak banyak ngundang teman?."
tukasku saat kami duduk sebentar di kursi pengantin yg di sediakan,kebetulan tamu juga sudah banyak yg menikmati makanan jadi kami bisa santai sebentar.
"ada beberapa dari rekan kerja."
benar,aku melihat 5 rekan kerja Belva dari kantor penerbitnya,tapi masa hanya 5 orang itu temannya? sedangkan dari pihak neneknya hanya beberapa paman dan bibinya yg datang bersama keluarga kecilnya.
Belva memang bilang padaku kalau ia bekerja di sebuah penerbit sebagai editing,dia juga baru 2 tahun kembali ke kota ini bersama neneknya karna panggilan kerja itu,kakeknya telah tiada,makanya ia hanya tinggal dengan neneknya saja,untuk itu aku berencana membawa Belva dan neneknya nanti untuk tinggal bersama.
"kamu gak ngundang temen kamu yang lain?."
"jauh mas,teman kuliah kebanyakan di bandung,teman kerja ya cuma mereka aja yg keliatan dekat dengan saya,karna saya juga belum lama kerja bareng mereka."
ternyata dia masih Belva yg sama,dia sangat membatasi pergaulannya,membatasi dirinya dengan orang baru,aku jadi ingin tau apa mantan pacarnya di undang untuk datang.
"Bel,mantan kamu datang gak?."
"gak mas,gak saya undang."
"kenapa?."
"gak mau aja,kalo mas di undang ke pernikahan mantan mas Al,mas mau datang?."
"mau." aku menjawab dengan cepat
"oh." Belva nampak mengalihkan pandangannya kedepan,ia menatap tamu-tamu yg sedang menikmati hidangan disana.
"tapi kan aku pergi ke undangannya sama kamu,istri aku."
__ADS_1
seketika ia menoleh dan tersenyum, aku terkekeh kecil,melihat senyum itu,entah mengapa dalam lubuk hati terdalam aku merasa bersalah pada Belva,entah mengapa aku merasa memilih dia untuk pelarian kekecewaanku pada Citra,tapi...pernikahan kami yg mungkin tanpa Cinta ini,harapanku akan berubah nanti,semoga Belva bisa menerimaku ku kelak.
"Belvana?."
suara yg langsung membuatku mendongak pada pemilik tubuh tegap tinggi disana, aku melihat Kenzo,ah...benar,dia memangku undang.
"Ken,kenapa baru dateng?."
tukasku tanpa kuperhatikan tadi reaksi dari wajah Belva yg menegang saat melihat Kenzo menaiki pelaminan untuk menyapa kami, aku bekernyit sambil berdiri menatap Kenzo yg perlahan mendekat,dan aku sadar,Belva tidak ikut berdiri menyambutnya,apa mungkin dia kelelahan?.
"sorry,tadi ada urusan keluarga dulu."
Kami saling berjabat tangan,dan tatapan Kenzo kembali pada Belva yg masih terduduk tidak menatap balik.
"jadi ini beneran Belva yg kita kenal ya?."
Seketika Belva berdiri,ia terlihat nampak memaksakan senyumnya,sedangkan Kenzo mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat seperti biasa.
"apa kabar Bel?."
"aku gak nyangka ini beneran Belvana kita, waktu Ali cerita aku sempet gak percaya, karna aku taunya kamu tinggal di Bandung dulu."
"hm,dia dan neneknya baru kembali kesini sekitar 2 thn lalu."
aku yang menjawab,karna aku merasa Belva sedang tidak nyaman saat ini.
" bagaimanapun selamat atas pernikahan kalian,semoga kalian bahagia."
Kenzo menepuk bahuku,ia lalu pamit untuk menikmati hidangan pesta,tatapanku beralih lagi pada Belva yg langsung duduk dan meraih gelas air didekatnya,ia meneguknya dengan cepat.
"ada apa?". tegurku langsung,ia nampak sedikit terkejut,mungkin ia kaget aku menyadari sikapnya pada Kenzo.
"gak ada apa-apa mas."
"sepertinya kamu harus menceritakan sesuatu padaku Bel."
kami bertatapan lekat,benar...aku melihat kilatan redup di mata Belva,aku sangat yakin ada sesuatu tentang pandangan Belva dan Kenzo,tapi kenapa aku sama sekali tidak tahu,padahal Kenzo teman pertama yg ku beri tahu tentang pernikahan dan pertemuan kembali dengan Belva.
__ADS_1
#
ada debaran gugup saat kami berada di sebuah kamar yg sama,kamar hotel yg dipersiapkan mamih untuk kami bermalam setelah acara pernikahan tadi, aku duduk di sisi ranjang menatap Belva yg duduk didepan meja cermin sedang membuka sesuat yg sejak tadi menempel dikepalanya.
tatapan kami bertabrakan di cermin itu,ia langsung tertunduk malu dan mengalihkannya pada benda2 yg sedang dilepasnya,aku tersenyum kecil,aku rasa Belva juga gugup sepertiku.
"perlu bantuan?."
aku berjalan mendekatinya,lalu menyentuh bahunya dengan kedua tanganku,kami bertatapan lagi di cermin,dan terkekeh kecil bersamaan.
"ceritakan tentang keadaanmu dan Kenzo padaku Bel,aku tahu kalian menyimpan sesuatu,tatapanmu padanya sangat menggangguku tadi."
aku duduk di kursi yg kutarik dekat dengan Belva,aku membuat ia kini menatapku,kami saling berhadapan,ku genggam jemarinya,meyakinkannya agar percaya padaku.
"sebenarnya gak ada yg harus saya ceritakan mas,bagi saya dia bukan siapa2 dan tidak berpengaruh apa2 pada hidup saya,tapi jika mas ingin tau baiklah,saya akan ceritakan garis besarnya saja."
Belva membetulkan letak duduknya,ia menarik nafas perlahan dan akan memulai ceritanya.
"saya dan Fitri bertengkar,dan itu karna Kenzo."
"Apa? kenapa?."
"dia mendatangi saya saat jam eskul seni melukis,dan dia menyatakan perasaannya pada saya di depan teman2 yg lain,jadi Fitri tau itu lalu marah pada saya."
"Apa? Kenzo?dia nembak kamu didepan temen2?tunggu...bukannya dia gak pernah putus sama Fitri sampai kita lulus."
"iya,dia gak pernah putus sama Fitri malah nembak saya,kan aneh."
"terus kamunya gimana?kamu suka juga sama dia dulu?."
"enggak,saya langsung tolak,tapi Fitri gak percaya dan malah nuduh saya diam2 berhubungan sama Kenzo lantaran sering kedapatan dia lagi ngikutin saya atau ngeliatin saya saat di sekolah,memangnya itu salah saya?."
aku kaget mendengarnya,Kenzo yg aku percayai,dia teman berbagiku sampai detik ini,kami bekerja di bidang yg sama,kami satu kantor dan dia selalu disampingku,bagaimana mungkin aku tidak tahu cerita itu,jadi dia merahasiakannya,bahkan saat dia tau aku di jodohkan mamih dengan Belva yg sama2 kita kenal.
"sampai kita lulus,Fitri tidak lagi bicara dengan saya,saya juga tidak ingin bicara pada Kenzo lagi,dia memisahkan teman baik saya dengan keegoisannya sendiri,sampai detik ini, Fitri dan saya tidak lagi bertemu atau bertukar kabar,dan Kenzo...tidak pernah meminta maaf atas perbuatannya terhadap saya dan Fitri."
***😪
__ADS_1