
lif terbuka,aku melangkah keluar menuju pintu apartement milik kekasihku,sebenarnya aku ingin mendengar penjelasan dari sisi Citra tentang kejadian di butik mamih,ya...aku akan mendengarkannya dulu dan akan mengambil kesimpulannya,siapa tau ini hanya salah paham di antara mereka kan?.
pintu apartement Citra sudah terlihat,aku segera melangkah lebih cepat menyusuri koridor,lalu terlihat Eka salah satu asistentnya keluar dari pintu apartement Citra,ia nampak terburu2 dan ingin segera meninggalkan tempat itu,seketika ia nampak kaget melihatku yg semakin mendekat berjalan kearahnya.
"Pak Al,bapak gak ngasih kabar kalau mau datang? ada perlu apa ya?."
"perlu apa?." aku berkenyit,Eka berdiri tepat di depanku,ia seperti gelisah dan menghalang halangi jalanku untuk mendekat kepintu.
"eumm nona Citra sedang keluar dia...
"minggir."
ucapku dingin,aku tau ada yg tidak beres didalam sana, Eka tidak bisa berbohong, dia terlihat pucat pasi saat menatapku.
"tapi pak...
"MINGGIR."
sedikit ku naikan intonasi suaraku,dia nampak ketakutan,aku menggeser tubuhnya dengan hentakan tanganku yg menegang karna kesal.
langkahku tepat di pintu,ku tekan pin yg sudah ku hafal untuk membuka kunci digital itu,terbuka,ku lirik Eka yg menegang dan kaku di tempatnya,dadaku berdebar,aku tau ada yg di sembunyikan Citra dariku.
hal yg pertamaku lihat saat kakiku masuk kedalam apartement Citra adalah beberapa baju yg berserakan di lantai,dan yg membuat membelalakan mataku adalah kemeja pria ada disana,seketika tubuhku memanas,dadaku berdebar keras karna marah,fikiranku merangkai sesuatu yg berbau pengkhianatan didalam kamar itu,kedua tanganku mengepal menahan luapan emosi.
Brakk,
dobrakan pintu kamar,aku menatap langsung mereka yg sedang bugil diatas ranjang, Citra melompat mendorong pria yg bermain di atasnya tanpa sehelai benangpun,tangannya meraih selimut untuk menutup tubuhnya yg sama seperti pria itu,tanpa sehelai apapun di tubuhnya,darahku seperti mendidih,mataku berkaca2 tapi tanganku mengepal keras, shit...rsanya aku ingin membunuh mereka berdua.
"beibz...
"jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan itu,kita...berakhir."
"No beibz..dengarkan aku,ini hanya....
cekrek,aku menggenggam ponselku kuat dengan kemarahan yg ku tahan,aku memfotonya,dan aku tersenyum keras sangat sinis menahan kekecewaanku pada Citra, dia sempat terpaku saat aku memfotonya.
"tidak jangan,aku mohon...
__ADS_1
Citra meradang,ia melompat menghambur dari atas ranjang dan ingin merebut ponselku,tapi aku menghindar dan dia kesulitan karna terlilit selimut di tubuhnya.
"aku akan menghancurkanmu,semua yg ada disekitarmu dan apa yg ada padamu saat ini Cit,bersiaplah menerima segala pengkhianatanmu".
kata2ku nampak dingin,Citra masih meradang dan menangis memohon padaku, air mataku jatuh tapi bibirku tersenyum,hatiku perih, lalu ku lirik laki2 yg tadi tersungkur karna dorongan dari tangan Citra,pria itu sudah memakai handuk dililit dipinggangnya, wajahnya tidak menunjukan penyesalan sedikitpun.
"kami hanya bersenang-senang, tidak usah dibuat heboh,toh kami tidak melakukannya dengan cinta,dia sendiri yg mau menyerahkan tubuhnya demi kontrak kerja dengan brand milik ayahku,kalau kau juga pembisnis kau pasti tau maksudku."
Citra nampak sesunggukkan,ia lalu menghambur memelukku,tapi aku menghempaskannya lagi dengan kasar,sumpah,aku jijik melihatnya apa lagi disentuhnya.
"kau...semurahan itu Cit,heuh...bahkan dia sama sekali gak berfikir untuk akhirnya cinta denganmu,kalian benar2 sampah."
"tolong maafkan aku Al,aku...
"brengsek."
aku mendorongnya,Citra terhempas kelantai,lalu dia menangis sejadi2nya, aku meninggalkan tempat itu dengan kemarahanku yg masih membara,Eka menundukan kepalanya saat melihatku,dan aku membenci semua orang yg kini ada disekitar Citra,langkahku tegas,cepat dan membara emosi,sial...kenapa sesakit ini, aku terkulai di dinding lif yg berjalan membawaku menuju parkiran mobilku,aku menangis terduduk di lantai lif,ah...brengseknya air mata sialan ini tidak mau berhenti.
*
" Mas Ali."
"maaf sudah bikin kamu keluar malam2."
sku tersenyum melihatnya dengan baju piamanya bermotif boneka panda.
"gak apa2,tau darimana gang rumah saya."
"dari mamih."
"oh,benar juga,bu Anita beberapa kali memang datang kesini."
"hm,mamih senang bergaul dengan siapa saja,maaf ya kalau mamihku kadang ngerepotin."
"gak kok,malah saya seneng,nenek jadi ada temannya."
"oh iya,maaf juga belum bisa menyapa nenek kamu."
__ADS_1
"gak apa2 mas,nenek saya juga gak nanyain, sebenernya ada apa mas Al malem2 kesini?."
Belva menatapku,dan aku terpaku melihat bulu mata lentiknya dari balik kaca matanya yg bulat itu,entah kenapa kemarahanku tadi pagi seperti terlupakan,meski sesak menyisa dalam dadaku,rasanya Belva membuatku jadi bisa bernafas tenang saat ini.
"ayo menikah,Bel,kamu masih belum berubah fikirankan soal perjodohan kita? kamu masih maukan nikah sama saya?."
aku tau ini membuatnya terkejut,Belva nampak menatapku dengan lekat,seperti mencari-cari sesuatu di mataku,dan didetik berikutnya dia tersenyum padaku, kepalanya mengangguk,aku menahan nafas melihatnya.
"masih mas,iya,saya mau."
"Bel,tapi...
"iya,saya tau mas belum mencintai saya, gak apa2 mas,seperti kesepakatan yg saya katakan sebelumnya dipertemuan kita yg pertama,jika mas tidak bisa bertahan dengan saya,gak apa2,hanya 6 bulan,saya siap di cerai jika mas Ali bersedia."
aku terdiam,sebenarnya ingin membantahnya, aku hanya ingin memastikan agar dia tidak tertekan dengan apa yg akan kita jalani setelah menikah nanti,tapi...aku biarkan kali ini keyakinannya yg tidak seberapa itu menjadi pegangannya saat ini, helaan nafas dan senyumku menjawab pernyataannya,dia juga tersenyum,angin malam ini menggoyangkan rambutnya yg panjang bergelombang,dia cantik,itu yg terlintas saat aku menatapnya dengan rambut bergeraknya saat ini,ia nampak manis dengan bando itu,ah..aneh,perasaan apa ini?
"mau jajan gak?."
tukasku memecah kesunyian kami
"jajan apa?."
"mau es cream? kamu sukanya apa?
"gak begitu suka es cream sih,tapi kalo mas Ali mau tlaktir boleh,Mas Ali suka somay gak?."
"boleh,yuk kita makan somay."
aku ingin membuka pintu mobilku namun di tahan oleh Belva.
"ngapain naik mobil,gerobak somaynya mangkal disana deket,kita jalan kaki ajah, yuk."
Belva menunjuk ke seberang gang,ia berjalan beberapa langkah di depanku,aku mengikutinya sambil mencari2 penampakan gerobak somay di arah yang tadi ia tunjuk2.
"tapi es creamnya...
"ada warung toko klontong yg ada prizer es creamnya dekat tukang somaynya,kita beli disitu juga gak apa2."
__ADS_1
aku terkekeh mengikuti langkah Belva,kami berjalan sambil mengobrol hal-hal yg ringan, kadang ia tertawa kecil dan aku merasa nyaman dengan situasi ini.
***🥰