Love Is KAMU

Love Is KAMU
#7


__ADS_3

Pagi datang setelah 2 hari kami berada di hotel tempat menginap kami seusai pernikahan hari itu,hal yg lucu adalah sepanjang malam pertama kami,Belva hanya bicara jika aku bertanya,dia benar2 kaku dan kikuk,aku tersenyum sendiri jika mengingat itu,alhasil kami hanya mengobrol sampai tertidur,di hari kedua kami menginap, mamih menelfon untuk memberi kabar kalau nanti setelah dari hotel aku dan Belva disuruh langsung saja pulang kerumah yg sudah aku sediakan untuk tempat tinggal kami,sebagian barang katanya sudah di pindah kesana, hanya belum di rapihkan karna mamih tidak tau tata letak yg disukai Belva, biar itu menjadi tugas istri saja kata mamih.


aku belum membicarakan ini pada Belva, aku akan membicarakannya saat sarapan kami nanti.


aku sudah siap untuk sarapan,tinggal menunggu Belva yg keluar dari kamar ganti, kami bergantian untuk membersihkan diri tadi,sambil menunggu aku menonton berita di tv,tapi fikiranku masih berada di pembicaraan Belva yg menjelaskan kondisi hubungannya dengan Kenzo yg masih tidak baik,ah...si bajingan tengik itu bikin aku jadi tidak selera makan saja,aku masih tidak habis fikir Kenzo bisa punya sikap begitu,setidaknya dia harus putus dulu dengan Fitrikan? tapi...kata2 Belva terngiang lagi di telingaku,seandainya Kenzo dan Fitri sudah putuspun,saya tidak akan menerima Kenzo saat itu,karna saya tidak punya perasaan apa2 padanya.


entah apa yg membuat aku tersenyum mengingat itu,tapi aku senang mendengar ketegasan Belva tentang perasaannya,kini aku hanya mengatur sikapku pada Kenzo, mungkin aku harus mendengar cerita masa lalu itu dari sisinya juga,aku yakin dia punya alasannya.


mataku beralih pada suara pintu yg terbuka, ya...aku rasa Belva telah selesai,itu suara pintu kamar ganti,aku berdiri untuk mengajaknya sarapan di lobi hotel,dan seketika langkahku terpaku di tempat saat aku memutar tubuhku dan menatap Belva disana,dia...nampak cantik dengan dress biru langit bercorak kapas2 putih seperti awan, bagian leher dress itu berbentuk V sehingga membuat sedikit belahan dadanya terlihat, itu nampak cantik dan manis,kombinasi dari kulit putihnya membuat aku menelan salivaku dengan serat melewati kerongkonganku.


Shit...dalam fikiranku aku menampar wajahku sendiri,sadarlah Al....ini masih pagi, teriak batinku,tapi mataku yg tiba2 kikuk langsung beralih pada bagian bawah dress itu, terlihat pas di bagian atas lutut Belva,tidak terlalu tinggi,hanya mungkin 5 centi dari atas lututnya,tapi tubuh Belva yg termasuk lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita, dress itu sangat menggoda di bagian sana, betisnya putih mulus sampai kejari2 kakinya yg bercat kuku merah itu,ya tuhan....apa ini yg dirasakan para suami di pagi hari?


"mau sarapan dimana mas?."


suara Belva menyadarkanku,aku langsung menatap wajahnya,kali ini aku terkejut melihat dia sedikit berhias,maksudku dia memang berhias saat menjadi pengantin kemarin,tapi riasan ini sangat natural di wajahnya,dia...ah...tidak bisa aku gambarkan dengan kata2,hanya saja...jujur aku sangat suka dengan penampilannya,dia seleraku, ditambah kaca matanya tidak lagi menempel di sana,dia memakai softlens persis seperti warna bola matanya,sial..dia Cantik sekali hari ini.


"di lobi bawah...". aku menjawab dengan suara kikuk dan aneh,aku harap dia tidak sadar itu,jika ya,aku sangat malu.


"ayo."


langkahnya mendekat,ada yg aneh dengan dadaku,sepertinya debarannya terlalu keras, apa lagi saat Belva mau menghampiriku dengan senyuman itu,aku takut itu bisa didengar olehnya.


"tunggu." tukasku dengan cepat saat Belva sudah memegang hendel pintu,ia menatapku heran.


"kenapa mas?."


"eum....kita...sarapan disini saja."

__ADS_1


"loh,kenapa?."


"eum aku sakit perut."


seketika wajah Belva berubah khawatir,ia mendekatiku dan meraih tanganku, memijit2 telapak tanganku di ruas2 jariku,aku jadi merasa bersalah padanya karna berbohong.


"mas gak apa2? apa perlu kita kerumah sakit?."


"gak perlu,mungkin aku hanya...belum sarapan saja." bohong lagi,tapi aku suka Belva didekatku,harum tubuhnya khas dan membuatku nyaman.


"biar saya telfon pelayan agar mengantar sarapan kita kesini dengan cepat,apa mas punya sakit magh? atau sakit lambung lainnya? mas gak boleh telat makan kalau gitu."


aku sedikit terkekeh kecil,sambil melihat Belva yg memijit tuts telfon di nakas dekat dengan kami berdiri tadi,setelah menelfon dan memesan makanan kami ia kembali mendekat denganku dan memijit2 ruas jari2 ku lagi,aku menatapnya lembut,rambutnya terurai hitam lebat dan legam,dia sangat cantik,aku tidak berbohong soal itu.


"apa masih sakit?." tukasnya


"saya akan buatkan sarapan setiap pagi nanti, supaya mas gak sakit perut begini, biasanya jam berapa mas sarapan?."


aku tergagap sebentar,sambil berfikir harus jawab jam berapa,karna kenyataannya aku tidak pernah sarapan jika akan bekerja.


"sebelum berangkat kekantor."


"jam berapa mas berangkat ke kantor?."


"eummm...jam 8."


"oh." memijit lagi,dia polos sekali,aku masih terus tersenyum menatap wajahnya, lalu terdengar ketukan pintu,pertanda sarapan kami sudah datang.

__ADS_1


"kita akan pulang sore ini." ucapku sambil memakan sarapanku,Belva di hadapanku mengangguk,ia mengunyah dengan sangat lembut.


"iya mas."


"oh ya,kita akan tinggal dirumah baru, rumah itu punyaku,emang gak besar kayak rumah mamih,tapi cukup minimalis buat kita berdua, ajak nenek juga tinggal bersama kita ya."


"nenek gak mau mas,nenek sudah pulang ke Bandung tinggal sama bibi."


"loh kenapa? kok gak bilang?."


"saya sudah ajak nenek buat tinggal sama kita,tapi nenek bilang kasihan bibi tinggal cuma sama anak2nya di rumah Bandung karna suaminyakan pelayaran jadi gak pulang2,setahun cuma 3 samapi 4 kali bisa pulang kerumah,nenek tinggal disini juga karna saya,kasihan tinggal sendirian katanya karna saya kerja takut gak ada yg urus waktu itu."


"terus rumah nenek yg disini sekarang bakal kosong?."


"iya,sebenarnya itu rumah peninggalan orang tua saya,kata nenek itu satu2nya yg bisa mereka kasih ke saya."


aku menatap mata Belva, mungkin ia sedih teringat mendiang orang tuanya,sorotnya nampak redup,aku jadi merasa bersalah karna membahasnya.


"gimana kalo kamu sewain ajah rumah itu, biar ada yg rawat dan gak kosong banget saat kamu gak lagi tinggal disana,itu bisa...


"gak."


aku kaget dia memotong kalimatku yg belum selesai dengan tegas,matanya menatapku tapi ia sadar telah membuatku kaget,jadi ia langsung menundukkan kepalanya menghindari tatapanku.


"maaf mas,bukan maksud memotong,tapi...rumah itu bagi saya kenangan saya satu2nya bersama orang tua saya,saya gak mau menyewakan apa lagi menjualnya untuk orang lain, lagipula rumah itu tempat saya pulang nanti jika kita berpisah."


Aku membelalak terperanjat dari dudukku, kursiku sedikit bergeser karna terkejut mendengar kata2 itu, Belva...apa yg dia fikirkan sebenarnya? kenapa membicarakan perpisahan di baru dua hari saja pernikahan kita,entah mengapa hatiku berdenyut mendengarnya,aku tidak suka,aku benci mendengar itu.

__ADS_1


***😔


__ADS_2