Love Is KAMU

Love Is KAMU
#24


__ADS_3

Pov Ali


"mas...


aku tidak menghiraukannya,hanya membanting pintu mobil dengan keras dan segera langkahku masuk kedalam rumah dengan wajahku yg masih terasa memanas.


aku tau Belva di belakangku mengikuti setiap langkahku,tapi sesampainya aku di dekat meja makan kami,aku meraih gelas,menuang air dan meminumnya sampai habis tanpa jeda,baru setelah itu aku menatapnya,menatap Belva yg berdiri di belakangku tadi dengan wajahnya yg menunduk takut.


"Apa? kau merasa bersalah? lain kali aku akan benar2 menghajarnya,kalau saja gak ada kak Bia aku akan memukulnya tadi,berani sekali dia memegang tanganmu didepan mataku."


aku berkacak pinggang,meluapkan sisa emosiku yg sempat ku tahan sejak tadi,bagaimana bisa pria itu sepede itu tadi, apa dia fikir Belva masih memiliki perasaan padanya?


aku menarik bibirku menjadi satu garis tegas, mengungkapkan rasa jengkelku pada situasi tadi,lalu ku perhatikan Belva yg masih diam tertunduk di hadapanku,apa aku harus memarahinya?aku yakin dia tidak ingin membuat situasi tadi menjadi rumit bukan?


"kenapa diam? harusnya kau menjelaskan sesuatu padaku."


"maaf mas...". pelan suaranya terdengar,ia hanya melirikku sebentar dan tertunduk lagi, apa yg sedang ia fikirkan?aku ingin sekali bisa membaca fikirannya saat ini.


aku mendekatinya,meraih tangannya dan mencengkramnya kuat,ia sedikit tersentak,demi apapun aku ingin sekali merobek kulit tangannya yg tadi disentuh tangan pria itu,aku menyeretnya ke depan westafel dapur kami,menyalakan kran air dan membasuh tangannya dengan kasar, aku juga menggosoknya dengan sabun cuci tangan disana,kepalaku masih pusing dengan emosiku yg masih mengendap,dadaku masih terasa panas karna cemburu,ya...aku cemburu dan sakit hati dengan kata2 lelaki itu yg percaya diri sekali tadi.sial.


aku mengelapnya dengan wajah dingin tanpa suara,aku tau Belva menatapku berkaca2, tidak ada suara yg keluar dari mulutnya,dan aku semakin kesal karna diamnya itu tidak menjelaskan apa2 pada pemikiranku.


"bicaralah,dan jelaskan padaku apa yg terjadi? kenapa dia sampai menggenggam tanganmu."


"maaf."


"kenapa kau terus meminta maaf,memang apa kesalahanmu?."

__ADS_1


"mas...aku bersalah,karna membiarkan dia memegang tanganku,aku salah karna aku bicara dengannya tanpa memberitahumu, maafkan aku atas kecerobohanku,aku.... eummmmhhmmhh...


kata2nya berhenti,aku tidak ingin mendengarnya berkata2 lagi,aku memagut bibirnya dengan dalam dan sedikit kasar, menekan kepalanya dengan tanganku agar kami semakin erat dalam ciuman itu,tidak ada yg bisa ia lakukan lagi selain membalas cumbuanku,aku mendorongnya sampai merapat didinding dekat pintu kamar kami, cukup lama aku tak melepas ciuman ini,hingga aku menyadari Belva kehabisan oksigen di mulutnya,nafasnya tersengal,kedua tangannya mencengkram baju bagian dadaku.


"jangan mengkhianatiku Bel,aku bersumpah akan membunuhnya jika itu terjadi."


nafas kami saling memburu saat aku melepas ciuman itu,aku menempelkan kening kami saling bersentuhan, lalu tangannya melingkar di leherku,ia mengecup bibirku yg masih sangat hangat bekas pagutan tadi.


"bagaimana mungkin aku mengkhianatimu mas,seharian ini di kepalaku terus berputar2 wajahmu."


"kau memikirkanku? jangan berbohong."


"mau melihatnya?." dia tersenyum nakal, lihatlah tingkahnya yg nampak menggemaskan, seketika kemarahanku menjadi sejuk,kepalaku terasa ringan dan aku tersenyum menatapnya penuh menggoda.


"bagaimana caranya?." tantangku


bibirnya masih terenyum,tangannya mulai membuka 3 kancing baju kemeja putihnya yg langsung menunjukan belahan dadanya yg manis,mataku tertuju kesana,ada kabut menyelimuti pandanganku,sesuatu di dalam sana memang sudah tidak asing lagi bagiku, itu cukup besar dan pepat,sangat pas di genggaman tanganku,tetap saja,aku tidak bisa menahan gairahku untuk tidak menyentuhnya bahkan meremasnya dengan gemas, Belva selalu menunjukan sisi menggodanya padaku.


aku mengangkat tubuhnya? mencium kembali bibirnya yg ranum dan kenyal, berjalan membawanya kedalam kamar,menutup pintu dengan dorongan satu kakiku,meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur kami,masih sambil menciumnya,dengan tanganku bermain di atas gumpalan kenyal itu,dia melenguh, dan itu membuat aku semakin bergairah mendengarnya.


"aku mencintaimu Bel,jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku,aku bisa gila jika kau tidak ada."


dia tidak menjawabku,hanya terus menggeliat gelisah karna sentuhan2ku,aku menyesap di bagian lehernya,menyisakan jejak merah keunguan disana,selanjutnya ia menarik baju ku dengan satu kali tarikan,menyentuh dadaku dan merabanya dengan sembarang, matanya sama2 berkabut,dan aku tau kami sangat menginginkannya,aku menghirup bagian belahan dadanya,menciuminya dengan rakus, jemarinya mencengkram rambutku, suara lenguhannya semakin sering dan keras.


"mass..shh..


#

__ADS_1


"jadi mas datang dengan kak Bia karna mengantar kak Bia untuk bertemu dengan pak Rian?."


Belva masih dalam pelukanku,aku mendekapnya dengan erat,melingkarkan kedua lenganku menenggelamkan tubuhnya ditubuhku,aku menciumi puncak kepalanya yg harum,punggung halusnya menempel di dadaku dengan hangat.


"hm,kata kak Bia dia akan bertemu orang yg dia bicarakan padaku waktu dirumah itu,aku juga gak tau kalau pria itu yg di maksud kak Bia,cih aku kesal jika mengingatnya."


aku semakin mengeratkan dekapanku,selimut yg menutupi sebagian tubuh kami sedikit merosot karna aku terus bergerak menyentuh tubuh Belva kebagian lain,tubuh kami yg polos hanya selimut tebal yg di genggam Belva untuk menghangatkan dan menutupi sebagian dadanya.


"maksud mas? kak Bia suka sama pak Rian?."


dia memutar tubuhnya,menatapku yg masih memeluknya.


"kenapa? kau penasaran dengan itu? tidak rela kalau ternyata itu benar?."


"bukan ih, kalaupun benar ya tidak apa2,tapi apa mas baik2 saja kalau dia jadi kakak ipar?".


"jangan mimpi." aku bersungut dan Belva tersenyum meledekku,ia lalu mengecupku sekilas, melingkarkan tangannya ke tubuhku dan meletakkan kepalanya didadaku.


"aku juga baru tau kalau peran figuran yg katanya model itu adalah kak Bia, mungkin mereka hanya sekedar membicarakan pekerjaan."


"figuran? apa maksudnya?."


mengalirlah penjelasan dari mulut Belva tentang projek barunya yg didapat dari tempatnya bekerja, dan yg membuatku semakin tak rela adalah kenyataan bahwa webseriesnya akan syuting di luar kota selama 14 hari, memisahkan aku dan Belva, itu bukan ide yg bagus,aku tidak ingin berpisah dengan istriku apa lagi membiarkannya dengan mantannya yg sepertinya belum move on itu.


tapi aku mencoba menatap matanya yg sangat bersemangat menjelaskan tentang projek pekerjaannya itu,mata itu berbinar dan aku tau Belva menginginkannya.


"aku akan keluar dari tim, aku akan disini saja bersama mas." tuturnya mengakhiri penjelasannya, ia lalu memelukku lagi,tapi sekilas ada redup di mata itu,ah...Belva, kenapa sulit sekali mengikatmu didekatku, mengiyakannya hanya akan membuatku gelisah dan tidak tenang memikirkannya, sedangkan menahannya disini juga aku tidak ingin melihat wajah itu, wajah yg sedih dan merasa di kekang oleh keegoisanku semata, aku hanya ingin membuatmu bahagia.

__ADS_1


***😌


__ADS_2