
Selepas sarapan yg mendadak bikin aku kesal itu,aku tidak mengatakan apa2 pada Belva, aku benci untuk membahasnya,aku juga benci mengingat keadaan kami.
benar memang,aku menikahinya karna jalan satu2nya aku bisa membalas sakit hatiku atas pengkhianatan Citra padaku,dan aku juga tidak tau apakah aku bisa menyukai Belva seperti aku menyukai Citra dulu, mungkin tidak ada rasa cinta diantara kita saat ini,tapi...haruskah itu di pertegas dengan perpisahan? aku belum berfikir sejauh itu dan Belva malah sudah mempersiapkan hal itu, jujur aku kecewa tapi...Belva juga tidak salah, dia hanya mempersiapkan dirinya untuk kecewa padaku kelak bukan? aku yg tidak bisa menjanjikan apa2 padanya, merasa aku laki2 paling bodoh dan egois sedunia.
"mas,mau keluar gak?."
suara di balik punggungku itu menyadarkan dari lamunanku sejak tadi,aku memang sedang berbaring di tempat tidur,berselimut tebal dan memiringkan badanku kearah membelakangi Belva,aku menghindari tatapan matanya.
"perut mas baik2 aja kan? apa masih sakit?."
ia menyentuh punggungku,itu sangat hangat dan membuat aku tidak tega untuk cuek dan mendiamkannya.
"Bel?, kita baru menikah 2 hari loh." tukasku tanpa membalikkan badan menatapnya, tapi aku bisa mendengar tarikan nafas halusnya, aku membayangkan wajahnya yg murung dan berusaha tegar disana.
"iya mas,maaf."
jawabannya terdengar pelan dan mengandung kesedihan,aku jadi berbalik untuk menatapnya,melihat ekspresi itu dengan sangat kecewa.
"jadi kamu udah tau kesalahan kamu?."
aku menatapnya sedikit memelototinya, memberi tahu ketidaksukaanku pada kata2nya yg beberapa waktu di ucapkannya,ia mengangguk lemah,aku menarik nafas lega, ya...setidaknya aku tau dia sepeka itu.
"saya gak akan menyentuh mas lagi tanpa ijin dari mas Al."
shit,aku tarik kata2ku barusan,aku yg tadinya sudah merasa lega jadi kembali kecewa dengan kata2nya,apa dia bilang? menyentuhku tanpa seiijinku? maksudnya dia fikir aku marah karna disentuhnya?
__ADS_1
"Bel,kamu naif atau bodoh sih?".
akhirnya aku kesal sendiri, bangkit dari tiduranku lalu pergi mengambil minum,menenggaknya dengan kasar,yg ku lihat sepanjang aktifitasku itu Belva hanya tertunduk dan diam.
"nanti kita bicara lagi, ayo jalan2 sebelum pulang,lagian sudah beberes semuakan? ."
dia mengangkat kepalanya,menatapku heran dan sedikit takut yg tersisa tadi,perasaan sialan ini terus membuatku merasa kasihan dan haru padanya,ada apa sebenarnya dengan hatiku yg bodoh ini.
#
kami berjalan2 sampai menjelang siang, kami pergi ke mall terdekat,icip2 jajanan di pinggir jalan dan bermain ke taman dekat hotel melihat2 anak2 yg bertamasya sebentar dengan orang tuanya,sepanjang itu,aku menatap Belva yg tertawa dan tersenyum gembira,sepertinya ia senang sekali bisa keluar dan jalan2 santai seperti ini, aku tidak tahu kapan terakhir kali ia berlibur,aku tahu hidupnya mungkin berat tanpa orang tua, hanya berdua dengan neneknya bukankah sangat sepi? ah...aku jadi kangen mamih, kak Denisha,Gio,dan kak Bia,dirumah selalu mereka yg bikin huru hara kalo lagi ngumpul, apa lagi aku selalu kalah dengan mereka hanya dengan perkara nonton tv.
"Bel,nanti kamu tetep kerja atau mau dirumah aja? aku gak maksa kok kalo kamu mau kerja atau dirumah aja,biar aku yang cari uang, kan tugas suami cari nafkah,tapi kalo kamu mau sambil kerja juga gak apa2,simpan uang kamu buat yg lain, kebutuhan kamu tetep aku yg memenuhi."
kami sedang duduk di kursi taman yg menghadap kedanau saat obrolan itu terjadi, Belva menatap air yg tenang di ujung sana dengan sangat lekat,entah apa yg ada difikiran gadis itu.
aku berkernyit,tak mengerti dengan kata2nya.
"maksudnya?."
"sayakan cuma ngedit,sesekali revisi naskah atau alur buku,paling beberapa kali harus kekantor untuk cek atau lapor presentasi, kerjaan saya tetep bisa di kerjain di rumah pake laptop."
"berapa jam kamu kalo kerja?."
"bebas sih,tergantung didline,tapi kalo waktu penyerahannya masih lama ya..aku kadang bisa sambil ngopi2 didepan laptop."
__ADS_1
dia tersenyum dan itu sangat manis bagiku, emang dasar ya aku ini,sepertinya mudah sekali hatiku berdebar karna wanita,gak boleh kagum sedikit jadi kebawa suasana,dan bersyukurnya itu aku lakukan pada istriku sendiri sekarang.
"kamu mau honeymoon kemana setelah ini?."
iseng aku bertanya,ingin lihat reaksi dia bagaimana menanggapi hal ini, tapi aku kecewa,karna dia menjawabnya sedikit lama, ada beberapa detik jeda keheningan diantara kami,sinar matanya nampak redup,ia seperti takut-takut menyampaikan suaranya padaku.
"soal itu...eumm..apa bisa kita bicarakan dulu mas?saya...sepertinya belum siap untuk...
"aku tau." tukasku cepat,dia menatapku,dan aku mengalihkan tatapanku pada air danau di ujung sana yg berkilau karna terpapar sinar matahari.
"maaf mas." suaranya lemah,lagi2 dia menunjukan kelemahannya dan memancing rasa kasihanku padanya.
"gak apa2 Bel,aku tau ini terlalu cepat dan aneh untuk kita berdua,jadi kita lakukan pelan2 saja,aku juga sepertinya belum siap untuk itu."
apa sih yang aku katakan barusan? belum siap untuk itu? "itu" yang di maksud adalah hal yg paling lelaki tunggu2 setelah melewati pernikahan bukan? aku masih normal dan hormonku sedang gila2nya saat situasi dan kondisi ini mendukung,tapi...sial,aku menyesali kata2ku barusan.
angin nampak sejuk menampar2 wajah kami yg sekali lagi duduk dalam kebisuan,aku sedang berfikir bagaimana semestinya memperlakukan Belva,apa kami seperti teman saja? atau seperti orang asing saja? padahal aku tidak ingin melakukan keduanya,kami menikah,dan akan tinggal bersama,aku berhak atas dirinya dan kehidupannya,apapun yg akan aku lakukan padanya adalah seutuhnya milikku.
"ayo pulang mas,sebentar lagi ashar,kita kan mau cekout."
Belva berdiri dan berjalan pelan meninggalkanku yg masih terduduk dan menatap punggungnya,aku tersenyum kecil,bahkan hanya melihat bahunya aku ingin sekali menariknya kedekapanku,shit...apa aku sudah jatuh cinta padanya.
"ayo makan dulu di lobi hotel,aku lapar nanti."
tukasku seraya mengejarnya,kini kami berjalan bersisian,lagi2 dengan kebisuan, kadang aku kesal dengannya,dipikir2 setiap bicara atau mengobrol selalu aku yg bertanya duluan,selalu aku yg banyak bicara,apa dia tidak ingin bertanya sesuatu padaku? bahkan sampai saat ini Belva tidak bertanya alasanku kenapa tiba2 memutuskan menikahinya setelah sempat aku menolaknya,apa dia benar2 tidak tertarik denganku? atau aku yg memang tidak punya daya tarik sebagai seorang suami? seketika aku ingin bertanya apakah hatinya berdebar juga sepertiku saat malam pertama kali kami saling tidur di satu ranjang?
__ADS_1
***🙄