
Akhirnya kami berada dirumah kami, ya..rumah kecil minimalis di komplek sederhana ini adalah tempat yg sudah aku sediakan jauh sebelum aku berencana menikah, dulu mamih memaksa aku untuk nyicil beli rumah saat gaji pertamaku turun, tapi aku tidak mendengarkan mamih, untuk apa beli rumah kalau rumah mamih juga sebesar itu,tapi..mamih selalu menasehatiku jika rumah itu kelak akan menjadi tabunganmu dengan keluarga kecilmu saat menikah nanti,bukan mamih gak mau menantunya tinggal bersama dengan kami tapi kata mamih demi kedamaian rumah tangga anaknya sendiri nanti juga aku akan mengerti katanya.
alhasil mamih yg akhirnya mengurus2 pembelian rumah ini tanpa sepengetahuanku, ia mengelola uang yang ku berikan padanya untuk membeli rumah ini,sampai akhirnya lunas dan beres dengan surat2nya, mamih menyerahkan kunci rumah padaku,ah mamih selalu begitu,ia terlatih mandiri sekali sejak di tinggal papih.
"mas." panggilan itu terdengar halus,aku menoleh pada Belva yg masih menggenggam kopernya berdiri di ruang tengah.
"gimana,kamu suka?."
aku tetsenyum mendekatinya,tapi aku tidak melihat apa2 di tatapan matanya,kenapa sih dia selalu membuat aku menebak2 apa yg sedang ada di fikirannya.
"suka mas,tapi biar saya tidur di kamar atas saja, mas bisa tidur di kamar utama."
hah? aku ternganga seketika,Belva benar2 berfikir di luar isi kepalaku,apa dia sedang memperhalus kata2nya untuk menyampaikan ketidakbersediaannya tidur denganku di satu kamar?
ini rumah minimalis yg belum pernah aku renofasi sama sekali,mamih hanya menyuruh mang Darlan tukang kebun dirumah sesekali datang untuk membersihkannya,bahkan sesekali membetulkan yg memang sudah harus di ganti, rumah ini memang hanya ada satu kamar utama yg cukup luas,halaman kecil di belakang dekat dapur yg rencananya inginku buat kebun minimalis agar ada penghijauannya disana,lalu kamar atas adalah loteng yg aku jadikan kamar kecil yang aku fikir nanti akan aku gunakan untuk bersantai2 bersama Kenzo saat kami senggang di hari kerja,apa aku sudah gila menempatkan Belva disana,belum lagi rumah ini tidak ada tangga dalam yg menghubungkannya ke kamar atas,hanya ada tangga besi di luar,jadi kalau mau kekamar atas ya harus lewat tangga besi itu.
"tidak Bel,biar aku yang di atas."
aku kesal,marah,tapi juga aku tidak ingin Belva merasa tidak nyaman padaku, lalu aku ingin segera keluar untuk menuju tempat yg disebut loteng itu,ku tarik koper besarku tapi Belva menahannya.
"mas."
"apa lagi? sudah di bagi kan,ini rumahku jadi terserah aku mau tidur dimana, masuk sana kekamarmu."
aku tau nadaku sinis dan sedikit menyentaknya,tapi kali ini aku benar2 tidak bisa lembut padanya,dia itu polos atau naif sih?
"baik mas."
ia menjawab ku cukup lama,lalu kami pergi ke kamar masing2,aku membanting koperku ke sudut,merebahkan tubuhku di tempat tidur kecil yg hanya muat satu badan saja,sial... aku kacau,aku merasa di tolak dan di abaikan oleh Belva.
__ADS_1
#
ini sudah sangat malam saat aku terbangun dan melihat jam di nakas kecil dekat koperku yg masih teronggok di sudut sana,aku harus ke kamar mandi,sambil mencari2 handuk dalam koperku,aku lalu melangkah menuruni tangga untuk masuk kedalam menuju kamar mandi yg ada di dekat dapur,lalu aku mencium bau masakan,di atas meja di balik tudung saji,aku yakin Belva membuat sesuatu disana.
hampir tengah malam aku baru keluar kamar mandi,langkahku mendekat ke meja makan itu dan membuka tudung saji yg tadi jadi pantauanku,ada udang goreng tepung, semangkuk sup,dan tempe goreng,tidak lupa sambal yg terlihat enak di mangkuk kecil itu, aku jadi ingin makan padahal tadi aku merasa tidak lapar,akhirnya aku mengambil piring,menyendok nasi di pemanas dan...
klek,hendel pintu kamar utama di putar, Belva dengan piama tidurnya menyambul disana.
"mau saya panaskan makanannya mas? sepertinya sudah sangat dingin."
"gak perlu, kamu udah makan?."
"sudah mas,maaf saya gak menunggu mas turun,saya fikir mas sangat lelah jadi saya gak berani bangunin mas ke atas."
aku tersenyum kecut sambil menyuap makananku,hmm...ternyata dia pintar masak ya,ini enak dan bikin aku ingin terus menyuap lagi dan lagi.
"sini duduk."
"Bel, kita ini udh sah jadi suami istri, jdi aku harap kamu mengubah bicaramu padaku, jangan terlalu formal dan...bertanyalah jika ada yg ingin kamu tanyakan padaku, bukan hanya hal2 pendek seperti sudah makan belum? sakit tidak? atau apalah,aku mau kamu terbuka padaku,tanyai aku apapun yg ingin kamu ketahui dariku, perkenalan kita yg singkat,aku fikir kau harus bertanya soal pribadiku,kebiasaanku atau apapun itu."
"termasuk hal yang sangat sensitif buat mas Al? apa boleh?."
aku terdiam,menatap matanya,kami saling menatap dan menunggu siapa kali ini yg bicara duluan.
"tentu,tanyalah,apa yg ingin kau ketahui?."
"bagaimana hubungan mas dengan kekasih mas Al?kenapa tiba2 menerima pernikahan ini?."
akhirnya dia bertanya, dalam hati aku bersorak,setidaknya dia bukan gadis gunung es seperti yg aku gambarkan di kepalaku.
__ADS_1
"kami putus."
"kenapa?."
nah,itu alasannya,apa aku harus cerita padanya kalau aku di khianati? lama aku diam dan ketika aku ingin buka mulut Belva nampak menghela nafas berat,seperti kecewa dengan sesuatu.
"saya tau,karna kami bertemu sebelum pernikahan kita terjadi."
"Apa? bertemu siapa?."
"Citra,kekasih mas Al."
aku membelalak,seketika itu aku menatap Belva dengan lekat,kenapa? kenapa ia tidak bilang dan kenapa seolah2 ia biasa saja dengan itu?.
"apa yg dia katakan?." aku menarik nafas, meneguk air di gelas yg sudah tersedia sejak tadi di dekat piring makanku,manatap Belva lekat sambil membaca raut wajahnya yg ingin ku lihat.
"tidak ada,dia bilang tidak akan melepaskan mas Al sampai kapanpun, karna kalian hanya belum dapat restu dari bu Anita,pernikahan ini tidak akan lama dan dia berjanji akan mempertahankan mas Al,adanya pernikahan inipun karna mas Al tidak ingin bu Anita marah dan kecewa pada mas Al,dia bilang ini salah satu dan rencana kalian memperjuangkan restu dari bu Anita."
tanganku mengepal, Citra mengancam sebanyak itu dia bilang tidak ada yg di katakan? aku benar2 tidak bisa membaca fikiran Belva,dia itu gadis macam apa sebenarnya?
"kau itu bodoh ya? kau percaya apa yg di katakannya?."
"bukan percaya,tapi saya ragu."
"apa yg membuatmu ragu."
"karna mas Al tidak mencintai saya,jadi saya ragu,harus percaya atau tidak dengan kata2nya."
dia menamparku dengan kasat mata, kata2 itu,penekanan kata dari tidak mencintai itu membuatku lemas seketika,benar...aku memang belum sepenuhnya mengungkapkan kata2 itu dengan mulutku sendiri terhadap Belva,tapi...apa dia tidak melihatnya?
__ADS_1
***🤨