Love Is KAMU

Love Is KAMU
#21


__ADS_3

Pov Ali


wajah cantik itu menyambul di balik pintu,ia tersenyum manis menyambutku setiap hari, kaca mata dan rambut cepolnya yg ngasal membuat dia seperti wanita rumahan pada umumnya,kaos kebesarannya dan celana pendeknya, benar2 membuatku tidak habis fikir, kenapa dimataku dia selalu terlihat cantik, apapun penampilannya.


"thank you." tukasnya, seraya mengambil buket kecil bunga yg aku bawa saat pulang ngantor tadi,beberapa hari ini aku memang senang membeli sesuatu untuknya.


dia menciumnya sebentar,sambil berjalan ke arah dapur, mengambil vas bunga yg kosong,mengisinya dengan air dan memasukan bunga itu kesana,bibirnya masih tersenyum menatapku dan bunganya bergantian.


"kopi." tunjuknya keatas meja makan, aku mengangguk kecil dan berjalan menghampirinya sambil menarik ikatan dasiku yg sudah mengendur tadi,Belva meraihku,menyentuh bagian kepala dasi itu dan melepasnya,sedangkan aku melingkarkan tanganku memeluk pinggang kecilnya.


"mau makan malam di luar?".


aku mengecup pipinya sekilas,tercium wangi khas Belva yg sangat aku suka.


"no, mamih mengundang kita makan malam dirumah."


"kapan? kok gak ada yg ngabarin aku."


"baru saja,5 menit sebelum mas sampai, jadi cepat mandi,kita berangkat habis maghrib."


ia membuka 3 kancing teratas kemejaku, lalu mengusap dadaku dengan kedua telapak tangannya yg hangat, aku tersenyum nakal, membuat wajahnya memerah.


"tidak ingin membuka semua?."


"mas bisa melakukan sisanya."


"tidak penasaran?." godaku, semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"apa?."


"isi dibalik kancingnya."


Belva menarik kedua bibirnya menjadi satu garis tegas,wajahnya semakin memerah sampai ketelinganya,dan itu pemandangan yg sangat manis bagiku.


"usaha yg bagus mas,tapi anda kurang beruntung hari ini."


"kenapa?." aku bekernyit


"aku baru saja datang bulan."


senyumku menghilang,tiba2 saja sepertinya rencanaku gagal,ia tersenyum sambil menyentuh pipiku dengan tangannya yg halus.


"kau kecewa?."


"No,aku hanya sedikit bete mengingat lamanya menunggu fase itu."


"apa yg biasanya mas lakukan selama menunggu?." Belva menyentuh kancing baju lagi,membukanya satu persatu lagi, membuat aku menatapnya dengan gemas.

__ADS_1


"emm,memikirkanmu,dan....


aku menarik garis senyum nakal,menatapnya yg menatapku dengan menyipitkan matanya.


"dan apa?."


"apa yg kamu fikirkan?."


"memangnya apa yg aku fikirkan?."


"kau ingin kita membahasnya tanpa sensor?."


aku tergelak kecil, kancing kemejaku telah lepas semua,Belva berdecak kecil,ia lalu mendorongku halus untuk menyuruhku cepat pergi kekamar mandi.


"kita akan terlambat nanti."


"tidak ingin memandikanku?."


aku menggodanya lagi,kali ini aku mengerlingkan mata,ia terkekeh kecil,mengibaskan tangannya mengusirku dengan jenaka.


Belvanaku yg manis.


#


"jangan menatap gue begitu."


itulah arti tatapanku saat kak Bia akhirnya bersuara dengan judes khas bicaranya yg menyebalkan.


"kok loe bisa sama kak Bia Ken? ada apa?."


tukasku pada akhirnya saat Kenzo menyalami tangan mamih dan duduk di kursi dekat Gio, kak Bia sendiri sudah hilang di balik pintu kamarnya.


Ken menyebik dan menaikkan punggungnya, dengan tidak tau malunya ia menyendok nasi ingin ikut makan bersama.


"Belva,tolong donk ayamnya." ia menyodorkan piringnya ke arah Belva istriku,memang piring ayam goreng itu dekat dengan Belva,tapi setidaknya dia tidak mengabaikan pertanyaanku.


"ambil sendiri." tukas Belva sambil terus menyuap makanannya.


"kan jauh Bel."


"heh,Ken,elu kan bisa bangun dulu buat jalan ngambil,males banget sih udah numpang makan gratis juga."


aku misuh2,pada akhirnya Ken bangun dan mengambil potongan ayam gorengnya sendiri.


"kenapa Bia Ken? kok bisa bareng kamu?."


mamih bersuara juga, aku lihat Gio sudah selesai di suapi.

__ADS_1


"gak tau mih,nanti tanya aja sama anak perawan mamih,aku ketemu dia lagi jalan kaki di pinggir jalan."


sambil menyuap makanannya Kenzo melirikku yg menatapnya sinis,ia tau aku pasti marah karna gak jawab pertanyaanku malah mamih di jawab duluan,tapi yg membuat aku penasaran ialah kak Bia yg ternyata tidak turun lagi untuk bergabung hingga makan malam kami selesai.


Belva sedang asik di kamar Gio,mamih menyuruhku menghampiri kak Bia kekamarnya karna ada beberapa bisnis yg ingin ia bicarakan dengan kak icha,aku menurut,kulirik Kenzo yg masih rebahan di sofa ruang tv sambil mainin hp di tangannya.


"kak Bia,aku masuk ya."


aku mendorong pintu kamarnya yg tidak terkunci, langsung terlihat kak Bia duduk menatap jendela kamarny yg terbuka,ia duduk didekat jendela itu dengan rokok mengepul di mulutnya dan jari tangannya yg mengapit benda kecil panjang berasap itu.


aku menghela nafas pelan,dengan melihatnya saja aku tau kak Bia sedang menghadapi masalah,dia akan merokok jika isi kepalanya sedang kacau dan moodnya tidak baik.


"ada apa?." ucapku saat duduk di hadapannya, suara tegasku tidak mampu mengalihkan pandangannya keluar jendela yg gelap karna malam.


"gak ada apa2,hal kecil lah,besok juga gue udah lupain."


"cerita,atau gue kasih tau mamih."


"lemes lu ya,Belva tau gak kalo bibir lu kayak perempuan?."


"dia lebih tau rasanya di banding fungsinya."


aku terkekeh,kak Bia menarik garis bibir atasnya dengan ekspresi menjijikan,ia lalu menghisap rokoknya lagi dan menghembuskannya dengan kenikmatan yg hanya dia yg tau dan rasakan.


"gue naksir cowok, tapi kayaknya gue di tolak."


"hah?."


aku melongo,gak mungkin,kak Bia hanya dengan masalah seperti itu harus menghisap rokok,tidak,dia bukan kak Bia,kakakku yg aku kenal tidak serendah itu.


"gue gak bakal ngulang dua kali bodoh, dan gue gak akan bertele2 tentang itu,apa yg elu denger barusan nyata,gue lagi suka sama cowok satu bulanan ini."


"siapa?."


"adalah,elu juga gak kenal."


"kenapa elo bilang elo bakal di tolak?."


"dia masih menyimpan cinta lamanya, dan sepertinya mereka bakal balikan."


"kata siapa?."


kak Bia menggedikkan bahunya, tatapannya kembali pada langit di balik jendela, ia tidak sedih,tapi aku tau ia bersungguh-sungguh soal perasaannya,ya...kak Bia tidak pandai menyembunyikan perasaannya pada seseorang,ia akan bilang suka bila suka dan tidak jika memang tidak.


siapapun laki2 itu,entah pria yg bagaimana aku tak tau,tapi...aku harap dia menyesal jika menolak kakak ku yg satu ini, kak Bia yg cantik, super model tapi kadang barbar,bagiku,dia kakakku yg unik.


***😅

__ADS_1


__ADS_2