Love Is KAMU

Love Is KAMU
#18


__ADS_3

ponsel di genggaman Ali bergetar,ia masih mencari,bertanya kesana kemari,bahkan ia kembali ketempat dimana jalan yg mereka susuri kini nampak sepi karna hari menggelap, Ali frustasi,ia harus menghubungi seseorang tapi ia tidak tau siapa,hilangnya Belva belum 24 jam dan ia tidak bisa lapor ke kantor polisi.


ponselnya bergetar lagi,ia mengangkatnya tanpa melihat siapa nama yg tertera disana, fikirannya seakan buntu dan lelah menyerangnya saat ia terduduk dikursi yg sama seharian ini.


"hallo? oh elo Ken,apa? iya gue di Bali,oh..jadi loe nemenin boss kesini juga,sorry Ken...gue sedang tidak bisa ngomong lama2 di telfon karna...APA? darimana elo tau gue sedang mencari Belva?tunggu gue,gue kesana sekarang."


klik ponselnya di matikan,ada yg tidak beres, Ali meyakini itu,di tambah harus Kenzo orangnya, kenapa? kenapa harus sahabatnya sendiri, fikirnya.


dengan debaran yg memanas dan fikiran yg kusut,Ali mendatangi tempat yg alamatnya dikirimkan Kenzo,cukup jauh dari letak hotelnya, Ali turun dari taxi dengan sangat tergesa,ia mengepalkan tangannya kuat2 saat membaca nama motel di bagian depan gedung itu,punggungnya membara,kepalanya seperti ingin meledak karna tidak bisa mencerna apa yg sebenarnya terjadi.


"Al." panggilan itu dari Kenzo yg hendak menghampirinya di pelataran lobi motel,langkah itu ia percepat dengan kemarahan yg meradang di dadanya.


Bugh, Kenzo terkena bogem mentah dari kepalan tangan Ali yg sangat kuat, sudut bibirnya memar seketika.


"shit....". Kenzo meringis,ia menyantuh pipinya yg berdenyut sakit.


"apa loe sedang mengkhianati gue sekarang? Hah? gue bahkan memperingatkan elo berkali kali Ken,Belva sekarang istri gue."


kemarahan itu meradang, kerah kemeja Kenzo di tarik dan di cengkram kuat oleh Ali yg dibutakan cemburu.


"iya gue tau dia istri loe sekarang, makanya gue kasih loe kabar biar loe bisa jagain istri loe dengan benar Al,mending loe ketemuan dulu deh sama dia,biar loe tau ceritanya gimana."


"ada apa sebenarnya? kenapa dia tiba2 menghilang?."


cengkraman itu mengendur,Kenzo menghirup udara yg sempat sesak tadi,Ali limbung sejenak dengan langkahnya,sinar redup di matanya membuat Kenzo tidak tega untuk memukul balik atas balasan perih di sudut bibirnya,mereka akhirnya menarik nafas,kini sebisa mungkin Ali harus kuat,ia harus bertanya permasalahannya.


tok..tok..tok...


tiga ketukan sudah membuat pintu itu berderik, wajah Belva yg nampak kusut dan sayu karna gelisah tidak bisa tidur tiba2 menatap wajah di hadapannya dengan kemarahan yg tiba2 datang di balik tubuhnya.


"dasar pengkhianat." ucapannya itu ia tunjukan pada Kenzo yg lalu tertawa kecut di sebelah Ali berdiri.

__ADS_1


"cih,kalian berdua benar2 serasi ya,punya penilaian yg sama saat kesal denganku, terserahlah,aku sudah bilang ancamanmu bukan apa2 buatku Bel,aku lebih takut di penggal dia hidup2 ketimbang di bunuh wanita lemah sepertimu,jadi..selesaikan urusan kalian."


Kenzo meninggalkan dua manusia yg saling menatap sinis dan marah,helaan nafas Ali sampai terdengar ketelinga Belva yg sejak tadi menelusuri penampilan suaminya,sepertinya suaminya itu belum berganti pakaian,karna ia melihat pakaian yg masih sama sejak pagi tadi, padahal ini sudah malam,apa dia juga lupa makan? terka Belva.


"ada apa?." Ali memulai,meski dengan menahan kemarahannya,rasanya tidak sabar untuk mengetahui semuanya dari mulut istrinya itu.


Belva mundur kedalam kamar,membiarkan Ali melangkah masuk,ia tau perbuatannya salah, tiba2 menghilang tidak akan menyelesaikan masalah yg berputar di kepalanya bukan?tapi... ia takut,ya...Belva hanya takut jika apa yg di katakan Citra benar adanya,ia takut saat bertanya kepada suaminya bahwa lelaki itu akan mengangguk mengiyakan semuanya, membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya lemas selemah itulah dirinya saat ini, ia sedang sangat bahagia dengan laki2 yg nampak mencintainya dengan tulus,tapi...jika kenyataannya berbalik,Belva menahan sesak didadanya karna hampir menangis.


"kau ingin aku mengulang pertanyaanku?."


kali ini suara itu meninggi,pintu kamarnya sudah tertutup rapat,mereka hanya berdua di dalam kamar yg tidak sebesar kamar hotel pilihan mamihnya,Belva menatap wajah Ali dengan kristal mengembang di pelupuknya.


"kau tidak mengecek hp mu? ada panggilan tidak terjawab disana,sudah aku bilang jangan berbohong padaku,jika hubunganmu dengannya belum selesai maka jangan menyentuhku."


air matanya jatuh,Belva tidak kuasa menahannya lagi,ia terduduk di sisi tempat tidur yg mungkin hanya muat untuk tubuhnya saja yg berbaring disana,Ali nampak berkernyit heran,ia mengecek hp di genggamannya.


Benar,jadi karna itu,dan Ali benar2 lupa untuk menghapus nomor ponsel mantan kekasihnya itu,ia menghela nafas,langkahnya memberanikan diri mendekat,ia berjongkok tepat di depan Belva yg menangis terisak, mata itu menyusuri wajah istrinya yg tersembunyi di balik rambutnya yg kini berhamburan kedepan wajahnya.


tangan Ali menyibak rambut Belva dan menyelipkannya di balik telinga yg memerah itu, Belva mencoba menatapnya,mata mereka saling bertemu,lalu genggaman tangan Ali menghangatkan hati Belva yg nampak masih berguncang.


"jangan berbohong mas, aku bersumpah akan lari lebih jauh lagi jika semua perkataan Citra padaku itu benar."


seketika Ali terperanjat,ia berkernyit menerka2 sesuatu,mendalami arti kata2 kalimat yg barusan di lontarkan istrinya untuk dirinya.


"apa kau bertemu Citra? kapan? dimana? kenapa kau tidak bilang padaku? apa yg dia bicarakan? apa dia mengancammu? sayang...aku bersumpah tidak pernah menghubunginya lagi,kau bisa cek terakhir isi pesanku padanya,kau juga harus cek percakapan terakhirku dengannya lewat pesan singkat,bacalah dan lihat waktu dan tanggal pengirimnya juga,itu jauh sebelum kita memutuskan untuk menikah,aku mohon percayalah."


Ali menunjukan ponselnya,tapi Belva sudah menyeka air matanya,tangannya lalu menahannya untuk berbuat lebih pada bukti2 yg ingin ia tunjukkan.


"sudah Mas,aku percaya,maafkan aku sudah meragukanmu,maafkan aku mas karna meninggalkanmu tanpa bertanya,sesaat tadi aku hanya merasa takut,takut semua itu benar, aku berfikir semua kebahagiaan ini tidak nyata, aku fikir kau hanya menjadikan aku pelarianmu karna keterpaksaanmu agar menuruti kemauan mamih,aku fikir....


sssttt...pelukan hangat meraih kepala Belva dan Ali membenamkan wajah itu tepat di dadanya,usapan lembut itu menenangkan Belva,Ali terus menciumi puncak kepala istrinya dengan lembut dan sayang.

__ADS_1


pelukan yg berlanjut di atas ranjang,mereka memaksa tidur di tempat tidur yg hanya muat satu tubuh itu dengan posisi miring,Belva yg membelakangi Ali dan tangan suaminya itu melingkar penuh di tubuh istrinya.


"ceritakan semuanya sayang,kata2 citra yg menyakitkanmu,aku bersumpah akan membalasnya."


"tidak akan aku ceritakan kalau begitu,jangan membalasnya mas,setidaknya aku sudah tau dan yakin kau tidak serendah itu."


"serendah apa?memangnya dia bilang apa?."


Belva berbalik,ia ingin melihat kejujuran di mata suaminya yg dalam.


"kau tidak pernah tidur dengannya kan mas? aku mohon jangan berbohong,kau tidak menyentuhnyakan?selain aku istri sah mu,tidak adakan wanita manapun yg kau sentuh lebih dari istrimu?."


"APA? dia bilang begitu? bukankah itu keterlaluan,dia fikir aku serendah dia,tidak bisa aku biarkan,aku akan balas perlakuannya."


nyala api berkobar di matanya,pantas saja Belva sampai meninggalkannya,mulut Citra yang lihai sekali memprofokasi orang membuatnya geram,ah...Ali benar2 menyesal pernah mencintai gadis bermulut ular itu.


"mas...jangan begitu,aku tidak ingin kau terlibat apapun lagi dengan wanita itu,hentikan,yg penting aku tau kau tidak begitu."


pelukan erat serta hidung yg mengendus2 di dada Ali membuat pria itu tersenyum hangat, melihat tingkah istrinya yg menggemaskan itu rasanya luluh semua lelah dan frustasi di kepalanya,ia sadar,Belva adalah terapi paling ampuh bagi tubuhnya.


"kau tau,aku hampir gila kehilanganmu tadi, aku seperti ingin mati dan pergi kedunia lain jika benar2 aku tidak bisa menemukanmu."


"maafkan aku,dan jangan berfikir begitu lagi, sekarang aku hanya akan percaya padamu mas, maafkan aku belum bisa menjadi istrimu yg baik,aku mudah sekali terprovokasi ya?."


"jangan tiba2 menghilang lagi,aku bisa gila nanti."


"jangan bilang begitu mas..


lagi2 pelukan erat menghangatkan mereka, Ali hanya terus menciumi puncak kepla istrinya dengan lembut,hingga mereka terlelap dalam alam mimpi masing2,rasa nyaman dan harum dari tubuh Belva membuat Ali hidup kembali setelah tadi sempat layu dan redup.


***😌

__ADS_1


__ADS_2