Love Is KAMU

Love Is KAMU
#25


__ADS_3

Pov Author


"bagaimana? tertarik? bukankah kamu lihat sendiri,bukannya ini gak adil buat kita, mereka bahagia dari pengorbanan kita."


Citra nampak mengintimidasi,sedangkan Rian bersandar pada bahu kursinya,dua orang itu memang saling mengenal satu sama lain karna ternyata mereka masih berhubungan sepupu jauh,tapi yg awalnya mereka tidak seakrab itu untuk saling berbincang dan memgobrol layaknya saudara persepupuan,Citra datang mendekati Rian hanya untuk misi terselubung dendamnya dengan Ali.


"aku mencintai Belva tulus, jika dia bahagia, aku akan ikut bahagia untuknya,meski bukan denganku."


"bulshit, cinta itu harus saling memberi Rian, Ali dan aku butuh 3 thn bertahan,banyak memory yg kita berdua bangun sampai akhirnya orang asing merebutnya dariku, kau fikir itu adil?."


"Citra, aku gk tau apa yg membuat kalian berpisah, tapi...jika kau ingin merebutnya dari Belva aku tidak akan ikut campur, aku hanya akan datang untuk Belva, jika dia dilepas oleh Ali begitu saja demi kembali padamu, aku pastikan Belva tidak akan kuberikan pada siapapun lagi,satu yg ku pinta, jangan membuat Belva terluka,apapun rencanamu Cit."


Citra menatap Rian dengan kesal, tangannya sampai melipat di dada, ia tidak habis fikir dengan pemikiran bodoh laki2 di hadapannya ini, bagaimana bisa ia baik-baik saja setelah hubungan 5 tahunnya hancur begitu saja oleh orang asing yg merebut kekasihnya.


"kau terlalu naif Rian, dan terlalu bodoh untuk diam saja saat milikmu direbut orang,ah...semoga kau tersadar dengan segera Rian,kau lihat saja,Ali akan aku rebut dari wanita itu,karna aku tidak sebodoh dirimu."


Rian hanya menatap Citra yg pergi meninggalkannya dengan setengah fikirannya mengembara pada wajah yang jauh disana, ia galau,benarkah yg di bilang Citra? benarkah dia naif? sejujurnya ia sangat ingin merebut kembali Belva kesisinya tapi apakah Belva akan kembali juga mencintainya seperti dulu? bahkan ia mendengar jelas kata2 Belva yg menyatakan kalau hubungan mereka benar2 telah berakhir,dan ia tau gadis itu selalu dengan tegas mempertegas sikapnya.


lalu apakah ia harus menyerah? lagipula Belva kelihatannya bahagia dengan laki2 itu,harusnya ia sekarang bahagia melihatnya bukan? harusnya semua perasaan ini telah berakhir seperti yg di katakan Belva bukan?


Rian nampak kalut dengan fikirannya,ia harus mengakui jika cinta itu masih ada,tapi setidaknya jangan sampai membuat buta seperti Citra,ia tidak ingin menyakitinya, Belva hanya akan menjadi kenangan bahagia untuknya.


#


Pov Ali


Aku baru saja mematikan ponselku dari panggilan pada Belva istriku yg masih berada dirumah,raut wajahnya yg sumringah masih terbayang dikepalaku sejak pagi tadi melepasku pergi untuk bekerja sambil memasukan sekotak bekal sarapan kedalam tas kerjaku,tidak lupa kecupan manis di kening dan bibirku yang meninggalkan wangi harum khas tubuhnya pada setiap tarikan nafas di hidungku,menimbulkan efek nyaman dan hormon2 baik bekerja dalam tubuhku.

__ADS_1


ya...masih kurasakan hangatnya tubuh itu memelukku semalaman,membuat aku selalu merindukannya dan tidak ingin melepasnya kemanapun nanti ia akan pergi,tapi...mengingat lagi bagaimana mata itu nampak sekelebat sendu saat berbicara soal pekerjaannya,aku menghela nafas berat,haruskah aku mengizinkannya pergi?


"mau kopi?."


suara Kenzo menyadarkanku,aku lupa jika sedang bersamanya di ruanganku di jam istirahat ini,ia menyodorkanku secangkir kopi panas,aku meraihnya dan ia duduk di sofa yg berhadapan denganku.


"apa gue harus beri izin Belva untuk perjalanan pekerjaannya? tapi gue benar2 gak rela kalau laki2 itu punya kesempatan buat bisa dekat2 dengan istri gue."


Kenzo menyilangkan kakinya yg satu dengan kaki satunya, menyesap kopinya sebentar dan ia meletakkannya dengan sangat sopan keatas meja, lalu tatapannya menatapku dengan senyum mengejeknya.


"sebucin itu sekarang elo ya?."


"menikah sana, nanti elu juga ngerasain gimana rasanya isteri loe di harapkan laki2 lain."


"jangan mendoakan percintaan gue yg jelek2 lah,loe fikir semua hidup laki2 sama kayak hidup loe,ya...tapi gue akui, Belva akan sangat bangga punya elo disisinya."


"ck,hentikan, menjijikan rasanya di puji sesama lelaki,jadi...apa gue biarkan dia pergi selama 14 hari?."


"dia kesanakan cuma buat kerja."


"ada laki2 yg pede megang2 tangan istri gue disana."


"kalau begitu suruh Belva pake sarung tangan selama disana,cih...elo benar2 maniak kalau benar melakukan itu Al." Kenzo terkekeh menertawai kebodohanku yg mungkin di kepalanya akan benar menyuruh Belva memakai idenya.


"brengsek...". aku merutukinya,menendang satu kakinya dengan gerakan kecil satu kakiku, tanganku mengurut sebelah keningku, sebenarnya pusing ini tidak seberapa jika tidak memikirkan Belva yg mungkin akan sangat galau nanti jika tidak ku beri izin, perasaan dilema yg sangat menyebalkan.


"bukankah ada kak Bia?."

__ADS_1


shit,aku hampir melupakan itu,Kenzo menatapku memastikan jika fikiranku sudah jernih dan bisa mencerna dengan baik.


"benar juga,gue harus bicara dengan kak Bia supaya dia bisa mengawasi mereka disana bukan?."


"ish...bodoh,elu pikir kalau Belva tau lagi di awasi dia akan senang dan nyaman melakukan pekerjaannya? kak Belva pasti melakukan tugasnya sebagai kakak ipar dengan baik, maksud gue dengan adanya dia disana elu bisa berfikir positif dan tenang, elo harus percaya sama Belva...


"gue percaya sama Belva,tapi gak sama laki2 itu,ah..sial...kenapa kak Bia juga suka sama orang begitu sih."


"Apa?,elo bilang kak Bia apa?."


"hm,katanya dia suka sama cowok itu."


"kok bisa?."


"mana gue tau."


"kok loe gak tau,elu kan adenya harusnya elo merhatiin kakak loe donk, dia kan cewek satu2nya yg belom pengen nikah apa lagi suka sama orang,selama ini dia kan senang dengan kejombloannya,kalo tiba2 dia suka sama cowok itu berarti dia serius sama perasaannyakan, pasti ada perubahan sikap yg gak biasa sama dia,harusnya elo lebih perhatian sama kakak loe satu itu,diakan....


"kenapa loe yg marah2 ke gue sih? elo fikir kak Bia bocah usia 17 thn yg masih labil?."


"gak gitu juga,gue cuma kasian aja waktu dia jalan kaki malam itu....


Kenzo terdiam,nampak berfikir sesuatu,aku menghela nafas melihatnya, Kenzo memang menganggap Kak Icha dan Kak Bia seperti kakak2nya sendiri, sejak pertemanan kami yg sangat intens,saat kami baru bertemu di bangku sekolah menengah pertama dulu, aku dan dia selalu jadi satu paket,meski kadang bertengkar sepele, tapi Kenzo selalu jadi teman pertama yg menghampiriku lebih dulu, kak Bia jadi saksi persahabatan kami, karna terkadang kak Bia menjadi penengah disetiap perdebatan kami.


jadi aku fikir wajar Kenzo sedikit khawatir pada kak Bia,bagi kak Bia Kenzo adik laki2 keduanya,sedangkan bagi Kenzo,yg hanya anak tunggal dirumahnya,mendapat kakak yg cukup peduli bukankah suatu anugrah baginya? ya...semanis itulah perjalanan hidup aku dan Kenzo.


Belva....ah..sedang apa ya dia sendirian dirumah,aku jadi sangat merindukannya.

__ADS_1


"apa kita pulang cepat hari ini?." tukasku menyadarkan fikiran kami masing2, helaan nafas Kenzo menjawab pertanyaanku.


#😌


__ADS_2