
Pov Author
Akhirnya bisa kembali kerumah, Ali dan Belva nampak antusias saat memasuki pintu rumah mereka, kini bau obat obatan yang tak mengenakan itu akhirnya pergi, Belva sudah sembuh setelah 10 hari menjalani perawatan dan beristirahat dirumah sakit, Ali memperlakukannya dengan baik dan sangat hati2, terlihat bagaimana Belva di gendongnya ala putri2 kerajaan saat mereka memasuki kamar mereka.
"kenapa gak mau dirumah mamih? Aku akan tenang jika kamu disana saat aku berangkat kerja besok".
Obrolan di atas tempat tidur, Ali sambil menatap dengan tangan yg tidak berhenti mengusap2 sebelah pipi istrinya yang sedang bersemu.
" aku sehat, ini hanya robekan kecil, aku baik2 saja mas. "
Tukas Belva meyakinkan Ali yang mengubah raut wajahnya sedikit berkernyit halus.
"aku tidak suka kau menganggapnya hal kecil, bagiku kau terluka terkena goresan pisau di dapur saja itu sudah sangat berbahaya, apa lagi...
kata2nya berhenti, ia tau jika ia tidak bisa meneruskan hal yang menyakitkan itu, ia ingin Belva melupakannya tapi ia sendiri terus mengingatnya dengan amarah yg nampak jelas lewat sorot matanya.
Belva mencoba mengurai senyumnya, rasanya ia bisa merasakan kepedihan hati suaminya kala mengingat kembali kejadian tak mengenakan itu.
"bisa kita berhenti, sekarang aku merasa lapar mas. "
Sentuhan tangannya ke pipi suaminya mampu mengubah sinar mata khawatir dan benci itu menjadi lembut kembali, merekahkan senyum, kini belva di kecup keningnya dengan penuh rasa sayang.
"ayo kita makan, mami tadi mengirimkan makanan, aku akan panaskan sebentar. "
"apa aku boleh minta di buatkan coklat panas juga? "
"tentu, kau boleh meminta apapun padaku bel, pastikan hanya padaku, ok. "
Mereka berjalan ke meja makan yang ada di dapur, tawa renyah kecil yang sejak tadi terukir di bibir Belva nampak sangat berseri, meski dalam fikirannya, ia masih bisa membayangkan kebencian Ali pada peristiwa menyakitkan itu, belva nampak takut, memikirkan besarnya benci yang Ali berikan pada wanita itu, ah... Tragisnya hubungan dua manusia yang dulu saling mengasihi itu.
#
kembali bekerja
Belva diperbolehkan kembali bekerja di rumah, sedangkan Ali mulai sibuk dengan proyek baru yang sedang di jalankan oleh perusahaan besarnya, meskipun begitu, ia tidak pernah lupa untuk sekedar memperhatikan istri tercintanya, bahkan ia menelfonnya lebih dari 5 kali dalam sehari.
Ini sudah lewat dari sebulan lalu, kejadian yang tidak ingin mereka ingat itu, Belvapun tidak ada niat untuk mengungkitnya lagi apa lagi menjadikan itu kenangan di fikirannya, cukup diamkan dan biarlah hilang begitu saja, tidak ingin menjadikannya sebagai trouma yang berat bagi hidupnya.
Sedangkan bagi Ali, itu akan ia ingat, sebagai pengingat jika suatu saat wanita yg kini tak ingin ia sebutkan namanya, adalah kebencian yang akan ia tunjukan padanya, dimanapun mereka bertemu.
"dengan pak Dimitria Ali? ".
Seorang wanita dengan stelan jas kerja ala wanita karir berwarna biru tua yang sangat modis mengalihkan kedua bola mata Ali pada layar ponsel di tangannya, ia letakan ponselnya di atas meja dan menyambut uluran tangan dari wanita dihadapannya.
"benar, nyonya Zoya? pemilik metropolitan Royal apartement? ".
Senyum kecil mengembang di sudut bibir Ali, itu adalah senyum pembisnis, ia memang sedang menunggu satu klayennya yang satu ini di sebuah cafe kopi kecil di pinggiran jalan dekat gedung kantornya.
" panggil Zoya saja, jangan panggil saya nyonya, agak berlebihan kedengarannya. "
__ADS_1
Zoya duduk dengan menyilangkan kaki bertumpu dengan kaki yg satunya, dihadapannya Ali mengikuti dengan gerakan sopan dan halus.
"maaf, saya hanya bersikap sedikit menghormati anda karna jabatan anda sebagai presdir di perusahaan anda, ternyata anda nampak masih muda dan sangat bersemangat. "
bukan buta informasi, Ali sudah tau tentang latar belakang claennya satu ini, seorang janda yang masih tampak muda di usianya yg beranjak 30 thn , seorang putri satu2nya dari seorang tokoh pembisnis kelas atas dan ternama di kota besar ini, bagi Ali, ini tangkapan besar untuk memenangkan tender bersaing bagi perusahan disaint lainnya.
"saya lebih senang di panggil nama saat mengadakan kerja sama dengan pembisnis lainnya, membuat saya nyaman dan terlihat dekat jika kita saling menguntungkan bukan? Jadi... saya harus panggil apa pada pak Ali?. "
Zoya tersenyum kecil, mengimbangi tatapan mata yang sejak tadi memikatnya.
"Ali saja, saya juga senang berakrabria dengan clayent saya. "
Kekehan kecil terdengar dari mulut mereka masing2, selanjutnya terjadilah percakapan bisnis yang nampak dibuat menggiurkan dari mulut Ali untuk menarik perhatian minat dari Zoya si pemilik uang.
Cukup lama mereka diskusi, yang satu menerangkan dengan usaha yang menuntut kejelasan sejelas jelasnya, supaya Ali bisa menarik minat dari pihak pembeli, sedangkan Zoya mendengarkan lalu bertanya bila ada sesuatu didalam keterangan yang belum ia pahami.
Satu setengah jam mereka menghabiskan diskusi dengan segelas kopi dingin dan disert yang belum di sentuh Zoya sejak tadi, sesekali matanya menelusuri wajah di hadapannya.
Muda, berprestasi, pintar dan juga gagah, itu yang di tangkap otaknya saat menelisik wajah Ali, pria yang belum diketahui latar bekakangnya bagi Zoya, cukup menarik perhatiannya karna Ali nampak bersikap baik dan menarik.
Bukan sekali ini saja ia bertemu rekan bisnis, kebanyakan rekan bisnis prianya nampak terlihat pintar dan elegant yang di buat2, sedangkan Ali tidak nampak membuat itu, ia bahkan terang2an bilang bersikap sopan hanya karna tau dirinya adalah seorang presdir.
Zoya tersenyum samar, menangkap kenyamanan yang terjadi dalam dirinya saat bicara dengan Ali, seketika ia membuka celah hatinya, sedikit saja, ia akan biarkan kali ini satu nama masuk, memberikan keingin tahuan yg cukup besar pada sosok di hadapannya.
"tolong jangan tolak saya, saya berjanji akan memberikan cervis yang memuaskan pada perusahaan anda, kami juga menerima complaint jika memang hasil gedung anda nanti tidak sesuai dengan disaint asli. "
Penuturan Ali yang nampak sungguh sungguh itu di artikan berbeda di hati Zoya, ia merasa Ali berkata seperti sedang meyakinkan hatinya saja. Seketika Zoya menepis pikiran itu, ia kembali membawa kesadaran bahwa ini hanya pembicaraan bisnis.
"tentu, saya siap, simpan nomor saya kalau begitu. "
Zoya lalu menandatangani berkas yang telah di sepakati, Ali nampak berseri2 karna dikepalanya sudah menari2 lembaran uang yang akan masuk kerekening tabungannya.
Jabatan tangan mengakhiri pertemuan ini, janji bertemu kembali pada sesi pertemuan antar rapat presdir di perusahaan miliknya, Zoya mengatakan akan memberi pesan lewat ponsel saat datang nanti ke kantor milik Ali, pria itu hanya mengangguk mengiyakan.
Zoya masuk kedalam mobilnya, memakai sabuk pengamannya, lalu menghela nafas pelan.
"apa dia punya pacar? ".
Gumamnya, yang langsung dilirik oleh sekertarisnya yang sejak tadi menunggu di mobil.
"siapa? Maksud nona pak Ali? ".
Ucap sekretarisnya, yang langsung dapat tatapan tajam dari majikannya.
" pura2 gak dengar kenapa sih. " ketus Zoya, bukan tanpa sebab, itu karna dia malu tertangkap basah memberi respon ketertarikannya di hadapan sekertarisnya itu.
"apa nona mau saya menyelidiki latar belakangnya? ".
" jangan berani2 ya kamu, cepet jalan. "
__ADS_1
Dan mobil melaju menghilang di parkiran cafe yang semakin sepi, sedangkan Ali masih duduk dengan wajah sumringah nan berseri, ia mengendurkan dasi di lehernya, tangannya sigap meraih ponselnya, menghubungi satu nama yang sejak tadi menari2 di kepalanya, ia gunakan panggilan video call, tidak sampai 30 detik sebuah wajah terpampang di layar persegi panjang berbentuk pipih itu.
"sayang sedang apa? ". Tukasnya sangat bersemangat.
" baru selesai mengedit, kamu di mana? . "
Belva bertanya karna melihat latar yang berbeda dari ruangan kantor yang biasanya ia lihat dari kantor suaminya.
"aku di cafe dekat kantor, habis ketemu clayent, doakan tender aku sukses ya, bonusnya bisa kita pakai buat bulan madu kedua nanti. "
nampak Belva tersenyum merona, membuat Ali ingin menyentuh pipinya jika melihat Belva seimut itu.
"mas udah makan siang? "
mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas bulan madu yang di rencanakan Ali.
"belum, gak laper kalo udah kebayang2 bonusnya"
"harus tetap makan supaya focus"
"iya sayang, kamu juga jangan lupa makan ya. "
"aku sudah 30 menit yang lalu".
" pinterrr... Eh mumpung di cafe nih, disini ada disert yang enak buat temen minum kopi di rumah nanti, aku pesen satu buat kita makan dirumah ya. "
"boleh"
"kamu mau apa lagi? Biar nanti pulang aku belikan sekalian. "
"eummm...
" jangan lama2 mikirnya sayang, nanti keburu aku pulang akhirnya gak bawa apa2 nih buat kamu. "
Ledek Ali karna melihat Belva yang lucu dengan mode pura2 berfikirnya.
"kalo begitu aku pesen satu ja. "
tukas belva akhirnya.
"apa? " Ali penasaran
"aku pesen kamu. "
Dengan suara agak berbisik Belva mengatakannya dengan wajah malu2 yang di buat seimut mungkin, seketika itu juga Ali menatap layar yang melukis wajah istrinya dengan terkesiap, perlahan senyum nakal terukir di wajahnya.
"sayang, aku pulang sekarang ajah ya, tunggu aku dirumah, aku bakal cepet samapai, tunggu ya. "
Sambil berdiri dari duduknya tanpa mematikan ponselnya Ali berjaln cepat meninggalkan cafe, sedangkan di sebrang sana Belva tertawa melihat tingkah laku suaminya yang lucu.
__ADS_1
😊