Love Is KAMU

Love Is KAMU
#26


__ADS_3

Pov Ali


Bagiku ini berat,tapi biar bagaimanapun aku harus memutuskan sikapku pada Belva istriku, bukan karna aku tidak mencintainya atau mempercayainya sepenuh hati,tapi aku sadar kalau aku terlalu egois untuk memilikinya sendiri,ya...setidaknya aku merasakan hatinya yg utuh diberikan untukku.


malam ini kami duduk seperti biasa setelah makan malam,di ruang tv tempat kami akan bicara banyak hal, menonton acara murahan yg tidak benar2 kami tonton karna aku dan dia akan sibuk bertukar cerita atau membahas hal sepele sebagai penghangat hubungan kami, Belva akan berbaring di pangkuanku, aku akan mengusap rambutnya yg bergerai wangi sampai kehidungku,suasana seperti ini yg sangat aku sukai dirumah kami.


"ini soal pekerjaanmu Bel, apa kau ingin pergi?."


ucapanku membuatnya menatapku dari pangkuanku disana,ia bangkit dari berbaringnya lalu menghadapku meraih tanganku dan memijit2nya kecil,ini sangat nyaman,dia pandai dalam setiap sentuhan.


"mas masih memikirkannya? aku tidak akan pergi mas,aku akan disini denganmu."


dia tersenyum,tapi aku tau sorot matanya meredup,dia terlalu bodoh untuk berbohong.


"kau sangat menyukai pekerjaanmu,kenapa kau tidak memohon untuk mendapat izinku?."


"mas...aku tidak ingin membuatmu khawatir padaku,aku tidak ingin jadi beban fikiranmu, jika aku disini saja membuatmu bahagia dan berfikir tenang,aku ikut senang,cukup aku dan kamu itu sudah cukup,jangan memikirkan yg tidak2."


"kau ingin bilang kalau aku jangan berfikiran jelek tentangmukan?."


"apa aku harus menyebutnya seperti itu?." Belva terkekeh,ia lalu mencium tanganku lembut,aku menyentuh dahinya merapikan anak rambut yg menyambul disana,sebenarnya aku sangat kesepian jika dia pergi lama,tapi seperti fikiranku tadi,aku tidak boleh egoiskan?


"kau boleh pergi Bel,kau dan Kak Bia akan aku awasi dari sini,aku percaya padamu, jaga dirimu baik2,angkat telfonku setiap aku memanggilmu,beri aku kabar setiap waktu dimanapun kau berada,katakan apapun yg terjadi disana yg melibatkanmu,aku akan datang menemuimu jika pekerjaanku senggang atau libur,kau mengerti?."


lihat,binar matanya sangat kentara, aku tau dia sedang menahan rasa bahagianya,ia nampak membenarkan posisi duduknya,menatapku lekat dan meremas tanganku dengan sangat erat.


"mas...


"pergilah,aku sudah bilang aku percaya padamu, dan ingat segala pesanku tadi."


"terima kasih mas,terimakasih atas semua pengertianmu,apa yg harus aku lakukan untuk membalas semua ini? aku tidak punya sesuatu yg istimewa untuk ku berikan padamu."

__ADS_1


matanya berkaca,ah..Belva, aku fikir dia tidak suka dengan yg melow2 seperti ini,aku tersenyum,meraih dagunya yg putih,menariknya tepat kehadapanku,mengecup bibirnya yg manis,bagiku itu bayaran yg setimpal untuk saat ini.


"kamu, kamu si istimewa itu,cukup berikan dirimu untukku,jangan berfikir kau tidak mempunyai keistimewaan itu."


aku tau dia terharu,tapi aku membiarkannya untuk merasa bangga kalau suaminya ini sangat romantis atau apalah,aku biarkan dia memelukku erat,kata terimaksih terus terucap dari mulutnya,Belvanaku yg manis.


#


Akhirnya aku membiarkan dia pergi, berjibaku dengan pekerjaan yang selalu di bangga2kannya,ah...jika bisa aku membeli sebuah kebahagiaan untuknya,akan aku paksa dia melepas semua itu,aku tidak ingin ia kelelahan,aku tidak ingin ia merasa harus mencari uang meski untuk dirinya sendiri,aku rasa uangku cukup untuk memenuhi kebutuhannya,tapi...aku melihat Belvaku senang berada disana,melakukan pekerjaannya, merasakan dunianya sendiri dikala ia butuh privasi,ya...aku rasa semua orang butuh itu,butuh sendiri menikmati apa yg ingin mereka lakukan untuk menyenangkan diri mereka sendiri


Belvanaku juga butuh itu,aku hanya akan mengawasinya,hanya akan ikut bahagia jika dia bahagia melakukan yg di sukainya, entah pemikiranku ini benar atau tidak,yang pasti, aku percaya padanya, cukup bukan?


"jaga dia untukku, libur kantor nanti aku sama Kenzo akan kesana."


"cih..sekarang gue harus jadi mba penjaga bocah besar seperti istri loe? gue minta bayaran yang setimpal."


tukasan kak Bia dengan wajahnya yg nampak jutek itu sangat tidak membuat ku nyaman,pasalnya jika orang lain melihat seolah2 mereka salah faham akan sikapnya, percayalah dia tidak sejahat itu.


aku dan dia menatap ke arah Belva yg sedang berkimpul dengan timnya untuk membahas sesuatu sebelum pergi,aku masih memegangi kopernya,Kak Bia juga nampak kerepotan dengan barang bawaannya sendiri,dia selalu repot dengan gayanya itu.


"pastikan dia duduk sebangku dengan loe kak."


"gue juga gak mau duduk sendirian atau sama orang yg gak gue kenal."


"pilih juga kamar yg barengan, jangan sendiri2, gue denger kalian menyewa villa selama syuting,pastikan juga gak ada cowok itu buat ambil kesempatan deketin bini gue."


haahh...Ka Bia menghela nafas,ia menaikkan bibir atasnya menatapku dengan jengkel.


"mendingan elu ikut sekalian,elo fikir gue ikut kesana buat jagain bini loe doank,gue tuh pemeran di series itu tau,kerja gue juga,lagian Belva gak bakalan lah macem2."


aku menatap kak Bia dengan aura seorang suami yang siaga tanpa malu menunjukan kecemburuanku padanya.

__ADS_1


"lupa ya tentang curhatan Kakak waktu itu, kakak bilang cowok itu bakal balikan sama mantannya,kakak yakin banget waktu ngomong itu ke aku, itu artinya gue...gak percaya sama tuh cowok,dia pasti bakal selalu ngambil kesempatan buat deket2 sama bini gue."


"itu kan karna gue gak tau kalo ternyata mantannya itu Belva,kalo itu Belva ya gak mungkinlah dia bisa balikan lagi,orang elu sama Belva bucin begitu."


"tapi jangan berfikir juga kakak punya kesempatan sama dia."


"kenapa?." kak Bia berkernyit menatapku.


"kakak fikir aku sudi? No.....".


"ikh..restu loe mah gak penting,yang penting mah mamih, weekk."


"gue serius loh kak, jangan harap gue dateng keacara nikahan loe sama dia nantinya,amit amit kalo emang beneran terjadi,putus hubungan ajah gue sama loe sebagai ade."


"apaan sih lu...LEBAY."


Kak Bia menarik kopernya meninggalkanku yang masih nampak jengkel dengan pembicaraan kami,ia melangkah sambil melambaikan tangan pada Belva yang ternyata sudah selesai dengan kerumunan timnya, aku ikut bergerak menarik koper milik Belva yang masih di tanganku sejak tadi,disana Belvana melambai,menyambut kak Bia dan aku berbarengan,tepat saat kami mendekat aku melihat laki2 yang menjadi pimpinan itu turun dari mobil mewah miliknya,semua mata menatap termasuk aku,kak Bia,dan...


Tidak,Belva malah berdiri di hadapanku dengan rambutnya yg tergerai menari2 teretiup angin, ia mengalihkan perhatianku,menyuruhku menatapnya lewat gerakan tubuhnya dengan tangannya yg langsung meraih tanganku.


"mass..aku bagus di kuncir atau di gerai saja? kayaknya di bus akan sangat dingin,apa aku pakai hoody saja ya."


sambil tersenyum sumringah ia menyentuh rambutnya,memain mainkannya,aku tersenyum untuknya,lalu menarik lembut rambutnya yg tadi di pegang2nya.


"digerai saja,pakai hoodymu,apa kau bawa syal?."


hmm,ia menggeleng,aku mencubit pipinya yg gembil dengan gemas.


"kak Bia akan meminjamkannya untukmu, jangan sampai sakit,ingat setiap pesanku yg aku bilang kemarin, jangan terlewat satupun ok?."


"ok." dia mengerling,aku memeluknya erat, sesaat aku lupa ada dua pasang mata menatap kami sejak tadi,kak Bia dan laki2 itu, pandangan kami bertemu sekilas,ada sorot sendu di mata laki2 itu,dan entah mengapa itu membuat aku senang.

__ADS_1


kau lihat,dia milikku,dia wanitaku,hanya aku yg berhak memeluk bahkan menyentuh tubuhnya, tidak ada yg lain,hanya aku,jadi pergi jauh2 darinya,bahakan sekedar kau melihatnya dari kejauhan saja aku merasa sangat tidak rela, apa lagi kau bernafas di ruangan yang sama dengannya,sial,aku ingin sekali berteriak mengatakan semuanya di depan wajah laki2 itu.


#😓


__ADS_2