
Pov Author
"terimakasih sudah mau menjemputku,maafkan aku karna sering merepotkan."
Bianca tersenyum pada laki2 berparas ramah di hadapannya,mereka baru saling mengenal sebulan yang lalu karna pertemuan di pameran seni saat itu, Bianca terpesona oleh Rian yang saat itu menolongnya karna beberapa kesalahpahaman mengenai administrasi soal pembelian lukisan di salah satu pameran tersebut.
selanjutnya perkenalan yang bagi Bianca sangat intens,karna Rian tidak pernah menolaknya untuk bertemu,makan malam,makan siang bahkan di ajak nonton oleh Bianca,saat itu Bianca benar2 berfikir Rian laki2 yang masih lajang karna punya banyak waktu untuknya.
seperti sekarang ini, Rian langsung menjemputnya saat Bia memintanya lewat panggilan ponsel, seharian ini pemotretannya sangat melelahkan, membuat Bia ingin sekedear di temani minum kopi oleh seseorang.
"kau bisa mengandalkan aku setiap waktu."
kata2 Rian terdengar sangat tulus, Bianca jatuh pada hatinya yang berdesir setiap kali melihat wajah dengan senyum itu,laki2 yang nampak baik dan lugu.
Namun semua kacau saat Bianca melihat ada yang berbeda dari laki2 itu beberapa hari ini, Rian nampak kusut,ia seperti sedang menghadapi dilema,tapi setiap kali pertemuan mereka,dan Bia mencoba menanyai apa yang terjadi padanya,Rian hanya tersenyum menyedihkan.
"kau tidak boleh menyukaiku Bia."
"kenapa?."
"karna aku mencintai kekasihku, tidak... sekarang dia bukan kekasihku,dia mantan kekasihku."
suara itu sendu,Bia bisa melihat ada genangan air mata yg laki2 itu sembunyikan dari tatapannya,Rian seolah kehilangan dunianya.
"lalu apa arti kedekatan kita ini Rian? kau pasti sudah tau kalau aku menyukaimu,kau bilang dia mantan kekasihmu? kenapa kau masih terlihat sedih,kau tinggal datang padaku Rian,aku bisa membuatmu melupakannya."
senyum kecut dan gelengan halus di kepala Rian nampak sangat frustasi,dimata Bia,ia tau Rian sangat menyukai mantan pacarnya itu,lalu kenapa mereka putus?
"aku menyukaimu Bia,kau perempuan yang sangat baik,tapi...aku mencintai kekasihku itu, aku membuatnya bingung dan sedikit mengabaikannya hingga akhirnya ia meninggalkanku memilih bersama laki2 lain."
__ADS_1
"kalau begitu biarkan saja dia,kenapa masih menangisi wanita yang bahkan tidak memikirkan perasaanmu? dia saja sudah move on dengan pasangan barunya,kenapa kamu yang terjebak di perasaan sesaat ini Rian, percayalah,itu berarti cintanya padamu tidak sebesar cintamu padanya."
kata2 Bia harusnya benar,bagi sebagian orang yang berfikir dengan akal sehat,tapi tidak untuk pemikiran Rian, rasa bersalahnya pada mantan kekasihnya sangatlah besar,ia menyalahkan dirinya sendiri atas perginya kekasihnya yang selama 5 tahun ini bersabar menghadapinya.
"bagiku dia segalanya,tapi...salahku yang tidak bisa membuat dia merasakan besarnya perasaanku padanya."
"kau bodoh Rian."
"benar,aku bodoh,jadi jangan suka padaku Bia, aku tidak pantas untukmu."
"egois."
perasaan itu akan hancur,ya...Bia bukan wanita yang akan berlama2 jika sudah di tolak, meski sebesar apapun cinta itu tumbuh di hatinya,Bia tidak suka dengan kerumitan, inilah cerita dimana akhirnya ia meninggalkan Rian sendirian di tempat minum kopi itu, dengan perasaan kesal dan marah,Bia menapaki jalan malam itu sendirian,bukannya ia tidak ingin menelfon taxi,hanya ia berfikir untuk menumpahkan segalanya dan kekecewaannya dengan langkah kakinya yang entah membawanya kemana.
"kak Bia?."
"ternyata benar Kak Bia,kenapa jalan kaki? mobil kakak kemana?."
Bia hanya bisa menatap Kenzo dengan tarikan nafasnya yang nampak kelelahan,seketika Kenzo terdiam menatap raut wanita dihadapannya berbeda dari biasanya,ia menghela nafas sambil memperhatikan Bia mengatur nafasnya.
"ada apa?."
tukas Kenzo dengan suara yg sangat rendah, berharap Bia mau menceritakan yang terjadi saat ini.
"bukan urusan loe." Bia menepis tubuh Kenzo di hadapannya,menyuruhnya untuk menyingkir dari pandangannya.
kembali Bia berjalan beberapa langkah dengan sedikit kaki kesemutannya,membuat ia nampak sedikit terhuyung dan semua itu di lihat oleh Kenzo,laki2 itu langsung mengikuti langkahnya, lalu meraih lengan kak Bianya dengan sedikit keras,membuat Bia sedikit terkejut.
"apaan sih loe, gue...
__ADS_1
kata2 Bia berhenti saat Kenzo berjongkok melepaskan sepatu hak tinggi yang di pakainya, lalu dengan gerakan cepat pria itu menggendong tubuh Bia tanpa izin dari si pemilik tubuh,Bia membulatkan matanya dan sedikit kaget dengan perlakuan Kenzo padanya.
"turunin gue."
"aku anter sampe rumah, kalo jalan kaki kaka baru bisa sampe besok pagi."
"turunin gue..".
Kenzo berpura2 tak mendengar rengekan dari Bia,ia memasukan Bia kedalam mobilnya dan tetap memegangi sepatunya di tangannya, Bia yang akhirnya msuk kedalam mobil,nampak terdiam menatap Kenzo dengan kesal.
"gue bisa aja teriak ke orang2 bilang gue mau di culik."
senyum miring milik Kenzo nampak mencemooh kata2 Bia barusan, itu terdengar lucu di telinganya.
"beneran mau aku culik? aku bisa bawa kakak ke apartement aku sekarang,gimana? mau?."
tukas Kenzo sambil sibuk memakai sabuk pengamannya dan memegang stir dihadapannya,ia menoleh pada Bia sebentar,melihat bagaimana reaksi wanita itu atas perkataannya,tapi Bia hanya membuang wajahnya ke jendela kaca yang tertutup di pintu mobil,ia menempelkan kepalanya disana, raut kesedihan namapk terlihat jelas disana,dan Kenzo tau ia harus diam jika tidak ingin wanita itu melompat dari mobilnya.
semenjak kejadian itu, Bia nampak menghindari Kenzo,teman adiknya yang satu itu memang terbiasa dengan dirinya jika dirumah atau di luar rumah,tapi Bia merasa Kenzo laki2 yang cukup pintar membaca situasi malam itu, ia pasti tau kalau sesuatu terjadi pada kakak temannya,mungkin Kenzo bertanya2 atau malah akan mengorek2nya sendiri dengan bertanya pada Ali nanti.
dan bagi Bia itu hal yang memalukan,Kenzo mengenalnya dengan kakak yang jutek,pantang menangis,terkadang Bia juga nampak galak sedikit di mata Kenzo,dulu di zamannya mereka masih memakai seragam sekolah,kak Bia sering sekali yang datang kesekolah untuk memenuhi surat panggilan dari guru BK,kak Bia akan memukul mereka didepan guru tanpa ampun dan malu.
begitulah yang Kenzo kenal dari Bia, wanita tanpa ampun,wanita yang tidak pernah terlihat sedih,tidak pernah menangis, selalu galak dan marah2 jika mereka membuat masalah.
"ayo ketempat mereka,kita harus mastiin kalau mereka baik2 aja kan?."
sura Kenzo nampak bersemangat diruangan kerja milik Ali yang masih memeriksa berkas, sejak tadi ia memang mendengarkan Kenzo mengoceh tentang kemungkinan2 yang terjadi di tempat yang kini Belvana dan Kak Bia datangi,tapi Ali sedikit berkernyit menatap temannya satu itu, kenapa Kenzo yang nampak ingin sekali pergi kesana?
#🙄
__ADS_1