
Masih di tempat yang sama.Saat ini,Dian dan Calista sedang asik bercerita satu sama lain.Dian masih belum berani mendekati Zio,karena dia masih mengingat kejadian tadi sore,di mana dia bertengkar dengan Zio dan setelah itu Zio kecelakaan.
Drrt...drrt...drrt...
Ponsel Varo berdering,menandakan ada panggilan masuk untuk nya.
📱 Varo : Hallo Assalamualaikum.
📱 Moza : Waalaikumsalam, Mas gimana keadaan Zio?.
📱 Varo : Baik kok yank,dia sudah sadar juga kok,ini lagi ngobrol sama Aril dan yang lain nya juga.
📱 Moza/Rafa : Papa....
📱 Varo : Rafa...kok anak Papa sudah bangun.
📱 Moza/Rafa : Afa cali Papa ndak ada.
📱 Varo : Iya sayang,Papa lagi di rumah sakit.
📱 Moza/Rafa : Napa di lumah tatit Papa.
📱 Varo : Om Zo lagi sakit sayang.
📱 Moza/Rafa : Mana Om Zo na Papa,Afa mau nomon sama Om.
Akhirnya Varo pun mendekati Zio yang lagi bermain posel nya.
📱 Varo : Ini sayang Om Zo nya di samping Papa,Rafa mau ngomong apa..?
📱 Moza/Rafa : Om Zo..
📱 Varo/Zio : Iya Rafa ada apa..?
📱 Moza/Rafa : Om Zo tatit ya.
📱 Varo/Zio : Iya,Rafa doain Om ya biar cepat sembuh.
📱 Moza/Rafa : Matana Om Zo janan natal jabina tatit kan.
Zio langsung mendelik saat mendengar Rafa yang malah memarahi nya.Sedangkan yang lain nya malah tertawa saat mendengar penuturan Rafa kecuali Dian yang belum mengetahui siapa Rafa,Dian hanya diam tanpa mau bertanya terlebih dulu.
"Njiir...anak elo Bang,rese' banget sih" ucap Zio dengan kesal.
📱 Moza/Rafa : Janan malah-malah Om Zo,nanti tua.
"Buwahahahaha.....aduk perut gue sakit,baru kali ini ada yang berani marahin Elo,Zi hahaha...." Aril yang sudah tidak bisa menahan tawanya langsung pecah saat mendengar ucapan Rafa berikut nya.
📱 Moza/Rafa : Om Alil janan tawa-tawa aja,Om Alil jadain Om Zo bial cepet cembuh.
Kali ini Rafa beralih memarahi Aril yang langsung membuat Aril kicep seketika.
__ADS_1
"Mampus Elo" balas Zio sambil terkekeh.
📱 Varo : Rafa sudah ya sayang telfon nya Papa matiin ya,Om Zo harus istirahat.
📱 Moza/Rafa : Oteh...Om Zo cepet cembuh ya,Afa cayan Om Zo,da da cemuna..Calamikum.
📱 Varo/All : Waalaikumsalam.
Malam hari nya Varo memilih untuk pulang terlebih dahulu begitu juga dengan Farza dan Arjuna.Daniel, Dimas dan juga Zidan juga ikut pulang.Kini hanya tinggal Calista,Dian,Aril,Dika dan juga Endy yang masih berada di ruangan menemani Zio.
"Eh kok gue gak lihat Davina ya dari tadi....?" tanya Aril.
"Davina kan ke rumah Oma sama Opa nya tadi" jawab Calista.
"Ndy laper nih,kantin yuk..." ajak Dika pada Endy karena memang sedari tadi dia belum makan.
"Ayuk,gue juga laper nih,yank,mau ikut gak...?"
"Boleh...Kak Zio mau nitip gak....?" tanya Calista.
"Enggak usah" jawab Zio.
"Ya sudah,kita tinggal dulu ya,Yan gue nitip abang gue ya" Ucap Calista berbicara pada Dian.
"Iya..." Jawab Dian sambil tersenyum.
Setelah kepergian Calista dan yang lain nya,kini tinggal lah Dian dan Zio yang masih sama-sama diam.Sampai sekarang Dian tidak berani menatap wajah Zio karena Dian takut Zio masih marah padanya.Al hasil Dian cuma bisa duduk diam di sofa sambil memainkan ponsel nya.Sedangkan Zio, sebenar nya dia ingin berbicara dengan Dian tapi entah mengapa sangat sulit untuk memanggil nama nya.Zio merasa bersalah karena sudah memarahi Dian sore tadi saat di taman,sehingga membuat nya menjadi seperti ini.
"Kakak mau ngapain...?" tanya Dian mendekati Zio.
"Kamar mandi" jawab Zio.
"Mau aku bantu...?" tawar Dian.
"Hmm...." Zio hanya berdehem,tanda memberi jawaban.Dengan semangat Dian pun mulai memapah Zio menuju kamar mandi dengan perlahan.
"Kakak bisa sendiri...?" tanya Dian setelah sampai di kamar mandi.
"Emang kamu mau bantuin...?" ucap Zio membuat Dian langsung melotot.
"Eng...gak" jawab Dian menggelengkan kepala nya dengan cepat,membuat Zio sedikit terkekeh.
"Tunggu di luar,nanti Kakak panggil" jawab Zio dan Dian pun mengangguk.
Tak berapa lama Zio pun selesai dengan kegiatan nya di kamar mandi.Dian kembali memapah Zio dengan hati-hati dan membantu nya untuk duduk kembali di brankar.
"Mau makan buah gak....?" tanya Dian yang sedang membantu Zio bersandar.
"Boleh..." jawab Zio.Dian pun akhir nya mengambil buah apel dan kemudian mengupas nya.
"Ini...." ucap Dian sambil memberikan potongan buah apel nya pada Zio.
__ADS_1
"Suapin dong" jawab Zio dengan tersenyum.Tanpa menjawab, Dian pun langsung menyuapi Zio.Dian sudah tidak mau membahas masalah mereka beberapa jam lalu.Entah siapa yang salah,yang pasti Dian tidak ingin Zio marah lagi kepadanya,apalagi dengan keadaan Zio yang sekarang ini.
"Duduk sini.." ucap Zio menepuk tempat di sebelah nya yang sedikit longgar agar Dian bisa duduk,karena sedari tadi Dian hanya berdiri saja.Dian pun menurut,dia naik dan duduk di brankar sebelah Zio dengan kaki sebelah yang menggantung dan sebelahnya di lipat ke dalam,sehingga saat ini posisi nya berhadapan dengan Zio.Dian terus menyuapi Zio hingga buah apel yang berada di piring nya habis.
"Mau lagi....?" tanya Dian.
"Jeruk deh" jawab Zio sambil menatap Dian tanpa berkedip.Dian pun menurut,dia mengambil buah jeruk dan kemudian mengupas nya.Sedari Dian mengupas buah jeruk,Zio tak pernah berhenti menatap wajah Dian dengan mata yang agak bengkak.
"Ini..." ucap Dian kembali menyuapi Zio.Dan tanpa menjawab,Zio pun membuka mulut nya namun matanya masih terfokus pada Dian.
"Kenapa lihatin aku nya gitu banget sih" ucap Dian.
"Cantik..." jawab Zio tersenyum sambil menoel hidung mancung Dian.
"Gombal banget sih" jawab Dian tersipu malu.
"Sini deh Dek deketan dikit,ada itu di rambut kamu" ucap Zio.
"Ada apa...?" tanya Dian bingung sambil meraba-raba rambut nya.
"Makanya sinian dikit, aku ambilin" Akhirnya Dian pun menurut,dia mendekatkan wajah nya dan setelah dekat tiba-tiba...
Cup.....
Zio mencium kening Dian begitu dalam.
"Love you" ucap Zio setelah melepas ciuman nya dan menghapus air di sudut mata Dian.Sedari tadi sebenarnya Zio tahu kalau Dian sudah menahan air matanya agar tidak jatuh namun Zio hanya diam,dia ingin tahu seberapa lama Dian bisa menahan air mata nya dan benar saja setelah Zio mencium dan mengucapkan kata cintanya untuk Dian,bukan nya berhenti Dian malah berhambur memeluk sebelah tubuh Zio dengan perlahan dan langsung menangis di pelukan nya.
"Hiks...hiks...hiks..."Dian menangis sesenggukan di pelukan Zio.
"Kok malah nangis sih,kan sudah aku cium" ucap Zio sambil mengelus ramput panjang Dian yang terurai.
"Maaf...hiks..." ucap Dian masih dalam pelukan Dian.
"Kenapa harus minta maaf"
"Hiks....karena aku...hiks ...kamu...jadi...hiks..kayak ...gini...hiks"
Zio melepas pelukan nya dan sekali lagi menghapus air mata Dian yang terus mengalir.Jangan lupakan para saudara Zio yang sebenarbnya sudah di beritahu nya agar tidak kembali dulu ke ruangan.
"Ini semua bukan salah kamu yank,aku saja yang kurang hati-hati,sudah dong jangan nangis lagi" ucap Zio menenangkan Dian.
"Tapi kan kamu kayak gini karen kemarin kita ber---" ucapan Dian terpotong karena Zio sudah membungkam bibir Dian dengan bibir nya sendiri,membuat Dian langsung membelalak kan mata nya.
"Sudah ya,jangan nyalahin diri sendiri dan jangan bahas masalah kemarin,lagian aku gak papa kok cuma luka dikit saja, besok juga sudah sembuh kok" jawab Zio sambil tersenyum.
"Jangan bikin aku khawatir lagi"
"Iya...." jawab Zio sambil tersenyum,begitu juga dengan Dian yang membalas senyuman Zio.
#Aku gak tau sampai kapan kamu akan memberiku senyuman ini Zi,tapi sebelum senyuman itu menghilang lagi aku akan berusaha tetap bertahan di samping kamu#
__ADS_1