Love Story (Hot Daddy)

Love Story (Hot Daddy)
#39


__ADS_3

Mlam harinya keluarga Arjuna mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari jadi Calista yang ke 17,semua keluarga sudah berkumpul di halaman belakang rumah.Satu persatu dari keluarganya pun memberi selamat pada Calista.


"Selamat ulang tahun anak mami." ucap Farza.


"Makasih ya mi,Calista bahagia banget punya kalian." jawabnya memeluk kedua orang tuanya dan juga dua kakak nya secara bergantian.


"Dah gede jangan cengeng." ucap Varo menghapus air mata Calista.


"Hiks...Calista seneng kak Calista bahagia mempunyai kalian dalam hidup Calista." jawabnya memeluk erat Varo.


"Sudah dong kenapa jadi tambah panjang nangisnya,mendingan sekarang kita makan, mami dah masak banyak." ucap Varo dan diangguki oleh semua keluarga.Dan saat mereka menikmati hidangan yang tersaji tiba-tiba Dian dan bundanya datang ke kediaman Arjuna.


"Assalamualaikum.." ucap Dian dan bundanya memberi salam.


"Waalaikumsalam." jawab mereka semua.Dan saat Livia tahu kalau itu suara Dian dan bundanya ia langsung menatap Dave dengan tajam.


"Maaf ya kami ,terlambat." ucap Tara tak enak hati.


"Gak apa-apa Tar,lagian hanya acara makan-makan,ayo sini duduk." ucap Farza menyuruh Tara duduk dan entah sengaja atau hanya kebetulan tempat duduk Tara dan Dave ternyata berdekatan.Membuat Livia lansung berdiri dan meninggalkan halaman.


"Via..kamu mau kemana nak..?" tanya Farza.


"Sudah biarin aja Za." jawab Dave santai.


"Aku ganggu acara kalian ya..?" tanya Tara.


"Sudah biarin saja,mending kita terusin makannya." jawab Dave.


"Dan, coba kamu ajak bicara Livia,siapa tahu dia mau mengerti." Oma Rose.


"Percuma oma,kemarin sudah pernah Zidan kasih pengertian tapi tetep aja dia begitu." jawab Zidan.


"Elo gak pinter bang." cibir Aril sehingga. membuatnya mendapat tabokan dari Zidan.


"Aduh...kasar banget sih loe bang sama adik sendiri." ucapnya kesal sambil mengelus kepalanya.


"Kasiannya pacar akuh." ucap Thalita ikut mengelus kepala Aril.


"Bang,coba elo deh yang ngomong pasti dia bakal nurut." ucap Zidan menatap Varo yang sedari tadi hanya cuek.Dia lebih memilih bermain dengan Rafa.


"Kalau Varo yang bicara yang ada tuh Livia di marahin gak tambah di sayang." jawab Zahra yang memang tahu persis sifat adik sepupunya itu.


"Ya setidaknya kan Livia nurut sama bang Varo, dan lagi dia kan emang takutnya sama bang Varo doang." jawab Zidan.


"Sudah-sudah mending sekarang kalian lanjutin saja makan nya.Biar Livia aku yang urus." jawab Arjuna yang akhirnya pergi menyusul Livia.

__ADS_1


"Lah ini pawangnya akhirnya yang bertindak." celetuk Zio terkekeh.


"Kamu pikir Livia kuda lumping apa ada pawangnya." omel Zidan.


Tok..tok..tok..


"Livia...buka pintunya sayang,papi mau ngomong sama kamu." ucap Arjuna mengetuk pintu kamar Livia.


Ceklek...


Setelah di buka Arjuna langsung masuk ke dalam kamar Livia.Dia melihat Livia yang sedang duduk di sofa dengan muka di tekuk.


"Kenapa mukanya di tekuk gitu..?" tanya Arjuna dudul di sebelah Livia.


"Gak apa-apa,"


"Terus kenapa lari masuk ke dalam kamar..?" tanya Arjuna lagi.


"Gak apa-apa pi,Livia pingin sendiri." jawab nya lagi.


"Di luar lagi rame sayang,ayo balik ke sana." ajak Arjuna namun Livia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih? apa kamu marah sama papa kamu karena dia dekat sama tante Tara..?" tanya Arjuna membuat Livia langsung menatap Arjuna.


"Papi...." ucapnya Lirih.


"Enggak,tante Tara orangnya baik kok." jawab Livia.


"Lalu apa yang membuatmu gak menerima kedekatan mereka..?" tanya Arjuna.Sedangkan Livia hanya diam,dia bingung harus menjawab apa karena Livia takut membuat Arjuna marah.


"Sayang dengerin papi ya,papa kamu gak akan pernah melupakan bunda sekalipun papa menikah lagi.Bunda adalah cintanya papa kamu sampai kapan pun itu." jelas Arjuna mencoba memberi pengertian kepada Livia.


"Hiks...hiks..hiks.." Arjuna menoleh karena mendengar tangisan Livia.Dia langsung memeluk gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


"Ssst...sudah jangan nangis.Tante Tara itu baik sayang,dia sangat sayang sama kamu.Apa kamu gak kasihan sama papa kamu, sudah hampir dua puluh tahun dia menjalani hidupnya sendiri sayang,merawat kamu,membesarkan kamu sendirian tanpa bantuan siapapun.Apa kamu gak mau lihat papa bahagian..?" tanya Arjuna.


"Livia takut pih hiks...Livia takut..." jawab Livia sesenggukan.


"Takut kenapa sayang..? apa kamu takut kalau tante Tara gak sayang sama kamu..?" tanya Arjua dan Livia menggelengkan kepalanya.


"Livia takut kalau papa nanti gak sayang lagi sama Livia." jawabnya lirih.


"Hei,kamu anak kesayangan papa Dave,dia gak akan seperti itu sayang.Lagian tante Tara itu orangnya baik.Dia juga tidak akan merebut kasih sayang papa Dave dari kamu." ucap Arjuna.Dan tak berapa lama kemudian Dave datang bersama Tara.


"Papi tinggal dulu ya." ucap Arjuna setelah menghapus air mata Livia.Dave menggantikan tempat duduk Arjuna yang mana berada di sebelah kanan Livia sedangkan Tara duduk di sebelah kiri Livia.

__ADS_1


"Kenapa nangis,hem..?" tanya Dave dan Livia hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau menjawab.


"Livia maafin tante ya karena sudah menganggu kenyamanan kamu." ucap Tara memegang tangan Livia.


"Gak apa-apa kok tan,tante Tara sama sekali gak menganggu kok,maafin Livia karena tadi Livia meninggalkan kalian begitu saja." jawabnya dengan menundukkan kepala.Tara hanya tersenyum seraya mengelus rambut Livia.


"Papa besok mau ke Amerika,kakak mau ikut apa gak..?" tanya Dave sedangkan Livia menggelengkan kepalanya.


"Baiklah tapi papa mau kamu tinggal di rumah tante Tara." ucap Dave membuat Livia langsung mendongakkan kepalanya.


"Tinggal di rumah tange Tara..?" tanya Livia bingung.


"Ya.Papa gak minta kamu merestui hubungan kami tapi papa cuma mau kamu bisa dekat denganya.Kalau setelah papa pulang kamunya belum nyaman sama tante Livia,saat itu juga papa akan mutusin hubungan papa." jawab Dave.


"Tapi pah..." ucap Livia hendak protes,tetapi Dave sudah memotongnya.


"Tidak ada penolakan kak,hanya satu bulan kok gak akan lama." ucap Dave.


"Dave,jangan memaksanya.Kalau Livia keberatan aku gak apa-apa kok." ucap Tara. Dia sungguh tak enak hati dengan Livia.


"Kalau kamu gak mau gak apa-apa sayang, tante gak maksa kok. " ucap Tara.


"Gak papa tante, Livia mau kok tinggal sama tante. " jawab Livia mencoba tersenyum.


"Baiklah, mulai besok dan tiga puluh hari mendatang kamu akan tinggal sama tante Livia. Besok sebelum berangkat papa akan antar kamu ke rumah tante Tara. " jawab Dave yang kemudian berdiri meninggalkan kamar begitu saja.


"Via, kalau kamu keberatan gak papa sayang, tante ngerti kok. Nanti tante akan mencoba bicara sama papa biar gak maksa kamu. " ucap Tara.


"Gak papa tante, lagian Livia kan juga perlu mengenal dekat tante Tara. Selama ini Livia selalu menghindari tante Tara.Livia gak mau buat papa marah Tan. Papa segalanya buat Livia. Via akan menuruti semua keinginan papa. " jawab Livia menampilkan senyumannya.


"Makasih ya sayang. " kawan Tara lalu memeluk Livia.


"Sama-sama tante. "


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2