
"Mau mampir dulu...?" tanya Tara menoleh pada Dave.Saat ini, mereka berdua sudah berada di depan rumah Tara.
"Memang boleh...?" tanya Dave bercanda.
"Ya boleh dong." jawab Tara.
"Ya sudah ayuk.Aku juga capek banget hari ini.Mau istirahat sebentar,boleh kan aku istirahat di rumah kamu...?"
"Iya.Ya sudah mobilnya masuk kan ke dalam saja sekalian." Dave pun memasukkan mobinya ke dalam halaman rumah Tara.Dan setelah itu Dave dan Tara langsung turun dan masuk ke dalam rumah Tara.
"Kamu bisa istirahat di kamar tamu.Aku mau mandi dan nyiapin baju buat Dian dulu."
"Tidur di kamar kamu gak boleh...?" ucap Dave menggoda Tara.
"Dave....Au ah kamu itu,suka banget godain aku." jawab Tara yang langsung berlalu meninggalkan Dave yang malah tertawa karena berhasil menggoda pujaan hatinya.
"Seandainya Livia merestui hubungan kita,pasti aku sudah menikahimu Ra." ucap Dave berbicara pada dirinya sendiri.Setelah itu dia pergi menuju kamar tamu untuk beristirahat sejenak.
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...
Sore harinya Dika,Zahra,Dimas dan juga Davina juga sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Dian.
"Yan,kenapa bisa begini sih.Padahal tadi elo masih gak papa." tanya Davina.
"Ya namanya juga musibah Dav.Gue kan juga gak tau kalau bakal kayak gini." jawab Dian.
"Zio mana Cal..? kok gak ke sini...?" tanya Zahra yang tidak melihat Zio.
"Gak tau.Mungkin masih istirahat." jawab Calista santai.
"Istirahat...? bukan nya kesini,malah istirahat.Gimana sih." ucap Zahra heran.
"Tadi Zio pingsan kak." kata Calista yang langsung membuat Dian kaget.
"Pingsan...?"
"Iya.Katanya pusing.Soalnya pas dia pulang tadi tuh wajahnya pucet banget tau gak.Apalagi bajunya, kan ada noda darahnya.Kali aja dia ngerasa bersalah sama elo,Yan." imbuhnya lagi.
"Cal....." Endy memberi kode agar Calista tidak lagi menyalahkan Zio.
"Iya...iya...kan aku cuma bilang kalau Zio tadi pingsan."
"Tapi sekarang dia gak papa kan Cal...?" tanya Dian khawatir.
"Tadi sih sudah mendingan.Orang tadi juga mainan sama Rafa juga."
"Syukur deh kalau sekarang dia gak papa."
"Elo khawatir Yan sama abang gue...?" tanya Calista yang melihat ada kekhawatiran di wajah Dian.
"Iyalah Cal,dia kan sudah donorin darahnya buat gue.Ya jelas gue khawatir lah." jawab Dian.
"Iya deh,yang sangat banget sama abang gue.Sampai segitu khawatirnya." ledek Calista sambil terkekeh.
Ting..
Notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel milik Dian.Dia pun langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
๐ฉ Zio love๐
Maaf๐
๐ฉ Me
Untuk apa...?
๐ฉ Zio love๐
Semuanya...
__ADS_1
๐ฉ Me
Maaf di terima๐ฅฐ
๐ฉ Zio love๐
Terima kasih๐๐ฅฐโค๏ธ
๐ฉ Me
Sama-sama.Masih pusing...?
๐ฉ Zio love๐
Kok tau...?
๐ฉ Me
Calista...
๐ฉ Zio love๐
Lagi di sana semuanya...?
๐ฉ Me
Iya.
๐ฉ Zio love๐
Otw..
๐ฉ Me
Kan masih pusing
๐ฉ Zio love๐
๐ฉ Me
Gombal banget sih.
๐ฉ Zio love๐
Tunggu aku ya๐๐
๐ฉ Me
Hati-hati.
๐ฉ Zio love๐
Siap komandan..
"Senyum-senyum sendiri,pasti habis chat sama Zio tuh." ucap Calista yang melihat Dian senyum-senyum sendiri.
"Btw kak Zahra kelihatan capek banget ya..." ucap Endy yang memang melihat Zahra nampak lelah.
"Iya Ndy,tadi habis ngantor kan kakak langsung kuliah terus kesini.Jadi belum sempat istirahat." jawab Zahra yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di lengan Dika.
"Ya ampun kak,terus kenapa kakak malah kesini.Bukan nya istirahat." ucap Dian tidak enak hati.
"Gak papa Yan.Tadi itu sekalian aja biar gak bolak balik."
"Pasti ini gara-gara semalam elo gempur abis-abisan ya Dik,kakak gue jadi kecapean kan." ucap Dimas meledek Dika,sehingga membuatnya mendapat pukulan ringan dari Dika.
"Enak aja elo bilang.Davina kali yang udah elo habisin." jawabnya kali ini membalas ledekan Dimas.
"Sory ya,istri gue masih tersegel kali." jawab Dimas dengan bangga.
__ADS_1
"Kasian,gak bisa buka puasa kan elo sampe Davina lulus sekolah." ucap Dika tersenyum miring. dan kini membuat kedua para lelaki langsung tertawa.
"Bahahaha .....iya ya kasian banget bang Dimas, harus nunggu dua tahun lagi baru bisa buka puasa.Nah kalau Dika mah enak,kak Zahra udah kuliah jadi gak ada masalah." ucap Endy sambil tertawa.
"Sialan elo semua.Kenapa malah ngledekin gue sih." sungutnya dengan kesal.
"Salah elo sendiri.Kenapa tadi ngledekin suami gue,kena batunya kan elo." jawab Zahra yang juga ikut memarahi Dimas.
"Kampret emang kalian berdua.Yank,kamu belain aku dong." ucap Dimas meminta pembelaan dari Davina.
"Ogah...!!" jawab Davina melengos.Membuat semuanya kembali tertawa.
"Kasihan abang ku gak ada yang belain." ucap Calista sambil tertawa.
"Ya udah Dik,mending elo bawa kak Zahra pulang.Kasihan loh, dia kelihatan capek banget.
"Ya sudah gue pulang dulu ya.Yan gue balik dulu ya,elo cepat sembuh." ucap Dika berpamitan pada Dian.
"Iya.Makasih ya kak Dika,kak Zahra sudah jengukin aku.Kalian hati-hati ya pulangnya." jawab Dian.
"Iya.Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepulangan Zahra dan Dika kini di ruangan hanya tinggan Dimas,Calista,Endy,Aril dan juga Davina yang masih setia menemani Dian.
"Kak Dimas gak pulang juga...? kan pasti juga capek habis dari kantor." kata Dian menatap ke arah Dimas.
"Enggak Yan,tenang aja.Kerjaan kantor gak begitu banyak kok.Kan sudah di kerjain sama Zahra juga." jawab Dimas.
"Bang.Elo gak kasihan apa sama kak Zahra.Dia harus ngurusin perusahaan daddy sendirian." tanya Endy serius.
"Ya kasihan lah Ndy.Makanya sekarang gue bantuin dia di kantor.Tapi kan gue juga harus belajar dulu sebelum gue akhirnya resmi terjun di kantor." jawab Dimas.
"Iya juga sih.Kan elo gak pernah sekalipun mau belajar bisnis ya.Sibuk di kampus mulu." ucap Endy terkekeh.Saat semuanya sedang asik ngobrol,tiba-tiba pintu ruangan terbuka.Tenyata Tara dan juga Dave datang bersama dengan Zio yang berada di sampingnya.
"Loh.Bunda kok sama om Dave...?" tanya Dian.
"Iya tadi ketemu di parkiran." jawab Tara berbohong.Sebenarnya Dian juga tau tentang hubungan kedua orang tua tersebut.Namun dia hanya diam dan lebih tidak mau mencampuri urusan bunda nya,selama itu tidak menyakiti bunda nya.Dan dia juga tahu kalau Livia juga menentang keras jika Dave menikah lagi.
"Terus kak Zio...?" tanyanya lagi karena dia juga melihat Zio juga datang.
"Barusan ketemu."
"Dian.Gimana keadaan nya...?" tanya Dave mendekati Dian.
"Alhamdulillah sudah mendingan kok om.Kak Livia kok gak ikut om...?" tanya Dian.
"Livia masih di jalan sama Zidan dan juga yang lain nya." jawab Dave yang memang sudah tahu jika anak nya akan ke rumah sakit bersama dengan yang lain untuk menjenguk Dian.
"Kita ke kantin dulu ya.Laper mau makan.." ucap Calista berpamitan.
"Ya sudah.Tara ikut aku sebentar yuk, ke ruangan nya David." ucap Dave dengan mengedipkan sebelah matanya lalu melirik Zio.Dave sangat paham dengan kode anak muda jaman sekarang,karena dia dulu juga pernah mengalaminya.Dan Tara yang mengetahui itupun langsung menganggukkan kepalanya.
"Zio,titip Dian sebentar ya.Bunda tinggal dulu.Dan tolong kamu suapin Dian ya.Dia belum makan." ucap Tara pada Zio.
"Iya Bund." jawab Zio tersenyum ramah.
Akhirnya semuanya pun pergi meninggalkan ruangan Dian,karena mereka ingin memberikan waktu untuk kedua pasangan tersebutn.Dave juga mengetahui kalau sebenarnya Zio juga memiliki masalah dengan Dian.Tapi dia tidak mau menegur Zio dulu karena menurutnya Zio masih mau bertanggung jawab dan selalu meminta maaf jika dia melakukan kesalahan.Tidak sepertinya dahulu yang sangat gengsi untuk meminta maaf pada mendiang istrinya dahulu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....