
"Kita ke kantin dulu ya.Laper mau makan.." ucap Calista berpamitan.
"Ya sudah.Tara ikut aku sebentar yuk, ke ruangan nya David." ucap Dave dengan mengedipkan sebelah matanya lalu melirik Zio.Dave sangat paham dengan kode anak muda jaman sekarang,karena dia dulu juga pernah mengalaminya.Dan Tara yang mengetahui itupun langsung menganggukkan kepalanya.
"Zio,titip Dian sebentar ya.Bunda tinggal dulu.Dan tolong kamu suapin Dian ya.Dia belum makan." ucap Tara pada Zio.
"Iya Bund." jawab Zio tersenyum ramah.
Setelah semuanya pergi,Zio langsung mengambil makanan yang sudah di bawa Tara dan mulai mendekati brankar Dian.Duduk di sebelah dian dengan dirinya yang bertatapan langsung dengan dian.
"Makan dulu..." ucap Zio mulai menyendokkan makanan.
"Aku bisa sendiri kak." jawab Dian hendak mengambil sendok dari tangan Zio.
"Jangan bawel.Udah nih buka mulutnya." perintah Zio.Dan akhirnya Dian pun mulai membuka mulutnya.Dengan telaten Zio menyuapi Dian hingga makanan nya habis.
"Minum dulu." ucap Zio memberikan gelas yang berisi minuman.
"Makasih." jawab Dian sambil tersenyum.Dan Zio pun membalasnya dengan senyuman juga.
//Apa status kita sekarang masih pacaran,ataukan sudah putus ya Zi.Aku takut kalau harus bertanya sama kamu//.
"Kenapa lihatin akunya gitu banget sih." tanya Zio yang memang melihat Dian yang terus memperhatikan dirinya.
"Gak papa.Senang aja karena kamu udah gak marah sama aku." jawab Dian sambil tersenyum.
"Dasar...." ucap Zio gemas sambil mengelus kepala Dian yang masih tertutup perban di keningnya.
"Makasih ya...?" ucap Dian.
"Untuk...?" tanya Zio sambil memicingkan matanya.
"Karena kamu sudah nolongin aku.Kalau gak ada kamu mungkin saat ini aku tidak ak--." ucapan Dian terpotong karena mulutnya sudah di bungkam dengan bibir Zio.Ciuman singkat yang berubah menjadi ciuman yang panas.Cukup lama mereka berciuman,hingga sampai akhirnya terdengar suara yang membuat Zio menghentikan aktifitasnya.
"Nikmat banget rasanya." ucap seseorang yang berada di ambeng pintu.
"Ck.! ganggu aja sih." jawab Zio melepas ciumannya,karena dia tau itu suara siapa.Zio menoleh ke belakang,dan di lihatnya Varo dan juga yang lain nya sedang bersendekap dada.
"Papa udah beyum..? geyap ni." ucap Rafa yang sedari tadi matanya di tutup oleh Varo,karena dia tidak mau mata anaknya ternodai oleh ulah Zio.Varo pun mulai menurunkan tangannya dari mata Rafa.Mereka mulai masuk ke dalam ruangan.
Rafa yang sudah turun dari gendongan Varo langsung berjalan mendekati Zio.
__ADS_1
"Om.Ndon,Afa mau naik." ucap Rafa.
"Pinter banget,ngmongnya sudah mulai lancar nih ponakan om." ucap Zio sambil mengangkat Rafa dan mendudukkannya di samping Dian.
"Iya don.Afa gituo." jawab Rafa dengan bangga.
"Ate tatit ya." tanya Rafa mulaik menghadap Dian.
"Iya.Afa doain ate ya biar cepet sembuh." jawab Dian sambil tersenyum.
"Oteh.Anti Afa doain ya.Janan upa inum obatna." ucap Rafa.
"Siap pak dokter."
"Calista sama yang lain mana...?" tanya Thalita.
"Tadi ke kantin kak.Mungkin sebentar lagi balik." jawab Dian.Dan benar saja, tak berapa lama Calista dan yang lainnya pun kembali,bagitu juga Dave dan Tara.Melihat papanya masuk dengan Tara membuat Livia langsung menatap tajam ke arah Dave.
"Papa kenapa bisa sama tante Tara...?" tanya Livia penuh selidik.Membuat Tara jadi salah tingkah.Dia bingung harus menjawab apa.
"Tadi ketemu di luar." jawab Dave beralasan.
"Boong banget sih." ucap Livia ketus.Dan kemudian dia membuang muka begitu saja.
"Iya gak papa.Makasih ya kak sudah jengukin aku.Maaf kalau merepotkan kakak."
"Gak papa Dian.Ya sudah kakak pamit langsung ya.Kamu cepat sembuh ya." ucap Livia yang langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan yang lain nya yang masih berada di ruangan.Dave yang melihat anaknya langsung keluar ruangan dengan tidak sopan hanya bisa menghela nafas kasanya saja.
"Dian kakak juga pamit ya.Maaf gak bisa lama ya.Semuanya Zidan duluan ya Assalamualaikum." ucap Zidan yang juga ikut pergi menyusul Livia.
"Waalaikumsalam."
"Ate Via napa pelgi pa..?" tanya Rafa.
"Tante capek sayang mau istirahat." Moza menjawab pertanyaan dari anaknya.
"Dad.Kenapa gak di susul...?" tanya Varo melihat ke arah Dave yang sedang duduk sambil memijat pelipisnya.
"Biarkan saja." jawab Dave.
"Dian cepat sembuh ya maaf ya kakak baru bisa jengukin kamu sekarang." ucap Rania sambil menaruh buah di meja samping dekat brankar Dian.
__ADS_1
"Justru Dian yang minta maaf,karena sudah ngrepotin kakak.Kak Rania kan pasti capek habis kerja langsung ke sini." jawab Dian tak enak hati.
"Oh iya dapat salam dari mama sama papa.Semoga kamu cepat sembuh.Maaf mereka gak bisa jengukin kamu."
"Gak papa kak.Sampein juga ya salam ku sama om dan tante.Semoga di sana sehat selalu."
"Amin...makasih ya."
"Niel.Papa kamu sudah berangkat kan...?" tanya Dave.
"Sudah Dad.Tadi pagi sama Rens juga." jawab Daniel.
"Emang Daddy kemana...?" tanya Calista.
"Ke Amerika." jawab Daniel.
"Hah...!! kok Cal gak di ajak sih." ucap Calista mulai cemberut.
"Kan kamu sekolah dek." jawab Rania.
"Tapi kan Cal kangen sama kak Revan." ucap Calista yang langsung membuat Endi melototkan matanya karena mendengar nama Revan.Pasalnya Revan adalah rivalnya dulu saat masih duduk di bangku SMP.Karena dulu Revan sempat menyukai Calista.Namun sayangnya Calista hanya menganggap Revan seperti kakaknya sendiri.
"Ya kan bisa telfon dek." jawab Tahlita.
"Ish...gak puas lah kak kalau cuma telfon doang.Pinginnya tuh ketemu." jawab Calista yang belum menyadari seseorang di sampingnya yang sudah menahan kecemburuannya.
"Ya nanti kalau abang kesana kamu bisa ikut." ucap Varo memgajak Calista.
"Serius bang ..?" tanya Calista dengan mata yang sudah berbinar.
"Iya.Tapi satu bulan lagi.Soalnya kan jadwalnya satu bulan lagi kakak kesana karena kemarin sudah di gantiin sama daddy Dave." ucap Varo yang memang mendapat jadwal ke Amerika satu bulan sekali.Dan itu berlaku untuk semua keluarga yang sudah terjun ke dunia bisnis.Karena setiap satu bulan sekali perusahaan pusat di Amerika akan mengadakan pertemuan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....