Love Story (Hot Daddy)

Love Story (Hot Daddy)
#40


__ADS_3

Pagi harinya Dave sudah bersiap akan pergi ke Amerika. Sebelum ke bendara ia akan mengantar anaknya dulu ke rumah Tara.


"Papa sudah siap..?" tanya Livia.


"Sudah, kamu sudah kan...?" tanya Dave.


"Sudah kok." jawab Livia tersenyum.


"Baiklah, ayo kita berangkat." jawab Dave langsung merangkul anak perempuan satu-satunya itu.


Setelah sampai di rumah Tara, Dave langsung pergi menuju bandara karena keberangkatannya sudah sangat mepet.


"Ayo kak masuk, Dian tunjukin kamar kakak." ucap Dian.


"Iya, makasih ya Dian." jawab Livia tersenyum.


"Iya sama-sama kak." Dian menuju lantai atas dan di ikuti oleh Livia dari belakang.


"Apa kamar tamu berada di atas.. ?" tanya Livia.


"Kamar tamu di bawah kak, memangnya kenapa..?" tanya Dian.


"Lalu kenapa aku di bawa ke atas..?"


"Kan kamar kakak ada di atas." jawab Dian. Setelah sampai Dian langsung membuka kamr tersebut.


"Ini kamar kakak." ucap Dian membuat Livia begitu takjub. Kamar bernuasna pink ungu kesukaan Livia.


"Dian, ini kamarnya..?" tanya Livia tak meneruskan ucapannya.


"Iya ini kamar kakak, om Dave pernah cerita kalau kakak suka warna pink sama ungu, makanya bunda langsung mendesain kamar ini khusus buat kakak." jawab Dian. Livia menatap lekat mata Dian. Dia merasa terharu dengan apa yang di lakukan keluarga Dian padanya.


"Ya sudah aku tinggal ya kak, aku harus bersiap sebentar lagi sekolah." ucap Dian hendak pergi meninggalkan kamar namun sudah di cekal oleh Livia.


"Makasih ya Dian." ucap Livia.


"Iya, Sama-sama Kak. " jawab Dian tersenyum.


💛💛


Setelah selesai bersiap Livia kemudian turun ke bawah untuk bergabung dengan Tara dan juga Dian.


"Kak Via, sini duduk di samping Dian." ucap Dian menepuk kursi di sebelahnya.


"Iya... " jawabnya tersenyum dan kemudian duduk di sebelah Dian.


"Kamu juga ada kuliah pagi sayang..?" tanya Tante Tara.


"Enggak tante, tapi Via harus ke perusahaan pagi ini karena ada meeting." jawab Livia.

__ADS_1


"Owh begitu, ya sudah kamu sarapan dulu ya, oh ya ini kunci mobil kamu, tadi pagi supir mengentarnya ke sini." ucap tante Tara memberikan kunci mobil pada Livia.


"Makasih Tante." jawab Livia.


"Sama-sama" tante Tara tersenyum. Setelah itu dia langsung mengambilkan makanan untuk Livia dan juga Dian.


Drrt... drrt... drrt...


Ponsel Dian berdering dan ternyata panggilan dari Zio yang artinya dia sudah menunggu di luar.


"Bund aku berangkat dulu ya, Kak Zio udah nunggu di luar." ucap Dian setelah meminum susunya.


"Gak disuruh masuk dulu Zio nya, biar sarapan di sini juga." ucap bunda Tara.


"Sudah sarapan tadi katanya di rumah." jawab Dian. Ia pun berdiri dan mencium pipi bundanya.


"Kak Via, Dian duluan ya bye.." ucapnya berlalu meninggalkan ruang makan.


"Kebiasaan deh langsung pergi aja," ucap Bunda Tara menggelengkan kepalanya.


"Maafin ya Via kalau Dian seperti itu, dia memang sedikit manja sama tante." ucap tante Tara.


"Gak papa tante." jawab Livia.


"Nanti kamu pulang jam berapa..? apa siang pulang..? biar tante masakin lagi. Atau mau tante bawain bekal..?" tanya Livia.


"Tante bawain bekal saja ya atau nanti tante anterin ke kantor, biar kamu gak beli di kantin sayang. Tante seneng lagi bisa masakin kamu. Apalagi kan memang tante hoby nya masak." jawab tante Tara.


"Tante hobi masak..?" tanya Livia.


"Iyalah, makanya Dian sudah bisa masak. Karena kan suatu saat dia akan jadi istri orang, jadi ya seenggaknya harus bisa masak sedikit-sedikit." jawab Tante Tara.


"Emmm... tante mau gak ajarin Via masak..?" tanya Livia sedikit takut.


"Kamu mau belajar masak..?" tanya tante Tara dan Livia menganggukkan kepalanya.


"Boleh, tante mau kok. Nanti kalau kamu lagi di rumah tante akan ngajarin kamu masak." jawab tante Tara tersenyum. Livia mendongak dan langsung menatap Tata.


"Makasih ya Tante." ucao Livia membalas senyuman Tara.


"Sama-sama sayang, ya sudah habiskan makananya," ucap Tara.


💛💛


"Dor..." ucap Endy menepuk pundak Aril.


"Apaan sih loe Ndy." jawab Aril lesu.


"Elo kenapa Ril..?kayaknya lagu lesu banget." tanya Zio.

__ADS_1


"Gak papa, lagi males aja. Gue bolos ya mau ke atap dulu." jawab Aril yang kemudian berdiri meninggalkan kelas.


"Dik, kenapa tuh anak..?" tanya Endy.


"Mana gue tahu." jawab Dika mengedikkan bahunya.


"Gue susulin dia dulu ya, kayaknya tuh anak lagi ada masalah deh." ucap Zio kemudian menyusul Aril.


Sampai di atap, Zio melihat Aril yang sedang menyesap rokok. Membuat Zio sedikit terkejut karena sebelumnya dia tak pernah melihat Aril merokok.Zio mengambil rokok Aril lalu membuangnya.


"Sejak kapan loe merokok Ril..?" tanya Zio dan Aril hanya diam saja.


"Elo kenapa..? Apa ada masalah..?" tanya Zio.


"Thalita selingkuh dari gue Zi." jawab Aril membuat Zio langsung terkejut.


"Selingkuh.. ? maksud elo..?" tanya Zio.


"Kemarin, setelah dari rumah loe, malamnya gue pergi ke cafe, gue ngajakin Thalita tapi dia bilang gak bisa ya udah gue pergi sendiri eh pas di cafe ternyata dia sama cowok lain." jawab Aril.


"Elo yakin itu selingkuhan Thalita..? siapa tahu cuma rekan kerjanya doang." ucap Zio.


"Mana ada Zi rekan kerja keluar jam 11 malem. Dan lagi,gue telfon Thalita jawabnya di rumah, akhirnya gue telfon tante Audy dan dia bilang katanya Thalita pergi sama gue." jawab Aril.


"Elo udah nanya sama Thalita..?" tanya Zio dan Aril menggeleng.


"Males gue Zi, biarin ajalah, terserah dia maunya apa." ucap Aril.


"Lalu hubungan elo gimana Ril.. ? Elo di gantungin dong sama Thalita."


"Tau deh, biarin aja, gue mau ke Singapura aja nyusulin papa." ucap Aril.


"Ya sudah terserah elo aja.Tapi jangan ambil kesimpulan dulu, kamu tunggu aja dulu samai semua nya jelas." ucap Zio mencoba menasehati Aril.


"Iya, makasih ya Zi."


"Sama-sama"


.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2